NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Berpisah Dengan Yoris Dan Bertemu Dengan Yudis


__ADS_3

Entah Aku harus bahagia ataukah Aku harus bersedih. Perpisahan ini bukanlah inginku namun keadaanlah yang membuatku tak bisa mepertahankan rumah tanggaku. Hari ini Aku resmi berubah status menjadi janda. Dan kini urusanku telah selesai di kota ini dan mungkin besok pagi Aku langsung pulang ke desaku.


Bunda Mery memelukku dengan hangat dan menangis. Beliau tak mengucapkan apa-apa atas perceraianku. Namun Aku bisa merasakan ketulusan beliau dari cara beliau memgutarakan dengan dekapan nya saat ini.


"Kamu hati-hati ya nak, jaga diri baik-baik. Insyaallah jika Bunda ada waktu bunda akan mengunjungimu di desa." Ucap bunda Mery.


"Terima kasih banyak atas semua kebaikan bunda selama ini, Via tak bisa membalasnya dengan apapun." Ucapku beruntung.


"Kamu telah hadir di dalam keluarga bunda adalah sebuah keberuntungan buat Bunda. Apalagi dengan kehadiran si kecil." Ucap bunda Meri menoel hidung Zaki.


Aku pun pamit dan berangkat. Nampak wajah Yoris terlihat begitu murung. Sedari tadi di dalam perjalanan mengantarkanku ke halte bus tak ada percakapan sama sekali di antara kita. Entah, apa yang ada di fikiran dan benaknya saat ini.


Aku pun sampai di halte bus. Yoris membukakan pintu untukku keluar dari mobil.


"Terimakasih Yoris telah mengantarkanku." Ucapku tulus.


"Apa kau senang pulang ke desamu?" Tanyanya.


"Aku sangat senang sekali" Ucapku jujur.


"Aku berharap kau tetap tinggal di kota ini." Ucapnya.


" Tak ada alasanku untuk berdiam diri disini Yoris, lagi pula keluarga dan anakku sangat menunggu kepulanganku. Kota ini penuh dengan kenangan pahit dan juga manisku. bertemu dengan keluargamu adalah sebuah kesan yang tak akan pernah bisa untuk Ku lupakan." Ungkapku.


"Dan perpisahan ini begitu sangat cepat bagiku, Aku belum siap." Ucap Yoris membuatku penuh tanda tanya.


" Maksudmu?" Ucapku bingung.


"Aku belum mau berpisah dengan Zaki dan ju..." Yoris memotong kalimatnya karena bus pun sudah berhenti di depan mata.


"Naiklah, biar Aku saja yang akan mengangkat barangmu ke dalam bagasi." Ucapnya.


"Aku melambaikan tangan pada Yoris sampai lambaian tangan Yoris menghilang dari mataku.


Seperti biasanya jika sudah berada di dalam bus maka Aku langsung tertidur. Mengingat perjalanan masih jauh dan Aku harus butuh istitahat.


Tak terasa Aku sudah sampai di dermaga dan bus pun masuk ke parkiran badan kapal. Ketika Aku naik ke atas Aku melihat Yudis juga ikut menyebrang. Tanpa ragu Aku pun menyapanya.


"Yudis? Kita ketemu lagi disini" Ucapku menyapanya.

__ADS_1


"Via? Waah, nggak nyangka juga Aku bisa ketemu lagi denganmu. Harapan dan doaku ternyata di kabulkan." Ucapnya senang.


Yudis pun mengambil Zaki dari gendonganku. Kemudian mengajak Zaki melihat air laut yang begitu tenang.


"Ngomong-ngomong tujuan kamu mau kemana? Tanyaku.


"Aku akan ke pulau komodo" Jawabnya tersenyum.


"Waah, Kamu akan berlibur" Ucapku menebak.


" Tidak Via, Aku bekerja di sana" Ucapnya.


"Pantesan Aku sering bertemu denganmu ketika Aku keluar kota." Ucapku manggut-manggut.


"Oya, Suamimu tidak ikutkah?" Tanya Yudis. Jujur Aku tak ingin berbohong lagi dan mengatakan hal yang sebenarnya dengan Yoris.


"Mm, Aku baru saja bercerai dengan suamiku Yudis. Kedatanganku ke kota adalah untuk mengurus perceraianku." Terangku jujur.


"Maaf, Aku turut bersedih atas perpisahanmu." Ucap Yudis merasa bersalah.


"Tak apa" Ucapku santai.


Ketika Aku hendak bangkit untuk berdiri foto yang ku pegang terjatuh ke bawah. Foto yang di berikan bunda Mery saat kami berfoto bersama. Aku lupa memasukkannya ke dalam tas ranselku.


"Foto itu adalah foto keluarga baruku Yudis di kota ini. Mereka adalah keluarga yang sangat baik dan hangat. Tuhan mempertemukan Aku dengan mereka pada saat Aku dalam keadaan sendirian dan butuh bantuan." Terangku sambil mengambil foto itu dan melihat kebersamaanku dengan keluarga bunda mery dengan tersenyum.


