NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Aku Terharu Dan Bangga


__ADS_3

Hari-hariku di kampung di sibukkan dengan bisnis menjual nasi campur. Kini kehidupanku dengan paman mulai terangkat. Rumah yang tadinya atapnya bocor dan berdindingkan anyaman bambu. Kini sudah bisa di renovasi sedikit demi sedikit.


"Makasih nak, atas kerja kerasmu kini rumah ini menjadi layak untuk di huni." Ucap paman sembari mengusap airmata nya karena terharu.


"Ini bukan usaha Via semata melainkan usaha dari paman juga." Ucapku sembari memeluk paman.


Besok adalah hari kelulusan Zafran anakku. Semua orang tua murid di undang untuk menghadiri acara kelulusan di SD Bina Harapan. Aku tak berharap lebih pada anakku, yang terpenting dia lulus itu sudah membuatku bangga.


"Besok pagi, warungnya di buka saja. Biar bibi yang jagain. Kamu hadiri saja acara ke sekolahnya Zafran." Ucap Bi Rina.


"Makasih banyak Bi." Ucapku.


Sebenarnya Aku memang berniat untuk menutup warungku besok. Namun karena Bi Rina yang menawarkan diri untuk berjualan besok terpaksa pagi ini Aku membeli bahan yang sudah habis ke pasar. Ku kayuh sepeda yang baru Ku beli 3 bulan yang lalu ke pasar. Dalam perjalanan tak henti-hentinya warga menyapaku. Senyumku selalu mengembang menyambut kehangatan mereka yang bertegur sapa. Begitu indahnya hidup di kampung, walaupun hanya basa-basi menanyakan. Mampir, mau kemana? Namun itu adalah bentuk silaturahmi yang abadi.


Sesampainya di pasar Aku membeli semua bahan untuk di warung. Entah, mengapa Aku ingin sekali membeli gamis yang tergantung di sana yang bewarna mokka di toko samping pasar.


"Mba, boleh liat gamisnya?" Ucapku pada pemilik toko.


"Boleh-boleh Bu" Ucapnya dengan ramah sembari mengaitkan tongkat untuk mengambil gamis yang di gantung di atas kepalaku.


"Ini model baru Bu, kainnya pun sangat nyaman dan lembut. Boleh di coba Bu." Ucap Pemilik Toko.


"Ini berapa mba" Ucapku menanyakan harga.

__ADS_1


"Ini harganya 200 ribu Bu, bisa nego sedikit." Ucap Pemilik Toko.


"Kalau bisa 150 ribu ya Mba" Tawarku.


"Begini saja Bu, berhubung toko saya mau tutup gimana kalau 175 ribu aja. Itu harga sudah paling murah Bu." Ucap Pemilik Toko.


Aku pun menghitung uang yang tersisa di dalam dompetku dan uang itu pas 175 Ribu. Tanpa pikir panjang Aku pun membeli gamis itu satu stel dengan jilbabnya. Sesekali Aku ingin memanjakan tubuhku dengan pakaian bagus. Dan gamis ini akan Ku pakai nantinya pada acara kelulusan anakku. Walau di kampung acara perpisahan anak SD disini juga meriah seperti dikota.


Sampai di rumah Aku mencoba mengenakan gamis yang Ku beli tadi. Dari panjang hingga ukurannya sangat pas di tubuhku. Saat Aku berputar melihat diri di cermin tak sadar Bi Rina memperhatikanku.


"Cantik sekali gamis itu di badanmu Via, warnanya juga cocok dengan kulitmu." Ucap Bi Rina memujiku.


"Makasih Bi, gamis ini nantinya Via akan pakai ke acara kelulusan Zafran besok." Ucapku senang.


_________________________


Para wali murid dan anaknya sudah terlihat rapi, begitu seru karena kami berjalan beriringan menuju sekolah. Walaupun jarak tempuh 20 menit tak terasa bagi kami karena suasananya yang begitu hangat.


