![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
“Tunggu sebentar, kenapa kalian terkesan ingin mengontrol kehidupanku. Bukankah aku sudah bilang aku hanya ingin masuk ke SMA umum saja. Biarkan rahasia ku menjadi rahasia yang tidak diketahui publik.” Mishel kembali protes.
Eter dan Weis bertatapan, mereka tersenyum penuh makna. “Rahasia tidak akan terus terkubur. Kadang rahasia akan muncul sedikit demi sedikit ke permukaan. Dan jika rahasiamu diketahui oleh orang-orang dari organisasi kejahatan, maka kamu hanya akan menjadi suatu alat bagi mereka.” Weis lebih dahulu menjawab protes Mishel.
“Selain itu kemampuanmu yang luar biasa istimewa tidak mungkin bisa di sia-siakan. Kamu mungkin kelak akan menjadi seorang pahlawan yang akan melawan para manusia langit.” Eter melanjutkan.
“Tapi, aku tidak berkeinginan menjadi seorang aefis apa lagi menjadi seorang pahlawan. Itu merupakan beban yang sangat berat untuk di pikul.” Mishel menunduk ada sedikit air mata yang jatuh membasahi meja.
Mishel belum pernah mendapatkan seseorang yang sangat memperhatikannya seperti Eter dan Weis. Bahkan keluarganya juga hanya menganggap Mishel sebagai seorang jenius yang harus terus melatih aldefos logamnya.
Hal ini juga yang membuat Mishel lebih menguasai kemampuan aldefos logam dari pada aldefos air. Sedari kecil ia lebih sering berlatih aldefos logam dari pada aldefos air. Sampai akhirnya terjadi bencana besar yang menimpa keluarganya, membuat dirinya menjadi satu-satunya keluarga Miothal yang masih hidup.
“Mishel.” Weis kembali bersuara. “Akademi Milword adalah tempat bagi orang-orang berbakat dari seluruh Republik Metis. Disana kamu bisa menemukan teman yang akan menjadi pendampingmu dalam memikul beban itu.”
Tidak dipungkiri bila hampir setiap tahun Akademi Milword pasti akan kedatangan murid yang bisa menguasa dua kemampuan aldefos. Dan tidak jarang pula Akademi Milword mendapatkan murid yang bisa mengendalikan unsur alam kemapuan aldefosnya. Akademi Milword seperti sarang bagi murid-murid jenius dari berbagai penjuru Metis.
“Tidak hanya itu kamu juga akan dijaga oleh murid-murid akademi Metis seperti Weis, Noah, dan beberapa temanku yang akan masuk ke sana.” Eter kembali meyakinkan Mishel.
“Eter, Weis, aku sangat berterima kasih kepada kalian. Kalian adalah orang yang sangat memperhatikanku lebih dari keluargaku, aku sangat berterima kasih.” Air mata Mishel semakin deras membuat Eter dan Weis hanya bisa tersenyum simpul.
Eter menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Weis memalingkan pandangannya dari wajah Mishel.
“Ya, itu sudah sepatutnya Mishel. Kamu sudah ku anggap sebagai keluarga sendiri” Eter menanggapi.
“Terima kasih Eter, terima kasih Weis. Aku setuju dengan usulan kalian untuk masuk ke Akademi Milword.” Mishel berhenti menangis, matanya masih lembab.
Weis tersenyum puas saat mendengarnya. Namun, senyum itu tiba-tiba menghilang dari wajahnya. Ada yang baru saja terpikirkan oleh Weis tentang kelanjutan rencana ini. Dia yakin keluarganya tidak memiliki akses dalam melancarkan jalan Mishel.
“Sekarang tinggal bagaimana agar Organisasi Aefis Nasional mengetahui keberadaan Mishel. Sayangnya aku tidak memiliki akses ke organisasi ini. Apa kau punya ide Eter?” Weis memandang tajam mata Eter.
Eter hanya tersenyum getir. “Aku juga tidak tahu apakah hal ini bisa dilakukan atau tidak. Tapi aku punya teman yang bisa membawa Mishel ke organisasi ini. Dia juga berniat untuk masuk ke Akademi Milword.”
“Janga bilang itu Noah Naruru.” Weis sedikit khawatir soal itu.
__ADS_1
“Hehehe, kau sudah menebak jalan pikirku rupanya. Perlu kalian ketahui Noah tidak akan mengkhianati kita. Yakinlah pada Dia, dia pasti akan membantu kita.”
“Bagaiman kau bisa seyakin itu dengannya?” Weis masih curiga dengan keterlibatan Noah.
“Karena dia temanku”
Weis menepuk jidatnya, dia sedikit terkejut dengan Eter yang bisa semudah itu percaya kepada teman lamanya.
“Aku percaya padamu Eter.” lain hal dengan Weis, Mishel terlihat lebih yakin dengan keputusan Eter.
