Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 34 - Penyusup Perpustakaan


__ADS_3

“Tentu saja kita akan mencuri. Aku sudah berkali-kali mencoba meminta ke penjaga untuk mengambilkan beberapa buku di ruangan terlarang. Tapi mereka terus menolak permintaanku.”


Eter berdecak kagum saat mendengarnya. Padahal dia tahu Weis akan selalu bertindak lebih cepat dari pada yang diperkirakan orang lain. Weis bertindak seolah-olah dirinya merupakan orang yang bisa melihat masa depan. Sepertinya sifat Weis menurun dari orang tuanya yang merupakan konglomerat Republik Metis.


“Wow, aku tidak mengira kau bisa bertindak secepat ini. Lalu bagaimana cara kita menyusup ke ruang terlarang itu?”


“Aku punya barang bagus yang bisa kita gunakan. Aku baru saja membelinya, mungkin sebentar lagi akan datang. Barang itu bisa kita gunakan untuk menyusup ke dalam ruang terlarang.”


Weis berkata seolah-olah tidak ada satupun keraguan dalam dirinya. Benar saja, beberapa saat setelahnya sebuah drone terbang ke arah mereka. Membawa sebuah kotak berukuran sedang di bawahnya.


Drone tersebut merupakan generasi terbaru yang baru beberapa bulan lalu di perkenalkan ke publik. Benda terbang ini khusus digunakan untuk mengirimkan barang berukuran sedang dan bisa terbang selama berjam-jam. Selain itu drone ini juga memiliki fitur khusus yaitu bisa mengirimkan barang langsung ke orangnya. Sehingga bila orang itu sedang berada di luar rumah maka drone akan terbang ke tempat orang tersebut berada.


Kecanggihan teknologi memang membuat siapapun berdecak kagum. Bahkan Eter yang bisa membuat pesawat Kalong-pun tercengang melihat drone yang baru saja turun. Dia mengamati semua bagian drone bahkan dia berniat membawanya pulang untuk dibuat ulang.


Lain hal dengan Eter, Weis tidak peduli dengan kecanggihan drone itu. Dia memang sengaja memesan barang dengan pengiriman dari drone generasi terbaru. Selain untuk mencegah kecurigaan orang tuanya dia juga ingin pengiriman lebih cepat. Walaupun ongkos kirimnya sangat jauh dari kata normal.


Weis tidak langsung membuka kotak sedang itu. Dia membawanya dalam rangkulan tangan kirinya sembari terus melangkah. Eter mengikuti, tidak ingin tertinggal. Selama perjalanan mereka hanya mengobrol ringan terkait beberapa masalah pribadi sampai akhirnya sebuah bangunan terlihat di depan mereka.


Sebuah bangunan yang tepat berada di depan pertigaan jalan besar. Bangunan tersebut memiliki sebuah kubah besar berbentuk setengah bola dan empat kubah kecil berbentuk sama di setiap sudut atapnya. Bentuknya persegi dengan panjang sisi sebesar 50 meter dan beritngkat dua.


“Jujur aku baru sekarang pergi ke perpustakaan Keluarga Kestra. Padahal perpustakaan ini sudah dibuka untuk umum beberapa bulan yang lalu. Kenapa Keluarga Kestra membuka perpustakaan ini Weis?”


“Sebenarnya perpustakaan ini lebih mirip museum. Di dalamnya memang berisi buku-buku konvensional. Namun, buku-buku itu bukan buku konvensional yang sering kita lihat di toko-toko buku biasa. Semua buku-buku di perpustakaan ini adalah buku yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Dan buku-buku ini banyak dicari oleh para mahasiswa jurusan sejarah dan sejenisnya, mereka akan membayar mahal untuk membaca buku-buku yang ada di dalam. Jadi ya hanya untuk menambah penghasilan keluargaku.”


Eter menatap Weis tidak percaya. Dari sorot matanya sudah menunjukan ketidaksabaran untuk melihat buku-buku yang ada di dalam. Bahkan langkahnya terasa lebih cepat setelah mendengar perkataan Weis.


“Ingat Eter kita pergi ke sini bukan untuk membaca semua buku di dalamnya. Tapi kita akan mencuri, kau tahu kan kata mencuri berbeda dengan duduk diam di depan tumpukan buku.”


Eter tertegun, tersenyum canggung setelah mendengarnya. Dia memang berpikir untuk masuk dan membaca beberapa buku dulu sebelum memulai aksinya. Tapi, ternyata Weis sudah menduga pikirannya.


“Omong-omong bagaiman jika aksi kita nanti berhasil di gagalkan. Apa kita akan masuk ke dalam penjara?” Eter bertanya.


“Aku tidak akan masuk penjara, paling aku akan kena ceramah dari orang tuaku. Kalo kau, aku yakin akan masuk pejara.”

__ADS_1


“Hah, bagaimana bisa?”


“Karena kaulah yang memiliki kepentingan dengan buku-buku di dalam perpustakaan.”


Eter diam tidak menanggapi perkataan Weis. Dia mulai memikirkan beberapa skenario kabur apabila tertangkap oleh penjaga perpustakaan.


Ketika Eter masih dalam lamunannya, tanpa dia sadari kakinya sudah melangkah masuk ke dalam daerah perpustakaan. Perpustakaan ini di kelilingi pagar besi setinggi tiga meter dan di sekitarnya juga dibangun taman-taman yang bisa digunakan untuk berekreasi.


