![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
Seorang anak laki-laki sepantaran Eter berjalan ke bangku yang ditempati Eter. Rambutnya pirang tersisir rapi ke kanan. Anak tersebut berjalan di tengah kereta didampingi oleh seorang pria paruh baya di belakangnya.
“Eter kau kah itu??” Anak laki-laki itu berhenti di samping tempat duduk Eter.
“Si-siapa??” Eter tergagap, matanya bertemu dengan anak itu. Membuatnya melihat wajah yang tak asing namun juga tidak diingatnya.
“Huft sudah 2 tahun tidak bertemu, kau sudah melupakan teman masa kecilmu.” Wajah anak laki-laki itu agak sedikit kecewa dengan reaksi Eter.
Eter masih kebingungan dengan kehadiran seorang anak laki-laki yang tidak diketahui asal-usul nya. Lain hal dengan Ibu Eter yang juga memperhatikan percakapan anaknya dengan anak laki-laki itu. Dia menyadari satu hal yang tidak disadari Eter.
“Ah, apakah kamu Noah. Anak dari tuan Naruru?” Ibu Eter pernah melihat anak laki-laki di depannya yang merupakan anak dari seseorang yang dikenalnya.
“Ah bibi lama tidak bertemu, benar bi aku Noah. Ternyata bibi lebih mengingatku dari pada si susu sapi ini.” Wajah Noah menunjukan ejekan nya kepada Eter.
“Oh kau Noah si kacang rebus itu, bagaimana bisa kau disini. Hahahaha.” Eter tertawa teringat bahwa Noah merupakan teman masa kecilnya dan dia pindah ke ibu kota Metis 2 tahun yang lalu.
“Enak saja kacang rebus kau ini Eter si susu sapi walau kulit mu sudah tidak seputih susu lagi. Hahahaha.” Noah mengejek balik Eter, suara tawanya menggema sampai seisi gerbong menoleh ke arah mereka.
Mereka berdua melanjutkan percakapan mereka di bangku lain. Meninggalkan ibu Eter dan pria paruh baya yang mendampingi Noah. Ternyata pria paruh baya itu adalah penjaga Noah sekaligus orang yang mendampingi Noah pergi ke kota Libo untuk melakukan suatu urusan.
“Jadi apa yang kau lakukan di kota ini, bukannya kau sudah di Ibu kota?” Tanya Eter kepada Noah yang sedang memandangi kaca jendela kereta.
“Ada urusan yang ingin aku lakukan di kota ini.” Noah menjawabnya dengan santai.
“Apa ini ada sangkut pautnya dengan perusahaan Unicorn cabang kota ini?” Eter mulai menebak-nebak apa yang dilakukan temannya di kota ini sekaligus untuk memuaskan rasa penasarannya.
“Rasa penasaranmu ternyata masih seperti dulu Eter, tidak ada perubahan sama sekali.” Noah tidak menjawab pertanyaan Eter.
Eter masih menunggu jawaban dari Noah dia masih menebak bahwa kedatang Noah ada sangkut pautnya dengan perusahaan Unicorn. Perusahaan Unicorn sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penelitian alat-alat untuk para Aefis. Perusahaan Unicorn membangun cabangnya di seluruh dunia salah satunya di kota yang Eter tempati.
__ADS_1
Noah merupakan anak dari salah satu direktur dari perusahaan Unicorn yaitu tuan Naruru. Eter mengenal Noah karena dulu Noah sering berkunjung bersama ayahnya ke rumah Arsa. Arsa sendiri saat itu bekerja di perusahaan Unicorn sehingga dekat dengan tuan Naruru. Itulah kenapa Noah dan Eter berteman dekat sampai saat ini.
Noah yang memiliki tinggi badan lebih tinggi dari Eter dan umurnya juga terpaut 1 tahun membuatnya terasa seperti kakak sekaligus teman bagi Eter. Rambut pirang dan warna kulitnya yang putih menambah kesan bangsawan di wajahnya. Selain itu gaya pakaiannya juga menunjukan bahwa dia anak dari seorang direktur dengan pakaian yang sering dia gunakan baju putih pendek dan celana panjang hitam ditambah dengan sepatu hitam.
Walaupun terkesan sederhana, namun setelan seperti itu selalu memberikan kesan wibawa kepada siapapun yang mengenakannya. Hal ini membuatnya sangat berbeda apalagi jika disandingkan dengan Eter yang hanya menggunakan kaos abu-abu hitam dengan motif garis garis hitam di lengan dan celana tiga perempat berwarna coklat ditambah sepatu berwarna biru. Namun Eter tidak iri dengan penampilan temannya karena dia sudah sering bermain dengan Noah.
“Bisa dibilang iya, aku sebenarnya ingin menemui kakak ku yang ada di kantor cabang kota ini. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya jadi aku memaksa ayahku untuk mengijinkan aku pergi sendiri. Tapi...” Noah tidak melanjutkan kata-katanya karena dia tahu Eter sudah menebak apa yang akan dikatakan oleh Noah.
“Dan kau hanya boleh pergi tapi dengan penjagaan dari pendampingmu. Hidupmu seperti di penjara saja. Hahahaha.” Eter sedikit meledek Noah karena kehidupannya.
