![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
Eter diam, menatap Weis takzim. Weis juga menatap Eter, diam membisu. Keduanya tersenyum canggung dari balik kain penutup sebagian wajah.
“Hahahaha, kita memang bodoh yah.” Eter tertawa, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelahnya ruangan itu bagaikan sebuah ruang kosong tanpa penghuni. Mata kedua anak itu saling bertemu, menatap tajam satu sama lain. Membuat suasana ruangan semakin berat. Keseriusan muncul di alur wajah Eter maupun Weis.
Tanpa menunggu waktu lagi, tanpa ada pembicaraan lain lagi. Mereka berdua segera meninggalkan ruangan terlarang menuju ruang kepala perpustakaan. Suasana di ruangan itu juga sepi, menambah kecurigaan Eter akan sesuatu yang tidak dia perkirakan.
“Sebentar Weis!”
Eter menghentikan Weis sebelum membuka pintu keluar dari ruang kepala. Dia berjongkok di samping pintu, telinganya menempel ke pintu. Eter mencoba mendengarkan suara di balik pintu sebelum menghela nafas pelan lalu menggelengkan kepalanya.
“Weis, sepertinya kita tidak bisa kabur.” Eter berucap lirih.
“Hah, lalu apa yang akan kita lakukan?”
“Tinggal berapa menit lagi mode penyamaran ini bisa bekerja?” Eter bertanya, suaranya lirih.
“Dua menit lagi.”
Eter terdiam, mencoba mencari solusi yang bisa digunakan. Namun setelah dua puluh detik berpikir hanya ada satu solusi yang bisa dilakukan.
“Weis, mode penyamaran ini dayanya berasal dari baterai kan?”
“Iya, apa yang ingin kau lakukan.”
Eter mematikan mode penyamaran jubahnya. Dia merogoh kantung kecil di bagian belakang dalam jubahnya. Eter sudah tahu kalau baterai untuk mengaktifkan mode penyamaran ini berasal dari baterai di belakang jubah.
Eter memberikan baterai itu ke Weis yang langsung dibalas tatapan tidak percaya. “Gunakan ini dan kaburlah secepat yang kau bisa. Jika kau tertangkap maka kau akan mendapat masalah yang lebih besar dariku.”
“Apa maksudmu? Bukankah aku sudah bilang, aku tidak mungkin masuk penjara. Jadi jangan mengkhawatirkan aku. Kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri, kalau kau tertangkap kau pasti akan masuk penjara.”
“Jangan berbohong Weis. Yang akan mendapat hukuman paling berat itu kau kan. Aku lebih baik masuk penjara dari pada dimusuhi oleh keluarga sendiri. Kau paham maksudku?”
Weis terdiam, kemudian dia tertawa pelan, “Hehehe kau tahu rupanya. Jadi apa kau mau menjadi umpan?”
“Benar,” Eter tersenyum di balik kain penutup mukanya.
__ADS_1
Weis mengambil baterai dari tangan Eter. Dia memasangnya di jubah miliknya, membuat mode penyamaran lebih lama.
“Eter kita akan bertemu besok atau lusa. Tentu saja jika kau berhasil kabur.”
“Aku pasti berhasil kabur, oh ya bawa buku ini juga. Aku tidak mau usaha kita sia-sia jika aku tertangkap nanti.” Eter memberikan buku yang dia ambil dari ruangan terlarang ke Weis.
Tanpa menunggu lagi Eter segera membuka pintu keluar. Menampakkan tubuhnya yang dibalut jubah hitam bak malaikat kematian. Weis di belakangnya sudah dalam mode penyamaran. Dia langsung berlari, bergerak cepat dan senyap menggunakan kemampuan aldefosnya.
Weis segera keluar perpustakaan diikuti mata Eter yang terus menatapnya. Kini Eter sendirian di depan pintu ruang kepala perpustakaan berhadapan dengan kurang lebih sepuluh petugas perpustakaan.
Sepuluh orang itu tentu saja dipimpin oleh kepala perpustakaan. Wajahnya memang sudah penuh kerutan bahkan rambutnya pun sudah memutih. Cara berjalannya juga membungkuk dan harus dibantu oleh tongkat kayu. Namun, dibalik itu semua dialah orang paling kuat di Keluarga Kestra.
“Anak muda, apa yang kau inginkan dari ruangan terlarang itu?” Kakek tua itu berucap, suaranya besar hampir sama dengan suara Weis namun lebih berat.
“Heeeh, bagaimana kau tahu aku masih muda?”
“Energi aldefosmu yang bocor.”
Seketika tubuh Eter merinding, bulu kuduknya berdiri. Pada dasarnya energi aldefos memang kadang-kadang bocor tapi kebocoran itu biasanya tidak terlalu besar bahkan bisa dibilang sangat kecil. Yang lebih mencengangkan lagi orang tua ini bisa memperkirakan umur seseorang hanya dari energi aldefos yang bocor.
