NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Nindiana Kabur Lagi


__ADS_3

"Yudis, maafkan Aku. Aku tak tahu jika pacarnya Nindiana adalah Dadymu. Aku menyesal menyuruhmu untuk berhenti." Ucapku merasa bersalah.


"Ini bukan salahmu Riana, justru Aku berterima kasih padamu karena Aku bisa melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri." Ucap Yudis bersedih.


Tak terasa kami pun sampai di terminal. Yudis sebenarnya menawarkan diri untuk mengantarku sampai ke kampung halaman. Namun Aku menolak niat baik Yudis.


"Sampaikan salamku pada ketiga bocah itu Riana." Ucap Yudis tersenyum.


Aku pun naik ke atas Bus yang sebentar lagi akan melaju. Ku lihat dari atas Bus Yudis masih menunggu Busku melaju.


Kasihan sekali Yudis, sedari kecil walaupun bergelimang harta namun Ia tak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Andai Dadinya tak egois membawanya pergi. Mungkin Yudis takkan menderita seperti ini. Beruntung saat ini Yudis sudah bertemu dengan bunda Meri.


Seperti biasa, berjam-jam di dalam perjalanan membuat tubuhku sangat letih. Sampai di kampung halaman rasa lelahku dalam perjalanan begitu saja hilang saat melihat kedua putraku yang menantikan kepulanganku. Zafran yang masih di pondok pesantren membuatku sangat rindu.


Ada apa dengan diriku dan perasaanku malam ini. Bayangan Yudis kali ini menghantui tidurku. Mungkin ini yang dikatakan oleh paman. Jika kebaikan tulus dari seseorang akan membuat siapa pun akan luluh. Apakah hatiku kini terbuka kembali untuk pria. Namun Aku harap perasaanku hanya sebatas sesaat saja.


Senyuman Yudis, cara Yudis memperlakukan ketiga putraku membuat perasaanku yang membatu kini seperti es batu yang meleleh. Jangan sampai Aku jatuh cinta padanya. Karena Aku dan Yudis sungguh tak bisa bersatu.


________<<<<<_______


Sementara Via sibuk dengan perasaannya. Nindiana mempermalukan dirinya di depan umum mengejar Dadynya Yudis. Tanpa malu Nindiana seperti pengemis membungkuk dan memohon pada Dadynya Yudis agar Dadynya Yudis tak meninggalkannya.


"Aku mohon sayang, Aku sudah berkorban banyak untukmu." Ucap Nindiana memeluk satu kaki kekasih Tuanya.


"Kamu telah menipuku Nindiana, mulai sekarang jangan pernah kamu hubungi Aku lagi. Mengerti! Ucap Ronald geram.

__ADS_1


Ronald sangan kecewa dengan Nindiana karena Nindiana telah membohonginya selama ini. Rupanya Nindiana terus-menerus menguras uang dari Ronald Dadynya Yudis. Dan uang yang di berikan Ronald untuk anak hasil hubungan gelapnya dengan Nindiana. Di pergunakan Nindiana untuk berfoya-foya.


Dengan keras Ronald menutup pintu mobilnya dan melaju pergi tanpa menghiraukan Nindiana. ATMnya telah hangus, karena Nindiana tak bisa lagi meminta uang pada Ronald.


"Aku benci kamu Via!" Teriak Nindiana.


Dalam keadaan lemah Nindiana mencoba bangkit dan menaiki taksi untuk pulang ke rumah Surya. Sampai di rumah Surya Nindiana terkejut ketika melihat karangan bunga duka cita. Perlahan Nindian melangkahkan kaki dengan pelan, Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Artinya Ferdi benar-benar telah melenyapkan nyawa Lisa. Padahal Nindiana hanya menyuruh Ferdi untuk menyakiti Lisa bukan membunuhnya.


"Aku sudah membuat Lisa celaka Nindiana. Namun sayang emas yang di curi Lisa darimu telah dijual." Ucap Ferdi orang suruhan Nindiana.


"Bagus, yang terpenting Lisa tidak mampus. Ia telah main-main denganku dan berani sekali mencuri harta milikku." Ucap Nindiana puas.


