![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
“Kau gila Eter,” Noah hanya bisa menggelengkan kepala, tangannya memegang dagu, mencoba berpikir sejenak. “Tapi itu patut dicoba.”
“Apa kau setuju Noah?”
“Ya, lebih baik berusaha tapi gagal dari pada diam saja tanpa hasil.” Noah menganggukan kepala tanda setuju.
Mereka berdua berlari, berpencar di balik reruntuhan bangunan, makin menjauh dari area pertarungan. Eter dengan lincah melompati puing-puing bangunan sampai akhirnya berhenti di salah satu reruntuhan. Matanya menyelidik ke seluruh bangunan, memastikan tidak ada musuh yang mengincarnya.
Eter mulai mengumpulkan kayu-kayu yang tersisa, tangannya bergerak cepat mengambil kayu yang masih bisa digunakan. Selepas dirasa cukup, Eter kembali ke tempatnya berpencar dengan Noah. Selang beberapa saat akhirnya Noah terlihat. Dia membawa beberapa ikat kayu yang sudah berwarna hitam arang.
Noah berjalan pelan solah tidak memiliki beban hidup, membuat Eter kesal tidak karuan. “Hei, cepatlah kita tidak punya waktu lagi!!” Eter berteriak, menghardik Noah dengan wajah cemberut.
“Iya, iya...”
“Ayo, ikuti aku!!”
Eter berlari mendekati area pertempuran tepatnya ke tempat pertempuran para pasukan Penjaga Unicorn dengan pasukan Topeng Neraka, Noah mengikuti. Mereka bergerak di balik bayang-bayang reruntuhan dan juga di balik asap yang masih membumbung tinggi sembari memanggul kayu di punggung.
Jarak mereka berdua dengan kedua pasukan itu semakin dekat, hanya sekitar sepuluh meter dari area pertempuran. Sampai akhirnya Eter memberikan tanda kepada Noah untuk berhenti di balik salah satu puing bangunan yang paling dekat dengan area pertempuran.
“Jadi bagaimana sekarang?” Noah bertanya.
Eter melepaskan kayu dipunggungnya yang bertumpuk dengan tas ransel. “Bagi semua kayu ini dilima tempat berbeda di sekitar area pertempuran. Aku yang akan menyebarnya, tugasmu adalah membakar kayu-kayu ini menggunakan aldefos api. Oh iya apa kau bisa mengendalikan api aldefosmu dari jarak jauh?"
Noah mengangguk paham akan maksud Eter. “Api yang berasal dari Aldefos apabila dibiarkan oleh pemiliknya maka sebenarnya tidak akan bisa bertahan lama. Setelah beberapa menit maka api itu akan berubah menjadi unsur alami. Dan hanya Aefis rank A ke atas yang bisa mengendalikan unsur alami. Jadi aku hanya bisa mengendalikannya sekitar satu menit.”
“Hmm... itu cukup,” Eter bangkit dari duduknya, berjalan membawa beberapa balok kayu. “Ayo cepat, ikuti aku!”
__ADS_1
Noah mengangguk, mengikuti langkah Eter yang semakin cepat. Mereka berdua belari di balik reruntuhan, bergerak senyap tanpa suara. Beberapa kali Eter berhenti meletakkan satu set kayu yang kemudian dibakar Noah menggunakan aldefos apinya.
Sesampainya di titik ke lima pemberhentian, kedua anak itu bergerak mundur, bersembunyi di belakang reruntuh. Mereka membiarkan lima titik api berkobar, menjalarkan panasnya ke udara.
“Noah cepat padamkan apinya!!”
Noah mengangguk paham, tangannya teracung ke depan berusaha mengendalikan kelima titik api. Selang beberapa saat kelima titik api itu sedikit demi sedikit padam dan mengeluarkan kepulan asap yang menyepatkan mata. Asap itu bercampur dengan asap dari reruntuhan yang terbakar membuat jarak pandang semakin memendek.
