NAFKAH SISA

NAFKAH SISA
Aku Patah Hati


__ADS_3

" Sekarang ini juga Kamu cepat cari Istrimu Surya!" Bentak Mas Fatir penuh emosi.


" Tapi Surya tak tahu harus cari kemana Mas" Ucapku takut melihat mata Mas Fatir yang memerah.


PLAK


Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipiku. Saking kerasnya Aku hampir terhuyung jatuh ke belakang. Beruntung Aku masih bisa menyeimbangkan Tubuhku sendiri. Andai Orang lain yang melakukan ini padaku, Aku sudah membalasnya sampai babak belur. Namun sayang, yang menamparku adalah Kakakku sendiri Mas Fatir. Kewibawaannnya membuatku takut untuk melawan ataupun membantahnya.


" Kamu itu Laki- laki Surya, dimana tanggung jawabmu sebagai Suami. Istri dan Anakmu pergi tapi baru sekarang Kamu barusaha untuk mencarinya. Di mana perasaanmu!" Ucap Mas Fatir semakin emosi.


" Ada apa sih?" kalian?" Ucap Mba Yuri menghampiri Kami dari dalam kamarnya. Mba Yuri memandang Aku dan Mas Fatir secara bergantian mencari jawaban.


" Ada apa ini Mas? Kenapa Mas Fatir membentak Surya?" Tanya Mba Yuri ingin tahu.


" Sayang, Mas sangat kecewa dengan Surya karena ulahnya, kini Anak Istrinya kabur dari rumah sejak tadi malam" Jelas Mas Fatir pada Mba Yuri.


" Mereka pergi pasti ada alasannya. lagi pula kenapa harus pake Drama kabur segala. Masalah itu bukan selesai dengan jalan Kabur." Ucap Mba Yuri sepertinya berpihak kepadaku.


" Ayo Surya sekarang Kita harus mencari Via dan Keponakkanku" Ucap Mas Fatir tanpa memperdulikan Mba Yuri. Mas Fatir langsung menyetir Mobilnya dan keluar dari halaman rumahnya.


" Tunggu, Aku ikut!" Ucap Mba Yuri tiba-tiba menghadang Mobil Mas Fatir.


Kami bertiga pun akhirnya menyusuri jalan Kota yang sangat ramai. Mas Fatir menyuruhku dan Mba Yuri melihat dan memperhatikan setiap sudut jalan. Namun Aku tak melihat atau menemukan Sosok Via dimanapun.

__ADS_1


" Surya, apa Kamu tahu dimana Rumah Teman Via di Kota ini?" Tanya Mas Fatir.


" Setahu Surya Via tidak punya Teman di Kota ini Mas" Jawabku tak tahu.


Terlihat Wajah Mas Fatir sangat khawatir tentang kemana Via pergi. Sementara Mba Yuri sepertinya tak suka jika Mas Fatir perhatian dengan Anak Istriku. Bisa Ku lihat dari Eksperesi Wajahnya yang sedari tadi terlihat cemberut.


" Mas, bisakah Kita mampir ke Restoran untuk mengisi perut dulu. Yuri lapar." Ucap Mba Yuri memegang perutnya. Waktu sudah siang namun Kami belum juga menemukan Via. Bersyukurlah Mba Yuri mewakili keinginanku bicara dengan Mas Fatir untuk menghentikan pencarian, karena Perutku sudah sangat lapar sedari pagi kosong tak terisi. Mas Fatir pun memarkirkan Mobilnya di depan sebuah Restoran.


Kami pun masuk dan memesan menu pilihan Kami. Tak lama menunggu Pelayan pun datang membawakan pesanan Kami. Saking laparnya Aku menghabiskan Satu piring Nasi campur dan Satu mangkok Soto. Mas Fatir hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahku. Tidak hanya Aku Mba Yuri pun juga sangat menikmati Makanannya. Sementara Mas Fatir sedari tadi hanya memutar-mutar Mie dengan garfunya. Dan sesekali memasukkannya ke dalam mulut. Mas Fatir kurang berselera, Wajahnya masih terlihat sangat khawatir. Karena Via Istriku belum ketemu juga.


Ketika Makanan usai Ku santap, Aku pun menyandarkan pungunggku di kursi karena kekenyangan. Nampak Wanita duduk di kursi sudut ruangan Restoran ini bersama Seorang Bule Warga Negara Asing. Tapi dari punggung Wanita itu sepertinya Aku sangat mengenalinya. Entah, mengapa Aku sangat penasaran ingin melihat Wajah Kekasihnya Bule itu. Andai saja Wanita itu duduk tak membelakangiku. Semoga saja yang ada di fikiranku salah, dan Wanita itu bukanlah Nindiana.


