NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Bisnis Membuka Warung Nasi


__ADS_3

Akhirnya Yudis dan anak-anak pun pulang, baju mereka semuanya terlihat baru, tak terkecuali Zafran dan Zul. Di tangan mereka masing-masing membawa tas kantong plastik berisikan makanan ringan.


Semua anak-anak tersebut merasa sangat bahagia seolah tak ingin pisah dengan Yudis.


Aku pun menghampiri Yudis dan mengucapkan rasa terima kasihku.


"Yudis, ini uang untuk ganti belanja anak-anak tadi. Aku tak sengaja lupa memberikan padamu sebelum berangkat." Ucapku memberikan uang itu pada Yudis. Nampak wajah Yudis sepertnya tersinggung dan tak suka.


"Via, Aku melakukan semua ini sangat ikhlas, melihat mereka tertawa bahagia adalah kepuasan tersendiri bagiku. Aku menyayangi anak-anak Via." Ucap Yudis menolak uang pemberianku.


"Sampaikan salamku pada paman, Aku berangkat Via. Jaga ketiga putra lucu itu. Aku mencintai mereka." Ucap Yudis berpamitan.


Sebelum pulang Yudis mencium kepala anak-anak itu secara bergantian dan pamit pulang. Wajah anak-anak itu sangat sedih bahkan ada yang menangis. Termasuk kedua putraku. Sedekat itukah mereka dengan Yudis.


Mobil Yudis pun melaju meninggalkan gang rumahku. Lambaian anak-anak itu masih saja terangkat sampai mobil Yudis tak terlihat lagi.


Mulai besok Aku akan membeli perlengkapanku untuk berjualan nasi campur dan lauk pauk. Aku membuka warungku di depan rumah agar Aku lebih leluasa bisa menjaga ketiga anakku terutama Zaki.


Paman pun mulai membuat warung makanku di depan rumah. Semua bahan bangunan telah Ku beli dan Ku persiapkan. Paman mengajak salah satu tetangga untuk membantu Beliau. Warung kecil namun permanen itulah impianku. Sebelum membuatnya Aku sudah terlebih dahulu menghitung berapa biaya dan pengeluaran yang akan Aku keluarkan secara rinci dan detail.


Dua hari pengerjaan warungku pun jadi. Kini yang harus Ku persiapkan adalah membeli bahan dan alat untukku memasak nantinya. Aku membeli kompor gas dua mata beserta etalase tempat makananku kuletakkan nantinya.


Kebetulan rumah paman berada di depan jalan dan di lewati oleh para warga yang berlalu lalang pulang kedesa masing-msing.


Dengan di bantu Bi Rina dan nenek Siam akhirnya warungku resmi di buka hari ini. Karena musim menanam padi, banyak dari warga yang datang membeli nasi ke warungku. Dengan harga murah meriah plus lauk pauknya mengenyangkan perut.


Hari pertama berjualan para pembeli lumayan ramai. Dan Aku punya ide agar Bi Rina membuat gorengan sebagai pelengkap dagangan. Aku memberi modal pada Bi Rina untuk membeli bahan.

__ADS_1


"Bu Via rupanya yang punya warung, suami Saya sering belanja nasi bungkus disini." Ucap Ibu Sarmila yang waktu itu Aku kenal pada saat mengantar Zafran dan Zul ke sekolah. Beliau datang dengan sepeda motor dari kampung sebelah hanya untuk membeli nasi warungku. Kata Ibu sarmila beliau ketagihan dengan rasa nasi bungkus yang Ku jual.


"Via kamu tahu nggak Ibu Sarmila itu siapa?" Tanya Bi Rina.


"Bu Sarmila warga kampung sebelah" Jawabku.


" Ibu Sarmila itu istrinya pak kades di kampung sebelah." Ucap Bi Rina.


"Oh, pantesan penampilannya kayak orang berada." Ucapku.


"Memang berada Via, tanpa suaminya jadi kepala desa pun Bu Sarmila itu emang dasarnya orang kaya. Orangtuanya saja mempunyai peliharaan sapi banyak dan sawahnya pun berhektar-hektar." Jelas Bi Rina semangat menceritakan kehidupan Ibu Sarmila.


