NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Ibu Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Nindiana semalaman suntuk tak tidur karena kehilangan perhiasannya. Niatnya pergi dari rumah bermodalkan perhiasannya kini harus tertunda lagi. Ia mengurungkan niatnya meskipun Aku mengusirnya. Padahal awalnya Ia mengancamku untuk membawa Syakila anaknya dan tak pernah kembali lagi. Kini Nindiana tak berkutik dan pasrah dengan apa yang akan Ku lakukan padanya.


"Berisik! Bisa diam nggak sih!" Bentakku emosi.


"Mas! Aku sedang bersedih karena perhiasanku hilang, tapi mengapa kamu tak perduli sama sekali." Ucap Nindiana terisak.


"Apa perduliku, kamu saja membelinya tak memberitahuku. Giliran kehilangan kamu nangis seperti kucing mengeong." Ucapku membali memejamkan mata.


Tak ada suara tangisan lagi, kemungkinan Nindiana sudah terlelap. Kini tidurku kembali aman sentosa tanpa suara berisik.


Pagi pun tiba, Aku bergegas bangun dan mengambil handuk menuju kamar mandi. Saat Aku melewati kamar adikku Lisa pintunya terbuka lebar. Entah, apa yang membuat kakiku masuk ke dalam kamarnya. Ku lihat kamar Nindiana kosong, kemungkinan Ia sedang berada di dapur. Namun mataku tertuju pada meja belajarnya. Sebuah amplop putih tergelatak dengan bolpoin berada di atasnya.


Dengan rasa penasaran Aku pun mengambil amplop itu dan membuka isinya. Tampak di luar amplop itu tertulis untuk Ibu dan Mas Surya.


Aku mengambil nafas dalam-dalam sebelum membuka isi surat dari Lisa. Aku takut apa yang Aku fikirkan benar-benar terjadi pada Lisa.


"Maafkan Lisa, Lisa harus pergi dari rumah. Dan maafkan Lisa telah membuat Ibu dan Mas Surya kecewa. Jangan khawatirkan Lisa, Lisa bisa menjaga diri sendiri. Salam sayang Lisa untuk Ibu dan Mas Surya."


Isi surat Lisa membuat tubuhku bergetar hebat. Kenapa dia harus kabur dari rumah dan apa yang telah terjadi dengan Lisa sebenarnya.


"Bu..! Panggilku pada Ibu dengan suara bergetar.


"Ada apa sih! Tanya Ibu kesal.


"Bu lihat ini" Ucapku sembari memberi surat itu pada Ibu.


"Lisaaaa! Kamu kemana nak, jangan lakukan ini pada Ibu. Sekolahmu tinggal sebentar lagi." Ucap Ibu menangis histeris.


Mendengar Ibu menangis, Nindiana pun keluar dari kamar dan menghampiri Ibu yang terduduk bersimpuh di lantai.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar Aku mencoba menghubungi Mas Fatir. Tak lama telpon pun tersambung dan mendengar kabar dariku mas Fatir sangat terkejut.


Ku bopong tubuh Ibu yang seketika lemas tak berdaya karena terkejut. Ku baringkan tubuh beliau di atas kasur dalam kamarnya. Sementara Nindiana sibuk menggendong Bayinya yang menangis akibat terkejut mendengar suara Ibu berteriak.


Biasanya jika Syakila menangis Ibu langsung bangkit dan menggendong cucunya. Namun kali ini Ibu tidak merspon apapun, matanya melotot dan terdiam membisu. Aku menjadi panik dan khawatir melihat keadaan Ibu.


Tak lama Mas Fatir pun datang dengan nafas yang menderu.


"Ibu kenapa Sur?" Tanya Mas Fatir khawatir.


"Setelah membaca surat Lisa Ibu jadi kaku seperti ini." Terangku.


"Ayo kita bopong Ibu ke atas mobil, kita segera ke rumah sakit sekarang." Ucap Mas Fatir kalut.


Ibu tetap terbujur kaku dengan mata melotot, suara nafasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari kencang. Dengan kecepatan tinggi mas Fatir mengendarai mobilnya. Tak lama kami pun sampai di rumah sakit. Kini infus dan oksigen telah terpasang di tangan dan hidung Ibu.


Mata Ibu tetap saja melotot dan tak mengerjap sama sekali.


"Lisaaa!" Ibu merespon namun berteriak sangat kencang memanggil anaknya.


"Bu, sadarlah Lisa pasti kembali" Ucapku menyadarkan Ibu.


"Ibu anda depresi berat, kalau bisa jangan biarkan Ibu anda tertekan dan banyak fikiran." Ucap Dokter yang menangani Ibu.


