
Ku lihat Kepala Mas Fatir menunduk karena merasa malu. Sebenarnya Aku kasihan melihat Mas Fatir ikut terlibat dari kesalahan Keluarganya sendiri.
" Maafkan kesalahan Keluarga Saya Paman." Ucap Mas Fatir meminta maaf dan menangkupkan Kedua Tangannya di dada.
" Paman mengerti Nak, Paman hanya terkejut saja dengan sikap Mereka. Di rumahku saja Mereka berani menghina dan memperlakukan Anakku semena-mena. Apalagi Anakku menumpang hidup di sana. Mungkin Anakku Via lebih menderita dari ini." Ucapan Paman mampu membuat Mertuaku menundukkan kepalanya.
Tanpa permisi Ibu Mertuaku langsung mengambil Tas jinjingnya yang di letakkan di atas kursi teras rumah. Kemudian berlalu pergi Naik ke atas Mobil. Sementara Mas Surya hanya terdiam bagai Pecundang tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tak henti-hentinya Mas Fatir meminta maaf padaku dan kepada Paman.sebelum pamit Mas Fatir terlebih dahulu menjumpai Ketiga Anakku yang sedang tertidur pulas. Mas Fatir mengecup pucuk kepala beserta kening Mereka secara bergantian. Mata Mas Fatir berembun dan Mas Fatir sangat menyesalkan semua kejadian ini. Padahal Mas Fatir bukan Ayah Biologis dari Ketiga Anakku namun Kasih Sayangnya melebihi Cinta Kasih Ayah Kandung Mereka sendiri. Tak heran jika Ketiga Anakku sangat menyayangi Omnya itu dibandingkan Ayah Mereka.
Dengan berat hati Mas Fatir berpamitan dan pergi meninggalkan Kampungku dengan penuh kesedihan. setelah Mobil Mas Fatir tak terlihat Aku berlari ke dalam kamar dan menangis sesegukkan. Aku baru saja di tinggalkan oleh Bibi untuk selama- lamanya, dan kini Keluarga Suamiku datang untuk menghinaku lagi.
Tekadku saat ini sudah mantab jika Aku dan Ketiga Anakku akan menetap di Kampung Bibiku. Sebelum memasukkan Sekolah Zafran dan Zul di sini. Terlebih dahulu Aku harus mengurus surat pindahnya. Dan untuk mengurus itu semua Aku harus balik ke Kota Mataram. Mengingat Acara Tujuh Hari Bibi Meninggal sudah usai.
_________________________________
" Paman, Via akan ke Kota untuk meminta Surat Pindah Sekolahnya Zafran dan Zul." Ucapku meminta izin.
" Pergilah Nak, biarkan Zafran dan Zul di sini bersama Paman. Jika Paman pergi bekerja ada Rina yang akan mengurus Mereka." Ucap Paman.
Bi Rina adalah Tetangga baik Bibi, Bi Rina belum Menikah dan hidup menyendiri. Umur Beliau sudah menginjak 43 Tahun namun, Bi Rina belum kunjung Menikah karena belum mendapatkan Jodoh. Bi Rina sangat menyukai dan menyayangi Anak- anak termasuk Anakku. Jadi Aku tak perlu merasa khawatir menitipkan Kedua Anakku pada Bi Rina.
Pagi ini Aku sudah bersiap berangkat Ke Kota Mataram. Paman memberiku uang sebesar Tiga Ratus Ribu untuk ongkos Busku pergi ke sana. Entah, dari mana Paman mendapatkan uang itu. sebenarnya Aku berat menerima uang dari Paman. Mengingat Beliau juga dalam kesusahan. Dengan tambahan uang yang tersisa padaku Tujuh Ratus Ribu. Jadi Uang itu keseluruhannya berjumlah Satu Juta Rupiah. Aku rasa Uang ini sudah cukup untukku selama dalam perjalanan Pulang Pergi.
Beruntung Kedua Putraku Zafran dan Zul adalah Anak yang pengertian, Mereka tak minta ikut atau pun merengek. Kali ini Aku sengaja menggunakan Tas Ransel yang di pinjamkan Bi Rina padaku. Agar Aku bisa leluasa tanpa harus menenteng Tas lagi. Berat beban di punggungku dan Berat badan Zaki membuatku agak ngos-ngosan Ketika berjalan menuju Jalan Raya.
Paman tak bisa mengantarkanku ke tempat menunggu Bus melintas. Soalnya Paman pagi- pagi harus pergi ke Sawah Majikannya.
__ADS_1
Sudah Tiga Kali Bus arah ke Mataram melintas di depan Kami namun penumpang Bus tersebut selalu penuh dan tak ada bangku yang kosong. Sekitar Satu jam lebih Aku menunggu Bus yang sepi dari Penumpang. Dan Akhirnya Aku melihat Sebuah Bus dari jauh. Aku pun bergegas berdiri menunggu bus itu di tepi jalan. Ku lambaikan tanganku agar Bus itu berhenti.
