NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Nindiana Kena Batunya


__ADS_3

Sampai di kampung halaman, Aku begitu senang ketika melihat kedua putraku berlarian menyambut kedatanganku. Usapan tangan mungil mereka merengkuh pipiku dengan sangat lembut membuat rasa lelah dalam perjalanan hilang begitu saja.


"Kasihan sekali Lisa nak? Harus meregang nyawa dalam keadaan berbadan dua dan tanpa suami. Semoga Allah mengampuni dosanya." Ucap paman turut sedih.


"Via juga merasa sangat sedih paman. Andai Via tahu saat itu dia dalam keadaan hamil. Via tidak akan menginjinkannya pulang sendirian. Via sangat menyesali akan hal itu." Ucapku pada Paman merasa sangat bersalah.


Setelah mengistirahatkan tubuh di malam hari kini tubuhku begitu segar. Aku bahagia sekali bisa berjalan tanpa alas kaki di jalan setapak menuju persawahan. Udara yang segar dan dedaunan yang hijau membuatku begitu tenang dan nyaman. Untuk hari ini Aku sengaja liburan untuk jualan. Karena Aku ingin menikmati seharian di dalam sawah bersama Paman dan kedua putraku. Jika harus mengunjungi Zafran pun Aku tak bisa karena hari ini bukanlah hari kunjungan di pesantren.


Sekitar pukul dua siang, saat kami beristirahat di rumah sawah tiba-tiba bi Rina menyusul kami.


"Viaaaa, ada tamu!" Teriak bi Rina dari kejauhan namun suaranya masih sangat jelas Ku dengar.


Aku pun menghampiri bi Rina.


"Ada apa bi? Tanyaku memastikan.


"Ada tamu yang mencarimu seorang wanita, rambutnya pirang dan penampilannya seksi." Ucap bi Rina menyebutkan ciri-cirinya.


Aku mengernyitkan dahi karena Aku tak tahu siapa wanita yang di maksud bi Rina.


"Paman, Riana pulang sebentar. Titip anak-anak." Ucapku agak berteriak.


"Baiklah nak." Sahut paman.


Sampai di rumah, Aku sungguh terkejut bahwa Nindianalah yang mendatangi rumahku.


"Nindiana?" Sapaku.


"Aku datang kesini hanya perlu menitipkan ini." Ucap Nindiana memberiku sebuah map biru.


"Apa ini Nindi?" Tanyaku penasaran.


"Buka saja" Ucap Nindiana terlihat angkuh.


"Mari masuklah, tak nyaman di lihat orang dari luar. Di sini kampung Nindiana, tak sepantasnya kamu memakai pakaian yang minim seperti itu." Ucapku agak risih melihat busana Nindiana yang agak terbuka.


Tanpa menjawab, Nindiana pun mengikuti perkataanku.


Sampai di dalam rumah Aku pun mulai membuka map yang di berikan padaku. Saatku buka isi map itu terdapat surat sertifikat tanah yang mengatas namakan diriku.

__ADS_1


"Ini kok bisa namaku Nindiana?" Ucapku heran.


"Karena rumah yang di huni mas Surya telah di hibahkan untukmu. Aku hanya memohon padamu sebagai sesama perempuan. Tolong tanda tangani ini bahwa kamu memberiku atas hak tanah ini." Ucap Nindiana.


Aku masih berfikir berulang kali dan masih tak mengerti maksud Nindiana.


"Begini Via, sertifikat ini di buat oleh mas Surya tanpa sepengetahuanmu. Dan Aku hanya meminta belas kasihanmu agar kamu menandatangani surat ini bahwa kamu telah memberikan semua hakmu padaku." Jelas Nindiana


Aku menelisik mata Nindiana yang penuh dengan rahasia dan kelicikan. Mungkin Nindiana mengira Aku wanita yang bodoh dan bisa di akalin begitu saja.


"Baiklah, Nindiana. Aku akan menandatanganinya besok siang saja. Karena Aku harus memikirkan hal ini terlebih dahulu matang-matang." Ucapku mulai bermain dalam permainan Nindiana.


"Apa bedanya dengan sekarang Nindiana? Toh, keputusanmu juga akan sama." Ucap Nindiana agak memaksa.


"Mengapa kamu yang meminta kamu juga yang mengaturku Nindiana." Ucapku tegas.


Nindiana pun setuju dan pulang bersama seorang pria dengan dibonceng menggunakan sepeda motor. Nindiana sepertinya menginap di rumah pria tersebut.


Nindiana ingin mengakaliku dari perbuatan jahatnya. Saat ini yang Ku lakukan adalan mencoba menghubungi mas Fatir. Beruntung nomornya Aku simpan kala itu saat mengantar jasad Lisa ke mataram.


"Hallo Via, apakah kamu sudah tiba dengan selamat?" Ucap mas Fatir terdengar khawatir.