Kedua pasukan yang sedang bertarung sedikit terganggu dengan bertambahnya asap di area pertempuran. Beberapa di antara mereka bahkan mengalihkan pandangannya mencari sumber asap yang semakin tebal. Beruntung mereka tidak melihat dua orang anak di balik reruntuhan.
“Noah persiapkan senjatamu! Kita akan bergerak cepat,” Eter memberi perintah sembari mengambil belati dari sarungnya.
“Oke siap,” Noah mempersiapkan senapan laras panjang.
“Dalam hitungan ketiga kita akan menyerang!”
Kedua anak itu seketika berlari, bersembunyi di balik kepulan asap yang semakin tebal. Tujuan mereka satu, Topeng Neraka. Langkah kaki mereka semakin cepat saat melihat satu orang anggota Topeng Neraka.
Eter berlari menjauh dari Noah ke samping kiri. Noah tidak mau berpikir panjang lagi, dia langsung memuntahkan peluru aldefosnya ke seorang anggota Topeng Neraka. Orang itu tidak bisa menghindari semua peluru aldefos milik Noah, dia tidak menyangka akan ada orang yang menyerangnya.
Ketika anggota Topeng Neraka itu sedang lengah, Eter dari arah samping kanan berlari secepat air mengalir. Dia melompat ke arah orang itu dan tanpa belas kasihan belati di tangan Eter dengan cepat menyayat lehernya.
“Noah lebih cepat lagi, kalahkan mereka semua sebelum asapnya hilang!!”
Langkah mereka semakin lincah, hanya dalam beberapa detik belasan anggota topeng neraka tumbang ke tanah. Anggota lainnya yang menyadari rekannya sudah meregang nyawa mulai waspada.
Sayang, asap yang sedari tadi menghalangi pandangan semua orang dalam area pertempuran perlahan lahan menghilang. Semua tatap mata mengarah ke kedua anak laki-laki yang bergerak lincah mengambil nyawa para pasukan Topeng Neraka.
__ADS_1
“Apa-apaan ini?” semua anggota Topeng Neraka bagaikan tersambar petir setelah melihat puluhan rekan mereka tumbang oleh dua orang anak kecil.
“Mereka hanya anak kecil cepat serang mereka!!” salah satu anggota Topeng Neraka berteriak.
Beberapa anggota Topeng Neraka mulai menyerang Eter dan Noah. Namun, langkah mereka terhenti oleh pasukan Penjaga Unicorn yang menganggap kedua anak itu sebagai rekan mereka. Pertempuran kembali berjalan dengan keadaan yang lebih menguntungkan pasukan penjaga.
“Eter ayo serang lagi!!” ajak Noah kepada Eter.
Mereka kembali melakukan kombinasi maut mereka. Hasilnya beberapa anggota pasukan Topeng Neraka meregang nyawa. Walaupun kali ini lebih sulit karena tidak adanya tabir asap yang menghalangi.
“Noah lebih cepat lagi!!”
“Lebih cepat kemana anak kecil?” suara misterius itu tiba-tiba datang membuat Eter melompat menjauh.
Seorang pria tinggi besar tiba-tiba muncul dari ketiadaan di hadapan Eter dan Noah. Mata mereka melebar tidak percaya setelah melihat pria itu mengenakan topeng berwarna merah. Noah memalingkan wajahnya ke arah Nata dan menemukan kakaknya sudah terbaring tak berdaya.
“Bagaimana bisa?”
“Siapapun bisa melakukannya anak kecil,” Topeng Merah kembali memunculkan bilah pedang dari gagang pedang di tangannya. “Sekarang giliran kalian para serangga pengacau.”
Gerakan Topeng Merah tidak bisa diikuti mata Noah maupun Eter. Membuat bilah pedang miliknya dalam sekejap sudah berada di atas kepala Noah. Tidak ada yang menduga pergerakannya. Noah hanya bisa pasrah setelah melihat pedang biru itu mengarah kepadanya. Namun sebuah keajaiban datang entah dari mana.
_____________
Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
Terima Kasih
__ADS_1
____________