Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 28 - Hutan Bakiuk


__ADS_3

Kalong melesat tajam di atas awan, menembus batas stratosfer dengan troposfer. Pesawat hitam itu terbang dengan ketinggian 60.000 kaki dan dalam kecepatan 1236 km/jam atau setara dengan kecepatan suara.


“Tes, tes satu, dua, tiga... Para penumpang sekalian karena ketinggian sudah memenuhi batas keinginan saya maka kalian boleh melepas sabuk pengaman sekarang.” Eter membalik kursi pilotnya, tersenyum puas saat melihat Weis dan Mishel yang menatapnya penuh amarah.


“Apa kau menyerap energi aldefos kami hanya untuk mengisi energi cadangan pesawat ini?” Weis bertanya geram.


“Hehe, begitulah. Tidak mungkin kan kita berpergian tanpa ada energi cadangan” Eter menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Weis menggelengkan kepala, dia melepas sabuk pengaman yang sudah menyerap hampir separuh energi aldefos di tubuhnya. Dia melihat ke arah Mishel yang sudah berdiri menatap jendela pesawat.


“Jadi kita akan sampai di hutan Bakiuk dalam satu jam yah. Bukankah jika kita punya Kalong, kita tidak perlu terburu-buru?” Mishel bertanya ke Eter.


“Hmm, tidak kita harus berada di sana terlebih dulu dari eksekutif itu.”


“Memangnya kenapa?”


“Kita masih belum mempercayai eksekutif dari OAN itu.” Weis menimpali pertanyaan Mishel.


Eter mengangguk, setuju dengan perkataan Weis. Bagaimanpun eksekutif itu baru saja di hubungi tadi dan dia sudah mengajak untuk bertemu. Bahkan tempat pertemuan mereka adalah hutan misterius yang sudah terkenal ke mistisannya.


Eter tahu ada sesuatu yang tidak beres di hutan bakiuk, bukan hanya tempat para binatang mutan seperti Karkadan dan Falak. Tapi juga ada beberapa tempat di hutan Bakiuk yang sangat misterius, bahkan penduduk setempat tidak berani masuk ke tempat tersebut.


“Terlepas dari itu, Weis apa kau bisa mengambil buku berlatih aldefos dari perpustakaan keluarga Kestra?” Eter mengalihkan perbincangan.


“Jika kita tidak bisa mengambilnya lewat perantara ibu atau ayahku maka kita bisa mencurinya.”


Jawaban Weis membuat mulut Eter dan Mishel sedikit terbuka. Sebuah ekspresi tidak percaya terlukis di wajah kedua anak itu. ‘Seorang anak keluarga utama ingin mencuri buku dari perpustakaan keluarganya sendiri.’ mungkin itu yang ada di pikiran keduanya.


“Kau serius?”  Eter memastikan.


“Aku selalu serius.”


“Kamu tidak bercanda kan?” Mishel kembali memastikan denga gaya sopannya.


“Kapan aku pernah bercanda?”

__ADS_1


Eter menpuk dahi, tertawa lepas. Dia tidak menyangka Weis akan senekat itu bahkan ke keluarganya sendiri. ‘Ternyata teman-temanku memang orang-orang gila yang memiliki kemampuan para monster,’ batin Eter dalam hati.


Eter sudah mengetahui kemampuan Weis beberapa bulan lalu. Dia bisa mengatakan Weis sebagai seorang genius dalam pengendalian kemampuan aldefosnya. Walaupun tidak sejago para aefis rank C namun dia sudah setara dengan aefis tingkat rank D.


“Maaf Eter, aku ingin bertanya. Hutan Bakiuk itu luas dimana kita bisa mendaratkan Kalong?” Mishel kembali bertanya.


“Hmm, Weis kau tahu tidak tempat yang mungkin menjadi tempat pertemuan?” Eter bertanya.


Weis menyentuh dagunya, berpikir sejenak. “Tempat yang paling mungkin adalah di daerah kematian hutan Bakiuk. Tempat itu berbentuk lingkaran sempurna dengan diameter 200 meter. Di tempat itu tidak ada tumbuhan tinggi dan hanya di tumbuhi rumput pendek. Konon menurut cerita daerah tersebut adalah gerbang menuju kematian”


Eter yang mendengarnya hanya tersenyum kaku, begitupun dengan Mishel yang mengerutkan dahi.


“Kenapa kau menyarankan tempat yang jelas-jelas mengerikan seperti itu?” Eter sedikit protes terhadap Weis.


“Ya karena tidak ada tempat dengan ciri khas khusus di sana. Semua sudut hutan adalah tempat tertutup dan hanya daerah kematian yang terbuka. Letaknyapun tepat berada di tengah-tengah hutan.”


Eter dan Weis mengangguk paham akan penjelasan Weis.


Tiit... Tiit... Tiit


Suara alarm dari kursi pilot pesawat berbunyi. Itu merupakan tanda bahwa sistem auto pilot yang tadi Eter gunakan akan berakhir. Suara itu juga mengisyaratkan bahwa mereka sudah semakin dekat dengan huta Bakiuk.


