![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
BOOOMMM....
Hempasan angin yang dihasilkan dari tebasan udara pedang milik Topeng Biru menghasilkan ledakan dahsyat. Beberapa pasukan Penjaga Unicorn tumbang, beberapa lainnya meringis kesakitan. Pasukan Topeng Neraka yang terkena serangannya pun mengalami hal yang sama.
Sementara itu Eter dan Noah masih bisa dikatakan beruntung, mereka berada di belakang dua orang Penjaga Unicron rank C. Kedua penjaga itu sempat membuat pelindung untuk menahan serangan topeng biru.
Disisi lain, Topeng Biru tidak bergerak lagi setelah melancarkan serangan. Dia hanya memandangi musuh di depannya yang masih berusaha untuk berdiri. Tatapannya dingin, tidak ada ekspresi yang bisa ditebak.
“Sial kenapa harus begini,” salah satu penjaga di depan Noah menggerutu.
“Tuan muda, silahkan pergi dulu,” penjaga lainnya berkata pelan ke Noah.
“Hah, lalu bagaimana dengan kalian?”
“Pertempuran semakin tidak menentu, jika tidak segera dihentikan, maka bisa saja ketua akan-”
“Baiklah, aku paham apa maksudmu. Jadi bagaimana kita melewatinya?” Noah memotong perkataan panjaga di depannya.
“Kami berdua akan membukakan jalan untuk kalian.” Salah satu penjaga unicorn berkata dan memberikan beberapa arahan.
Eter dan Noah mengangguk pelan tanda setuju, mereka mundur beberapa langkah ke belakang memberikan dua orang pasukan Penjaga Unicorn ruang untuk menyiapkan diri. Walaupun demikian kedua anak itu masih menggenggam senjata di tangan masing-masing untuk berjaga jaga.
__ADS_1
Kedua penjaga unicorn maju beberapa langkah mendekati Topeng Biru yang masih saja diam di tempat. Tangan mereka menggengam pedang aldefos dengan warna kuning kehijauan. Suara nafas yang tidak beraturan masih bisa terdengar dari kedua orang itu.
Kaki-kaki mereka semakin kuat dengan posisi kuda-kuda sempurna. Tidak banyak pergerakan dilakukan setelahnya, hanya tatapan haus darah yang mereka keluarkan. Namun, Topeng Biru bukanlah Aefis pemula. Dia Aefis yang sudah melewati pertarungan demi pertarungan.
Kedua pasukan penjaga unicorn itu melesat tajam ke arah Topeng Biru, bergerak ke samping kanan dan kiri. Beberapa kali mereka menyerang Topeng Biru menggunakan tebasan yang membentuk gelombang kejut listrik.
Semua serangan kedua anggota pasukan Penjaga Unicorn itu tepar mengenai Topeng Biru. Akan tetapi musuhnya itu bagaikan monster berdarah dingin yang memiliki kekuatan luar biasa dahsyat. Semua serangan milik kedua orang itu berhasil dimentahkan tanpa menggunakan kemampuan aldefos. Dia hanya menggunakan bilah pedangnya untuk mematahkan semua serangan.
Topeng biru yang menguasai aldefos angin juga tidak terganggu dengan pergerakan cepat pasukan penjaga itu. Matanya selalu bisa mengikuti pergerakan keduanya padahal mereka bergerak secara terpisah.
“Sampai kapan kalian akan terus berlarian?” perkataan dingin topeng biru membuat kedua anggota Penjaga Unicorn itu bergidik ngeri.
“Jika itu yang kau inginkan, maka-”
Ucapan Topeng Biru belum selesai namun tubuhnya sudah hilang dari pandangan, seketika angin berhembus kencang. Tanpa semua orang sadari Topeng Biru sudah berada di belakang salah satu Penjaga Unicorn. Pedangnya sudah bergerak menyamping, mengirim tebasan angin yang membelah tubuh penjaga itu menjadi dua bagian.
“TIDAK!!” teriakan kencang terdengar dari Pejaga Unicorn satunya, dia berada dua puluh lima meter dari Topeng Biru. “Sialan kau, terima ini!!”
Penjaga itu bergerak cepat menuju Topeng Biru, pedangnya semakin menyala bersamaan dengan luapan emosi yang dia keluarkan. Kakinya seperti dilapisi aliran listrik kuning, membuatnya semakin cepat. Namun, itu semua belum cukup untuk menandingi kecepatan Topeng Biru.
“Lambat.”
__ADS_1
Topeng Biru kembali menghilang dari pandangan, dia muncul di belakang Penjaga Unicron. Pedangnya kembali menyilang mengirim tebasan angin. Namun, kali ini Penjaga Unicorn itu berhasil menahan serangannya.
Dia terpental belasan meter, tubuhnya menghujam tanah setelah melayang satu detik. Beberapa tulangnya mengeluarkan suara keras disertai dengan darah yang mengalir dari mulutnya. Hanya dalam satu tebasan angin tubuh penjaga itu sudah dipenuhi dengan luka sayatan.
“Hahaha. Walaupun aku mati, setidaknya kau akan kalah dalam pertempuran ini.” Penjaga Unicorn itu terkekeh.
“Apa maksudmu?” sorot mata Topeng Biru berubah.
Penjaga Unicorn itu tidak memberi tahunya melainkan kembali menyerang Topeng Biru. Topeng Biru tidak bereaksi seperti sebelumnya, dia langsung menyambut serangan Penjaga Unicorn menggunakan pedang miliknya.
Hanya dalam beberapa detik pasukan Penjaga Unicorn itu sudah tumbang tidak bernyawa. Pandangan Topeng Biru beralih ke tempat Eter dan Noah. Namun, dia menemukan kedua anak itu sudah hilang. Dia segera mencari mereka dan menemukan kedua anak itu sedang berlari mendaki sebuah bukti.
“Sialan,” Topeng Biru bergerak cepat menyusul.
_____________
Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
Terima Kasih
____________
__ADS_1