Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 12 - Anak Biasa


__ADS_3

Noah memandangi Eter yang sudah berdiri yang sedang mengeluarkan belati kecil dari sarungnya. Wajahnya penuh dengan kemarahan bercampur dengan kesedihan. Dia masih belum bisa berdiri dengan tegap setelah melihat kematian seseorang yang sangat penting baginya.


“Apa kita tidak menguburkan ibumu terlebih dahulu?” Noah bertanya cemas.


“Noah... Ibuku memintaku untuk menikmati hidup. Apa kau tau apa yang dimaksud olehnya?” Eter menatap tajam Noah. “Aku bisa menikmati hidup jika bisa membalaskan dendamnya. Selain itu ibuku tidak pantas dikubur di saat saat seperti ini. Akan aku kuburkan nanti jika semuanya sudah membaik.”


Noah tidak menyangka Eter akan menolak menguburkan ibunya. Tapi hal itu masih bisa diterima karena tidak mungkin menguburkan seseorang disaat pertempuran masih berlangsung.


“Baik kita akan membalaskan kematian ibumu.” Noah setuju dengan Eter.


Mereka akhirnya menyiapkan diri untuk melawan para pasukan berseragam hitam selain itu mereka juga memiliki tujuan lain yaitu kantor Unicorn untuk bersama-sama melawan para pasukan berseragam hitam. Kedua anak itu yakin saat ini pertempuran terpusat di kantor unicorn.


Persiapan mereka selesai setelah beberapa menit. Terlihat wajah murung Eter yang masih belum bisa dihilangkan. Tidak ada pembicaraan yang berarti antara Eter dan Noah saat melakukan persiapan.


“Eter, apa kau sudah siap?” Noah bertanya ke Eter yang sudah berdiri di dekat pintu keluar minimarket.


Eter hanya mengangguk pelan.


“Aku tegaskan lagi Eter. Kita akan menuju kantor Unicorn jangan lakukan pertarungan yang bisa mengancam nyawa kita. Cukup lakukan pertarungan yang bisa kita menangkan.”


Eter hanya menganggukan kepala, dia mungkin tidak bisa menahan dirinya untuk memusnahkan musuh yang ada di hadapannya. Noah sebenarnya mengetahui isi kepala Eter, sehingga dia akan menjadi tombol kontrol agar Eter tidak bertindak gegabah.


“Eter satu lagi yang aku minta, jangan gunakan emosimu saat sedang bertarung!!” Noah menegaskan hal yang lebih dia khawatirkan kepada Eter.


Eter yang mendengarnya hanya tersenyum tipis dengan mata yang masih dipenuhi kemarahan dan kesedihan. ‘Aku akan mengambil nyawa seluruh orang-orang kurang ajar itu,’ batin Eter.


Mereka berdua akhirnya keluar dari minimarket dan berlari di balik reruntuhan bangunan agar tidak diketahui oleh pasukan berseragam hitam. Jalanan sekitar minimarket kini sudah jarang ditemukan pasukan berseragam hitam hanya ada mayat-mayat hasil pembantaian mereka.


Namun, suara ledakan-ledakan masih sering terdengar dari arah kantor unicorn yang jaraknya dari Eter dan Noah sekitar 3 Km. Mereka terus berlari di balik reruntuhan sesekali berlari di jalanan apabila kondisi cukup sepi.


“Noah, apakah kau tau alasan mereka menyerang kota ini?” Eter bertanya kepada Noah saat mereka masih berlari di jalanan.


“Aku tidak terlalu tau Eter tapi kemungkinan penyerangan ini bertujuan mengambil semua data penelitian milik unicorn yang bisa mereka akses dari kantor cabang ini.”


“Jadi begitu, apakah kakekku juga akan menjadi incaran mereka?” Eter kembali bertanya dengan mata yang masih fokus kedepan.


“Aku akan menjawabnya jujur Eter. Sangat mungkin kakekmu juga menjadi incaran mereka.”