Setelah mengistirahat perut yang kenyang sejenak, Mas Fatir pun mengajak Kami untuk melanjutkan pencarian. Ketika Aku hendak beranjak dari kursi tiba- tiba Wanita yang bersama Bule itu berjalan menuju Kasir. Dan benar, Wanita itu adalah Nindiana Kekasih Hatiku. Aku ingin menghampiri Nindiana yang bergandengan tangan dengan Pria Asing itu. Semakin melihat kemesraan Mereka semakin hancur dan sakit rasanya hati ini.


" Cepatlah Surya" Panggil Mas Fatir yang menungguku dia atas Mobil.


" Surya! Kamu apa-apaan sih! Mas suruh Kamu melihat sekitar jalanan. Kamu malah bengong." Ucap Mas Fatir mengagetkanku.


" Eh, Surya khawatir Mas sama Via" Ucapku berbohong.


" Caba hubungi Ponsel Via lagi" Ucap Mas Fatir.


" Surya sudah coba Mas, tapi Ponsel Via tidak Aktif" Aku berbohong lagi. Padahal Via sudah lama tak memegang Ponsel lagi karena Kartu Ponselnya sudah lama tak Aktif.

__ADS_1


" Mana Nomor Via, biar Mas saja yang hubungi." Ucap Mas Fatir.


Aku mulai gelagapan dan secepatnya harus mencari jawaban. Semenjak Kartu Ponsel Via tidak Aktif Aku tak lagi menyimpan Nomornya dan Nomor Via telah Ku hapus.


" Sepertinya Via tidak akan mau mengangkat Telponnya Mas" Ucapku gugup. Tingkahku selalu dapat di baca oleh Mas Fatir.


Dengan sigap Mas Fatir langsung merampas Ponsel yang berada di tanganku. Dan mulai melihat kontak Via di dalam ponselku. Aku sangat khawatir, semoga saja Mas Fatir tak melihat isi Chatku bersama Nindiana. Karena Aku belum sempat untuk menghapusnya.


" Surya, Surya. Di Kontak Telpon Kamu memanggil Istrimu dengan sebutan My Darling. Tapi di alam nyata Kamu tak pernah Ku dengar Kamu memanggil Via My Darling" Ucap Mas Fatir menyalin Nomor Nindiana ke dalam Ponselnya.


Aku sangat ketakutan, jangan sampai Mas Fatir menghubungi Nomor itu saat ini. Aku bisa celaka di hajar habis-habisan oleh Mas Fatir jika ketahuan. Keringat dinginku bercucuran padahal AC Mobil Mas Fatir hawanya sangat dingin.


" Kamu kenapa Surya, keringatan begitu. Kamu sakit?" Ucap Mba Yuri memperhatikan gelagatku sedari tadi.


" dari tadi malam Surya memang tak enak badan Mba" Ucapku mencari alasan.


" Mas, pencarian Kita besok saja di lanjutkan lagi. Sepertinya Surya demam" Ucap Mba Yuri iba.


Aku merasa beruntung Mba Yuri juga ikut bersama Kami. Setidaknya hari ini Mba Yuri Malaikat penyelamatku.


" Baiklah" Ucap Mas Fatir setuju.


Ku lihat sedari tadi Mas Fatir mengutak- atik Nomor Nindiana. Ketika Mas Fatir mulai menempelkan Ponselnya di dekat Telinganya, Jantungku sepertinya mau copot. Seluruh badanku pegalinu terasa sakit semua. Aku tak ingin Mas Fatir mengetahui kelakuanku selama ini. Tak lama Nomor Nindiana disambut oleh Sang Operator. Bahwa Nomor Nindiana tidak Aktif dan berada di luar jangkauan. Beruntunglah Nomor Nindiana tak Aktif. Setidaknya Aku bisa bernafas lega. Namun Aku masih khawatir jika nanti Mas Fatir akan menghubungi lagi Nomor Nindiana sewaktu-waktu. Aku ingin mencari cara agar Nomor Nindiana tak tersimpan lagi di dalam Ponsel Mas Fatir.

__ADS_1


" Mas, sebenarnya Nomor Via sudak masuk masa tenggang waktu itu dan Via belum sempat mengganti Kartunya dengan lain." Ucapku beralasan membuat cerita kebohongan.


" Aarrgh, Nggak guna banget Si Kamu!" Ucap Mas Fatir membentakku. Bentakkan Mas Fatir takku perdulikan lagi yang tepenting Nomor Nindiana telah di hapusnya. Aku merasa sangat lega dan bisa bernafas dengan tenang.


__ADS_2