“Aku sudah pensiun, tidak pantas kalau kau memanggil orang tua ini seorang Aefis.”
Eter terdiam, matanya masih terus melirik ke sana kemari mengawasi gerak-gerik musuh dihadapannya. Tangannya tersingkap di balik jubah. Jarinya menyentuh jam tangan, menekan beberapa tombol darurat.
Kakek tua atau bisa dibilang Paman Weis melihat pergerakan tangan Eter. Dia hanya tersenyum saat melihatnya seolah mengetahui apa yang sedang dilakukan Eter. Lain hal dengan orang-orang di belakangnya yang masih menatap Eter bengis.
Eter melihat senyuman Paman Weis itu. “Apa yang kau pikirkan kakek tua?”
“Aku suka denganmu anak muda. Andaikan kau tidak masuk ke dalam ruang terlarang mungkin aku bisa mengajarimu beberapa teknik bertarung.” Paman Weis melebarkan senyumnya.
“Oooh, sungguh penawaran yang menarik. Ayo kita lihat apakah teknik bertarungmu lebih baik dariku atau malah jauh berada di bawahku.”
Paman Weis mengangkat tangan kanannya. Dia memberikan kode kepada Eter untuk jangan memulai pertarungan terlebih dahulu.
“Tinggalkan aku!! Aku akan mengurusnya dengan kemampuanku sendiri.” Paman Weis memberi perintah ke orang-orang di belakangnya.
Kesembilan orang itu kaget bercampur heran. Tatapan mereka tertuju ke Paman Weis, mencoba mencari kejelasan. Salah satunya bahkan mendekati Paman Weis untuk bertanya beberapa hal.
__ADS_1
“Maaf Pak Kepala, bukankah kita bisa mengurus ini lebih cepat apabila menggunakan banyak orang?” salah satu orang yang ternyata juga merupakan petugas perpustakaan memberi saran.
Paman Weis tersenyum sinis. “Tidak semua yang menggunakan banyak orang akan menghasilkan hasil yang maksimal. Aku tidak ingin jatuh banyak korban di pihak kita. Lebih baik kalian keluar dari sini dan segera ungsikan penduduk di sekitar lingkungan perpustakaan sejauh yang kalian bisa.”
“Maaf Pak Kepala apa itu tidak terlalu berlebihan?” Petugas perpustakaan lainnya menimpali perkataan Paman Weis.
“Lakukan saja perintahku!!” Paman Weis menggertak membuat orang-orang di belakangnya diam seketika.
“Baik Pak.”
Kesembilan orang itu kemudian keluar dari perpustakaan. Lalu bergerak cepat mengevakuasi penduduk di sekitar perpustakaan. Mereka berdalih di perpustakaan ada sebuah penyerangan yang bisa mengancam nyawa penduduk di sekitarnya.
Ketika kesembilan orang itu keluar dari perpustakaan Eter malah bingung dengan keputusan Paman Weis. “Apa yang kau lakukan? Bukankah lebih cepat melumpuhkanku dengan banyak tenaga?”
“Hahahahah,” Paman Weis tertawa, tubuhnya berguncang hebat. “Aku tidak bodoh. Aku tahu kau bisa membunuh orang-orang itu hanya dengan satu tangan.”
Eter tersentak kaget. Dia segera mundur lima langkah, menjaga jarak. Sadar akan kekuatan Paman Weis posisi Eter sekarang dalam keadaan siaga. Kakinya sedikit menekuk membuat tubuhnya condong ke depan. Tangannya mengepal dan teracung ke depan.
Paman Weis hanya membalas kesiap siagaan Eter dengan senyuman. Senyum yang membuat siapapun harus menjaga jarak jika tidak ingin meregang nyawa.
“Apa kau takut?” Paman Weis bertanya dengan wajah polos buatannya.
“Untuk apa aku takut,” Eter menjawab ketus, dia ingin segera keluar dari situasi ini. “Sudah jangan berlama-lama lagi. Ayo kita lihat siapa yang lebih unggul!!”
“Hahahaha, anak muda memang tidak sabaran. Sebelum itu aku ingin bertanya, kenapa kau bisa bersama Weis?”
Eter diam, memikirkan jawaban yang bisa diterima Paman Weis. Dia sudah tahu kalau Paman Weis juga bisa mengenali seseorang hanya berdasarkan energi aldefos yang bocor. Hal ini berdasar dari kemampuan Paman Weis yang bisa menebak umur seseorang dari energi aldefos yang bocor.
“Hah, jadi kau sudah tahu rupanya. Aku akan menjawabnya jika kau bisa mengalahkanku.”
_____________
Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
Terima Kasih
____________
__ADS_1