Saat itu Lisa hendak pulang ke mataram, namun na'as Ia sudah di buntuti Ferdi sejak awal kepergiannya dari mataram.


Sebenarnya Lisa sudah mencurigai dirinya sendiri jika dirinya ada yang membututi. Namun Lisa tetap saja berprasangka baik da positif. Saat Lisa hendak menyebrang jalan. Sebuah mobil dengan sengaja melaju dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh Lisa. Tubuh Lisa terpental hebat hingga membuat Ia koma di rumah sakit. Dan sampai saat ini polisi masih menyelidiki kasusnya. Karena saat kejadian tak ada saksi yang melihatnya karena saat itu jalanan sepi.


Walau di usir Nindiana tetap kekeh berdiam diri di teras sampai pemilik rumah membukakan pintu untuknya. Nindiana mulai menangis dan membuat drama jika Ia sangat rindu dengan Syakila.


Karena tak tahan Syakila menangis, akhirnya Surya mengizinkan Nindiana untuk masuk. Seperti majik Syakila langsung terdiam ketika di gendong oleh Ibunya.


"Maafkan Nindiana mas, mulai saat ini Nindiana takkan pernah meninggalkan anak kita lagi." Ucap Nindiana.


"Anak kita? Kamu sadar apa yang kamu ucapkan. Syakila bukanlah anakku Nindiana melainkan anak selingkuhanmu." Ucap Surya geram.


"Apa? Jadi Syakila bukan cucu Ibu." Ucap Ibu Surya terkejut dan keluar dari kamarnya dalam keadaan infus masih menempel di tangannya.

__ADS_1


"Benar bu, cucu yang Ibu sayangi dan bangga-banggakan bukanlah cucu Ibu melainkan anka dari hasil selongkuhan Nindiana." Ucap Surya berani jujur.


Dalam keadaan sakit dan baru bisa merangkak. Ibu Surya jatih pinsan lagi.


"Ibu, Bu, Bu. Bangun Bu." Ucap Surya menepuk-nepuk pipi Ibunya.


Sementara Nindiana terlihat begitu santai dan bahagia melihat Ibu mertuanya pingsan.


Tubuh yang gemuk itu serasa ringan bagi Surya untuk menggendongnya naik ke atas taksi. Sampai di rumah sakit Ibu Surya langsung di tangani dan diberi nafas buatan oksigen di hidungnya.


Dalam keadaan panik Surya berusaha menghubungi kakaknya Fatir. Beruntung Fatir langsung mengangkat panggilan dari Surya.


Tak lama Fatir pun tiba dengan Yuri di rumah sakit.


Sementara itu di rumah Surya, Nindiana sibuk mencari sertifikat rumah Surya beserta surat-surat penting lainnya. Setelah mendapatkan surat penting itu niat Nindiana akan kabur dan menggadaikan rumah milik suaminya.


Dengan bercucuran keringat Nindiana tak pantang menyerah mencari surat yang di simpan oleh penghuni rumah tersebut.


Dengan kegigihannya, Nindiana pun menemukan surat penting itu. Tak dihiraukan anaknya yang sedari tadi menangis kencang. tanpa membuang waktu Nindiana langsung pergi dari rumah itu bersama bayinya Syakila. Dengan licik, sebelum Nindiana pergi Ia terlebih dahulu merapikan bekasnya mencari surat. Agar Surya tak merasa curiga.


"Bu, jika mas Surya mencari saya. Bilang saja saya ke rumah orang tua Nindiana." Ucap Nindiana menitip pesan pada salah satu tetangganya.


Nindiana sengaja melakukan hal tersebut agar Surya tak curiga jika dirinya telah kabur. Setelah Nindiana berhasil menggadaikan rumah suaminya Nindiana akan pergi membawa bayinya ke tempat aman.


Sungguh kasihan sekali si Surya harus mendapatlkan istri yang sangat jahat. Berharap mendapatkan istri yang lebih baik dari Via malah mendapatkan istri yang murahan dan tak tahu diri.

__ADS_1


Demi seonggok sampah Ia rela membuang berlian di tangannya. Lelaki yang bodoh dan hanya mengikuti hawa nafsunya akan mendapatkan karmanya sendiri.


__ADS_2