![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
Eter dan Noah tidak mengetahui bahwa pertarungan mereka berdua telah menyebabkan Ibu Eter terbangun. Dia terbangun sudah cukup lama dan hanya bisa melihat kedua anak itu bertarung tanpa bisa berbuat banyak.
Tubuh Ibu Eter semakin lemah dengan wajahnya yang pucat tapi entah kenapa dia seperti memiliki tenaga lebih untuk bisa bersuara. Dia tidak enak hati dengan pertarungan Eter dan Noah yang berbeda pendapat. Sehingga dia harus bersuara agar kedua anak itu berhenti bertarung.
“Eter...”
Ibu Eter berkata pelan namun langsung bisa didengar oleh Eter dan Noah. Pertarungan keduanya berhenti seketika, mereka berdua mengalihkan pendangan ke ranjang yang digunakan ibu Eter untuk berbaring. Eter cukup terkejut dengan ibunya yang lebih cepat siuman dari perkiraannya.
“Ibu kau sudah bangun?” Eter bertanya memastikan.
Ibu Eter memposisikan tubuhnya dalam keadaan duduk tanda dia sudah sadar dan tubuhnya sudah kembali pulih. Tapi hal itu tidak bisa membohongi mata kedua anak itu, mereka tahu kondisi Ibu Eter semakin parah dilihat dari wajahnya yang semakin pucat.
“Jika ibu masih belum pulih ibu bisa tidur saja!”
“Tidak Eter ibu masih kuat. Ibu juga sudah mendengar rencana yang akan kalian lakukan dan ibu setuju dengan rencana kedua Noah untuk pergi ke kantor Unicorn. Kita membutuhkan bantuan secepatnya Eter.”
Permintaan ibunya membuat Eter mematung, tidak menyangka. Namun Eter masih tidak bisa menerima permintaan ibunya yang wajahnya sudah semakin pucat dan tubuhnya semakin lemas.
“Tidak bisa ibu, Eter bisa lihat keadaan ibu sangat tidak memungkinkan untuk berlari dari kejaran para pasukan berseragam hitam.”
“Eter, ibu tidak akan ikut kalian, ibu akan menunggu disini. Menunggu kalian membawa bantuan dari Unicorn.”
“Eter, kau sudah lihat bagaimana kilatan cahaya itu meledakan bangunan-bangunan. Jangan sampai kilatan itu juga mengarah kesini membumi hanguskan minimarket ini dan seisinya.” Kali ini Noah yang mencoba meyakinkan Eter.
“Bagaimana jika saat kita pergi kilatan cahaya itu mengarah ke sini?” nada suara Eter sedikit meninggi.
“Eter tak apa jika ibu mati di tempat ini. Tapi ibu berharap kamu jangan sampai mati di sini.” Ibu Eter menimpali pertanyaan anaknya itu.
“Tidak bisa bu, kita harus selalu bersama. Aku tak mau hidup sendiri setelah ini. Kita tidak tahu apakah ayah dan kakek masih hidup atau tidak dalam keadaan seperti ini.” Eter masih gigih dengan pendapatnya.
Jawaban Eter membuat ibu Eter diam seribu bahasa, baru kali ini dia tahu anaknya bisa membuat dirinya tidak bisa berkata-kata lagi. Begitupun dengan Noah walaupun dia juga mengkhawatirkan ibu Eter namun dia juga khawatir jika mereka terus bertahan di tempat ini bukan tidak mungkin kilatan cahaya akan membumi hanguskan minimarket yang sekarang mereka tempati.
Begitupula dengan Eter yang juga masih mengingat dahsyatnya kekuatan dari kilatan cahaya putih. Dia tidak nyaman apabila harus berdiam diri di satu tempat karena hal itu sama dengan menunggu kematian menjemput. Sehingga dia membuat satu keputusan yang berani.
“Ibu, kita akan pergi bersama!”
Ibu Eter hanya mengangguk pelan tanda setuju. Namun, di wajahnya terlukis bahwa dia tidak terlalu suka dengan keputusan anaknya. Noah yang melihatnya juga kurang setuju dengan keputusan Eter karena hal ini dapat membuat mereka bertiga bergerak lamban apabila dikejar oleh pasukan berseragam hitam.