Noah tidak menyanggahnya dia sadar bahwa yang diucapkan oleh temannya adalah sebuah kebenaran. Oleh karena itu dia memiliki cita-cita sebagai seorang petualang agar bisa menjelajah dunia dan mempelajari dunia untuk menciptakan kedamaian. Memang cita-cita Noah terlalu tinggi, tapi menurutnya harus ada banyak orang yang memiliki cita-cita sepertinya agar tercipta kedamaian dunia.
“Sudah jangan dibahas persoalan itu Eter, lebih baik bicara hal yang bermanfaat.” Hanya kata kata ini yang bisa dikatakan Noah untuk mengalihkan pembicaraan Eter.
“Oh baiklah, bagaimana kabar Firza dan Erina??” Eter bertanya hal lain kepada Noah.
“Firza dan Erina kondisi mereka baik, kami satu sekolahan sekarang dan kami juga satu kelas. Hehehe.” Noah menjelaskan kondisi Firza dan Erina dengan singkat karena memang hanya itu yang dia ketahui.
Firza merupakan anak seorang panglima Metis dan baru 2 tahun lalu ayahnya diangkat menjadi jendral besar urutan ke 3 Metis. Sedangkan Erina merupakan anak dari orang yang 2 tahun lalu berhasil menduduki kursi anggota dewan sehingga harus pindah ke ibu kota agar bisa lebih optimal dalam bekerja.
Mereka berempat pernah berjanji untuk terus berkomunikasi satu dengan yang lain saat mereka berpisah. Akan tetapi setelah mereka berpisah tidak ada yang pernah menghubungi Eter karena banyaknya kesibukan yang Noah, Firza, dan Erina lakukan.
“Apa yang kalian pelajari di sekolah ibu kota. Kudengar sekolah ibu kota mengajarkan hal yang berbeda dengan sekolah di kota kecilku. Hehehe.”
“Yah ada beberapa hal yang bisa kalian pelajari di ibu kota. Salah satunya adalah mempelajari dasar dari aldefos seperti pengetahuan dasar aldefos. Tapi tetap anak-anak seusia kita tidak diperkenankan mempelajari prakteknya. Kudengar sekolah di luar ibu kota tidak memperbolehkan guru untuk mengajarkan dasar aldefos saat masih berada di sekolah dasar.” Noah menjelaskan hal yang berbeda antara sekolah ibu kota dengan sekolah di luar ibu kota.
“Pantas saja orang-orang yang memiliki kekuatan aldefos tingkat tinggi kebanyakan berasal dari ibu kota apakah karena hal itu?” Eter mulai sedikit terpancing dengan arah pembicaraan Noah.
“Mungkin iya, mungkin tidak. Banyak juga yang bukan dari ibukota walaupun kebanyakan berasal dari para bangsawan.” Noah menjelaskan kepada Eter dengan kepalanya yang masih disangga tangan kanan dan menghadap ke luar kereta.
__ADS_1
“Noah kau kan termasuk bangsawan. Apakah kau sudah belajar tentang cara mengendalikan kekuatan aldefos? Kudengar anak-anak bangsawan kebanyakan sudah belajar cara mengendalikan kekuatan aldefos ketika masih kecil.”
Ketika Noah mendengar pertanyaan dari Eter membuatnya harus menegakan tubuhnya. Matanya melebar, dia tidak menyangka Eter akan bertanya tentang hal yang tidak banyak oleh orang luar ketahui. Dia yakin bahwa para bangsawan Metis tidak ada yang membocorkan informasi tentang para bangsawan mengajarkan aldefos kepada anak kecil.
“Bagaimana kau tahu tentang hal itu?” Noah melirihkan suaranya takut didengarkan oleh orang lain di kereta.
“Hehehe, aku hanya membaca beberapa buku yang menjelaskan soal hal itu.” Eter tersenyum canggung.
“Jadi memang benar rasa penasaran mu sudah semakin besar.” Noah hanya bisa menghela nafas saat memikirkan hal itu.
“Hehehe, jadi sudah sampai mana kau belajar aldefos?” Eter meneruskan pertanyaannya kepada Noah.
“Aku sudah bisa membuat unsur buatan menggunakan kemampuan aldefos.”
“Kemampuan aldefosmu apa?” Eter terus bertanya kepada Noah.
“Aldefos Api.”
Noah menjawab dengan wajah tegang mengamati gerbong kereta yang mereka tumpangi. Dia menemukan bahwa gerbong tersebut dalam keadaan sunyi tidak seperti sebelumnya. Suara bising para penumpang tiba-tiba menghilang.
“Eter, sebentar. Aku tidak tau ada hal apa tapi kondisi kereta sangat sunyi.” Noah berkata, matanya melihat pendampingnya yang juga sedang dalam keadaan waspada.
Saat seluruh gerbong dalam keadaan sunyi, sedikit demi sedikit suara antara rel magnet dengan bagian bawah kereta mulai melemah. Hal ini menimbulkan kebingungan penumpang karena baru kali ini mengalaminya. Setelah beberapa menit kereta berhenti di tengah lorong. Hal ini membuat penumpang panik.
Ketika riuh suara penumpang belum menghilang, tiba-tiba lampu kereta mati dan menghasilkan kegelapan total. Tidak lama setelahnya sesuatu yang besar telah terjadi di kota Libo.
_____________
Terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
__ADS_1
Terima Kasih
____________