
Akhirnya Aku sampai di Kota Mataram. Aku berpisah dengan Yudis di Terminal Bus. Yudis menaiki Taxi yang berlainan denganku karena memang arah dan tujuan Kami berbeda.
" Sampai jumpa lagi Via, jika takdir mempertemukan Kita lagi Kita pasti akan bertemu." Ucap Yudis pamit.
Aku hanya tersenyum menanggapinya, sementara Anakku Zaki sedari tadi melambaikan tangannnya kepada Yudis yang sudah tak terlihat lagi.
Niatku akan mendatangi Rumah Ibu Mertuaku terlebih dahulu untuk mengambil berkas beserta Raport Anakku yang tertinggal. Agar nantinya Aku dengan mudah mengurus kepindahan Zafran dan Zul.
Sebenarnya Aku tak ingin menginjakkan kaki di rumah Ibu Mertuaku lagi. Karena terpaksa Aku harus melakukannya.
" Assalamualikum" Ucapku di depan pintu rumah Mas Surya.
Sebenarnya pintu dalam keadaan terbuka namun, Aku enggan untuk masuk ke dalam. Me⁰skipun Aku masih berhak karena posisiku masih status Istrinya Mas Surya.
Tak lama menunggu Ibu pun datang dari arah dapur menghampiriku.
" Kamu? Mau apa Kamu ke sini! Surya tak lagi mau denganmu." Ucap Ibu ketus dan menunjuk Wajahku. Saking lantangnya suara Ibu. Gemercik air liurnya mengenai Wajahku.
Aku sengaja memundurkan Wajahku ke belakang agar tak terkena Air liur Ibu yang ganas.
" Bu, Via datang kesini bukan untuk menemui Mas Surya. Tapi Via datang kesini untuk mengurus surat pindah Anak-anak. Dan Raport beserta Dokumen lainnya tertinggal di kamar." Jelasku dengan sopan.
" Kamu tak boleh masuk ke kamar lagi karena Kamu tak punya hak." Ucap Ibu ketus.
" Kata siapa Via tak punya hak Bu, Via masih berstatus Istrinya Mas Surya." Ucapku mulai kesal.
" Tunggu Surya pulang kerja baru Kamu bisa memasuki kamarnya." Ucap Ibu menahanku.
__ADS_1
" Bu, kalau begitu Via minta tolong Ibu saja yang ambilin." Ucapku memohon.
Jika Aku harus menunggu Mas Surya pulang maka waktuku terbuang banyak. Tanpa pilihan Aku terpaksa menunggu duduk di ruang teras. Tanpa basa- basi Ibu langsung masuk ke dalam meninggalkanku bersama Cucunya di teras rumahnya. Aku seperti Orang Asing yang tak pernah dikenalnya, begitu terhinanya diriku di hadapan Keluarga Suamiku. Aku hampir mengantuk menunggu Mas Surya. Sebisa mungkin Aku terjaga agar jangan sampai mataku terpejam. Zaki yang sedari tadi tertidur sampai saat ini masih terlelap dengan nyenyak. Kasihan Anakku harus merasakan pahitnya di hina oleh Neneknya sendiri.
" Via? Kamu kapan datang dan kenapa duduk di luar seperti ini?" Tanya Mas Fatir iba.
Aku tak sadar jika Mas Fatir sudah ada di depanku bersama Mba Yuri. Berarti Aku tadi sedang tertidur hingga Aku tak menyadari kedatangan Mas Fatir.
" Via menunggu Mas Surya Mas." Ucapku dengan pandangan yang masih kabur. Aku mengucek-ngucek mataku agar penglihatanku kembali normal.
" Makannya jangan sok-sokan kabur jika masih ingin kembali." Ucap Mba Yuri.
" Yuri jaga sikapmu" Ucap Mas Fatir pelan namun masih bisa terdengar oleh telingaku.
" Saya datang ke sini hanya ingin mengambil Raport Anak-anak dan Dokumen lainnya Mas. Soalnya Via akan menetap selamanya di Kampung." Jelasku.
" Eh, Nak Yuri, Fatir. Kapan Kalian datang. kenapa tidak masuk?" Sapa Ibu ramah.
" Bu, kenapa Ibu membiarkan Via menunggu di luar dan sampai tertidur di atas kursi teras. Ibu benar-benar ketelaluan!" Ucap Mas Fatir marah.
" Heh! Fatir jangan membentak Ibu seperti itu. Gara-gara Wanita yang tak tahu diri ini Kamu jadi kurang ngajar sama Ibu." Ucap Ibu emosi.
