
Di dalam Mall, Mas Fatir mengajak Kami masuk ke dalam Wahana Bermain Anak. Sebelum memilih permainan, Mas Fatir terlebih dahulu menanyakan Kedua Putraku untuk memilih permainan yang Mereka sukai. Pilihan Mereka jatuh pada Kolam Bola yang di penuhi dengan bola berwarna warni. Tak terkecuali Aku dan Zaki Bayiku juga ikut menikmati permainan itu. Tawa ceria Ketiga Anakku membuatku sangat bahagia. Tidak hanya Aku namun Mas Fatir pun juga ikut tenggelam menikmati kebersamaan dengan Kedua Putraku.
Setelah puas bermain Mas Fatir lalu mengajak Kami Makan di sebuah Restoran di Mall tersebut. Sengaja Mas Fatir tak mengajak Kami masuk ke Restoran Jepang karena Mas Fatir tahu lidah Kami tak terbiasa menyantap Makanan yang berasal dari negeri Sakura tersebut.
Aku pun akhirnya memesan Bakso dan Kedua Putraku memesan Kantaki Fried Chiken lengkap dengan Nasinya. Perut Kami sudah kekenyangan hingga Menu yang ada di meja tak bisa Kami habiskan. Bukan hanya itu, Mas Fatir juga sempat mengajak Kedua Putraku masuk ke dalam Toko Pakaian. Mas Fatir membelikan Tiga pasang pakaian untuk Ketiga Putraku. Jujur Aku merasa tersanjung dengan perlakuan dan perhatian Kakak Iparku tehadap Putraku. Kakak Iparku sangat sangat baik. Aku selalu Berdoa semoga Allah segera memberinya Momongan.
" Terimakasih Om, coba Ayah Kami seperti Om ya, Dek?" Ucap Anakku polos.
" Iya Bang Zafran. Ayah Kita pelit nggak pernah ajak Kita jalan-jalan." Sambung Zul dengan polosnya.
" Huuus, jangan bicara seperti itu Nak. Ayah bukan pelit tapi Ayah tidak punya waktu karena Ayah sibuk bekerja untuk Kalian." Ucapku membela Mas Surya. Aku tak mau Anak- anakku membanding-bandingkan Ayahnya dengan Orang lain. Meskipun itu benar adanya. Aku tak ingin mendidik Mereka seperti itu, apalagi sampai menanamkan kebencian pada Kedua Anakku.
" Lain kali Om ajak Kalian bermain ke Kebun Binatang" Ucap Mas Fatir janji.
" Terima kasih Mas, telah meluangkan waktu untuk Kami. Dan terima kasih juga untuk semua traktirannya. Entah, bagaimana cara Via membalas kebaikan Mas Fatir." Ucapku.
" Aku senang melakukannya Via. Kalian adalah Keluargaku, Aku sebagai Omnya wajar melakukan itu pada Keponakkan. Aku merasa bahagia bersama Mereka" Ucap Mas Fatir tulus.
Kami pun pulang di antar Mas Fatir sampai rumah. Sampai di rumah tampak Mas Surya, Ibu dan Lisa duduk di ruang Tamu. Sepertinya Mereka menunggu Kami pulang.
" Assalamualaikum" Ucapku bersamaan dengan Kedua Putraku. Bukannya menjawab salam Mas Surya malah langsung mencercahku dengan pertanyaan.
" Dari mana saja Kamu Via! Pasti Kamu sibuk pergi bersama selingkuhanmu kan!" Tuduh Mas Surya emosi.
__ADS_1
" Surya, Via dan Anak-anak Aku ajak jalan-jalan. Maafkan Aku tidak mengabarimu terlebih dahulu" Ucap Mas Fatir dari arah pintu masuk. Mas fatir tak bersamaan masuk bersama Kami ke pekarangan rumah. Karena Mas Fatir harus memarkirkan Mobilnya terlebih dahulu ke tepi jalan.
" Mas Fatir? Masuk Mas" Ucap Mas Surya lembut. Kemarahan yang di tujukan padaku tadinya lenyap begitu saja begitu Mas Fatir masuk. Andai Kakak Iparku tak ada di sini mungkin Mereka semua sudah menyerangku dengan hinaan dan cacian.
" Kamu Surya, selalu menuduh tanpa tahu kebenarannya terlebih dahulu. Apa Kamu tidak malu membentak Istrimu di depan Zafran dan Zul" Ucap Mas Fatir memarahi Mas Surya.