“Aku akan mengikutimu Eter.” Kata Noah sembari melangkah keluar ruangan untuk mempersiapkan beberapa hal.
“Bagus Noah sudah setuju, ibu tunggu saja disini istirahat sebentar, biarkan kami yang mempersiapkan semuanya.” Eter berkata kepada ibunya dengan penuh antusias.
__ADS_1
Eter keluar ruangan dan ikut dengan Noah yang sudah berada di tangga menuju lantai satu minimarket. Dia yakin Noah pasti lebih paham apa yang harus mereka siapkan dalam melakukan perjalanan kali ini ke kantor Unicorn.
“Jadi apa saja yang harus kita persiapkan Noah?”
“Kita harus menggunakan senjata-senjata dari dua orang pasukan berseragam hitam yang kita bunuh tadi.” Noah menjawabnya dengan berjalan ke arah mayat yang dimaksud.
Noah menjelaskan kepada Eter bahwa dua orang yang tadi mereka bunuh tidak memiliki kekuatan aldefos yang tinggi. Menurutnya mereka mungkin masih berada di tingkat rendah orang biasa karena mereka tidak bisa merasakan kehadiran dari Eter yang belum bisa menguasai aldefos.
Noah juga mengatakan mereka semua bisa memiliki kekuatan yang hampir menyamai adefos ahli dasar hal ini dikarenakan vest balistik atau yang sering disebut rompi anti peluru yang mereka gunakan. Hal ini dikarenakan vest balistik itu bisa mengeluarkan sebuah pelindung tak kasat mata di seluruh tubuh yang bisa melindungi pemakainya dari peluru aldefos rendah.
Peluru aldefos sendiri bisa dibilang sekumpulan energi yang diserap dari tubuh seseorang menggunakan pistol atau senapan atau senjata lainnya seperti yang digunakan para pasukan berseragam hitam dan bisa ditembakan seperti sebuah peluru. Senjata yang digunakan juga hanya bisa digunakan oleh orang-orang yang memiliki aldefos tingkat rendah orang biasa. Namun untuk vest balistik bisa digunakan oleh semua orang karena tidak terlalu menyerap terlalu banyak kekuatan aldefos.
Hal ini membuat Eter tidak bisa menggunakan senapan milik kedua orang itu. Mengharuskannya menggunakan satu-satunya senjata biasa yang digunakan kedua orang berseragam hitam. Senjata itu adalah sepasang belati kecil yang panjangnya hanya sekitar 40 cm.
Eter masih bisa menggunakan vest balistik milik salah satu orang itu karena dia yakin energi aldefos yang sekarang dia miliki sudah bisa diserap oleh vest tersebut. Benar saja saat dia memakainya, vest itu langsung menyesuaikan dengan bentuk tubuhnya dan mulai mengeluarkan sebuah pelindung tak kasat mata yang akan cukup sulit untuk ditembus peluru aldefos.
“Eter, kau bisa menggunakan belati?” Noah bertanya penuh kebingungan.
“Jangan salah, walaupun aku belum pernah berlatih aldefos tapi aku sudah sering berlatih bela diri dengan kakek.”
“Oh pantas saja kau bisa membunuh mereka.” Noah menunjuk salah satu mayat prajurit berseragam hitam yang terkapar di lantai.
Ketika mereka berdua selesai mengenakan semua perlengkapan, tiba-tiba terdengar suara keras seperti benda yang terjatuh dari arah tangga. Eter memalingkan pandangannya ke arah tangga dan matanya langsung melebar.
Sontak saja kedua anak itu langsung berlari ke arah tangga.
“Ibu...Ibu...Ibu..” Eter mengguncang guncangkan tubuh ibunya, wajahnya cemas.
Ibu Eter ternyata masih sadar, matanya kembali terbuka saat Eter memanggil-manggil namanya. Namun ada yang aneh dengan matanya, tatapannya kosong. Matanya meredup, tak bercahaya.
“Eter, kamu kah itu...” Ibu Eter berbicara lirih.
“Iya bu ini aku...” Eter terisak, matanya berair.
“Eter dengarkan ibu!!” sebelum Eter berkata lebih banyak Ibu Eter mulai melanjutkan perkataannya.