__ADS_1


“Maafkan aku Eter, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”


“Aku sudah merelakan apabila semua keluargaku di renggut. Namun aku pasti akan membalaskan dendam mereka.”


Noah melirik Eter yang belum menunjukan rasa kelelahan setelah berlari 2 km. Tentu saja dia keheranan karena sangat jarang seorang anak seperti Eter yang masih belum memahami kekuatan aldefos bisa berlari tanpa kelelahan sejauh 2 km.


“Eter sebelum kita bertarung aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau sudah belajar menggunakan aldefos untuk berlari?” Noah memberanikan diri bertanya kepada Eter apa yang ada di kepalanya.


“Aku belum pernah belajar tentang hal itu.” Eter menjawabnya dengan singkat.


“Lalu kenapa kau masih belum kelelahan saat ini?”


“Bukankah sudah aku katakan bahwa aku sering berlatih bela diri.” Eter menjawabnya dengan mengepalkan tangannya yang kecil. Noah mengangguk paham.


“Noah, kenapa kau tau cara titik lemah dari pasukan berseragam hitam ada di bagian lehernya?” Kali ini Eter yang bertanya kepada Noah.


“Oh itu karena pelindung tak kasat mata yang dihasilkan vest balistik lebih tipis di bagian leher. Aku juga tidak tau kenapa bisa begitu mungkin karena belum dikembangkan secara sempurna.” Noah menjelaskannya dengan singkat, padat dan jelas.


Sesaat setelah Noah menjawab pertanyaan Eter suasana kota yang mereka lalui semakin berasap dan suara ledakan semakin terdengar. Hal ini menandakan mereka sudah dekat dengan kantor unicorn tanpa bertemu dengan pasukan berseragam hitam.


Dibalik asap dari bangunan-bangunan yang terbakar beberapa orang yang menggunakan seragam hitam-hitam terlihat samar mengikuti dua anak yang sedang berlari menyusuri jalan. Hal ini diketahui oleh Eter dan Noah sehingga mereka menghentikan langkah mereka.


“Akhirnya datang juga..” Eter bergumam pelan dengan senyuman di wajahnya.


“Anak kecil apa yang kalian lakukan disini? Apa kalian memang ingin mengantarkan nyawa kalian.” Salah satu dari 10 orang pasukan berseragam hitam berteriak ke arah Eter dan Noah.


“Noah, aku akan menyerang mereka dari belakang. Tolong alihkan perhatian mereka!!” Eter berkata. Noah yang mendengarnya hanya mengangguk pelan tanpa tahu apa yang aka dilakukan oleh temannya itu.


Setelah meminta Noah untuk mengalihkan perhatian para pasukan berseragam hitam, Eter langsung berlari menuju reruntuhan bangunan di sebelah kanannya yang masih terbakar. Sontak saja salah satu orang dari pasukan berseragam hitam bereaksi untuk mengejar Eter. Namun, langkahnya terhenti ketika peluru aldefos milik Noah melesat ke arahnya.


“Paman, jangan panggil kami anak kecil!!” Noah berteriak ke arah para pasukan berseragam hitam.


“Oh... jadi kalian bukan anak kecil. Hahahahha,” salah satu pasukan berseragam hitam tertawa lepas.


Suara tawa itu berhenti saat Noah kembali menembaki mereka dengan senapan laras panjang rampasannya. Para pasukan berseragam hitam bereaksi dengan menembaki Noah. Baku tembakpun tak terhindarkan disertai kepulan asap yang semakin pekat diantara Noah dan pasukan berseragam hitam.


Noah beberapa kali menembakan aldefos apinya namun tidak terlalu berpengaruh karena kekuatannya terlampau lemah. Dia beberapa kali mendekati mereka akan tetapi karena kalah jumlah membuatnya hanya bisa bersembunyi di antara reruntuhan yang ada di jalanan.

__ADS_1


Disisi lain kesepuluh pasukan berseragam hitam bergerak perlahan mendekati Noah yang masih terus menembaki mereka dengan peluru aldefos maupun dengan aldefos apinya. Mereka seakan melupakan seseorang yang tadi bersama Noah.


