Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 10 - Dua Orang Sahabat


__ADS_3

Eter dan Noah menaiki tangga yang digunakan ibu Eter untuk naik ke lantai 2. Betapa terkejutnya mereka melihat kondisi lanti 2 yang akan dijadikan tempat sembunyi dari pasukan hitam-hitam.


Lantai 2 itu terasa seperti sebuah kamar mayat, lorong yang menjadi pembatas antar kamar dipenuhi tubuh manusia tidak bernyawa. Kondisi mayat-mayat seperti baru saja menerima sebuah siksaan. Semua mulut mayat dalam keadaan terbuka dengan mata berwarna putih polos. Beberapa jarinya hilang dan kulitnya berwarna hitam legam.


Terlihat seorang perempuan di ujung lorong yang sedang memegangi perutnya. Wanita itu tidak lain adalah ibu Eter dengan darah segar yang masih keluar dari pinggangnya. Eter yang melihatnya langsung berlari tanpa mempedulikan deretan mayat dan bau amis yang memenuhi lorong.


“IBU...” Eter berteriak dan langsung memegangi perut ibunya yang masih mengalirkan darah.


“Kita harus mengobati ibumu sesegera mungkin!!” Noah yang sudah berada di belakang Eter memberikan pendapatnya.


Kedua anak itu mengangkat ibu Eter ke sebuah kamar yang sudah dibersihkan oleh Noah dari beberapa mayat. Kamar itu memiliki luas sekitar 3 kali 3 meter dengan jendela di salah satu dindingnya yang langsung memperlihatkan pemandangan kota yang sudah porak poranda. Walaupun dari jendela bisa terlihat kepulan asap akibat pertempuran, tapi mereka tidak ambil pusing dengan hal itu karena prioritas utama saat ini adalah menyelamatkan ibu Eter.


Eter merobek bajunya untuk diikatkan ke pinggang ibunya sedangkan Noah bergerak cepat mecari obat-obat di lantai satu minimarket. Wajah ibu Eter semakin pucat membuat Eter semakin cemas akan kondisi ibunya itu.


Selang beberapa saat, Noah kembali ke kamar dengan membawa obat-obat yang langsung diberikan kepada ibu Eter. Kedua anak itu tidaklah paham soal obat-obatan. Tapi mereka sudah tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan segala kemungkinan dengan harapan bisa menghentikan pendarahan ibu Eter.


Setelah melaksanakan pertolongan pertama kedua anak itu kini hanya bisa menunggu apakah obat yang mereka berikan merupakan obat yang tepat atau bukan. Ruangan hening seketika, kecemasan akan kematian memasuki pikiran kedua anak itu. Mereka menebak-nebak apakah ibu Eter bisa lolos dari kematian atau tidak.


“Ini sangat menyebalkan.” Noah memecah keheningan.


Alis Eter terangkat saat dia mendengar celotehan Noah. “Apa maksudmu?”


“Kita tidak tau harus berapa lama lagi menunggu ibumu siuman dan kita tidak tahu jalannya pertempuran diluar sana.” Noah menghela nafasnya setelah mengatakan keluh kesahnya.


“Ya, kau benar Noah. Tapi aku tidak akan meninggalkan ibuku sendirian.”


“Jika kau berkata seperti itu, kau sepertinya memiliki sebuah rencana??” kini Eter bertanya ke Noah yang masih berdiri bersandar ke dinding.


“Aku memiliki 2 rencana tapi mungkin kau akan memilih yang pertama.” Noah mengatakannya dengan mengacungkan 2 jarinya.


“Coba jelaskan!!” wajah Eter mulai tampak serius.


“Rencana pertama kita akan berada disini terus sampai pertempuran selesai dan para pasukan berseragam hitam sudah keluar dari kota. Namun rencana ini memiliki kelemahan yaitu kita tidak tau seberapa lama pertempuran akan berjalan dan kita tidak tau apakah akan ada bom-bom yang berjatuhan dari udara yang bisa saja menimpa kita.”

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan rencana kedua??”


“Rencana kedua kita berlari ke kantor Unicorn dan meminta bantuan.” Noah tidak melanjutkan kata-katanya setelah melihat wajah Eter yang kurang setuju dengan rencana kedua.


“Kau tahu Noah. Aku tidak akan meninggalkan ibuku sendirian, jadi aku memilih rencanamu yang pertama.”


“Oke aku sudah menebaknya, oleh karena itu kita akan mengumpulkan makanan dari minimarket lantai satu.” Noah sudah menyiapkan opsi lain apabila Eter memilih rencana yang pertama.


Ketika Eter dan Noah masih membicarakan tentang jalannya rencana mereka untuk seanjutnya, sebuah ledakan besar mengenai bangunan dekat minimarket yang membuat kaca jendela kamar yang mereka tempati pecah. Ledakan itu menghasilkan efek kejut yang sangat besar dan membuat telinga Eter dan Noah berdenging sesaat setelah mendengarnya.


“Apa-apaan ini??” Noah berkata dengan posisi berjongkok meringis kesakitan di lantai ruangan sembari memegangi kedua telinganya.


