![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
Eter memasang kuda-kuda siaga. Weis mengangkat tangan pasrah. Mishel diam mematung dan membisu, tubuhnya seakan mati melihat moncong senjata. Dua belas orang sudah mengelilingi mereka, tidak ada celah kosong yang bisa digunakan untuk kabur.
Tubuh Eter menguat, kaki-kakinya kokoh menapak tanah. Sorot matanya tajam memperhatikan, menghitung kekuatan musuh di hadapannya. Tangannya mengepalkan tinju bersiap menerima serangan, tidak ada celah baginya maupun bagi musuhnya.
“Sebaiknya kau tidak melawan!!” Seorang pria paruh baya turun dari helikopter menghampiri.
Eter menyipitkan mata, melihat sumber suara. Seorang pria paruh baya dengan tinggi sekitar 190 cm sedang berjalan mendekati mereka. Rambutnya yang rapi disisir ke kanan dan sorot matanya yang tajam membuatnya tak ayal seperti seorang tuan muda. Setelan jas hitam dan kemeja putih dengan dasi hitam serta celana hitam membuat Eter menyadari identitasnya.
“Apakah kau Elon Blar? Eksekutif ke 4 dari OAN.” Sebelum Eter berucap, Weis sudah mengungkapkan isi pikirannya.
“Yah kalian pasti mengenalku dari media-media di Tinopra,” Elon tersenyum kecil.
Elon melanjutkan perkataannya, “Aku tidak akan mencelakai kalian. Aku malah tidak menyangka kalian bisa kesini menggunakan burung besi itu.” Elon menunjuk Kalong.
Tidak ada jawaban, hanya ada suara rerumputan yang saling bergesekan terkena angin. Dari pihak Elon juga tidak ada yang melanjutkan, hanya ada kesunyian. Elon menatap tajam Eter yang masih mengambil kuda-kuda untuk bertahan.
Kedua mata itu saling menatap tajam, tidak ada yang mau mengalah. Seolah-olah mereka yakin jika mata mereka beralih maka orang tersebut akan kalah. Elon mengeluarkan sebagaian aura menekan ke seluruh penjuru, membuatnya bak seekor monster berbentuk manusia.
Aura yang Elon keluarkan merupakan bentuk lain dari energi aldefos. Hanya pengguna aldefos yang bisa merasakan aura menekan itu. Semakin banyak energi aldefos yang dia ubah menjadi aura menekan bisa mengatakan tingkatan orang tersebut.
Mishel dan Weis yang tidak terbiasa dengan aura menekan akhirnya terjatuh, berlutut di antara rumput ilalang. Kedua belas prajurit OAN juga merasakan dampaknya. Tubuh mereka bergetar hebat beberapa saat, menahan aura menekan Elon.
Namun, ada satu orang yang terlihat biasa saja. Tubuh orang itu semakin kokoh memasang kuda-kuda, tangannya semakin erat mengepal. Eter melotot, memberikan hujatan dari sorot matanya. Baginya ini adalah sebuah pertarungan tanpa menyentuh fisik.
Setelah satu menit semua orang bertahan, akhirnya Elon melepas auranya. Matanya masih menatap tajam Eter. “Bawa kedua anak yang jatuh ke markas dan tinggalkan anak ini bersamaku.” Elon memberi perintah.
Eter menaikkan salah satu alisnya. Dia melihat kedua temannya digiring oleh kedua belas prajurit masuk ke dalam helikopter. Sebaliknya, Weis malah menatap Eter heran tidak mengerti kenapa dia harus meninggalkan Eter. Berbeda dengan Mishel yang menatap Eter cemas.
Helikopter itu mengudara, menyibak rerumputan di bawahnya. Baling-baling besar itu memberikan dorongan untuk melawan gravitasi. Angin yang dihasilkannya mengibarkan baju dan rambut dua orang yang masih saling menatap tajam.
Sesaat setelah helikopter tertutup oleh kanopi hutan, Elon melemaskan tubuhnya. Matanya tertutup beberapa waktu. Begitupun dengan Eter, dia kembali ke posisinya semula. Ekspresi santai kembali ke kedua wajah orang itu.
“Aku tidak menyangka akan selelah ini.” Elon membuka suara.
“Aku juga tidak menyangka, aktingmu membuatku bersiaga.” Eter tersenyum kecut.
“Hahaha, aku sudah sering berhadapan dengan media. Jadi aktingku haruslah berada di atas siapapun.” Elon tertawa lepas.
__ADS_1
“Terlepas dari itu, apa kau sudah membaca pesanku?”
Elon mengangguk, paham akan yang dimaksud Eter.
Elon kembali terdiam menatap Eter. Begitupun dengan Eter yang menatap tajam Elon. Kesunyian yang terbalut kengerian kembali menyelimuti daerah kematian. Tidak ada percakapan selama lima menit.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan Eter Gilgaiz atau aku harus memanggilmu Raja Para Badut?” Elon menyeringai puas.
Seketika angin berhembus kencang dari tubuh Eter. Dia mengeluarkan aura menekan yang luar biasa kuat setelah mendengar perkataan Elon. Elon menahannya dengan aura yang sama, dia tidak mau kalah akan hal ini.
Eter semakin memperkuat aura menekannya yang langsung dibalas Elon. Pertarungan aura itu menggetarkan daerah kematian, bahkan memiringkan pinus-pinus disekitarnya. Burung-burung di sana beterbangan menjauhi daerah kematian.
“Kapan kau menyadari identitasku?” Eter bertanya, suaranya meninggi. Auranya juga semakin membesar.
“Aku sudah tau identitasmu sejak 1 tahun yang lalu.” Elon masih saja tersenyum di dalam pertarungan aura itu.