" Bu, mengapa Ibu begitu membenci Via, apa salahnya selama ini. Apa hanya gara-gara Via tak melahirkan Cucu Perempuan untuk Ibu? Jika itu benar alasannya betapa jahat dan kejamnya Ibu sebagai Mertua. Selain menentang kehendak Tuhan Ibu juga telah mendzolimi Via." Ucap Mas dengan mulut bergetar.
Aku rasa Mas Fatir saat ini lagi menahan emosi dan ucapannya untuk tidak bernada tinggi atapun berkata kasar kepada Ibunya.
" Maaf, jika kedatangan Via membuat Keluarga Mas jadi ribut seperti ini. Via tidak mempunyai maksud apa- apa selain datang mengambil apa yang Via sebutkan tadi. Andai Ibu mengizinkan Via masuk dari tadi untuk mengambilnya sendiri di kamar. Via mungkin tak akan berlama-lama menunggu di sini dan membuang waktu Via. Andai saja mengurus surat pindah tak mmberlakukan syarat itu, mungkin Via tak akan pernah menginjakkan kaki di Kota ini lagi dan Via tak harus mendengar hinaan demi hinaan dari mulut Orang yag tak menyukai Via." Tuturku dengan tegas. Kali ini Aku tak mengeluarkan air mata.
__ADS_1
" Mas malu dengan sikap Keluargaku Via, Mas minta maaf padamu atas sikap Mereka semua." Ucap Mas Fatir merasa bersalah.
" Mas Fatir tak pernah menyakiti Via, Mas Fatir adalah Orang yang sangat baik. Mas Fatir tak perlu minta maaf atau pun merasa bersalah dengan Via." Ucapku tulus.
Karena Ibu kesal akhirnya Ibu masuk ke dalam rumah dan tak lama keluar lagi membawa sebuah Map Berwarna Biru yang isinya semua Raport dan Dokumen lainnya. Ibu menyerahkan padaku dengan sikapnya yang angkuh. Sebelum pergi terlebih dahulu Aku memeriksanya agar jika ada yang kurang Aku tak harus kembali lagi untuk mengambilnya ke rumah ini. Ternyata semua yang Aku perlukan tak kurang satu pun di dalam Map Biru itu. Dari Surat Buku Nikah hingga Akte Kelahiran Anak-anak dan surat lainnya.
Aku pun pamit pergi dari rumah Ibu. Mas Fatir berusaha mencegatku karena Waktu hampir mulai Magrib.
" Via, menetaplah di sini semalam. Hari sudah Sore dan mulai menjelang Magrib." Ucap Mas Fatir memohon.
Ku lihat Wajah Mba Yuri begitu kesal melihat Suaminya perhatian kepdaku. Sementara Ibu hanya berdiam diri dan menyilangkan kedua tangannya di perut.
" Maaf Mas, tolong biarkan Via pergi. Jagan khawatir Via bisa menjaga diri dan Anak Via." Ucapku pada Mas Fathir.
Aku pun pergi meninggalkan rumah Ibu Mertuaku. Sampai di Pekarangan Aku berpapasan dengan Lisa Adik Iparku.
" Wanita tak tau diri, berani juga Kamu menginjakkan kaki di rumahku." Ucapnya ketus dan tanpa sopan santun.
Aku tak menghiraukannya dan tetap melangkah pergi.
" Walaupun Kamu menangis darah sekalipun Mas Surya takkan pernah kembali kepadamu wahai Mantan Kakak Ipar." Ucap Lisa berhasil menghentikan langkahku.
" Asal Kamu tahu Lisa, Mas Surya sudah Ku anggap sampah dalam hidupku. Dan satu lagi! Kamu itu masih Gadis, jaga ucapanmu padaku karena jika Kamu masih kurang ngajar. Aku tak akan segan-segan akan melaporkanmu kepada Kedua Kakakmu bahwa Kamu adalah Gadis liar yang pergi berduaan dengan Seorang Pria layaknya Suami Istri." Ucapku sengaja mengancam Lisa. Dia harus di beri pelajaran karena selalu mengeluarkan kata pedas terhadapku.
Lisa terdiam dan ketakutan. Tanpa permisi Dia pergi meninggalkanku.
Aku pun melanjutkan perjalanan menuju Masjid terdekat, untuk menunaikan Sholat Magrib. Usai Sholat Aku duduk beristirahat di emperan Masjid dan mataku tak sengaja melihat Pria Asing yang pernah membayar Nasiku di Warung waktu itu.
__ADS_1