"Aku tahu, terlihat dari wajah mereka adalah orang yang sangat baik. Kamu beruntung Via selalu dipertemukan dengan orang-orang yang baik di sekelilingmu." Ucap Yudis sedih.


Kini wajah Yudis berubah menjadi terlihat sangat sedih, mood Yudis berubah-rubah. Tadinya Ia terlihat sangat senang dan kini seperkian menit begitu cepatya sekali berubah.


"Maaf Yudis, apa ada kataku yang menyinggung perasaanmu?" Tanyaku.


"Mengapa kau bertanya begitu Via? Kamu tak punya salah apa-apa denganku." Ucap Yudis menatapku.


"Tapi mengapa wajahmu terlihat berubah dan sedih?" Ucapku memperhatikannya.


"Kamu wanita yang sangat peka Via, Aku hanya rindu dengan Ibu dan saudaraku." Ucapnya.


"Apa mereka tinggal di pulau komodo?" Tanyaku ingin tahu.

__ADS_1


Yudis hanya mengangguk tanpa berani mengangkat wajahnya. Aku yakin Yakin Yudis sedang menyimpan sesuatu.


"Jangan khawatir sebentar lagi kamu akan bertemu dengan mereka Yudis." Ucapku menghiburnya.


"Semoga" Jawabnya singkat.


Kini Aku mengalihkan pembicaraan dengan topik lain tanpa harus menyinggung tentang keluarganya. Mungkin tema keluarga di bicarakan terlalu sensitif bagi Yudis. Sesekali kita tertawa dan tak terasa kapal sudah tiba di dermaga kedua.


"Aku antar ya Via, kebetulan Aku tadi nyebrang menggunakan kendaraan mobil. Kebetulan jalur arah kami pergi searah." Tawar Yudis.


"Aku naik bus saja Yudis" Tolakku.


"Ayolah Via, Aku mohon jangan menolak." Ucap Yudis memaksa.


"Baiklah, tapi tasku ada di bagasi bus itu." Ucapku menunjuk bus yang masih terparkir.


Yudis pun mengambil tasku dan Aku pun naik ke atas mobil bersama Zaki.


"Apa ini mobil pribadimu Yudis?" Tanyaku ingin tahu.


"Ini mobil perusahaan tempatku bekerja Via." Jawabnya tersenyum.


Sebenarnya masih banyak yang ingin Ku pertanyakan pada Yudis namun, Aku takut dia merasa tak nyaman dan terlalu tahu penuh tentang privasinya.


Dalam perjalanan pulang Aku sudah terbiasa jika duduk di kursi mobil ataupun bus Aku selalu ketiduran. Mungkin efek obat mabuk darat yang Ku kosumsi.


Aku lupa jika Yudis merasa kesepian menyetir tak ada teman bicara. Aku malah meninggalkannya tidur.


Tiba-tiba mobil berhenti berjalan, Aku menggeliatkan tubuh mengira diriku sudah sampai rumah. Ternyata ketika Ku buka mata diriku masih dalam setengah perjalanan. Rupanya Yudis sedang berhenti di sebuah rumah makan nasi padang.


"Ayo turun, kita makan siang dulu." Ucap Yudis membuka pintu mobil. Dalam setengah sadar Aku mencari keberadaan anakku Zaki. Ternyata Yudis sudah membawanya ke tempat rumah makan.


"Selamat siang mas Yudis" Sapa pelayan dengan ramah. Pelayan itu tahu nama Yudis mungkin karena sering berlangganan makan di sini.


"Pa kabar nak Yudis, istrimu cantik sekali." Ucap Ibu itu melihat ke arahku.


Yudis hanya tesenyum menanggapi ucapan Ibu pemilik rumah makan tanpa menjelaskan bahwa Aku bukanlah istrinya.


Makanan pun sudah tersaji di atas meja. Banyaknya menu yang Yudis pesan membuatku sulit untuk memilih makann mana yang harus Ku makan terlebih dahulu. Aku teringat dengan kedua putraku di desa. Tiba-tiba saja seleraku hilang karena teringat mereka.

__ADS_1


"Aku sudah membungkusnya untuk kedua putramu dan keluargamu di kampung. Makanlah, nanti makanannya keburu dingin." Ucap Yudis tahu apa yang sedang Aku fikirkan. Sambil menyuapi Zaki sesekali Yudis memasukkan nasi ke mulutnya sendiri.


Yudis, Yoris dan Mas Fatir adalah lelaki yang baik dan tulus yang pernah Aku kenal. Mereka semua sangat sayang kepada putraku. Andai kasih sayang itu berasal Ayahnya sendiri. Ah, lagi-lagi Aku teringat dengan kedzaliman mas Surya.


__ADS_2