Mendengar jawaban Elon membuat Eter menurunkan aura menekannya. Elon pun ikut menurunkan aura menekannya. Eter memejamkan mata, dia menghembuskan nafas panjang. Elon tidak lagi memasang tatapan tajam setelah Eter memejamkan mata.
“Jadi ini kesalahanku yah. Aku tidak menyangka akan secepat ini ketahuan bahkan oleh eksekutif OAN.” Eter membuka matanya. Tatapannya sudah kembali bersahabat.
“Sial, kau menjebakku rupanya.”
“Itu hanya untuk mengonfirmasi saja. Dalam mengungkap jati dirimu itu aku juga harus bekerja dua tahun tanpa libur.” Elon mendengus kesal.
Eter memegangi dahinya. Dia tidak menyangka kalo identitasnya dibongkar oleh eksekutif OAN. Padahal dirinya sudah yakin identitasnya tidak akan terungkap paling tidak 5 sampai 10 tahun lagi.
“Kau tenang saja. Aku tidak akan membocorkan informasimu ke orang lain bahkan keluargaku. Aku tidak mau membuat keluargaku dalam bahaya. Selain itu, ada yang lebih penting sekarang. Apakah informasi yang aku terima tadi malam benar?”
Setelah menghubungi Elon lewat telepon genggam milik Weis, Eter memang kembali menghubunginya. Namun, caranya berbeda. Dia menggunakan sandi morse yang dikirimkan ke layar hologram milik Elon lewat jaringan yang rumit. Tentu saja cara ini dia lakukan agar tidak ada yang bisa melacaknya.
“Yah itu benar, aku mendapatkannya baru sekitar satu minggu yang lalu.”
“Berarti itu masalah yang bisa menghancurkan Metis. Paling cepat mungkin tiga atau lima tahun lagi.”
Eter mengangguk setuju dengan Elon. Menurut perhitungannya jika masalah itu terus berlanjut maka akan ada gejolak yang bisa meluluh lantakan Metis dalam waktu satu bulan. Bahkan mungkin akan merenggut bisa hampir separuh penduduk Metis.
“Jika OAN meminta kami untuk mengurangi masalah ini mungkin kami bisa membantu.” Eter berucap.
__ADS_1
“Kalian tidak usah ikut campur urusan kami, aku tidak mau jika masalah ini selesai malah kalian yang akan menimbulkan gejolak baru di Metis.” Pria berambut rapi itu menolak penawaran Eter.
Eter tersenyum sinis mendengarnya. Dia juga sedikit setuju dengan Elon akan hal itu, walaupun masih ada keinginan untuk ikut campur dalam mencegah permasalahan itu meluas.
“Keluar dari permasalahan itu, bagaimana pendapatmu tentang kemampuan Weis dan Mishel?”
Elon memegangi dagunya, berpikir sejenak. “Untuk yang laki-laki aku sedikit terkejut karena dia bisa menahan aura milikku, berarti dia memiliki kemampuan setingkat aefis rank C. Walaupun setelah aku memperhatikan dia lebih jelas dia hanya memiliki satu kemampuan aldefos.”
“Untuk yang perempuan.” Elon melanjutkan, “Dia sedikit istimewa menurutku. Tapi dia masih kurang pengalaman. Dan aku sudah mengkonfirmasi kalau dia memiliki kemampuan aldefos logam.”
Mata Eter menyipit. “Penglihatanmu memang luar biasa. Aku tidak menyangka kau bisa mengetahui kemampuan aldefos dari kedua temanku itu dalam sekali lihat.” Eter sedikit memuji Elon walaupun ada sedikit senyum sinis di wajahnya.
“Sebenarnya ada satu orang yang belum bisa aku tebak kemampuan aldefosnya.” Elon menatap Eter tajam.
“Kau tidak bisa menebak kemampuanku. Aku sudah belajar untuk menutupi kemampuan aldefosku dari mata sepertimu.” Eter menjawab tatapan Elon dengan kata-kata ketusnya.
Pembicaraan mereka berhenti ketika sebuah suara lenguh hewan terdengar. Suara itu bersumber dari kedalaman hutan. Mata kedua orang itu mengarah ke hutan yang menantikan sumber suara yang mirip dengan suara sapi.
Beberapa saat setelahnya, pepohonan pinus bergetar. Beberapa diantaranya roboh menimpa pohon lain. Dari dalam hutan itu terlihat siluet hewan besar. Eter terkesima saat mengetahui hewan itu.
Dua lusin Karkadan berjalan ke arah Eter dan Elon. Bentuknya menyerupai Badak bercula namun memiliki tubuh lebih besar dengan cula sepanjang 2 meter. Tubuhnya memiliki tinggi 5 meter dengan panjang sekitar 8 meter. Satu ekornya hampir sebesar pesawat Kalong.
“Sebenarnya aku ingin segera pulang dan mengambil buku untukku berlatih aldefos.” Eter berkata pelan. Ada sebuah senyuman yang terpampang di wajahnya.
“Ayo kita lihat apakah kau memang memerlukan buku berlatih atau hanya berakting. Ada satu lagi apa kau mau berlomba denganku, siapa yang paling banyak membunuh Karkadan akan membawa pulang pesawat itu!” Elon menunjuk Kalong di belakang Eter.
“Aku terima tantanganmu.”
_____________
Maaf jika belakangan ini saya jarang update, ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Selain itu revisi 20 chapter awal juga masih saya lakukan. Harapannya sih akhir bulan Juni ini saya bisa mempublish 40 chapter. Jadi terus pantengin nih novel ya...
Terima kasih juga karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
Terima Kasih
____________
__ADS_1