NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Bermalam Di Rumah Bunda Mery


__ADS_3

Pria Asing itu sepertinya baru usai melakukan Ibadah Sholat Magrib. Pria itu duduk di Emperan Masjid sama sepertiku namun jaraknya cukup jauh dariku.


Aku tak tau lagi harus bermalam dimana membawa Anakku Zaki. Di Kota ini Aku tkdak mempunyai Keluarga selain Mas Surya. Dan hanya mempunyai Satu kenalan yaitu Yudis. sepertinya Masjid adalah tempat yang aman untuk Muzafir sepertiku saat ini.


Kumandang Isya pun menggema, Pria Asing itu masuk lagi ke dalam Masjid untuk melakukan Ibadah Sholat Isya. Sementara Aku Sholat Isya Ku dudukkan Zaki di sampingku. Usai Sholat Ku lihat Zaki sudah tak berada di sampingku. Aku mulai panik dan mencoba mencarinya di dalam dan di luar Masjid. Untuk Kedua kalinya Aku sudah lalai menjaga Anakku.


Aku mencurigai Pria Asing itu yang membawa Anakku. Namun, Pria yang Ku curigai masih duduk dan sedang berzikir di depan mimbar Masjid. Jika bukan Pria Asing itu, lalu siapa yang membawa Anakku.


Terdengar suara tawa Zaki dari luar Masjid. Aku bergegas keluar dan berlari kecil. Nampak, Anakku di gendong oleh Seorang Ibu- Ibu yang berusia sebaya dengan Ibu Mertuaku. Zaki nampak bahagia sekali berada di gendongan Ibu itu.


" Zaki, Nak. Kemana saja Kamu?" Ucapku menyapa Anakku yang masih berada di gendongan Ibu itu.


" Ini Anakmu ya Nak, tadi Anak ini keluar berjalan sendiri di Emperan Masjid. Dan terjatuh akibat berlarian, Saya langsung menggendongnya lalu membawanya ke Toko depan Masjid untuk membelikannya Kue supaya berhenti menangis." Jelas Ibu itu ramah.


" Terima kasih banyak Bu." Ucapku.


" Sama-sama." Ucap Ibu itu sambil mengelus kepala Anakku yang berada di gendonganku.


" Kamu asli Warga sini?" Tanya Ibu itu.


" Saya datang dari Desa Bu, kebetulan Saya akan mengurus sesuatu di sini." Ucapku tanpa menjelaskan secara detail.


" Bawa kendaraan sendiri?" Tanya Ibu itu lagi.


" Saya tidak punya kendaraan Bu. Saya datang dari Desa naik Kapal Laut." Ucapku jujur.


" Kalau begitu, bagaimana kalau Nak... , Maaf Bunda tidak tahu Namamu Nak." Ucap Beliau.


" Saya Via Bu, Anak Saya Zaki." Ucapku memperkenalkan diri.


" Maria, panggil saja Bunda Mery." Ucap Bunda Mery tersenyum.

__ADS_1


" Bagaimana kalau Nak Via Saya antar dengan Mobil ke tempat Nak Via bermalam." Ucap Bunda Mery itu menawarkan.


" Maaf Bu. Saya Seorang Muzafir dan Saya akan menginap di Masjid ini untuk bermalam.


" Jika Kamu tak keberatan, Nak Via bermalamlah di rumah Ibu." Ucap Bunda Mery berharap. Wajah Beliau terlihat sangat Iba kepadaku.


" Baik Bunda." Ucapku tak menolak. Sepertinya Bunda Mery sangat baik. Menginap di rumah Beliau lebih baik di bandingkan membawa Zaki menginap di Masjid. Pasti akan merepotkan Sang Marbot.


Setiap Kesusahan Allah pasti mendatangkan pertolongan melaui Orang-Orang yang di kehendakinya. Kini pertemuanku dengan Bunda Mery adalah sebuah Takdir.


" Yuk, Kita duduk di sana dulu. Bunda tunggu Anak Bunda keluar dari Masjid." Ucap Bunda Mery mengajakku duduk di bangku depan Masjid.


Tak lama menunggu, datanglah Seorang Pria menghampiri Kami. Ternyata Pria Asing itu adalah Anaknya Bunda Mery.


" Sayang, kenalin ini Via dan Si kecil yang di gendongannya Zaki Anaknya. Via ini Seorang Muzafir, dan Via akan bermalam di Rumah bersama Kita." Ucap Bu Mery menjelaskan.


" Yoris" Ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya. Sepertinya Yoris memang Pria yang baik. Pantas saja waktu itu Dia menolongku dengan tulus. Dan mau membayar pesananku waktu itu di Warung. Entah, apa Dia masih mengingatku atau tidak. Soalnya Yoris terlihat datar dan tak bereaksi apapun jika Dia pernah menolongku. Aku juga malu untuk menanyakan pada Yoris atau sekedar menyapanya.


