
Aku sengaja tak berjualan hari ini karena Ku khususkan untuk mengajak ketiga putraku, Paman beserta nenek Siam dan bi Rina ke tempat wisata di kota kabupaten.
hasil dari warungku keuntungannya sangat lumayan, dan Aku ingin sesekali untuk memanjakan diri bersama keluarga. Aku menyewa mobil tetangga untuk pergi ke kota. Berbagai bekal yang sudah kami masak dari rumah untuk dimakan nantinya di sana.
Dengan hati senang kami menikmati perjalanan. Sampai di tempat wisata ketiga putraku langsung berenang di dalam kolam. Seumur hidup mereka ini yang pertamanya mandi kolam. Sementara ketiga anakku bermain di air paman. Aku, Bi Rina dan Nenek Siam asyik duduk menikmati panorama pantai sambil memakan cemilan.
"Via, Nek Siam. Bagaimana kalau kita naik petahu bebek itu." Usul Bi Rina.
"He he he, kalian pergilah. Nenek di sini saja, masa nenek sudah tua naik gituan." Ucap nenek Siam merasa dirinya lucu.
"Ayolah nek, Nenek naik sama Via aja. Bi sendiri aja ya?" Ucapku pada Bi Rina. Mengingat perahu bebek itu hanya bisa di naiki oleh dua orang saja dalam satu perahu.
Karena paksaan akhirnya nenek Siam pun ikut naik ke perahu. Sambil memutar-mutar pedal perahu bebek dengan kaki, nenek Siam tak henti-hentanya tertawa geli. Mendengar tawa nenek Siam, para pengunjung lain pun tertular tawa nenek Siam.
setelah puas bermain, Aku pun mengajak keluargaku berbelanja di toko pakaian. Setelah membeli pakaian untuk semua keluargaku kami pun pulang ke kampung. Tak henti-hentinya Bi Rina mengucapkan terima kasih karena telah Ku belikan baju gamis yang di pilih sendiri.
Sampai di rumah sekitar jam 4 sore. Saat turun dari mobi Aku melihat Lisa meringkuk di depan pintu rumah sambil memeluk tas ranselnya.
"Lisa?" Panggilku pelan.
Lisa berangsur berdiri dan memelukku sembari menangis.
"Maafkan Lisa mba, atas kelakuan Lisa yang membuat mba sengsara dan sakit hati." Ucap Lisa sesegukkan.
__ADS_1
"Dari dulu mba sudah memaafkanmu Lisa, kamu datang kesini bersama siapa?" Jawabku heran.
"Lisa kabur dari rumah mba, Lisa tak tahu lagi harus pergi kemana lagi." Ucapnya lesu.
"Masuklah" Ucapku mempersilahkan Lisa.
Aku tahu Lisa pasti kelaparan sedari tadi, dengan cepat Aku memasak untuknya dan mempersilahkan Lisa untuk makan. Dengan lahap Lisa menyantap makanannya dengan cepat. Sepertinya Ia lapar sekali.
Usai makan Lisa langsung membereskan bekasnya dan mencuci piring, pemandangan ini tak pernah Ku lihat saat Aku tinggal di rumahnya dulu.
Setelah itu Lisa duduk bergabung bersama ketiga keponakannya. Dengan ramah ketiga anakku menyambut tantainya dan mengajak bermain. Aku bersyukur Zafran dan Zaki tak dendam dengan sikap Lisa waktu itu.
"Dek, kenapa kamu harus kabur dari rumah?" Tanyaku ingin tahu.
"Maaf, jika Aku beryanya terlalu dalam." Ucapku.
"Maafkan Lisa mba, Lisa kabur karena Lisa tak kuat di perlakukan seperti di budak di rumah Lisa sendiri. Semenjak merasakan itu Lisa jadi tahu bagaimama menderitanya mba Via dulunya." Ucap Lisa kembali tergugu.
"Kok bisa dek?" Tanyaku bingung.
"Semenjak bayi mba Nindiana lahir, perhatian dan kasih sayang Ibu teralihkan sepenuhnya untuk Syakila. Apapun kebutuhan mba Nindiana dan bayinya. Ibu selalu turuti asalkan mba Nindi betah di rumah. Bayi itu menjadi topeng untuk memperalat mas Surya." tutur Lisa terisak.
Aku yang mendengar cerita Lisa cukup kasihan juga. Terlihat sekali dari wajah Lisa penuh beban dan fikiran.
__ADS_1
Malam pun tiba, kami pun merebahkan tubuh waktunya untuk beristirahat. Lisa yang tidur bersamaku nampak gelisah sekali, sepertinya Ia sedang memikirkan sesuatu.
"Tidurlah Lisa" Ucapku.
"Baik Mba" Jawabnya tak lagi gelisah.
Pagi ini Aku mulai membuka warung nasiku, Lisa juga ikut membantuku melayani pembeli. Kebetulan hari ini juga pembeli sangat ramai. Sampai Aku, Lisa dan Bi Rina kewalahan melayani pembeli.
"Dek, apa kamu tak rugi jika tak menyelsaikan sekolahmu lagi." Tanyaku pada Lisa di sela-sela isyrihat kami.
"Lisa malas melanjutkan sekolah mba, lebih baik Lisa berbisnis kayak mba." Ucapnya tanpa penyesalan.
"Dek, ilmu itu penting. kembalilah, jangan sia-siakan waktumu. Nanti kamu akan menyesal." Ucapku membujuk Lisa.
"Mba, Lisa takkan pernah kembali ke rumah lagi karena Lisa takut di tangkap polisi." Ucap Lisa ketakutan.
"Maksud kamu dek, mba tidak mengerti." Ucapku bingung.
"Lisa telah mencuri perhiasan mba Ninidiana, Lisa melakukannya terpaksa mba. Lisa tak mau Vidio Lisa di sebarkan oleh kekasih Lisa." Jelas Lisa jujur dan menangis.
"Apa? Lisa, kamu tak boleh lari dari tanggung jawab seperti ini. Mba bukannya tak ingin kamu ada di sini. Mba hanya ingin kamu bertanggung jawab atas semua perbuatanmu. Walau dimana pun kamu akan berlari dan bersembunyi kamu tetap akan ketahuan. Sampai kapan kamu seperti ini. Pulanglah besok, mba akan memberi ongkos untukmu pulang." Ucapku.
Lisa hanya mengangguk, nampak wajahnya terlihat kecewa dan tak suka. Aku tak bisa membiarkan Lisa tinggal di rumahku dalam keadaan bermasalah seperti ini. Itu sama saja Aku mendukung atas apa yang di lakukannya.
__ADS_1