"Bibi ngefans ya sama Bu Sarmila?" Tanyaku menggoda bibi.


"Kali aja kekayaannya ibu Sarmila menular sama kita." Ucap Bi Rina tersenyum.


Semakin lama semakin hari warungku di kenal oleh para warga kampung dan kampung lainnya. Kadang Aku bisa berjualan sampai siang karena jualanku habis terjual.


Anak-anak di sini jika belum sarapan dari rumah tak memiliki uang belanja untuk membeli jualanku. Aku malah memberi mereka nasi bungkus gratis tanpa membayar. Sambil bisnis sambil bersedekah itulah impianku selama ini. Tak lupa Ku selipkan sedekahku Ku niatkan untuk kedua orang tua dan bibiku yang sudah di alam baka.


"Bu Via, Ibu bisa menyediakan nasi bungkus untuk 500 kotak tidak?" Tanya seorang pembeli.


"Bisa-bisa Pak" Ucapku senang.


"Saya ingin memesannya untuk lusa ya Bu. Soalnya untuk hajatan sore hari." Ucap Bapak itu.


Dengan memberi uang DP setengah beliau pun pamit pulang.

__ADS_1


"Bi, lusa nanti kita tidak usah jualan. Karena kita dapat pesanan nasi kotak untuk 500 kotak di desa sebelah buat hajatan." Ucapku pada bibi.


"Waaah, nasimu memang pantas terkenal Via. Rasanya nggak ada lawan." Ucap Bi Rina memujiku dan mrngancungkan kedua jempolnya.


Lusa pun tiba, namun paman tiba-tiba saja jatuh sakit dan segera di bawah ke rumah sakit. Tanpa pikir panjang Akupun membawa paman ke rumah sakit meski beliau menolak untuk ke dokter.


Karena kondisi paman sangat lemah terpaksa beliau harus di opname.


"Tinggalkan saja paman Via, pergilah menyelsaikan memasak pesanan orang." Ucap paman khawatir dengan warungku.


"Paman, saat ini yang utama adalah paman, Via tak mau meninggalkan paman sendiri di sini." Ucapku kekeh.


"Via, warung itu sudah menjadi kepercayaan pelangganmu. Jika pesanan orang kemarin tak segera kau selesaikan. Maka mereka akan kecewa terlebih mereka sudah mempercayakan kepadamu. Ingat Via, nasi kotak itu adalah untuk hajatan. Jika sore nanti tak di antarkan bukan saja pemesan kecewa namun juga para tamu-tamu yang di undang bapak itu. Percayalah Via, paman tidak apa-apa. Paman hanya lelah saja." Ucap paman meyakinkanku.


Dengan berat hati Aku terpaksa pulang dan meninggalkan paman sendirian berbaring di bed rumah sakit. Andai paman tak memaksa dan terus saja memaksaku Aku tak akan pernah mau pulang.


Sampai di rumah Bi Rina menantikan kabar dariku tentang keadaan paman. Bi Rina sengaja Ku mintai tolong untuk menjaga ketiga putraku sementara Aku di rumah sakit.


"Sinta, biar nenek saja yang kerumah sakit menjaga Fardan." Ucap Nenek Siam menawarkan diri.


"Tapi nek, nenek harus banyak istirahat" Ucapku menolak.


" Begini saja, Aku saja yang menjaga Kak Fardan. Kamu bisa kan sendirian memasak pesanan bapak itu?" Ucap Bi Rina.


"Insyaallah bisa bi." Ucapku yakin dan mulai lega.


Ketiga Anakku bermain bersama nenek siam, beruntung mereka tidak rewel dan nakal. Dengan cekatan Aku pun mulai memasak dan membungkus nasi yang 500 kotak itu. Tak kenal lelah Aku pun berhasil menyelsaikannya sendiri.

__ADS_1


Tak lama Bapak itu datang mengambil pesanannya. Dan menyerahkan sisa uang pesanannya. Aku berucap syukur karena pelangganku tak jadi kecewa. Ku biarkan warung betantakan tanpa merapikan dan membersihkan terlebih dahulu. setelah memastikan warung Ku tutup Aku pun bergegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan paman.


__ADS_2