Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 33 - Markas OAN 3


__ADS_3

“Jadi apa yang kau inginkan?” Elon membuka pembicaraan, memecah suasana.


“Apa yang sudah kau lakukan kepada Eter?” Nada bicara Weis berubah tidak sesopan sebelumnya. Elon diam membisu. Matanya menyelidik tubuh Weis dari atas sampai bawah, sebelum menghela nafas panjang.


“Seperti yang aku katakan tadi, aku hanya mengantar teman kalian pulang ke rumahnya.” Elon tersenyum penuh makna.


Tatapan Weis semakin tajam. Dia menggeratkan gigi, tangannya mengepal. “Lalu apa kau bisa menjelaskan noda darah di jasmu itu?” Weis menunjuk setitik noda darah di jas Elon.


Weis baru melihat noda darah beberapa saat lalu ketika menenangkan Mishel. Berbagai dugaan bermunculan di pikirannya. Mulai dari Elon bertarung melawan Eter sampai dugaan yang paling tidak dia inginkan.


“Oh ini, saat kalian pergi tadi ada beberapa Karkadan menyerang kami. Tentu saja aku melawannya dan menyelamatkan temanmu.” Elon sudah menebak dugaan Weis. Dia memuaskan rasa ingin tahu Weis dengan kejadian yang sebenarnya.


“Lalu kenapa kau tidak membawa Eter kesini?”


“Aku tidak mungkin membawa orang luar seperti dia ke dalam makras. Aku tidak ingin membocorkan isi dari markas ini. Berbeda denganmu yang merupakan seorang anak konglomerat mitra dari pemerintah. Dan juga Mishel yang merupakan anak paling spesial di Metis, dia harus kami bawa ke sini untuk mendapatkan perlindungan.”


Perkataan Elon seolah merupakan kebenaran dan memang sebagiannya benar. Namun hanya sebagian, sebagian lagi adalah sebuah kebohongan. Elon tidak mungkin membawa Raja Para Badut ke dalam markas OAN. Jika hal itu dilakukan maka sudah dipastikan OAN akan hancur dalam satu hari.


Perkataan Elon nyatanya masih belum bisa menutup kecurigaan Weis. Pikirannya malah semakin tidak karuan setelahnya. “Oke, lalu kenapa kau bisa mengetahui namaku dan nama Mishel?”


“Seharusnya kau sudah tahu kalau OAN memiliki semua informasi warga negara Metis.”


Weis mengangguk paham. Dia merebahkan punggungnya ke sofa, menyalurkan rasa rileks ke semua tubuhnya. Setelah beberapa menit berhadapan dengan suasana berat, akhirnya dia bisa kembali santai.


“Sebenarnya aku memiliki dugaan kalau Eter adalah Raja Para Badut. Tapi sepertinya hal itu tidak benar.” Weis beucap santai tanpa beban.


Berbeda dengan Weis, Elon malah bereaksi sebaliknya. Matanya melebar, tubuhnya tegap mendengar ucapan Weis. Keringat dingin tiba-tiba menetes di kening dan plipisnya. Jantungnya berdebar cepat, membuat suhu tubuhnya tiba-tiba naik.


“Bagaimana kau tahu tentang Raja Para Badut?” Elon mencoba tetap tenang.


“Beberapa bulan ini orang tuaku sering membawa masalah bisnisnya ke meja makan. Aku yang sering mendengar keluh kesah mereka semakin paham akan permasalahannya. Masalah mereka sama yaitu bisnis keluarga kami terganggu oleh seseorang yang dijuluki Raja Para Badut.”


“Oh pantas. Lalu kenapa kau yakin Eter adalah Raja Para Badut?” Elon kembali bertanya, mencoba menutupi rasa keterkejutannya.

__ADS_1


“Mishel tadi bercerita dia pernah melihat Eter berlatih sendirian di gedung pelatihan sekolah kami. Dia melihat Eter sedang melayang di udara dan mengeluarkan beberapa kilatan petir di sekeliling tubuhnya. Menurut pendengaranku terkait Raja Para Badut dari ayah dan ibu, dia pernah muncul dengan ratusan petir di sekeliling tubuhnya. Dia juga bisa melayang tinggi di udara.”


“Mungkin Mishel salah lihat dengan hal itu. Aku juga belum pernah mendengar terkait kemampuan Raja Para Badut seperti yang kau ceritakan. Jadi, itu tidak bisa membuktikan Eter adalah Raja Para Badut seperti yang kau duga.” Elon mencoba menutupi rahasia yang hampir bocor dengan sedikit bualan.


“Benar juga.” Weis hanya mengangguk takzim.


Bersamaan dengan itu, Elon melihat jam di dinding. Lantas dia membuka layar hologram di tangannya. Ada sebuah senyuman yang menghiasi wajahnya.


“Weis, mungkin sudah saatnya kau pulang. Bawahanku akan mengantarmu menggunakan pesawat jet pribadi. Mungkin akan memakan waktu sekitar satu jam perjalanan.”


Weis sedikit kaget saat mendengarnya. Dahinya terlipat tidak percaya. “Berarti aku tidak bisa mengucapakan kata perpisahan kepada Mishel?”