" Ayo kesini sama Nenek." Ucap Beliau menjulurkan tangannya mengambil Zaki di belakang Kursi Beliau. Aku pun membantu Bunda Mery memberikan Zaki duduk di depan.


Bunda Mery tak henti- hentinya tertawa menggoda Zaki. Begitu juga Zaki Anakku sebaliknya tertawa renyah. Aku dan Yoris pun terbawa suasana juga ikut tertawa. Sepertinya Keluarga Bunda Mery adalah Keluarga yang hangat.


Kami pun sampai di rumah Bunda Mery. Nampak dari luar, rumah Bunda Mery sangat mewah dan memiliki pekarangan rumah yang cukup luas. Aku pun turun dari Mobil dan mengikuti Bunda Meri dari belakang memasuki rumah Beliau. Sedari tadi Yoris tak mengeluarkan sekatah kata pun. Sepertinya Dia Sosok yang pendiam.


Aku terpukau melihat dalam rumah Bunda Mery yang mewah dan rapi.


" Ini kamarmu Nak, nanti jika Kamu perlu sesuatu tinggal panggilkan Bi Ina Asisten Rumah Tangga Kami di sini." Ucap Beliau.


" Kamu pasti belum makan malam kan? Bi Ina tolong ajak Via ke dapur." Ucap Bunda Via.


" Bunda tinggal dulu ya, soalnya jam segini jam tayang Bunda untuk tidur." Ucap Beliau berlalu naik ke lantai atas.

__ADS_1


Aku pun di ajak Bi Ina menuju dapur, kebetulan perutku tak terisi sedari tadi siang. Beruntung Zaki tadi Sore sempat Ku beri makan dan sekarang tidur dalam keadaan perutnya sudah kenyang.


" Silahkan duduk Nak, biar Saya siapkan Makanannya." Ucap Bi Ina.


" Biar Saya bantu Bi" Ucapku.


" Duduklah Nak, Nak Via adalah Tamu di sini harus di perlakukan dengan baik." Ucap Bi Ina.


" Bu Mery dan Yoris adalah Orang yang sangat baik. Saya sudah bekerja di sini sudah 20 Tahun." Tutur Bi Ina tanpa Ku tanya.


" Berarti yang tinggal di sini hanya Beliau dan Yoris?" Tanyaku ingin tahu.


" Ada Dua Pembantu lagi selain Bibi. Mereka bekerja pagi sampai sore. Setelah itu Mereka pulang ke rumah masing-masing. Tugas Bibi di sini hanya memasak dan pekerjaan lainnya di selesaikan oleh Kedua Pembantu lainnya." Jelas Bibi.


Aku pun makan malam di temani oleh Bibi sambil mengobrol tentang kehidupan Bibi. Sedang Asyiknya Bibi bercerita tiba-tiba Yoris datang ke dalam dapur.


" Nak Yoris mau Saya siapkan Makanan juga?" Ucap Bibi.


" Yoris kenyang Bi, Yoris hanya haus." Ucap Yoris mengambil sebotol Minuman Oren di dalam Kulkas dan berlalu pergi.


" Yoris memang sulit di tebak, Dia sangat pendiam. Semenjak Bundanya berpisah dengan Dadynya Yoris menjadi seperti itu." Terang Ibu Ina.


" Suami Bu Mery itu Seorang Bule, dan ketika Mereka berpisah Suami Bu Mery membawa Saudara Kembarnya Yoris ikut dengannya. Gara-gara Suaminya tergila-gila dengan Wanita, Suami Bu Mery menjadi Seorang Murtad kembali ke Agamanya semula. Dan Anak yang ikut dengannya pun mengikuti Keyakinan Dadynya." Tutur Bi Ina.


" Saya memang tak mengenal Keluarga ini Bu, tapi Saya yakin Kelurga Bu Mery sangat baik." Ucapku kagum.


Setelah Makan malam Aku langsung ke kamar guna mengistirahatkan tubuhku. Rasa letih dalam perjalanan datang ke Kota ini membuat mataku cepat terpejam.


Tidurku sangat nyenyak sekali tadi malam. Dan Aku keluar kamar guna mengambil Air Wudhu untuk menunaikan Ibadah Sholat Subuh. Aku melangkah menuju dapur, Ku dapati Yoris juga sedang berwudhu. Kebetulan tadi malam Aku melihat tempat Wudhu di samping ruang dapur.


" Silahkan." Ucap Yoris meninggalkan tempat Wudhu. Ketika Aku melangkah ke kamar tak sengaja Aku melihat Foto Yoris dan Saudara kembarnya terpajang di tembok ruang keluarga. Namun, Wajah Mereka tak sama. Kembaran Yoris terlihat seperti Wajah Seorang Bule.

__ADS_1


__ADS_2