Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 35 - Penyusup Perpustakaan 2


__ADS_3

“Memangnya kenapa dengan ruang kepala perpustakaan?”


Weis menggelengkan kepala. “Kau tahu, pamanku adalah orang yang memiliki kekuatan aldefos setingkat dengan Aefis rank S. Jadi, kita tidak boleh gegabah ketika masuk ke dalam ruangan itu.”


Eter mengangguk paham. Seseorang yang berada di tingkat spesial adalah orang-orang yang harus diperhitungkan. Walaupun orang itu sudah berumur tapi dengan tingkat itu biasanya orang yang berumur 50 tahun akan terlihat seperti seseorang berumur tiga puluhan.


Hal ini terjadi karena manusia yang berhasil masuk ke tingkat spesial hampir semua sel di tubuhnya sudah bermutasi menjadi sel penghasil energi aldefos. Sel penghasil energi aldefos ini memiliki keistimewaan berumur lebih panjang dari pada sel manusia normal.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Eter bersuara setelah termenung memikirkan hal itu.


“Kita buat kekacauan di depan perpustakaan. Dengan begitu pamanku akan keluar meninggalkan kantor kesayangannya, mengurus kekacauan itu.”


Eter menyeringai, pikirannya sudah membuat berbagai simulasi kekacauan. “Kalau soal itu serahkan padaku.”


“Apa yang akan kau lakukan?”


“Tentu saja memanggil burung besiku, Kalong. Dia akan membuat kekacauan seperti menghancurkan taman-taman perpustakaan.”


Weis terdiam memikirkan apa yang harus dia lakukan. Di satu sisi usulan Eter memang ada benarnya tapi di sisi lain Keluarga Kestra akan mengeluarkan uang lebih untuk membangun ulang taman-taman yang hancur.


“Kau boleh menghancurkannya. Tapi, jangan terlalu berlebihan aku tidak ingin keluargaku tambah repot karena hal ini.”


“Hehehe, tenang saja soal itu.”


Eter memunculkan layar hologram dari tangan kirinya. Dia menggeser-geser layar itu mencari hal yang dia maksud. Beberapa saat kemudian layar hologram ditutup bersamaan dengan sebuah senyuman yang terukir di wajah Eter.


“Sepuluh menit, itu waktu yang kita butuhkan untuk mendapatkan kejutan dari Kalong.” Eter berkata menatap Weis dalam mode penyamaran.


Weis tidak menjawabnya, dia diam dalam kesunyian kamar mandi. Entah kenapa kamar mandi itu tidak dikunjungi oleh orang lain. Hanya ada Eter dan Weis di dalamnya. Weis mengira hal ini dikarenakan perpustakaan baru saja buka, jadi tidak banyak yang mengunjunginya.


Sepuluh menit berlalu, Eter kembali membuka layar hologramnya. “Oke Weis, bersiap untuk kejutan dari Kalong 2.0.”


Belum sempat Weis menanggapi, tiba-tiba suara dentuman yang memekakan telinga terdengar. Bangunan perpustakaan bergetar hebat, beberapa dindingnya mengalami keretakan. Begitupun dengan atap bangunan yang juga mengalami beberapa retakan.


Weis menatap tajam Eter, dia tahu apa yang sudah temannya lakukan. “Apa maksudmu mengguakan ledakan seperti itu?” Weis menyipitkan mata, memberikan sorot mata penuh emosi.


“Sudahlah Weis, paling tidak kita bisa masuk ke ruang kepala perpustakaan sekarang.”

__ADS_1


“Hahhh,” Weis menghela nafas panjang sebelum melangkah cepat keluar kamar mandi. “Cepat ikuti aku.”


Eter berlari tanpa suara di belakang Weis. Mereka berdua berlari di ruang utama perpustakaan. Beberapa rak buku besar dilewati mereka sembari terus berlari ke sebuah pintu yang berada di bagian belakang ruangan utama.


Weis berhenti sebentar sebelum membuka pintu dihadapannya dan menampakan sebuah ruangan kosong. Ini menunjukan bahwa kepala perpustakaan yang tidak lain adalah Paman Weis bergerak cepat keluar ruangan untuk melihat sumber ledakan. Meninggalkan ruangannya dalam keadaan tidak terkunci.


Ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter lima meter itu kosong hanya ada ratusan buku-buku konvensional yang berjajar rapi di rak buku. Rak buku itu juga berada di belakang meja besar yang berada tepat di tengah-tengah ruangan.


‘Meja yang berantakan,’ batin Eter dalam hati saat melihat meja dengan tumpukan kertas di atasnya. Dia langsung masuk dan menyisir ruangan berjaga-jaga jika ada seorang penyintas yang bersembunyi di balik rak-rak buku.


“Aman.” Kata Eter mantap.


“Jadi dimana pintu masuk ruangan terlarang itu?” Eter melanjutkan.


Weis tidak menaggapi, dia berjalan ke depan rak-rak buku. Matanya menyelidik setiap jengkal rak buku itu. Kelopak matanya berhenti di sebuah buku tebal yang berada tepat di tengah rak buku.


