
Yudis mengantar Via sampai di depan rumah. Nampak kedua putra Via berlari berhamburan melihat Ibu mereka pulang. Via memeluk dan mencium kedua putranya.
"Om juga ikut kesini, horee!" Sorak anakku kegirangan.
"Om, nanti kita pergi ke pantai dengan mobil om ya? Zul mau mengajak teman-teman Zul." Uca Zul senang.
"Tentu" Ucap Yudis janji.
"Sayang, om Yudis hanya mengantar Ibu kesini. Om Yudis akan segera pulang." Jelasku pada kedua putraku.
" Yaaa? Om Yudis kenapa cepat pulang sih! Kita kan belum bermain dengan om." Ucap Zafran kecewa.
"Om akan bermain bersama kalian, om akan menginap di sini." Ucap Yudis mengusap kepala Zul dan Zafran.
"Horeeee!" kembali anakku bersorak girang.
Bi Rina, Paman dan Nenek Siam menyambutku pulang dengan sangat bahagia. Yudis pun dipersilahkan masuk oleh paman ke dalam rumah.
"Kenalin paman, saya Yudis temannya Via." Ucap Yudis menyalami tangan paman dan memperkenalkan diri juga dengan nenek Siam dan Bi Rina.
Zul dan Zapran tak ingin meninggalkan Yudis dan tetap menempel di pangkuan Yudis bak perangko tak mau lepas. Berulang kali Bi Rina menyuruh mereka bermain namun kedua putraku tak mau juga meninggalkan Yudis.
"Yam Lalu denganmu papu balong." [ Via, temanmu itu bak anak sultan sangat tampan] Puji nenek Siam dengan menggunakan bahasa daerahku.
Walaupun Yudis tak mengerti apa yang dikatakan nenek Siam namun Yudis tetap tersenyum menanggapi perkataan nenek Siam.
"Via, Pria yang di luar itu siapa? Tampan sekali kayak artis sinetron." Ucap Bi Rina terpesona. Saking terpesonanya Bi Rina tak sadar jika teh yang di seruputnya masih sangat panas. Beruntung kami ada di dapur. Jika berada di luar bersama Yudis pasti Bi Rina akan merasa malu.
"Ha hu ha ha," mulutnya bi Rina kepanasan.
__ADS_1
Nenek Siam yang melihat tingkah Bi Rina terkekeh sampai gigi depannya yang sudah ompong terlihat semua.
"Maaf sebelumnya nak Yudis, beginilah keadaan rumah kami. Mungkin nak Yudis tidak terbiasa tidur beralaskan tikar seperti ini. Kamar tamu pun disini tak ada." Jelas paman dengan apa adanya.
"Saya sudah terbiasa lebih dari ini paman. Bahkan saya tidur beralaskan rumput dan beratapkan kardus." Ucap Yudis merendah.
"Jangan terlalu merendah nak Yudis, paman jadi nggak enak." Ucap Paman tak percaya.
"Jika paman masih ragu bisa di tanyakan langsung pada keduah bocah manis itu." Ucap Yudis melihat ke arah Zafran dan Zul yang sedang bermain.
"Jadi lupa, karena keasyikan mengobrol paman lupa menawarkan minuman tehnya. He he he, sebenarnya anget-anget mantab di minum. Ini sudah keburu dingin." Ucap Paman sambil mempersilahkan Yudis untuk meminum tehnya.
Malam ini Aku tidak memasak karena nasi dan semua lauk pauk yang dibungkus Yudis tadi di rumah makan padang lumayan banyak. Tak hanya nenek Siam dan Bi Rina. Namun para tetangga dekatku juga Ku ajak untuk makan bersama. Mereka semua sangat senang sekali begitu juga dengan Yudis sangat menikmati makanannya.
"Makasih ya Nak tampan" Ucap tetanggaku genit dan menggoda Yudis.
Saat paman mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat isya. Aku pun memberitahu pada paman jika Yudis tak satu keyakinan dengan kami. Nampak wajah paman agak kecewa namun mengerti dan mengangguk.
Pagi pun tiba, saatnya Yudis bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannnya ke pulau komodo.
"Om sudah janji dengan Zafran dan Zul untuk pergi ke pantai bersama teman-teman kami." Ucap Zafran dan Zul menagih janji Yudis.