Begitulah Mas Surya jika Mas Fatir marah kepadanya Mas Surya takkan berkutik atau pun melawan. Nyalinya akan menciut seketika termasuk Ibu Mertuaku juga.
" Sudah Makan Nak?" Ucap Ibu mencium Putranya Mas Fatir.
" Sudah Bu, ini oleh-oleh buat Ibu" Ucap Mas Fatir menyodorkan Sebuah Tas plastik yang berisikan Makanan dan Kue.
" Kapan-kapan Fatir mampir lagi Bu. Fatir harus pulang dulu" Ucap Mas Fatir mencium tangan Ibu.
" Zafran, Zul" Om pulang dulu ya?". Ucap Mas Fatir mengucek rambut Mereka. Kedua Putraku pun mencium tangan Mas Fatir.
" Mas, jatah Lisa mana?" Ucapnya manja.
Mas Fatir pun mengeluarkan dompet dan menarik selembar Uang kertas 50 ribuan.
" Iiiih, Mas. Kok, segini sih! Mana cukup" Ucap Lisa tak terima.
" Nggak mau, sini kembaliin" Ucap Mas Surya.
__ADS_1
Lisa pun membawa uang itu masuk dengan merajuk. Mas Fatir pun pamit pulang tanpa menghiraukan Lisa. Perlakuan Mas Fatir terhadap Lisa sangatlah tegas. Beda dengan Mas Surya, jika Lisa tak terima dan merajuk Mas Surya pasti akan mengambil hati Lisa dan menuruti kemauannya.
Sedari tadi di dalam Mobil Zaki tertidur nyenyak dan sekarang Aku tidurkan di tempat tidurnya. Aku segera mengambil Air Whudu untuk menunaikan Sholat Maghrib. Usai sholat Aku kemudian membaringkan tubuhku sejenak.
" Kamu sengaja menghubungi Mas Fatir?" Tanya Mas Surya.
" Bagaimana caranya Via menghubungi Mas Fatir. Mas tahu sendiri bahwa Kartu Ponsel Via sudah tak aktif gara-gara masa tenggang Via abaikan dan Mas sampai saat ini belum membeli kartu baru untuk Via" Ucapku.
" Kamu dibelikan apa saja oleh Mas Fatir" Tanyanya lagi.
" Seharusnya Mas sebagai Suami malu bertanya seperti itu. Mas Fatir bukan Suami Via dan Mas Fatir tak beryanggung jawab membelikan Via sesuatu." Ucapku menyinggung Mas Surya.
" Kamu ya! Di tanya baik- baik malah menyinggungku" Ucap Mas Surya mulai emosi.
" Berarti Mas sadar diri dong, jika Mas tersinggung" Ucapku tak mau kalah.
" Jika Kamu seperti ini terus, Aku akan meninggalkanmu Via" Ucap Mas Surya mengancam.
" Bukankah selama ini Mas sudah meninggalkan Via? " Ucapku miris.
"Jangan mengada-ngada Kamu Via" Ucap Mas Surya gugup.
" Via percaya Mas, Secerdik apapun Tupai melompat pasti akan jatuh jua, begitu juga dengan kebusukan serapat apapun di simpan suatu saat baunya akan tercium juga." Ucapku serius.
__ADS_1
Begitalah Mas Surya jika sudah merasa terpojokkan maka, menghindar adalah langkah terjitu untuk mematikan lawan. Mas Surya keluar dari kamar, tak lama deru mesin Sepeda Motornya keluar dari pekarangan rumah. Dulu ketika Mas Surya pergi tanpa kata seperti itu Aku akan mengejar Mas Surya sampai Mas Surya mau memaafkanku. Tapi untuk kali ini dan seterusnya tidak akan pernah lagi Ku lakukan.
Sambil menunggu Sholat Isya Aku membaca Al-Quran. Sementara Kedua Putraku menjelang Magrib tadi pergi Mengaji ke rumah Pak Zakir Tetanggaku. Beliau adalah Seorang Guru ngaji. Usai Badha Isya Zafran dan Zul baru pulang ke rumah. Kedua Anakku sungguh Anak yang manis. Aku bersyukur memiliki Mereka Bertiga. Saat kesedihan melanda dan kesakitan mendera hatiku Aku selalu terhibur dengan tingkah Mereka yang lucu.