
POV SURYA
Aku lupa jika Ibuku masih dalam keadaan sakit dan tengah berduka atas kehilangan Lisa adikku satu-satunya.
Saat itu Aku kehilangan kendali untuk mengatakan yang sebenarnya. Sikap Nindiana membuatku sangat emosi. Ia datang dan pergi sesuka hatinya tanpa merasa bersalah. Kini Ibuku drop lagi gara-gara Nindiana juga. Mengapa Aku bisa tergila-gila dulunya dengan wanita macam Nindiana.
Apalagi setelah Ku tahu Via sudah mempunyai pilihan hidupnya kembali. Aku seperti tak ada tempat dan kesempatan lagi untuk kembali padanya.
"Surya jika Ibu sembuh, Aku akan membawa dan merawat beliau di rumah saja. Kamu benar-benar tak bisa menjaga Ibu." Ucap mas Fatir menyalahkanku.
"Tapi mas" Ucapku menolak.
Mas Fatir menatapku dengan tajam dan Aku akhirnya pasrah jika Ibu di bawa oleh mas Fatir. Ku lihat wajah mba Yuri begitu tak suka jika Ibu akan tinggal bersama mereka.
Sekitar dua jaman, Ibu pun sadar dari pingsannya. Saat menatap ke arahku Ibu begitu sedih dan meneteskan air mata.
"Surya, bawalah Riana kembali ke rumah. Ibu menginginkan menantu seperti Riana."Pinta Ibu dengan suara yang parau.
"Bu, istirahatlah. Jangan terlalu berfikir." Ucap mas Fatir mengusap kepala Ibu.
Setelah dirawat 2 hari di rumah sakit, Ibu akhirnya di bawa langsung ke rumah kediaman bang Fatir. Aku sangat sedih sekali.
Usai mengantar Ibu ke rumah mas Fatir Aku pun pulang kerumah. Sudah 2 hari ini selama Ibu di rawat di rumah sakit Aku baru menginjakkan kaki di dalam kamarku.
Entah kemana Nindiana membawa Syakila pergi. Belum sempat Aku merebahkan tubuhku di kasur. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
TOK TOK TOK
"Nak Surya?" Panggil Bu Darsih tetanggaku.
__ADS_1
"Maaf nak, jika Ibu menganggu waktu istirahatmu. Kemarin Nindiana berpesan jika Ia membawa anaknya berkunjung ke rumah orang tuanya dan menginap." Ucap bu Darsih langsung pamit.
Aku kembali masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku. Aku tak perduli lagi dengan keadaan Riana dan anaknya. Ku coba memejamkan mataku sejenak dan Aku langsung tertidur.
Entah, sudah berapa jam Aku terlelap. Ku lihat jam ponselku sudah menunjukkan pukul 6 sore. Sepi rasanya tak ada siapa-siapa di rumah ini. Tangis Syakila yang biasanya terdengar sangat menganggu kini terasa hening.
Aku bergegas mengguyur tubuhku agar terasa segar. Dan pada saat Adzan magrib berkumandang Aku keluar rumah untuk pergi ke rumah mas Fatir untuk mengunjungi Ibu.
Sekitar setengah perjalanan tiba-tiba Aku di serempet oleh pengendara mobil yang ugal-ugalan. Aku terpental jauh ke aspal. Kedua lututku robek dan berdarah. Aku tak bisa bangkit untuk berdiri. Beruntung orang baik langsung melarikanku ke rumah sakit terdekat.
Aku meringis kesakitan saat robekan kakiku di jahit. Sementara pengendara yang menyerempetku telah meninggal di tempat. Akibat mengebut, laju motornya tak bisa terkendali dan menghantam para pengguna jalan. Kecelakaan tersebut menjadi viral di media sosial. Bukan Aku saja korbannya. Ada 3 orang lagi pengguna jalan yang yang tewas di tempat. Beruntung Aku hanya terluka tak sampai mengakibatkan maut menjemputku seperti mereka.
Ujian datang bertubi-tubi dalam keluargaku. Ibu masih dalam pemulihan kini Aku harus berada di rumah sakit. Kasihan juga mas Fatir yang sibuk mengurus semua biaya kami. Beruntung kakakku itu hidupnya berduit.
