NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Aku Terpaksa mencuri


__ADS_3

Diatas mobil Mas Fatir hanya suara nafas kekhawatiran yang terdengar. Mba Nindiana sibuk merapikan rambutnya yang tergerai. Sepertinya mba Nindiana ingin mencoba merayu mas Fatir.


Aku dan mba Yuri saling pandang melihat tingkah mba Nindi. Aku rasa mba Yuri mulai cemburu dengan sikap mba Nindi terhadap suaminya.


Kami pun tiba di rumah sakit. Sampai di rumah sakit bayi Syakila langsung dimasukkan ke dalam ruang ICU. Ibu sangat khawatir dan tak henti-hentinya menangisi cucunya.


"Syakila kenapa bisa begini?" Tanya Mas Fatir.


"Tadi Syakila menangis kencang mas karena jatuh dari atas kursi." Jawabku.


"Kok bisa sih!" Tanya Mas Fatir kesal.


"Sebenarnya Nindi nggak mau mengadu mas Surya, Lisalah yang meletakkan Syakila di atas kursi." Jelas mba Nindi membalikkan fakta.


"Dasar nenek lampir! Plaaaak" Rasa hormatku hilang begitu saja dan Aku tak sadar menampar kakak iparku sendiri.


"Lisa! Jaga sikap kamu. Kita lagi di rumah sakit." Bentak Ibu tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.


"Pantasan Via mantan istri mas Surya nggak betah di rumah mertuanya. Karena sikap adikmu yang kurang ajar Mas." Ucap Mba Nindi menangis dan berpura-pura terdzolimi di depan Mas Fatir.


"Lisa! Jaga sikap kamu, bukannya merasa bersalah malah main kasar." Ucap mas Fatir membela nenek si lampir.


"Sudah-sudah" Lerai Ibu melihat kami beradu mulut.


Hening, tak ada lagi drama si malampir itu. Senyum kemenangannya di tunjukkan padaku dengan sebuah senyum ejekan.

__ADS_1


Tunggu saja balasanku, jangan panggil namaku Lisa jika Aku tak bisa membalas perbuatanmu malampir peot. Gumamku dalam hati sambil mengepalkan kedua tanganku.


Tak lama mas Surya pun datang untuk melihat keadaan Syakila ke rumah sakit. Mba nindiana menghampiri mas Surya dengan wajah yang begitu pilu. Mba Nindi memeluk mas Surya dan menangis sesegukkan. Seolah mba Nindi ingin menunjukkan pada Mba Yuri bahwa hubungannya dengan mas Surya begitu intim. Padahal Ku tahu rumah tangga kakakku itu tidaklah baik-baik saja.


Beruntung Syakila saat ini sudah bisa menyusu. Dan akibat jatuh dari kursi punggung Syakila agak membiru namun tidak berbahaya. Dokter menyarankan kepada Mba Nindi agar lebih berhat-hati dalam pengawasan dan penjagaan bayinya. Dan dokter menganjurkan untuk memberi bayi Syakila ASI bukan susu dari sapi. Mengingat ASI mba Nindi begitu melimpah.


Bayi Syakila saat ini sudah bisa pulang, dan Ibu merasa sangat lega. Atas kejadian itu Ibu saat ini lebih protektif terhadap Syakila dan tidur malam pun bersama Ibu setiap harinya. Takutnya mba Nindiana teledor lagi dengan cucunya. Mba Nindiana tak mau terganggu tidurnya dan lebih memilih memerah ASInya dan dituang ke dalam dot untuk anaknya sendiri.


"Mas, Lisa lelah menjadi budak di rumah ini. Lisa akan pergi dari rumah ini, Lisa tak perduli lagi dengan sekolah Lisa." Curhatku pada Mas Surya.


"Bersabarlah dek, jangan sampai kamu menyesal memutuskan sekolahmu yang tinggal sebentar lagi. Nanti mas akan ngomong dengan Nindiana agar dia juga ikut membantumu." Ucap mas Surya janji.


Dulu saat mas Surya bersama mba Via, mas Surya tak selembek ini. Kini berhadapan dengan mba Nindiana kehormatannya di injak-injak sebagai lelaki. Padahal jika mas Surya tegas mba Nindiana tak akan besar kepala seperti ini, yang walaupun Ibu selalu berpihak padanya.