"Apaaa? Jadi wanita jahat itu datang ke rumahmu. Mas minta tolong padamu Via, buat alasan apapun untuk menghalanginya pulang." Ucap mas Fatir.


"Mas Fatir tenang saja, Via sudah mengatur semuanya. Karena Via merasa ada yang aneh dari gerak-gerik Nindiana." Ucapku.


"Terima kasih Via, sebentar lagi Aku akan bersiap-siap menuju kampungmu. Palingan tengah malam kami tiba di sana. Jangan beritahu Nindiana bahwa kami akan datang." Ucap mas Fatir.


Setelah mengobrol dengan mas Fatir Aku begitu lega.


Padahal perjanjian besok siang, namun Nindiana datang lagi dengan pria asing itu.


"Via, Aku tidak banyak waktu menunggu besok. Kasihan bayiku menangis karena masih menyusui." Ucapnya meminta belas kasihan dengan megatas namakan bayinya Syakila.


"Maaf Nindiana, keputusanku sudah bulat. Jadi, sekalipun kamu menangis darah Aku takkan mengabulkan permintaanmu." Ucapku tegas.


Dengan kesal Nindiana meninggalkan rumahku tanpa pamit.


Ternnyata mas Fatir dan mas Surya sudah datang. Namun Aku sengaja menyuruh mas Fatir menyembunyikan mobilnya untuk di parkir di

__ADS_1


bawah kolong rumah panggung bi Rina. Agar besok paginya Nindiana tak curiga.


"Via, Nindiana sangat jahat sekali. Rumah Ibu telah di jualnya dengan orang lain. Dan surat yang di berikan padamu adalah surat palsu dan hanya ingin menjrbakmu dalam perbuatannya yang buruk." Jelas mas Fatir.


Karena sudah larut malam kami pun tidur untuk mengistirahatkan tubuh kami.


Ayam berkokok menandakan pagi datang. Setelah mentari bersinar dari ufuk timur. Kami pun terlebih dahulu sarapan pagi.


"Mas rindu dengan masakan ini Via." Ucap mas Fatir memuji masakanku.


"Aku juga Via." Timpal mas Surya.


Sementara kedua putraku duduk di atas pangkuan mas Fatir sambil menyuapinya. Entahlah, Aku tiba-tiba teringat Yudis saat mas Fatir menyuapi kedua putraku. Dan bayangan itu semakin kuat di pelupuk mataku. Ada apa dengan diriku ini.


Belum juga siang, Nindiana sudah datang bersama pria itu lagi. Melihatnya dari jendela kaca, Aku pun menyuruh mas Surya dan mas Fatir untuk bersembunyi.


"Nindiana, Aku semakin curiga padamu. Mengapa kamu nekat sekali untuk datang sepagi ini." Ucapku.


"Ayolah Via, barusan Ibu menelponku untuk menyuruhku pulang. Syakila tak bisa dia menamgis jika Aku tak ada di sampingnya." Alasan Nindiana.


"Jika kamu tahu bayimu seperti itu mengapa kamu nekat berhari-hari meninggalkannya. Wanita macam apa kamu!" Ucapku emosi.


"Via, jika kamu takkan menanda tanganinya bilang saja dari kemarin. Tidak perlu menghinaku, Aku datang ke sini dengan niat yang baik." Ucap Nindiana mencoba membela diri.


"Benarkah niat baik?" Ucap mas Fatir muncul dari persembunyiannya.


Wajah Nindiana begitu sangat ketakutan. Ia mencoba hendak kabur, namun di hadang oleh mas Surya.


"Jadi kamu sudah menjebakku Via?" Ucap Nindiana masih bisa berkicau.


"Benar, wanita licik sepertimu harus di hadapi dengan kelicikan juga. Jika tidak, maka kamu akan memanfaatkan kebaikan orang dan memperalat orang yang lemah. Kamu sengaja membuat surat palsu dan kamu menyuruhku menanda tanganinya agar kamu bisa mengakali bahwa Akulah yang menjual tanah mertuaku. Maaf Nindiana Aku tidak sebodoh itu." Ucapku menunjuk wajah Nindiana.


"Sebentar lagi polisi akan menangkapmu Nindiana. Karena kamu telah melakukan kecurangan dalam menjual hak yang bukan milikmu." Ucap mas Fatir.


Wajah Nindiana semakin ketakutan, karena terhimpit Ia langsung bersimpuh di kaki suaminya mas Surya dan menangis pilu.


Kami memang sudah merencanakan untuk menakut-nakuti Nindiana agar mengembalikan uang penjualan rumah tersebut dan bertanggung jawab atas perbuatannya untuk menyelsaikan urusan pembelian kepada yang membeli rumah mantan mertuaku.


Dengan mengancam wanita licik itu Nindiana pun akan menyelsaikan masalah rumah mantan mertuaku yang di beli oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2