“Untuk itu maaf, tapi kau bisa bertemu dengannya di akademi kelak.”


“Baiklah.” Weis beridiri, dia berjalan membuka pintu ruangan. Di depan pintu Elan bersama satu orang lagi sedang berdiri menunggu.


“Weis, silahkan ikut dengannya. Dia akan mengawalmu kembali ke Zurik.” Elan mempersilahkan.


“Sepertinya generasi ini akan diisi oleh para monster.” Elon berkata, menatap Weis yang semakin jauh berjalan.


“Tidak usah terlalu dipikirkan kak.” Elan balik kanan, meninggalkan Elon sendirian di depan pintu.


“Jika kau pernah bertemu dengan monster kecil itu pasti kau akan setuju denganku Elan.”


***


Weis berjalan di trotoar kota. Langkahnya pelan untuk menikmati mentari pagi yang baru saja bersinar. Jalanan mulai ramai membuat matanya sibuk mengamati putaran roda kendaraan yang berlalu-lalang tiada henti.


Anak Keluarga Kestra itu sedang berjalan ke panti asuhan Merpati, tempat Eter tinggal. Sudah satu minggu sejak kejadian di hutan Bakiuk. Dan sudah satu mingu pula Mishel keluar dari panti asuhan, untuk mendapatkan perlindungan dari pihak OAN.


Tentu saja pihak panti asuhan sudah di beri tahu mengenai kemampuan aldefos Mishel. Tapi informasi itu hanya berputar di lingkungan panti, tidak sampai keluar ke masyarakat luas. OAN sangat menjaga kerahasiaan terkait Mishel, mereka tidak mau kehilangan bibit paling istimewa di Republik Metis.


Berbeda denga Mishel yang sudah mendapatkan perlindungan dari OAN dan juga sudah pasti akan masuk ke Akademi Milword. Eter masih terus berkutit dengan soal-soal latihan masuk Akademi Bronstend. Sampai saat ini dia bahkan belum berlatih aldefos untuk ujian prakteknya.

__ADS_1


Tentu saja semua itu hanyalah samaran belaka agar bisa serupa dengan anak-anak lain. Dia sebenarnya lebih dari mampu masuk ke dalam Akademi Bronstend atau bahkan ke Akademi Milword lewat jalur beasiswa.


Kecurigaan Weis terkait hubungan Eter dengan Raja Para Badut juga sudah menghilang. Dia sekarang malah hendak menemui Eter membahas permintaanya sebelum kejadian Hutan Bakiuk.


Sekarang Weis sudah memasuki gerbang besi, masuk ke dalam bangunan panti berbentuk U. Tanpa mengindahkan penghuni panti lain, dia berjalan santai menaiki tangga menuju kamar Eter yang masih terkunci rapat.


“Hahhh,” Weis menghembuskan nafas panjang. “Sejak kapan aku menjadi alarm berjalan seperti ini.”


“Oi... Oi... Oi...”


Weis menendang-nendang pintu kamar Eter, menambah gaduh panti asuhan yang sudah berisik. Suara tendangan Weis bahkan terdengar sampai ke lantai bawah. Walaupun begitu tidak ada yang bereaksi, mereka semua sudah sibuk denga urusan mereka sendiri.


Beberapa saat kemudian, wajah kusut putih seorang remaja tanggung keluar dari pintu. Matanya masih malas untuk terbuka. “Siapa sih? Pagi-pagi sudah ngajak ribut.”


“Selamat pagi putra tidur, alarm pribadimu ini sudah membangunkanmu yah.” Weis diam begitupun dengan Eter yang tersenyum canggung. “Sudah cepat atau kau pergi sendirian saja ke sana.”


Tanpa disuruh dua kali, Eter segera berlari turun menuju kamar mandi. Kecepatannya meningkat dua kali lipat dari biasanya. Selepas itu, tanpa sarapan dia sudah berlari bersama dengan ransel biru tua yang selalu dia kenakan ke luar bangunan panti menemui Weis yang sudah menunggunya.


“Ayo, kita sudah terlambat.” Eter berjalan di depan Weis, menuju gerbang panti.


“Sepertinya aku salah pilih teman.” Weis tidak mengecilkan suaranya, membuat Eter hanya bisa tersenyum kecut.


Mereka berdua berjalan keluar gerbang, menyusuri trotoar kota. Tujuan mereka kali ini adalah perpustakaan Keluarga Kresta. Mereka lebih memilih berjalan karena ada beberapa hal rahasia yang harus dibicarakan.


Saat torotar yang mereka lalui sepi, Eter memecah keheningan. “Jadi bagaimana? Apa kita akan mencuri atau berdiskusi dengan pihak perpustakaan?”


_____________


Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Oh ya untuk revisi 20 chapter pertama novel Negeri Para Pahlawan baru saja author selesaikan. Jadi, bagi para pembaca sekalian bisa membaca ulang 20 chapter itu. Ada beberapa bagian yang berubah dan ada yang tetap. Terima kasih karena mau menunggu.


____________

__ADS_1


__ADS_2