Kalong mulai turun menuju permukaan tanah. Bukan turun secara perlahan tapi turun menukik tajam. Kalong jatuh bebas yang kemudian di percepat dengan mesin jet generasi terbaru membuat kecepatannya melebihi kecepatan suara.


Setelah beberapa detik menukik, hutan Bakiuk sudah terlihat di bawah. Sebuah hutan dengan tanaman pinus yang membentuk sebuah kanopi hutan. Hal ini membuat bagian bawah hutan menjadi tempat yang sedikit terkena cahaya matahari dan menambah kesan seram.


Pada akhirnya Kalong kembali terbang normal, mendesing pelan di atas ujung-ujung pinus. Eter mengarahkan Kalong ke tengah hutan mencari tempat bernama daerah kematian. Sampai akhirnya terlihat sebuah tempat berbentuk lingkaran sempurna tertutup rumput ilalang.


“Weis apakah itu daerah kematian hutan Bakiuk?” Eter bertanya sambil menunjuk tempat yang dia maksud.


Weis melihat tempat yang dimaksud “Aku yakin itu pasti tempatnya.”


Eter mempercepat Kalong setelah diiyakan oleh Weis. Kalong akhirnya mendarat tepat di tengah daerah kematian. Pesawat itu tidak melayang di udara tapi mendarat dengan tiga kaki sebagai penyangganya.


“Terima kasih karena sudah mengikuti perjalanan ka-”

__ADS_1


“Sudah jangan banyak bicara, cepat buka pintunya!!” Weis memotong kata-kata Eter, membuatnya mendengus kesal.


Eter membuka pintu pesawat bagian samping, sebuah tangga ikut keluar setelah pintu terbuka. Weis langsung berjalan menuruni tangga itu yang diikuti oleh Eter dan Mishel. Cahaya matahari pagi menyinari mereka memberikan kehangatan yang menenangkan.


Daerah kematian yang berada di tengah-tengah hutan Bakiuk membuatnya terasa seperti sebuah jantung dari hutan misterius. Daerah ini dipenuhi oleh rumput ilalang setinggi pinggang orang dewasa.


“Hahh...” Eter menghela nafas panjang.


“Kenapa Eter?” Mishel bertanya menanggapi tindakan Eter.


“Tidak, aku hanya sedikit lega tidak ada Karkadan ataupun Falak yang menyerang kita saat turun.”


“Memangnya kanapa kalian terlihat takut dengan kedua hewan ini?” Mishel kembali mengajukan pertanyaan.


“Karkadan dan Falak itu merupakan binatang mutan. Kamu tahu kan binatang mutan itu hewan yang bisa menghasilkan energi aldefos sama seperti manusia. Tidak hanya itu mereka juga memiliki kemampuan aldefos seperti air, tanah, udara, dan api. Bahkan binatang mutan ada yang bisa setingkat dengan para aefis rank 4S+” Weis menjelaskan.


Mishel mengangguk paham, tangannya gemetar saat mendengar penjelasan Weis. Dia pernah mendapatkan pengalaman buruk tentang binatang mutan. Diantara ketiga anak itu bisa dibilang Mishel lah yang paling banyak memiliki pengalaman dengan para binatang mutan.


Pembicaraan mereka terhenti. Angin berhembus memutar di atas mereka, membuat rumput ilalang saling bergesekan. Sebuah benda besi sedang terbang di atas ketiga anak itu, melayang 10 meter di atas daerah kematian.


Benda besi itu adalah sebuah helikopter dengan panjang 30 meter dan tinggi 6 meter. Ada dua baling-baling besar di depan dan belakang badan helikopter. Baling-baling yang membuatnya semakin kuat melayang di udara.


Helikopter itu perlahan turun mendekati permukaan tanah. Angin besar menyapu daerah kematian, menyibak rumput ilalang dibawahnya. Sesaat setelah helikopter menyentuh tanah, selusin pasukan berseragam hitam turun.


Mereka menggunakan helm militer berwarna hitam dengan penutup wajah dari kaca hitam. Rompi anti peluru menutupi tubuh mereka dengan pakaian militer serba hitam. Pasukan itu juga mempersenjatai diri mereka dengan sebuah senapan laras panjang aldefos dan sebilah pedang di punggung mereka.


Ada yang aneh dengan pasukan itu, mereka berlari ke arah Eter secara tergesa-gesa. Mesin helikopter-pun tidak dimatikan. Moncong senjata pasukan itu juga mengarah ke rombongan Eter, membuatnya bersiap atas semua kemungkinan.


“Angkat tangan kalian!!” seru salah satu orang dari pasukan itu.


_____________


Maaf jika belakangan ini saya jarang update, ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Selain itu revisi 20 chapter awal juga masih saya lakukan. Harapannya sih akhir bulan Juni ini saya bisa mempublish 40 chapter. Jadi terus pantengin nih novel ya...


Terima kasih juga karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.

__ADS_1


Terima Kasih


____________


__ADS_2