
POV SURYA
Rasanya Aku sangat malu menampakkan Wajahku di tempat umum. Aku tak menyangka Via sangat berani mempermalukanku. Aku berdiam diri di dalam kamar dan malas untuk keluar.
TOK TOK TOK
" Surya, sampai kapan Kamu akan mendekam terus didalam kamarmu?" Panggil Ibu kesal.
Aku tak menyahut ataupun membuka pintu. Gara-gara Via Aku jadi seperti ini. Bukan hanya malu yang Ku dapat namun juga Aku di pecat dari Pekerjaanku karna ketahuan berselingkuh. Vidio dari salah satu yang menyaksikan Via mempermalukanku tersebar luas dan beritanya sampai ke Atasanku.
Belum lagi kemarahan Mas Fatir yang harus Ku terima. Mereka semua membenciku kecuali Ibu yang masih tulus menyayangiku. Sikap Lisa Adikku pun tak seperti biasanya. Dulu jika Aku menyuruhnya sekedar membeli Rokok Dia mau melakukannya. Namun sekarang mengambil Air minum saja untukku Ia enggan dan banyak alasan. Padahal dapur dan kamar sangat dekat untuk Ia melangkah.
TOK TOK TOK
Ibu kembali mengetuk kamarku dengan keras.
" Surya! Buka pintunya, Ibu mau bicara." Teriak Ibu.
Dengan terpaksa Aku membuka pintu kamar. Dengan Wajah yang lesu Aku berjalan menghampiri Ibu.
" Sur, berhentilah menyiksa diri seperti ini Nak. Sekarang bangkitlah dan bersikap masa bodoh dengan perkataan Orang terhadapmu." Ucap Ibu menasehatiku.
" Surya sangat malu Bu, Surya belum bisa menerima cacian dan hinaan Orang di luar sana." Ucapku tak bersemangat.
" Jika begini terus, Ibu akan pindah ke rumah Kakakmu Fatir. Ibu tidak mau tinggal bersama Orang yang terkena gangguan jiwa seperti ini. Lihat dirimu sekarang! Lama-lama Kamu bisa jadi Orang Gila." Ucap Ibu marah.
Ucapan tajam Ibu membuatku bangkit dari duduk dan pergi meninggalkan rumah tanpa permisi dengan Motor Sepeda. Kulajukan Motorku dengan pelan, angin malam yang berhembus menusuk kulitku yang kurang fit. Namun Aku tak memperdulikannya dan terus saja melajukan Motorku tanpa arah. Aku bukan marah pada Ibu yang mengataiku habis-habisan. Namun Aku marah pada diriku sendiri telah menjadi Orang yang paling bodoh selama ini. Nindiana benar- benar telah meninggalkankanku karena Aku tak punya apa-apa lagi. Benar kata Via jika Aku sudah di buang Kekasihku layaknya seonggok sampah.
Motorku tiba-tiba tersendat karena kehabisan bahan bakar.
" Sial!" Kesalku sembari menendang Jok Motor.
__ADS_1
Kini, Aku terlihat benar-benar seperti Orang bodoh. Aku keluar rumah tanpa membawa uang sepeser pun. Bagaiman caranya Aku kembali ke rumah. Jika sepeda Motor ini Ku dorong bisa-bisa Aku mati sampai di rumah karena kelelahan. Mengingat Aku sudah terlampau jauh melajukan Motor Sepedaku.
Aku mendorong Sepeda Motorku hingga sampai ke POM Bensin. Dan kini Aku mencari cara untuk bisa mengisinya. Aku tak bisa menghubungi siapapun karena Ponselku juga lupa Ku bawa. Duduk termangu menunggu penolong membuatku merasa bosan.
KRIUK KRIUK KRIUK
Suara perutku terdengar jelas. Perutku mulai lapar karena sedari tadi siang Aku tak memakan apapun. Rasanya penderitaanku lengkap sudah.
Seseorang ikut duduk di sampingku dan menawarkan rokok untukku.
" Rokok Mas" Ucapnya menyodorkan Sebatang Rokok ke arahku. Tanpa menolak Aku pun mengambilnya.
" Dari mana Mas!" Tanyanya sembari menyembulkan asap Rokonya ke depan.
" Saya dari Sukun Mas, Bahan Bakar Motor Sepeda Saya habis. Dan sekarang Saya tak bisa pulang karena lupa membawa Dompet dari rumah." Ucapku jujur.
" Nanti Saya yang isikan Mas, yang penting Mas antarkan Saya ke Senggigi. Jangan khawatir nanti Saya yang isikan Bensin Motor Mas sampai penuh." Ucap Pria yang yang tak Ku tahu Namanya itu.