“Cih, ternyata ini lebih menyusahkan. Eter cepatlah!!” Noah bergumam pelan dan masih terus menembaki pasukan berseragam hitam sembari bersembunyi di balik reruntuhan.


Sementara itu asap yang dihasilkan dari baku tembak semakin tebal membuat jarak pandang semakin pendek. Bersamaan dengan itu seorang anak kecil keluar dari reruntuhan bangunan di belakang para pasukan berseragam hitam. Dia berlari ke arah pasukan itu denganan menggenggam sebilah belati dikedua tangannya.


Anak kecil itu tidak lain adalah Eter yang berlari dengan cepatnya tanpa mengeluarkan suara. Salah satu pasukan berseragam hitam baru menyadari bahwa ada seseorang di belakang mereka. Saat orang itu menghadap belakang jaraknya dengan Eter sudah sangat dekat.


Eter tidak ingin menyia-nyiakan peluang di depannya. Dia langsung menyerang orang itu dengan cepat, namun dia harus menghindar karena tembakan yang dilakukan mangsanya. Tembakan itu membuat semua pasukan berseragam hitam mengalihkan pandangan ke arah belakang dan menemukan bahwa salah satu temannya sedang bertarung dengan seorang anak kecil.


Eter sudah tidak bisa menunggu lagi, dia mulai melompat menuju orang didekatnya. Kaki kecilnya berputar dan menendang senapan yang dipegang oleh musuh di depannya. Senapan itu terjatuh ke tanah dan membuat Eter dengan mudah mengarahkan belatinya ke leher pasukan berseragam hitam.


Pasukan berseragam hitam yang melihat rekannya dibunuh langsung menembaki Eter dengan membabi buta. Namun semuanya sudah terlambat, Eter sudah berlari dibalik asap yang cukup tebal membuat beberapa pasukan berseragam hitam tidak mengetahui dimana anak itu berada.


Eter bergerak di titik buta pasukan berseragam hitam dan dengan mudahnya menyerang 5 orang yang tidak bisa melihat pergerakannya. Tubuhnya meliup-liup di udara, melayang dan menikam 5 orang yang tidak menyadarinya dalam waktu kurang dari sepuluh detik.


Keempat orang lainnya langsung mengejar Eter dengan terus menembaki peluru aldefos. Namun tubuh Eter bisa menghindar dengan cepat dan terus berlari mencari mangsa. Dia kembali melompat dan memutar tubuhnya di udara sebelum kakinya menghantam salah satu kepala dari 4 orang pasukan berseragam hitam.


Eter kembali berlari dalam asap, mencari tiga orang yang tersisa. Tanpa pandang bulu belatinya terus menikam semua bagian tubuh musuh yang terlihat. Tidak ada yang dia lewatkan, tidak ada yang dia sisakan.


Dalam waktu kurang dari sepuluh detik keempat orang yang tersisa sudah meregang nyawa. Noah yang sadar mereka sudah tidak menembakinya segera berlari ke arah para pasukan berseragam hitam. Betapa terkejutnya dia saat melihat temannya sedang duduk di atas 10 mayat pasukan berseragam hitam.


“Apakah mereka mati oleh belatimu??” Noah bertanya dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan.


“Hah... belati ini sangat mudah digunakan.” Eter tidak menjawab pertanyaan Noah namun masih memandangi belatinya yang berlumuran darah.


“Noah ayo kita lanjutkan perjalanan kita!” Eter mengajak Noah yang masih dipenuhi tanda tanya besar apa yang sebenarnya terjadi.


“Aku yakin dia akan menjadi monster beberapa tahun lagi. Seorang anak biasa yang tidak seperti anak biasa.” Noah bergumam pelan sebelum mengikuti langkah Eter.


Mereka akhirnya melanjutkan lari mereka menuju kantor Unicorn. Namun apa yang mereka temukan di sana tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Mereka harus melihat sesuatu yang membuat mereka hampir putus asa.


_____________


Terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih

__ADS_1


____________


__ADS_2