"Mengadu apa lagi kamu dengan kakakkmu? Gara-gara kamu mas Surya bulan ini tak memberiku belanja bulanan." Ucap Mba Nindiana marah.


"Jangan ikut campur kamu Lisa dengan keuangan rumah tanggaku. Aku mau beli apapun itu bukan urusanmu." Ucap mba Nindiana emosi.


"Jelas Lisa keberatanlah mba, mas Surya capek kerja hanya untukmenafkahi anak yang bukan darah dagingnya sendiri." Ucapku menyinggung mba Nindi.


"Jaga ucapanmu Lisa!" Ucapnya menunjuk ke arahku.


"Lisa akan membongkar semuanya jika Syakila itu anak pacar bulemu kan? Asal kamu tahu! Mas Surya selama ini tidak pernah mencintaimu. Andai bayi harammu itu di ketahui oleh Ibu. Kamu mau apa!" Ucapku tanpa hormat lagi menyebutnya dengan kata Mba.


Mba Nindiana pun pergi meninggalkanku begitu saja tanpa berani menyangkal. Aku sekaran punya kartu ASnya. Dan tunggu tanggal mainnya suatu saat nanti Aku akanmenghancurkan nenek lampir itu.

__ADS_1


Mataku belum bisa terpejam karena memikirkan bagaimana caranya Aku akan mengusir mba Nindiana dari rumah ini.


Suara ponselku bergetar Ku lihat sebuahpesan masuk ke aplikasi biruku.


[ Hay, Sayang. Urusan kita belum selesai. Jika uang itu tak Kau berikan maka Aku akan menyebarkan Vidiomu.] Ancam Riko mantan kekasihku.


[Beri Aku waktu Riko] Pintaku.


[Baik, jika dalam minggu ini Kamu tak memberiku uang itu maka bersiap-siaplah hidupmu akan hancur.] Lagi-lagi ancaman dari Riko membuatku bergidik ngeri.


Baru saja Aku bernafas dengan lega karena Riko tak lagi menghubungiku. Namun sekarang ini Aku tak bisa nyenyak tidur. Dari mana Aku bisa mendapatkan uang sebesar 5 juta itu. Andai kejadian di diskotik dulu Aku tak kedapatan oleh mas Surya dan di ketahui oleh mas Fatir. Mungkin Aku dengan mudah meminta uang kepada kedua kakakku itu.


Aku mencari cara untuk masuk ke dalam kamar mba Nindiana. Aku terpaksa merencanakan ini untuk mencuri perhiasannya. Aku tinggal menunggu mba Nindiana pergi keluar rumah.


"Bu, Nindi mau ada urusan di luar sebentar." Pamit mba Nindiana pada Ibu.


"Pergilah Nak" Ucap Ibu mengizinkan menantu kesayangannya.


Tak ingin membuang kesempatan Aku pun mendekati kamar mba Nindiana. Aku mencoba memegang gagang pintu ternyata pintunya tak terkunci. Dengan cepat Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar tak lupa menutup pintu kembali.


Aku berusaha mencari kotak perhiasan yang Ku lihat saat itu. Dari dalam laci hingga dalam lemarinya. Aku tak menemukan kotak itu. Saat Aku ingin naik ke atas kursi untuk melihat isi koper yang di letakkan dalam lemari tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar.


Aku panik dan terpaksa bersembunyi di bawah kolong dipan. Rupanya mba Nindiana mengambil sesuatu yang kelupaan. Ku dengar dia pamit pada Ibu untuk pergi lagi.


Bergegas Aku keluar dari kolong dipan dan berusaha mengambil koper yang diletakkan diatas lemari. Setelah bersusah payah menurunkan koper tersebut. Akhirnya usahaku tak sia-sia. Apa yang Aku cari akhirnya ketemu juga. Ku buka kotak perhiasan itu lalu ku masukkan semua emas mba Nindiana ke dalam kantong celanaku. Dengan cepat Aku mengembalikan koper itu ketempat semula.

__ADS_1


Aku melangkah cepat menuju kamarku dan meletakkan perhiasan itu ke tempat yang aman. Esok pagi baru Aku akan menjualnya ke toko emas.


__ADS_2