NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Zafran Masuk Pondok


__ADS_3

Aku sudah berniat untuk menyekolahkan Zafran ke pesantren. Dan untuk biaya sekolahnya Aku menabungnya dari dulu sedikit demi sedikit. Kebetulan tanpa paksaan Zafran juga menginginkan dirinya untuk mondok.


"Cucu kakek benar-benar luar biasa." Ucap paman mencium Zafran.


Anakku saat ini menjadi cukup terkenal gara-gara pidatonya kemarin. Para warga di desa berdecak kagum dan membicarakannya. Bahkan sampai Aku ke pasar pun putraku di bicarakan layaknya artis.


"Pasti Ibu bapaknya anak itu luar biasa. Lihat cara bicara anaknya dan cara memuliakan Ibunya. Padahal masih kecil lho anak itu." Ucap salah satu Ibu penjual sayur di pasar.


"Ia Bu, pasti Ibunya sangat bangga. Kalau Aku jadi Ibunya pasti Aku gendong langsung di tengah orang ramai saking bangganya. Walaupun anakku sudah besar. Ha ha ha." Sahut Pembeli di sertai tawa.


Pujian adalah sesuatu yang melalaikan dan bisa lupa diri. Semoga dengan nikmat ini Allah selalu menjaga hatiku untuk selalu rendah hati dan di jauhi dari sifat sombong.


Setelah membeli keperluan untuk berjualan Aku pun langsung pulang mengayuhkan sepedaku. Sesampainya di rumah sebuah mobil terparkir di samping kios. Aku tak mengenali siapa pemilik mobil merah metalik itu. Dengan rasa penasaran Aku pun masuk ke dalam rumah.


Ada 3 orang tamu yang lengkap dengan seragam dan bed pengenalnya. Sepertinya mereka seorang wartawan. Pantasan saja banyak orang beramai-ramai membicarakan anakku. Ternyata yang memvidiokan anakku saat di atas panggung mengunggah vidio itu ke media sosial dan Anakku langsung menjadi viral.


Zafran di tanyai dengan berbagai macam pertanyaan yang menyangkut prestasinya dan juga tentang isi hatinya terhadapku. Dengan polosnya Zafran menyatakan perasaannya di depan kamera dengan mata yang berembun. Sungguh manisnya anakku Zafran. Ungkapan cintanya untukku bukanlah sebuah akting melainkan ungkapan cinta Zafran kepadaku sebuah ketulusan yang mendalam.


Ketika wartawan itu menanyakan tentang Ayahnya Aku langsung menghampiri Anakku dan mengalihkan pertanyaan wartawan. Aku tak ingin anakku yang polos ini menuangkan isi hatinya di publik seperti ini. Bagaimanapun rasa kesalnya terhadap Ayahnya sendiri. Namun Mas Surya tetaplah bapak mereka.


Tak lama wartawan dari media koran itu pun pamit pulang setelah anakku di wawancarai. Entah mengapa, semenjak anakku terkenal di media masa, warung nasiku semakin ramai dan di penuhi banyak pembeli. Aku dan Mba Rina sampai kewalahan melayani pembeli dan para pembeli juga berasal dari kota dan luar kampung.


Malahan Anakku ada tawaran untuk di wawancarai di stasiun radio di kota. Namun Aku menolaknya, berhubung anakku masih polos. Takutnya jika di tanyai tentang seluk beluk keluarga akan menjawab dengan apa adanya. Walapun anakku Zafran adalah anak yang cerdas namun ia tak terlepas dari anak kecil yang lugu dan polos.


Setelah ijazah di terima, Aku pun pergi ke Kota kabupaten untuk memasukkan Zafran ke pondok pesantren.

__ADS_1


Perpisahan itu memang sangat berat untuk di lalui. Namun Aku harus ikhlas dengan kepergian anakku.


"Kamu belajar yang tekun ya nak, dengerin apa kata Ustad dan Ustadzahmu. Zafran cita-citanya kan lingin jadi Pendakwah. Harus kuat ya nak." Ucapku sembari menghapus air mata anakku. Aku memeluknya dengan sangat erat seolah tak ingin lepas.