Beruntung, Bus kali ini sepi dari Penumpang hingga membuatku leluasa untuk bergerak. Aku menyandarkan punggungku di kursi Bus. Dan mengistirahatkan Tubuhku yang terasa letih.
" Apa Kamu letih Via?" Tanya Seorang Pria di samping Kursi dudukku.
Aku pun menoleh ke samping karena merasa penasaran dengan suara Pria yang menyapaku. Aku mengernyitkan dahi menatapnya dengan heran. Sepertinya Pria tesebut pernah Ku lihat namun entah dimana.
" Apakah Kamu masih ingat dan mengenaliku?" Ucapnya tersenyum.
Senyuman itu sepertinya akrab di mataku. Aku berusaha memutar memori ingatanku agar Aku kembali mengingatnya. Namun sayang penuhnya masalah dan fikiran di kepalaku membuatku menjadi Wanita pelupa.
" Ternyata Tuhanmu mengabulkan Doaku, akhirnya Aku bertemu denganmu di atas Bus ini tanpa janjian. Bukankan ini sebuah Takdir Via?" Ucapnya tersenyum.
" Yu-Yu-Dis?" Ucapku ragu. Aku tak menyangka penampilan Yudis menjadi Modis seperti ini. Aku hampir tak mengenalinya karena Wajahnya begitu berbeda. Layaknya Orang Arab, hidung Yudis yang mancung, bibirnya yang mungil dan Bola Matanya yang coklat membuat siapa pun akan mengakui jika Yudis adalah Pria yang sangat Tampan.
" Bagaimana Aku bisa lupa dengan Orang yang pernah membantuku." Ucapku tersenyum ramah.
" Terima kasih Via, karena dirimu Aku bisa menghargai diriku sendiri." Ucapnya berterima kasih.
" Kamu berubah bukan karenaku Yudis, Kamu berubah karena usaha dirimu sendiri." Ucapku.
" Kamu benar, tapi semua itu tak luput dari Supportmu waktu itu." Ucapnya memujiku.
Tampak Wajah Yudis mencari Kedua Putraku. Aku pun memberitahunya jika Kedua Putraku Aku tinggalkan di Kampung bersama Kakeknya. Zaki terlihat sangat senang dan tertawa renyah ketika Yudis menggoda dan mencubit pipinya yang tembem dengan pelan.
" Sebelumnya Aku minta maaf Yudis, bukan Aku bermaksud merendahkanmu. Apakah Kamu masih tinggal di rumah itu?" Ucapku hati-hati.
__ADS_1
Yudis tersenyum dengan santai.
" Rumah itu sudah Ku bakar setelah Kalian pergi." Ucapnya.
" Lalu..." Ucapanku terpotong takutnya Yudis tersinggung jika Aku bertanya terlalu dalam masalah pribadinya.
" Tak usah sungkan jika Kau ingin bertanya padaku Via. Sekarang ini Aku sudah kembali ke rumah Orang Tuaku." Ucapnya.
Aku hanya menyimak tanpa harus bertanya lagi.
" Biar Aku saja yang memangku Si Kecil. Kamu tidurlah." Ucapnya menawarkan diri. Yang kebetulan Si kecil juga anteng dengannya.
Perjalanan masih cukup jauh sampai di Pelabuhan Tano. Aku pun kembali menyandarkan punggungku di kursi penumpang. Mataku terpejam menikmati Alunan musik.
Entah, sudah berapa lama Aku tertidur. Tiba- tiba Bus yang Kami tumpangi sudah masuk dan parkir ke badan Kapal Laut. Aku menggeliatkan tubuhku sejenak dan Ku lihat para Penumpang Bus sudah naik ke tingkat atas badan Kapal.
Aku sangat panik katika Zaki dan Yudis tak Ku temukan di atas kapal. Aku berlari kecil dan berkeliling di dalam kapal hingga kembali lagi ke bawah mencari keberadaan Yudis dan Anakku.
" Pak, tadi Pria yang mirip Orang Arab dengan Anak kecil duduk di samping Saya. Mereka kemana ya Pak? Apakah Bapak melihatnya." Ucapku.
" Oh Pria Tampan itu Suami Ibu ya, tadi Saya lihat bersama Anaknya mencari Toilet Umum di Parkiran." Ucap Kondektur Bus. Sambil mengunci pintu Bus.
" Apa Mereka sudah kembali atas Kapal lagi Pak." Ucapku sangat panik.
" Kurang tahu Bu, mungkin ada di atas Kapal. Coba Ibu cari." Ucap Sang Sopir Bus dengan santai.
Jika Yudis membawa Anakku bersamanya ke Toilet. Artinya Mereka tertinggal oleh Kapal. Aku terduduk lemas dan menangis di Kursi Penumpang. Betapa bodohnya Aku terlalu percaya dengan Pria Asing seperti Yudis.
__ADS_1