NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Pertemuan Ibu dan Anak


__ADS_3

Pagi ini Aku akan mengantarkan Lisa ke depan jalan. Aku sudah memberinya uang 1 juta untuk ongkosnya pulang ke mataram. Tak lama menunggu bus pun berhenti. Aku dan Lisa berpisah di sini, Ku peluk tubuhnya dengan erat. Lisa masih terisak seolah tak ingin pulang.


"kamu hati-hati ya dek, jaga diri. Ingat apa kata mba." Ucapku.


Bus pun melaju, usai mengantarkan Lisa Aku kembali pulang. Ketika hendak Ku kayuh sepedaku tiba-tiba mobil berhenti di sampingku.


"Masih kuat ngayuh nggak?" Tanya Yudis mengagetkanku.


"Yudis?" Ucapku terkejut.


"Ayo naik" Tawarnya.


"Aku naik sepeda aja sambil olahraga." Ucapku menolak.


"Aku duluan ya ke rumahmu, Aku rindu sama ketiga bocah itu." Ucap Yudis berlalu dan melajukan mobilnya.


Ketika sampai di rumah Yudis sudah bercengkrama denga ketiga putraku. Mereka terlihat bahagia sekali. Seperti biasa Yudis selalu membelikan hadiah untuk ketiga putraku.


"Mau minum apa Dis" Tanyaku.


"Apa aja boleh" Jawabnya tersenyum.


Aku pun membuat segelas jus jeruk untuk Yudis dan membawakannya cemilan.


" Diminum Dis" Ucapku.


Yudis pun meneguk minuman yang Aku buat hingga tak tersisa. Mungkin karena Ia benar-benar haus.


Tak lama mengobrol sebuah mobil juga berhenti dan terparkir di depan warung entah mobil siapa, padahal Aku tak jualan hari ini. Aku terkejut ketika melihat Bunda meri dan Yoris yang datang. Bukan Aku saja namun Yudis pun ikut terkejut.

__ADS_1


"Bunda? Ucapku menghampiri bunda Meri lalu memeluknya.


Mata bunda Meri mengarah pada Yudis dan pandangan itu berkaca-kaca.


"Yu-Yu-Yudis? Kaukah itu nak?" Ucap bunda Meri gugup dan terisak.


"Yudis?" Yudis!" Teriak Yoris menghampiri Yudis.


"Yudis? Anakku- Anakku." Ucap bunda Mery menangis pilu.


Aku tak pernah menyangka bahwa Yudis juga adalah anaknya bunda Mery. Artinya foto yang Ku lihat terpajang di tembok ruang tengah rumah bunda Mery adalah kembaran Yoris.


Kami semua terisak menangis melihat pertemuan Ibu dan anak.


"Kamu kemana saja Nak. Hah! Ibu setiap detik selalu memikirkanmu. Yoris saudaramu menjadi anak yang sangat pendiam karena kehilanganmu. Apakah kamu tidak rindu dengan Ibumu ini nak." Ucap bunda Mery memeluk Yudis dengan penuh kasih sayang.


"Yudis jangan pergi lagi dari kami." Ucap Yoris memohon.


"Terima kasih Via, dalam pertemuanku denganku rupanya ini adalah rencana Allah. Bunda sudah sangat lama mencarì keberadaan Yudis namun tak pernah Bunda tahu dia dimana." Ucap Bunda Mery terisak.


Ku lihat Yudis dan Yoris kembali saling berpelukan, Aku sangat terharu melihat mereka berdua. Dua orang yang yang sedarah namun terpisah karena perceraian orang tua. Mata mereka menunjukkan kerinduan yang sangat mendalam.


Bibi, paman dan nenek Siam yang berada di situ ikut menangis terharu.


"Via, kehidupan mereka seperti di sinetron sangat sedih dan membuat Bibi tak berhenti mengeluarkan air mata." Ucap Bi Rina.


"Nak, pulanglah bersama kami. Ibu tidak ingin lagi berpisah darimu." Ucap bunda Meri memohon.


"Bunda, bukannya Yudis tak mau pulang, namun Yudis unyuk saat ini ingin tinggal sendiri. Maafkan Yudis bunda." Ucap Yudis menolak dan bersedih.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Dadymu nak? Apa Ia merawatmu dengan baik?" Tanya bunda Meri ingin tahu.


"Bunda, Dady tak pernah berubah. Beliau selalu membawa wanita ke rumah, hingga Yudis kabur dari rumah. Hidup terluntah di jalanan, Dady tak pernah berusaha mencari keberadaan Yudis di mana. Sebenarnya Yudis juga pernah datang ke rumah bunda beberapa kali kala itu. Namun sayang bunda tak pernah ada di rumah. Hingga Yudis putus asa dan memilih hidup di jalanan dengan penuh resiko." Tutur Yudis terisak.


"Maafkan bunda Nak." Ucap bunda Mery kembali memeluk anaknya.


Waktu sudah menunjukkan sore hari. Saat ini Bunda pamit untuk pulang ke kota. Begitu pula dengan Yudis juga ikut pulang bersama Bunda Mery bersama.


Betapa bahagianya hatiku saat melihat seorang Ibu dan anak yang sudah lama tak bertemu namun saat ini bisa bercengkrama bersama.


"Via, Insyaallah Aku akan datang kesini lagi pada saat waktu yang tepat. Dan Aku harap kedatanganku tidak mengecewakan." Ucap Yudis agak berbisik di sampingku.


Aku berusaha mencerna apa maksud perkataan dari Yudis namun Aku tak mengerti dan menjadi bingung.


"Bunda pamit ya Sayang, semoga kita di beri umur panjang dan bisa bertemu lagi." Ucap Bunda Meri bersedih.


"Aku pamit Via, suatu saat nanti Aku akan datang ke sini setelah Aku siap." Ucap Yoris.


Yudis dan Yoris sama-sama membuatku menjadi bingung. Apa maksud sebenarnya dari perkataan mereka.


Setelah mereka pergi Aku pun masuk kembali masuk ke dalam rumah.


"Ibu, Zafran ingin om Yudis jadi Ayah Zafran." Ucapan Zafran membuatku terkejut. Ada apa dengan anak-anakku, mereka merengek meminta Yudis untuk menjadi Ayah mereka.


"Nak, Ayah kalian kan Ayah Surya." Ucapku memberi pengertian.


"Zafran tahu Ibu, tapi om Yudis itu kasih sayangnya melebihi Ayah Zafran." Ucap Zafran.


Aku tertegun mendengar alasan Zafran. Ternyata kasih sayang yang di berikan Yudis selama ini membuat mereka menjadi terobsesi.

__ADS_1


Entalah, untuk saat ini Aku tak memikirkan untuk menikah lagi. Aku lebih memfokuskan diriku untuk ketiga putraku.


__ADS_2