Sesuai perjanjian Dia pun mengisi Minyak Motorku sampai penuh. Tak hanya itu Pria itu juga mengajakku makan di Warung. Walau baru Ku kenal ternyata Pria itu peka juga.
" Saya Surya" Jawabku.
" Kalau Saya Herman" Ucapnya memperkenalkan diri. Tak terasa Kita sampai di Senggigi. Aku cukup lelah mengendarai Motor dan terpaksa mengikutinya masuk untuk beristirahat di sebuah rumah. Entah, itu rumahnya Herman atau bukan.
" Kalau Kamu lelah diamlah di sini dan beristirahatlah. Aku akan ke Diskotik, Kamu mau ikut?" Tanyanya.
" Aku tak punya Modal untuk memasuki Area tersebut" Ucapku jujur.
" Tenang, biar Aku yang traktir." Ucapnya.
Walaupun tubuhku terasa lelah Aku pun mengikutinya kemana Herman pergi. Sampai di Diskotik suara dentuman musik yang memekakkan telinga membuatku kembali bersemangat dan rasa kantukku hilang begitu saja. Sudah lama Aku tak kesini lagi. Semenjak Aku masih Bujang, Aku sering berkunjung kesini. Dan di sinilah tempatku berkenalan dengan Ninidiana.
__ADS_1
Entah, apa yang di lakukan Herman dengan Temannya di sana. Ku lihat Herman bersalaman dengan Temannya seolah usai melakukan transaksi. Saat menikmati musik dan goyangan para Wanita seksi. Tiba-tiba mataku tertuju pada Nindiana yang sedang duduk di pangkuan Kekasihnya Bule Tua yang Ku hajar saat itu.
Aku memberanikan diri untuk menghampiri Nindiana dengan Kekasihnya. Nindiana pun melihatku namun sepertinya Ia seolah tak mengenaliku.
" Sur, rupanya Kamu ada di sini. Tadinya Aku mau ajak Kamu berkenalan dengan Teman Wanitaku." Ucapnya.
Aku tak merespon Herman jika Ia sedang berbicara denganku. Mataku tetap fokus memandang Nindiana.
" Pacar Kamu Sur?" Ucap Herman bertanya.
" Iya" Jawabku singkat.
" Rupanya Kamu juga korbannya Nindiana. Ha ha ha." Ucapnya tertawa.
" Kamu kenal dengannya?" Tanyaku mulai ingin tahu.
" Aku kenal baik dengan Nindiana, gara-gara Dia Sahabatku Yudis jadi seperti Orang Gila. Dan sampai sekarang Aku tak pernah bertemu dengan Sabatku itu." Tutur Herman juga membenci Nindiana.
" Andai Sahabatku itu tahu jika Bule yang di kencaninya sekarang adalah Dadynya. Mungkin Sahabatku Yudis akan membunuh Nindiana. Aku heran pelet apa yang digunakan Nindiana hingga para Korbannya seperti Orang Gila." Ucap Herman mampu membuatku tersinggung namun tak Ku nampakkan.
" Ayo ikut Aku, Aku akan memperkenalkanmu dengan Gadis Belia yang cantik dan manis." Ucapnya mengajakku menjumpai Gadis itu.
Sampai di depan Bartender Herman mencari Gadis yang ingin di perkenalkannya denganku namun Gadis itu sudah keburu pulang.
" Kita pulang saja Man, kepalaku pusing ingin beristirahat." Ucapku pada Herman.
Aku pun pulang bersama Herman ke rumah yang Kami singgahi tadi. Rumah sederhana namun cukup nyaman untukku beristirahat malam ini.
Aku tak tahu mengapa Herman tak juga ikut tidur padahal Malam telah larut. Kemungkinan Ia terbiasa begadang. Ku lihat Herman membungkus sesuatu entah apa itu. Dan usai membungkus Herman lalu membuangnya ke atas atap rumah. Yang di lakukan Herman begitu aneh dan mencurigakan. Aku mencoba memejamkan mata dan tak perduli dengan apa yang o di lakukan oleh Herman.
Aku menggeliatkan Tubuhku yang lumayan segar. Karena sudah cukup beristirahat. Namun perutku kembali terasa lapar karena belum Sarapan. Ku lihat Nasi Bungkus sudah tersedia di sampingku. Mungkin Herman sengaja menyediakan untukku.
__ADS_1
" Sudah bangun Sur, Aku bisa minta tolong lagi nggak sama Kamu?" Tanyanya.
" Sebelum pulang tolong antarkan paket ini ke Temanku yang berada di Sukun ya. Dia akan menunggumu nantinya di depan pasar." Ucapnya memperlihatkan Kotak kecil yang di baluti dengan Lakban. Aku tak menanyakam isi dari kotak itu takutnya barang itu sebuah Privasinya.