Aku dan Mas Fatir sebisa mungkin mencari keberadaan Lisa. Kami menanyakan keberadaan Lisa ke teman dekat dan sekolahnya. Namun kami tak menemukan sebuah petunjuk. Berulang kali Aku dan mas Fatir menghubungi ponselnya namun ponselnya sudah tidak aktif. Aku takut jika Lisa berbuat nekat lalu bunuh diri. Aku sangat menyesalkan karena Lisa tak berterus terang dengan apa yang telah di alaminya. Aku pun izin pulang sebentar pada Mas Fatir ke rumah guna mencari jejak di kamar Lisa.


Sampai di rumah suara tangisan Syakila terdengar kencang sekali. Aku pun masuk dan melihat keadaan Syakila. Syakila menangis sendirian di dalam kamar. Aku pun menggendongnya dan menenangkan Syakila. Dot yang disampingnya pun Ku berikan ke mulutnya. Syakila langsung terdiam dan berhenti menangis. Sambil Ku gendong kucari keberadaan Nindiana. Sudah seluruh ruangan telah Ku telusuri namun, Aku tak menemukan Nindiana. Kemana Ia pergi meninggalkan bayinya seorang diri.


Tak lama Syakila pun berhenti menangis dan Aku menidurkannya dengan pelan. Saat ingin Ku cabut dot yang menempel di mulutnya, Syakila kembali menangis. Aku terpaksa membiarkan dot yang sudah kosong itu berada di mulutnya.

__ADS_1


Dengan langkah kaki yang pelan Aku meninggalkan Syakila menuju kamar Lisa. Aku membuka lemari pakaiannya yang hanya tersisa beberapa helai baju saja. Dengan teliti Aku memeriksa isi lemarinya namun nihil Aku tak menemukan petunjuk apapun. Kembali lagi Aku membuka laci beserta lemari plastik kotak. Tak ada juga Ku temukan apa-apa.


Ku lihat sebuah tas usang yang menggantung di belakang pintu. Aku membuka tas itu yang berisikan semua kertas sampah bercampur dengan tisu. Dan mataku memerah ketika melihat pengaman intim laki-laki yang sudah terpakai. Apa yang sebenarnya di lakukan Lisa di dalam kamarnya. Mengampa pengaman intim laki-laki ada di kamarnya. Mungkinkan Ia membawa pria ke dalam kamarnya.


Aku kembali memeriksa kantong jaket yang tergantung di belakang pintu. Saat merogok kantong jaketnya mataku tertuju pada isi keranjang sampah. Nampak sebuah foto yang dirobek oleh Lisa. Aku pun menyambungkan foto itu layaknya bermain fuzzle. Dan foto itu terlihat sangat jelas jika Lisa saling berpelukan dengan seorang pria tanpa busana.


Kepalaku mendidih melihat foto itu. Hingga Aku tak sadar berteriak dan lupa jika Syakila sedang tertidur.


"Aaarrggh" Teriakku sambil mengusap rambutku dengan kasar.


OE OE OE....


Syakila terjaga dan menangis lagi, Aku bergegas melihat Syakila dan menggendongnya.


Aku mencoba menghubungi Nindiana namun ponselnya tak aktif. Aku pun keluar rumah dengan membawa Syakila guna menanyakan keberadaan Nindiana.


"Bu, Ibu lihat Nindiana istri saya keluar tidak." Ucapku pada salah satu tetanggaku.


"Maaf nak Surya, Ibu barusan pulang kerumah, Ibu tak melihat istrimu. Memangnya ada apa nak?" Ucap Ibu Siti bertanya.


"Saya kira Ibu Siti melihatnya, nggak ada apa-apa Bu, tumben saja istri saya nggak pamit keluar rumah." Ucapku beralasan.


Aku pun membawa Syakila masuk lagi ke dalam rumah. Umurnya yang masih 6 bulan membuatnya rentan sakit jika keseringan terkena kerasnya angin.


Ponselku berdering, ternyata panggilan dari mas Fatir.


"Surya cepatlah datang, Ibu sekarang sudah di masukkan ke ruamg ICU karena kejang-kejang." Ucap mas Fatir langsung menutup telpinnya.


Dengan terpaksa Aku membawa Syakila ke rumah sakit. Jika Aku tinggalkan sendirian di rumah Aku merasa sangat kasihan. Kalaupun Aku menunggu Nindiana pulang entah sampai kapan. Sementara Nindiana sendiri tak Ku tahu kemana Ia pergi.

__ADS_1


__ADS_2