"Insyaallah Zafran janji bu, akan dengar kata-kata Ibu. Walaupun Zafran menggapai matahari itu tak bisa membuat Zafran bisa membalas budi Ibu. Kata Guru Zafran cara yang ampuh menyenangkan dan membalas jasa Ibu adalah dengan menjadi anak yang berbakti dan menjadi anak sholeh." Ucap Zafran tergugu menangis.


Air mataku tumpah ruah mendengar pernyataan anakku. Aku bangga sekaligus bahagia memiliki ketiga putra yang luar biasa.


"Abang Zafran, Zul sayang abang." Ungkap Zul menangis memeluk kakaknya. Mereka tak terbiasa terpisah dan itu memberatkan Zul untuk melepaskan pelukan pada abangnya.


"Cucu kakek tetap semangat ya?" Ucap Paman memeluk Zafran.


Aku pun pamit dan berpesan pada para pembimbing anakku di pesantren.


"Insyaallah Bu" Jawab Para pembimbing pondok.


Saat Zafran di genggam tangannya oleh Uztadz untuk masuk ke lokasi pondok. Sedih rasa hatiku hingga Aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.


Berulang kali Zafran menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya. Ketika punggung anakku tak terlihat lagi. Aku membalikkan badanku dan melangkah pergi dari pesantren itu.


__________________________


Malam ini Zul uring-uringan tak bisa tidur. Karena biasanya Zafran selalu ada di sampingnya.


"Zul, kamu belum tidur nak? Besok kamu harus sekolah." Panggilku dari pintu kamarnya.

__ADS_1


Karena tak ada jawaban Aku pun menghampiri Zul yang ada di atas ranjang. Ku lihat bantalnya basah akibat Ia menangis.


"Zul? Abang Zafran di sana menuntut ilmu nak. Zul tahu kan, jika cita-cita Abangmu ingin menjadi pendakwah. Sebelum menjadi Pendakwah Abang Zafran harus belajar banyak tentang Islam nak." Jelasku sembari menghapus air matanya.


"Hu hu hu, Zul rindu Bu." Ucapnya sambil tergugu.


"Bukan Zul saja yang rindu namun Ibu juga sangat rindu. Zul harus dukung Abang agar abang Zafran kuat disana. Jika Zul terus menerus sedih abang di sana juga akan ikut sedih. Zul mau jika abang zafran tak bisa kosentrasi dengan pelajarannya." Jelasku lagi.


"Iya Bu, Zul nggak akan sedih lagi agar abang Zul tidak menangis juga di sana." Ucapnya mengangguk mengerti.


Aku pun menemani Zul sampai Ia benar- benar terlelap. Setelah memastikan Zul tidur nyenyak Aku pun masuk ke kamar tidur bersama Zaki.


Mungkin karena baru berpisah jadi Aku belum terbiasa jauh dari anakku. Hingga bayangan anakku Zafran tak bisa hilang di pelupuk mataku. Dan akhirnya malam ini mataku sama sekali tak bisa terpejam. Padahal dulu Aku pernah meninggalkan Zafran dan Zul pergi ke kota mataram selama Tiga minggu. Namun mengapa perpisahan kali ini cukup beda bagiku. padahal baru semalaman berpisah namun rinduku seolah tak bisa Ku bendung.


Subuh ini seperti biasa, usai sholat subuh Aku langsung ke dapur untuk memasak makanan jualanku. Karena pagi-pagi para pembeli sudah berjejer mengantri membeli nasi bungkusku.


Namun dari antrian itu Ku lihat sosok Mas Surya duduk di bangku depan warungku. Berulang kali Aku mengusap mataku mungkin Aku salah lihat. Dan ternyata yang duduk di bangku itu benar mas Surya.


Wajahnya terlihat murung dan lesu.namun mengapa Mas Surya tak langsung masuk ke dalam rumah. Mengapa mas Surya hanya duduk termangu di bangku itu. Setelah melayani para pembeli Aku pun menghampirimas Surya. Entah, karena terlalu fokus melamun mas Surya tak menyadari jika Aku sudah ada di depannya.


"Mas Surya?" Sapaku heran.


"Via? Maafkan Aku Via jika Aku datang sepagi ini ke rumahmu. Aku hanya ingin melihat ketiga putraku." Ucapnya berharap.


Aku pun mempersilahkan Ma Surya masuk dan duduk di kursi. Nampak wajah mas Surya heran melihat keadaan rumahku yang sekarang ini sudah terenovasi.

__ADS_1


__ADS_2