Mereka berdua memepercepat langkah menuju bangunan perpustakaan yang terletak di tengah daerah itu. Langkah mereka ringan masuk ke dalam dengan sesekali memberikan sapaan kepada penjaga perpustakaan yang tentu saja mengenal Weis.


Weis tidak langsung masuk ke dalam rak-rak buku. Tapi dia segera menarik lengan Eter untuk masuk ke dalam kamar mandi umum di pojok bangunan. Sesaat setelah masuk ke dalamnya Weis membuka kotak paket pesanannya.


Eter mengintip isi kotak mencoba memuaskan rasa ingin tahunya. Dia melihat dua buah kain warna hitam tebal yang tergulai lemas di dalamnya. Weis melempar salah satu kain itu ke Eter. membuat Eter hampir menjatuhkannya.


Eter merentangkan kain itu yang sebenarnya adalah sebuah jubah hitam panjang dengan penutup kepala. Di penutup kepala yang hampir mirip seperti hoddie itu, ada sebuah cadar yang digunakan untuk menutupi sebagian wajah.


“Kita akan menggunakan ini untuk menutupi wajah dan tubuh kita saat mencuri nanti?” Eter bertanya.


Eter terdiam menatap jubah di tangannya. Dia teringat sebuah informasi saat sedang memakai identitas Raja Para Badut. Informasi terkait benda yang dapat menghilangkan keberadaan pemiliknya, benda buatan perusahaan Unicorn.


Eter teringat dalam informasi tersebut dikatakan bahwa benda di tangannya itu tidak diperjual  belikan ke publik. Namun, hanya dipakai oleh pasukan Penjaga Unicorn. “Weis, dari mana kau membeli ini?”


“Aku membelinya secara ilegal dari seseorang yang berada di perusahaan Unicorn.”


Eter termenung tidak percaya atas apa yang didengarnya. Ada selintas pikiran untuk membawa pulang jubah itu. Tentu saja untuk membuat salinannya dan memperkuat posisi kelompoknya.


Tidak menunggu lama, Eter langsung mengenakannya. Jubah itu menutupi hampir semua bagian tubuhnya dari ujuang rambut sampai ujung kaki. Cadar juga membuatnya seolah-olah menjadi malaikat kematian yang akan menikam manusia.


“Eh Weis, kenapa setelah mengenakan jubah ini keberadaanku masih terlihat di kaca.” Eter melihat bayangannya di kaca kamar mandi.


“Itu karena kau belum mengaktifkan mode penyamaran.”


Weis kemudian ikut mengenakan jubah besar itu. Membuatnya sama persis seperti Eter. Weis memberikan beberapa arahan kepada Eter untuk mengaktifkan mode penyamaran jubah. Dia menunjuk sebuah tombol kecil di dalam jubah.

__ADS_1


Weis menekan tombol itu dan membuatnya menghilang dari pandangan. Membuatya seolah tidak ada di sana. Eter melotot terheran-heran sebelum mempraktekan hal yang sama. Kini kedua anak itu sama-sama menghilang dari ruang kamar mandi.


“Emm Weis, bagaimana cara kita melihat satu sama lain?” Eter bertanya, dirinya yakin Weis masih berada di ruangan.


“Oh aku lupa.” Weis mematikan mode penyamaran, membuat tubuhnya kembali terlihat. Dia menyodorkan sebuah kacamata ke Eter yang juga mematikan mode penyamaran. Kacamata itu langsung Eter pakai. Sekilas tidak ada hal apapun yang terjadi.


“Coba kau ubah jubahmu ke mode penyamaran.” Weis memberikan saran saat Eter masih kebingungan.


Tanpa diperintah dua kali Eter sudah melakukannya. “Tidak ada yang berbeda.” Celetuk Eter.


“Coba kau copot kacamata itu.”


Eter melakukan perintah Weis. Dia menemukan dirinya sendirian di kamar mandi. Weis sudah menghilang dari ruangan itu membuatnya paham akan yang terjadi.


“Oh jadi kacamata ini adalah cara kita untuk melihat satu sama lain.” Eter mengangguk paham.


“Ya benar. Berbeda dengan jubah ini yang menggunakan teknologi untuk meneruskan cahaya dari segala arah sehingga membuat tubuh kita tidak terlihat. Kacamata ini dilengkapi dengan sensor inframerah dan panas yang saling melengkapi membuat tubuh pengguna jubah lain akan terlihat.”


“Baiklah kita sekarang siap untuk menyusup. Ayo cepat jangan buang waktu lagi!” Eter memerintah, dia tidak sabar untuk melancarkan aksinya.


“Tunggu sebentar Eter, apa kau tau ruang terlarang itu ada di sebelah mana?”


Eter berhenti dirinya mematung. Dia tidak memikirkan hal itu membuatnya membalik badan menatap Weis yang sudah dalam mode penyamaran. “Hehehe, aku belum tahu.”


“Haduhh, ruangan itu ada di dalam ruangan kepala perpustakaan. Orang yang paling bertanggung jawab di perpustakaan ini. Dia adalah pamanku.”


_____________


Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih


____________

__ADS_1


__ADS_2