"Pagi ini kita pergi, bersiaplah." Ucap Yudis tersenyum.
"Horeee! Om tunggu di sini ya. Zafran dan Zul akan memanggil teman-teman kami." Ucap Zul dan Zafran berlarian memanggil teman mereka.
"Yudis, kamu kan akan segera berangkat ke pulau komodo. Apakah kamu tidak di pecat nantinya oleh bosmu gara-gara terlambat." Tanyaku khawatir.
"Jangan khawatir Via, bosku orangnya baik. Aku tidak boleh ingkar janji pada Anak-anak. Jika mereka kecewa maka Zafran dan Zul tidak akan pernah percaya lagi padaku." Ucap Yudis tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih Yudis telah baik kepadaku dan kepada ketiga anak-anakku." Ucapku tulus.
"Aku hanya berbuat secuil untukmu dan anakmu Via, sementara kebaikanmu terlalu banyak untukku." Ucapan Yudis membuatku merasa bingung. Padahal selama ini Ialah yang berbuat banyak untukku.
Zafran dan Zul membawa teman sekolahnya sekitar 8 orang. Yudis yang melihat kedatangan teman Zul dan Zafran tersenyum geli.
"Om, kasihan teman-teman Zafran dan Zul, mereka belum pernah melihat pantai. Apalagi naik mobil." Ucap Zul dengan apa adanya.
Mata Yudis berkaca-kaca dan mengusap kepala Anakku dengan lembut.
"Ayo kita berangkat" Ajak Yudis dan memasukkan anak-anak itu ke dalam mobilnya.
Aku melambaikan tangan melihat kepergian Yudis ke pantai bersama anak-anak. Sebenarnya Zaki juga merengek ingin ikut. Namun Aku tak mengijinkan Zaki untuk di bawa Yudis takutnya Zaki merepotkan Yudis nantinya. Walaupun Zaki sudah tak menyusu lagi setidaknya Zaki masih senang untuk di gendong.
Aku hampir lupa memberikan uang belanja anak-anak kepada Yudis. Bagaimana nantinya mereka di pantai banyak maunya membeli ini dan itu. Belum lagi anak-anak yang 8 orang temannya Zafran dan Zul.
"Via, maaf jika paman menanyakan hal yang lancang padamu. Apakah kamu menyukai pria itu?" Tanya Paman serius.
" Paman, Via baru saja bercerai lagi pula Via belum ada niat untuk menikah lagi. Masalah perasaan Via tak punya perasaan apa-apa dengan siapapun. Via dan Yudis murni hanya teman. Apalagi Via dan Yudis tak sekeyakinan." Jelasku jujur pada paman.
"Tapi, sepertinya Pria itu menyukaimu nak. Jangan memberi harapan pada laki-laki apalagi Yudis itu tak seakidah dengan kita." Pesan paman.
" Via mengerti paman, Yudis hanya menganggap Via hanya teman biasa tak lebih." Ucapku menyangkal prasangka paman.
" Nak, paman ini laki-laki. Yudis itu memendam rasa yang dalam terhadapmu. Dia memang lelaki baik, andai saja Yudis seakidah dengan kita paman pasti mendukungmu dengannya terlebih Yudis sangat menyayangi ketiga putramu dengan tulus." Ucap paman serius.
Jujur, untuk saat ini Aku tak memikirkan tentang perasaan ataupun ingin menikah lagi. Jika lelaki menyukaiku maka itu di luar kendaliku. Karena Aku tak merasa menjadi penggoda bagi siapapun. Mungkin prasangka paman terhadap Yudis ada benarnya. Andau Yudis mengatakan perasaannya padaku maka saat itu juga Aku akan menolaknya. Namun sampai saat ini Yudis bersikap biasa saja.
Untuk saat ini Aku ingin fokus merawat dan mendidik ketiga putraku. Uang yang di berikan Mas Surya sebagai uang nafkah waktu itu. Akan Aku jadikan modal usaha nantinya. Aku ingin berusaha sendiri menghidupkan ketiga anak-anakku. Walaupun waktu itu mas Surya sudah menanda tangani surat perjanjian uang nafkah perbulannya akan di berikan. Aku tak mau terlalu berharap penuh.
__ADS_1