Weis mengacungkan jari telunjuknya, menempelkannya di buku itu. Dia menekan buku tersebut sampai masuk lebih jauh ke dalam rak. Seketika rak-rak buku itu terbuka, memperlihatkan sebuah jalan gelap di dalamnya.


Eter terdiam begitu juga dengan Weis. Mereka masih bimbang untuk masuk lebih jauh. Namun, Weis memberanikan diri untuk masuk diikuti Eter di belakangnya. Mereka menemui anak tangga tanpa ujung yang mengarah ke bawah, entah membawa mereka kemana.


Langkah mereka berhenti saat Weis menabrak suatu dinding di depannya. Weis meraba-raba mencoba menemukan sesuatu. “Eter apa kau memang tidak memiliki sumber cahaya satupun.”


“Emmm, oh aku baru ingat.” Eter membuka layar hologram di jam tangannya, menyetel semua layar hologram berwarna putih. “Ternyata kita berdua orang bodoh yah.”


Eter tertawa sendiri, dibalas Weis dengan tatapan tidak suka. Weis juga baru menyadari hal itu, sebelumnya dia terlalu fokus untuk turun sampai lupa akan sumber penerangan.


Weis mengalihkan pandangan menatap halangan yang berada di depannya. Dia terkejut karena penghalang itu bukan hanya dinding tapi juga ada sebuah pintu di tengahnya. Pintu itu terbuat dari besi berwarna hitam, persis seperti sebuah penjara bawah tanah di abad pertengahan.


Weis mencoba mendorong pintu, berharap pintu itu tidak terkunci. Benar saja pintu itu tidak terkunci. Menampakkan sebuah ruangan yang hampir sama dengan ruang kepala perpustakaan tapi yang ini lebih kecil. Diameter ruangan ini sebesar tiga meter dengan tinggi ruangan sekitar tiga meter. Semua dindingnya berisi rak-rak buku.


Ada yang aneh dengan ruangan ini. Eter tidak merasa pengap sedikitpun padahal letaknya berada di bawah tanah. Juga dengan buku-buku di dalamnya yang sudah termakan usia.


Eter terlebih dahulu mengitari ruangan, mencari buku yang menurutnya menarik untuk dibaca. Matanya lincah berpindah dari buku satu ke buku lainnya. Buku-buku disini sangat di jaga, hampir tidak ada debu yang menempel di buku-buku dan juga di lantai.


Mata Eter berhenti ke sebuah buku di bagian paling atas rak. Sebuah buku yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Buku tebal dengan sampul berwarna coklat berdiri rapi di bagian atas rak.


“Weis bisakah kau ambilkan buku itu!” Eter menunjuk buku yang dia maksud.

__ADS_1


“Ambil sendiri.”


“Ayolah Weis gunakan kemampuan aldefosmu, aku tidak mungkin kan memanjat rak-rak buku ini.” Eter tersenyum canggung.


Weis menghela nafas pelan kemudian mengacungkan tangan kanannya. Jari-jemarinya bergerak berurutan membentuk sebuah gelombang angin dari tangannya. Angin tersebut bergerak ke buku yang dimaksud dan membawanya turun menuju tempat Eter berdiri.


Eter menangkapnya, tangannya meraba-raba sampul buku tebal itu. “Kalo saja aku punya kemampuan aldefos angin sepertimu, aku bisa hidup lebih santai. Hehehe.” Eter menyeringai.


“Tolong jangan katakan kemalasanmu di depanku Eter.”


“Santai saja Weis, aku kan hanya berharap.” Ucap Eter sembari membaca judul buku di gengamannya, “Lightning Power, judul yang menarik.”


Weis melirik Eter, “Apa buku itu yang akan kau ambil?”


“Aku lumayan tertarik dengan ini. Kertas-kertasnya dibuat dari bahan yang berbeda dari buku konvensional lain. Apa boleh aku bawa pulang ini?”


“Kau hanya boleh bawa satu buku dari sini, aku tidak mengijinkanmu membawa lebih dari itu.”


“Iya iya.” Eter memasukan buku itu ke dalam ransel yang selalu dia bawa di punggung.


“Weis apa ada yang salah?” Eter melihat Weis yang sedang mondar-mandir mengitari ruangan.


“Apa kau tidak aneh, ruangan ini disebut sebagai ruang terlarang. Tapi, tidak ada satupun CCTV yang terpasang di dalamnya.”


Mata Eter kemudian menyelidik, mencari benda yanng dimaksud Weis. Dan memang tidak ada CCTV di ruangan itu. Pikirannya kini mulai berjalan layaknya seorang detektif. Membuat belasan kemungkinan yang akan terjadi setelah ini. beberapa detik setelahnya dia menemukan keanehan yang tidak diperkirakan.


Eter menatap Weis tajam. “Weis, berapa lama mode penyamaran jubah ini bisa bekerja?”


Weis diam, tangannya langsung memunculkan layar hologram. Satu menit setelah Weis membuka layar hologram, keringat dingin menetes dari dahinya. “Eter, maaf. Mode penyamaran pada jubah ini hanya bisa bekerja selama 20 menit.”


_____________


Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih


____________

__ADS_1


__ADS_2