Selang beberapa saat suara berdenging di telinga mereka hilang membuat kedua anak itu bisa mendapatkan keseimbangannya kembali.


“Eter ayo kita coba lihat apa yang sudah terjadi!!”


“Ayo!!” mereka berdua langsung berlari ke sebuah tangga yang mengarah ke atap minimarket yang rata dan terbuka.


Keterkejutan mereka masih belum habis ketika melihat kilatan warna putih yang berasal dari langit bergerak cepat ke arah bangunan besar di tengah kota. Saat sudah mencapai bangunan besar kilatan itu meledak dengan dahsyatnya membuat seisi kota bergetar hebat.


“Itu kantor Unicorn.” Noah terkejut, matanya melebar mengetahui tempat yang dituju kilatan putih.


Kedua anak itu berhenti bernafas seketika melihat kilatan cahaya putih terus menerus mengarah ke kantor Unicorn. Kantor yang berbentuk seperti stadion sepak bola itu warnanya mulai berubah dari yang semula putih mejadi hitam legam. Seluruh area disekitar kantor telah berubah menjadi abu dan dalam radius 2 km sudah tidak ada bangunan yang berdiri.


“Noah, apa mungkin dentuman yang beberapa jam lalu terjadi di akibatkan oleh kilatan putih itu?” Eter yang mulutnya masih terbuka merasa harus bertanya untuk menemukan penjelasan.


“Itu mungkin saja.” Noah menjawabnya dengan mata yang masih dipenuhi keterkejutan.


Noah dan Eter langsung berlari kembali ke lantai 2 setelah kilatan putih tidak menyambar permukaan lagi. Mereka kembali ke kamar ibu Eter dan menemukan ibu Eter dalam keadaan kejang. Tubuhnya bergetar hebat dengan keringat dingin yang keluar dari dahinya.


“IBU!!” teriakan Eter kembali terdengar, suaranya serak seperti seseorang yang ingin menangis tapi ditahan.


Keduanya memegangi ibu Eter di kedua kaki dan tangannya, tidak ada yang bisa mereka lakukan karena kurangnya pengetahuan dalam melakukan pertolongan pertama. Sesekali air mata Eter jatuh membasahi pipinya tapi dia langsung mengelapnya menggunakan bahu tangan.

__ADS_1


Noah yang melihat Eter meneteskan air mata tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa berharap agar ibu Eter bisa lekas pulih.


Selang beberapa menit tubuh ibu Eter kembali normal namun nafasnya masih sangat pelan bahkan Eter perlu menempelkan jarinya ke hidung ibu Eter agar bisa memastikan apakah ibu Eter masih bernafas atau tidak. Noah sudah melepaskan tangannya dan berdiri mematung dengan tatapan kosong entah.


“Kita harus segera ke kantor Unicorn Eter!!!” Noah berkata dingin.


Eter menyipitkan matanya saat mendengar perkataan Noah. “Aku sudah berkata, kita tidak akan pergi tanpa ibuku.” Eter menjawabnya dengan dingin pula.


“Kau seharusnya berpikir lebih panjang lagi. Ibumu tidak bisa kita selamatkan dengan kemampuan kita. Hanya Unicorn saat ini yang bisa menyelamatkannya. Karena itulah kita perlu pertolongan mereka atau ibumu akan masuk ke alam baka saat ini juga.”


Sesaat setelah Noah selesai berucap, tangan Eter tiba-tiba mengepal dan meluncur menghantam wajah Noah dengan kerasanya. “Apa-apaan kau, KITA TIDAK AKAN MENINGGALKAN IBUKU.”


Noah terjatuh ke lantai, matanya melotot menatap Eter penuh dendam.”Gunakan akal sehatmu ETERRR...”


Kini giliran tangan Noah yang maju mengirimkan kepalan tangan ke muka Eter. Namun pukulannya berhasil ditangkis oleh Eter dengan kedua tangannya. Saat itulah kedua kaki Noah yang sudah memberat tiba-tiba terangkat ke udara dan berputar menendang dada Eter yang membuatnya terlempar ke dinding ruangan.


“KURANG AJAR KAU NOAHHH...” Eter bangkit dan langsung menabrakkan tubuhnya ke Noah sampai keduanya jatuh ke lantai.


Eter mulai memukuli wajah Noah berkali-kali. Disaat Eter masih belum puas dengan pukulannya tangan Noah mengeluarkan api aldefos dan mengarahkannya ke Eter. Membuat Eter harus mundur 2 langkah.


“KAU CURANG NOAH...” Eter kembali berteriak, kini tangannya memegang dua buah balok kayu yang tergeletak di lantai.


Pertarungan mereka berdua berlanjut dengan jual beli serangan yang semakin berat sebelah ke Noah. Noah mengeluarkan segala kemampuan aldefosnya membuat Eter terlempar kembali ke arah dinding. Noah melompat dengan tangan yang masih diselimuti api, menuju Eter yang masih tergeletak bersender ke dinding.


Namun pertempuran itu berhenti ketika suara serak seorang wanita terdengar dari ranjang kamar.


_____________


Terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih


____________

__ADS_1


__ADS_2