Tidak perlu menunggu lagi, Eter sudah menyalakan layar hologram di jam tangannya. Jari jemarinya lincah mencari kontak yang sudah lama dia simpan. Mengabaikan pesan demi pesan yang masuk, tangannya berhasil menemukan kontak dari orang tersebut.
Tit... Titt... Tiitt
Eter menghubungi kontak tersebut yang tidak lain adalah Noah. Dia yakin Noah masih belum tidur di tengah malam begini. Namun, setelah beberapa menit panggilan itu tidak terangkat.
“Apa itu sudah benar nomer Noah?” Tidak hanya Eter yang risau tapi Weis juga.
“Aku yakin dia belum tidur.” Eter mencoba menghubungi nomer itu lagi. Satu menit kemudian panggilan itu akhirnya di angkat.
“Noah, apa kau punya kontak dari pimpinan Organisasi Aefis Nasional?” Pertanyaan Eter membuat Weis melebarkan matanya. Dia tidak mengira Eter akan bertanya secara langsung tanpa ada basa-basi.
“Aku tidak memiliki kontak dari pimpinanya. Tapi aku punya kontak salah satu eksekutifnya, apa kau mau?”
“Kirim ke aku segera!!”
“Oke.” Panggilan tersbebut berakhir sedemikian cepat. Beberapa detik setelahnya Noah mengirimkan kontak dari eksekutif Organisasi Aefis Nasional atau sering disebut OAN.
“Bagaimana kau seyakin itu Noah memiliki kontak dari OAN?” Mishel akhirnya buka suara. Dia terheran-heran dengan kelakuan temannya itu.
“Dia ini anak dari salah direktur Unicorn. Jadi sudah pasti dia atau ayahnya memiliki kontak dari salah satu petinggi OAN.”
Weis terlihat lebih tenang, sifat kharismatiknya telah kembali. Dia sudah memikirkan beberapa kemungkinan apabila tidak bisa menghubungi eksekutif OAN ini.
__ADS_1
“Sebelum itu, aku akan pinjamkan ini padamu. Gunakan untuk menghubungi eksekutif OAN.” Weis memberikan sebuah benda kecil seukuran telapak tangan orang dewasa.
Eter mengangkat alisnya, matanya menatap tajam benda yang baru di pegangnya itu. Mishel juga bertindak serupa, raut wajahnya seolah meunjukan rasa ketertarikannya ke benda itu.
“Oh aku tahu ini. Apa ini yang di sebut oleh orang-orang modern awal sebagai telepon genggam.” Eter berucap.
“Benar, itu keluarga kami gunakan untuk berkomunikasi apabila tidak ingin di sadap oleh orang lain.”
Eter tidak terlalu medengarkan penjelasan Weis. Tangannya sudah mencoba membuka telepon genggam itu. Menekan-nekan tombol di dalamnya. Sebelum sebuah panggilan kembali dihubungkan ke kontak dari eksekutif Organisasi Aefis Nasional.
Selang beberapa saat seseorang di ujung panggilan mengangkatnya.
“Halo, dengan siapa saya bicara?” Suara pria terdengar di ujung lain telepon.
Eter terkekeh pelan sebelum menjawab panggilan itu.
“Halo, saya Eter Gilgaiz.”
“Siapa anda? Ada urusan apa anda menelepon saya?”
“Seseorang yang lahir 1000 tahun sekali sedang bersama saya sekarang. Apa anda ingin melihat kemampuannya?” Eter tidak mau berlama-lama.
“Apa maksud anda? Saya tidak punya waktu meladeni anda!!” Suara orang itu semakin meinggi. Ada sebuah kemarahan dalam suara itu.
“Akan saya kirim videonya, saya harap anda bisa mempertimbangkan.”
Sebelumnya mereka bertiga sudah merekam beberapa peragaan Mishel dalam menguasai kemampuan aldefos logam dan aldefos air. Mishel sendiri yang menginginkannya, tapi hal itu juga di dukung Weis.
Weis mengirimkan video peragaan itu menggunakan telepon genggam lain. Tidak seperti layar hologram yang bisa dengan cepat mengirimkan video, telepon genggam memiliki jeda waktu yang lama untuk mengirimkan video sekitar 1 sampai 2 menit.
Beberapa saat setelah Pria itu menerima video peragaan. Telepon yang masih tersambung itu hening sekejap. Tidak ada suara dari ujung telepon, ruangan itu juga semakin sunyi menunggu jawaban.
Keraguan menyerebak di seluruh badan Eter, keringat menetes di plipisnya. Eter sedikit takut eksekutif OAN tidak menanggapi video peragaan Mishel. Begitupun dengan Weis namun dia lebih tenang. Lain hal dengan Mishel yang masih terduduk takzim menunggu jawaban telepon itu.
__ADS_1
Setelah 5 menit menunggu balasan, akhirnya pria di ujung telepon kembali menyambungkan teleponnya.
“Temui aku besok pagi jam 9 di hutan Bakiuk.” Panggilan itu terhenti, menyisakan lengang dan kebingungan di ruang makan itu