Andai Riana ada di sini dan masih berstatus sebagai istriku. Mungkin Ia akan merawatku dengan sepenuh hatinya. Aku seperti orang sebatang kara yang tak mempunyai keluarga. Ibuku yang sakit di jaga oleh mas Fatir dan Lisa yang sudah meninggal. Aku mempunyai Nindaiana namun tak ada artinya. Dalam kesusahan pun Ia tak pernah menampakkan batang hudungnya. Tak khawatirkah Ia dengan mertua dan suaminya. Nindiana lebih memilih menginap di rumah orang tuanya di bandingkan merawat Ibu.
Aku menangis sejadi-jadinya mengingat akan ketiga putraku. Riana sudah berbahagia dengan pilihan hatinya begitu juga dengan ketiga anakku sudah mempunyai pengganti ayah yang baru.
"Mas, apakah Surya pantas jika meminta Via untuk kembali lagi ke sini. Ini demi Ibu mas." Ucapku.
"Surya, apa kamu tak punya malu untuk itu. Biarkan Via bahagia, jangan ganggu dia lagi. Aku tahu kamu saat ini sangat menyesal. Jangan membawa nama Ibu segala." Ucap mas Fatir kesal.
Bahkan mas Fatir sendiri tak mendukungku dan lebih memilih Via bahagia dengan orang lain.
Setelah 3 hari di rawat di rumah sakit Aku pun pulang ke rumah mas Fatir untuk pemulihan. Karena di rumah tak ada yang merawat diriku.
Semenjak diam di rumah mas Fatir, perlakuan mba Yuri tak bersahabat. Kadang Aku harus memaksakan diri untukku memasak isi perutku. Namun ketika mas Fatir pulang kerja dan berada di rumah. Mba Yuri terlalu drama, seolah seharian lelah merawatku dengan Ibu. Aku yakin Ibu tinggal di sini sangat tertekan dengan sikap mba Yuri.
"Mas, Surya menginap di rumah saja. Tubuh Surya sudah pulih." Ucapku berbohong.
__ADS_1
Setidaknya di rumah sendiri lebih baik di bandingkan harus makan hati di rumah mewah mas Fatir. Sebenarnya mas Fatir tak menginginkan Aku pulang. Namun Aku tetap kekeh ingin pulang ke rumah. Karena kasihan mas Fatir pun mengantarkanku dengan mobilnya. Sesampainya di rumah, Ku lihat dua orang sedang berdiri di depan pekarangan rumah.
"Cari siapa Pak?" Tanyaku.
"Kami mencari pemilik rumah ini." Ucap Bapak berjaket kulit.
"Oh, saya sendiri. Mohon maaf, ada perlu apa ya pak?" Tanyaku lagi.
"Kami hanya datang untuk meminta bapak untuk memindahkan barang-barang bapak segera. Karena kami akan segera menempati rumah ini." Ucap bapak itu serius.
"Maaf pak, saya tidak mengerti maksud bapak." Ucapku bingung.
Aku pun mengajak kesua bapak itu masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan mereka duduk.
"Begini, istri anda sudah menjual rumah ini pada kami." Ucap bapak Berkumis sembari melihat semua bukti pembelian.
"Maaf Pak. Kok bisa bapak membelinya sementara tak dilengkapi dengan sertifikat dan perayaratan lainnya." Ucapku masih bingung.
"Kami tidak bodoh pak, sebelum membelinya kami juga memperhatikan seluruh kelengkapan sertifikatnya." Terang bapak berjaket kulit.
"Tidak bisa pak, pembelian bapak tidak sah karena tak di lengkapi dengan tanda tangan yang punya sertifikat tanah ini." Ucapku tak terima.
"Lho, bukankah istri anda yang bilang jika Ibu anda sudah mati. Jadi, tanda tangannya di wakili oleh penjual sendiri." Ucap bapak berkumis mulai emosi.
"Semua bukti kami miliki pak. Anda mau bawa kami ke hukum pun kami siap." Ucap bapak berjaket kulit tak gentar.
Setelah kepulangan mereka, Aku pun masuk ke dalam kamar Ibu dan memeriksa semua serfikat rumah ini. Dan benar saja Nindiana telah mencuri sertifikat rumah Ibu dan membawanya pergi. Rupanya selama Ibu di rawaf di rumah sakit Nindiana menjadikan itu sebuah kesempatan.
Nindiana memang tak tahu diri. Tubuhku yang sedari tadi terasa lemas kini berubah menjadi kuat karena sakit hati dan terbawa emosi.
__ADS_1
Apakah Aku harus meminta tolong pada mas Fatir lagi untuk mengurus rumah ini. Nindiana benar-benar keterlaluan.