Sampai di sekolah Zafran panggung di sekolahnya sudah di hias dengan berbagai pernak pernik berwarna-warni. Karena kursi depan masih kosong Aku pun menghempaskan bokongku di kursi paling depan.


"Maaf Bu, untuk wali murid silahkan duduknya di belakang. Di depan sini untuk para tamu undangan penting." Ucap salah satu guru penyelenggara kelulusan.


Tanpa protes, Akupun pindah dan duduk di belakang walau hatiku agak kecewa.

__ADS_1


Semua dari kepala desa, dan para perangkat desa turut di undang dan duduk di kursi paling depan. Ku lihat Ibu Sarmila dan suaminya juga duduk di baris di sana.


Setelah kata penyambutan usai barulah di umumkan juara yang berprestasi dan nilai yang tertinggi untuk kelulusan.


"Baik, Saya akan umumkan untuk juara 3. Selamat untuk adek kami Fahri Sanjaya. Silahkan maju kedepan bersama walinya untuk dokumentasi kami." Ucap pembawa acara.


Selanjutnya di umumkan juara keduanya lalu yang pertama.


"Untuk juara pertama dengan nilai tertinggi dan menjadi juara umum sekabupaten adalah Zafran Surya Pratama. Selamat dik Zafran karena telah membanggakan nama sekolah kami dan para guru di sini. Silahkan wali murid di persilahkan untuk maju." Ucap Pembawa acara.


Sebelum maju, terlebih dahulu Ku hapus air mataku karena rasa haru dan bahagia. Aku tak menyangka Zafran anakku hari ini membuatku sangat bangga. Setelah berfoto Aku pun turun dari panggung dan langsung di persilahkan duduk di depan layaknya tamu penting. Padahal tadi Aku tak di ijinkan untuk duduk di kursi depan.


"Silàhkan Nak Zafran mungkin ada kata yang ingin di sampaikan." Ucap kepala sekolah sambil memberikan mik kepada Zafran.


"Assalamualikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh!" Ucap salam Zafran dengan lantang. Kami pun para tamu undangan menjawab salam dengan semangat.


"Pertama-tama saya panjatkan puji syukur kepada Allah serta Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Yang terhormat guru-guru saya, para tamu undangan dan teman-teman yang saya sayangi. Dan paling spesial buat Ibu saya yang begitu luar biasa yang duduk disana." Ucap Zafran menunjuk ke arahku.


Semua tamu mengarah melihatku saat ini dan Aku menjadi pusat perhatian mereka.


"Terima kasih Ibu, karena doamu Zafran bisa seperti ini. Zafran hanya ingin mengatakan pada Ibuku yang disaksikan oleh bapak-bapak dan Ibu semua bahwa Saya sangat-sangat menyangi beliau. Saya tahu tangis Ibu saat ini adalah tangis bahagia, prestasi yang membabggakan ini tidak ada apa-apanya untuk Zafran persembahkan dibandingkan pengorbanan Beliau. Terima kasih selama ini Ibu telah kuat dan tegar mendidik dan merawat kami. Hu hu hu." Zafran tergugu dan tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya.


Aku berjalan ke atas panggung dengan penuh deraian air mata lalu memeluk anakku dengan erat. Aku tahu yang ada di fikiran anakku saat ini. Zafran kecewa dan terluka karena tak melihat Ayahnya di saat hari bahagianya. Aku tahu Zafran ingin menujukkan prestasinya pada Ayahnya. Namun keinginan itu Ia pendam dalam hati.

__ADS_1


Para tamu undangan yang hadir tak terkecuali mereka juga tergugu menangis karena sedih dan terharu. Aku melepaskan pelukanku dan mengajak Zafran turun dari panggung. Para tamu undangan berdiri dan menepuk tangan dengan meriah dan riuh.


Hari ini Aku sangat bangga dan bahagia. Bukan karena Zafran anakku berprestasi namun Aku bangga karena Zafran telah menjadi Anak yang patuh dan sholeh.


__ADS_2