“Kamu mungkin sudah tau kalau kita bukan berasal dari Metis. Kau juga sudah tau asal usul keluarga kita. Oleh karena itu ibu dan mungkin ayah serta kakekmu meminta hal yang sama saat ini.”
“Jangan terlalu banyak bergerak bu!”
Ibu Eter tidak mengindahkan kata-kata Eter. “Ibu... ingin....” Suara ibu tertahan di tenggorokan.
__ADS_1
“Ibu ingin kamu menikmati hidup dan temukan teman yang bisa menjadi sahabatmu. Berbahagialah bersama mereka....” Kata kata ibu Eter semakin lirih.“Janganlah bersedih Eter, ibu dan ayah akan terus bersamamu.”
“Eter,” Ibu kembali melanjutkan. “Jadilah seseorang yang berguna bagi seluruh umat manusia...” Kata-kata Ibu patah-patah dan semakin lirih.
“Baik bu aku akan melakukannya.” Eter menjawab semua permintaan ibunya tanpa menyanggah tanpa berkata lebih banyak, dia takzim mendengarkan.
“Eter,” suara Ibu Eter semakin sulit di dengar. “Jangan lupakan ayah dan ibu!”
“Eter, apakah kamu masih disitu. Disini gelap dan dingin...” Mata ibu Eter kosong, tidak ada lagi cahaya dari pupilnya. Eter langsung meraih tubuh ibunya, memeluk Erat tubuhnya.
“Eter, apa kamu masih bersama Noah.” Ibu Eter bertanya, suaranya semakin lirih.
“Ma-masih bu.”
“Syukurlah, akurlah bersama dia. Jangan sering berkelahi!”
“Eter, siapa orang bersayap itu?” Ibu Eter bertanya hal lain, membuat Eter kebingungan.
“Ah. Jadi ini akhirnya...”
“Eter, bertahan hiduplah!! Ibu tidak senang jika kamu terlalu cepat menyusul.” Mulut ibu Eter terbuka, menghembuskan nafas pelan, matanya sedikit demi sedikit tertutup. “Sampai jumpa lagi Eter, anakku.”
Eter terhenyak.
Tubuh Eter berguncang hebat. Tangannya semakin erat memeluk tubuh ibunya yang sudah mendingin. Dia menjerit, meraung-raung seperti hewan liar. Suaranya pilu, menggema di seluruh sudut ruangan.
Sungguh, jika bom meledak di tempat ini maka Eter tidak akan pernah melepas tubuh ibunya. Ibu telah pergi pikirnya. Dia melepaskan tubuh ibunya lalu bersujud di depannya, memberikan penghormatan terbesar kepada manusia yang sudah melahirkannya.
‘Ibu sudah tiada. Bagaimana dengan kenangan itu. Wajah ibu saat memasak masih terbayang dipikiranku. Peluh ibu yang menetes disaat membuat roti bersamaku. Wajah marah ibu ketika mengajariku berhitung. Suara ibu saat membangunkan tidurku. Tangan ibu yang menggandengku saat berangkat sekolah. Semua itu masih ada di dalam kepalaku. Lantas kenapa ibu secepat ini pergi. Aku masih perlu tuntunan tanganmu ibu, aku masih perlu ibu untuk membantuku dalam kehidupan ini.’
Eter menangis dalam senyap. Terisak tanpa suara. Ruangan itu kembali hening menyisakan napas berat dua orang anak yang tertunduk lesu.
Noah yang sedari tadi hanya memerhatikan juga tidak bisa berkata-kata lagi. Dia terduduk, kepalanya disangga oleh kaki menandakan ketidakmampuannya menyelamatkan seseorang dengan ilmu yang dimilikinya sekarang.
Kesedihan dan kemarahan bercampur di ruangan gelap itu, membuat siapapun yang melihatnya akan ikut meneteskan air mata. Dua orang yang terduduk lesu dengan mata yang memerah dan berair masih dalam keadaan serba salah. Mereka ingin marah namun tidak bisa. Mereka ingin terus menangis namun suara ledakan menggema mengalahkan isak tangis mereka.
“Noah,” Eter berdiri dari duduknya. “Bantu aku membalaskan dendam!!”
_____________
Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
__ADS_1
Terima Kasih
____________