Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 24 - Rahasia Mishel


__ADS_3

Tok... Tok... Tok


Suara ketukan pintu membangunkan Eter dari tidurnya. Matanya sedikit terbuka memandangi jam di dinding kamar. Wajah lesunya mengerut saat melihat jarum jam yang masih di angka 12.


“aku kira tidurku lumayan lama, kenapa baru jam 12 malam?” Eter bergumam.


DOK... DOK... DOK


“ETER, aku tahu kau ada di dalam” Seseorang menggedor pintu Eter sampai bergetar keras.


Eter menyipitkan mata, tubuhnya masih malas untuk bergerak. Pada akhirnya dia memaksa kakinya untuk melangkah membuka pintu yang terus di gedor.


“Siapa sih, malam-malam begini ngajak ribut?” Eter membuka pintu dan menemukan seseorang yang ditemuinya tadi siang.


“sudah jangan kelamaan, ayo ikut aku cepat”


“eh, eh. Memangnya ada apa ini Weis?” Tangan Eter ditarik Weis ke sebuah ruang makan bagi anak panti.


Disana dia melihat Mishel sedang duduk sendirian termenung. Wajahnya menunjukan rasa kantuk. Dia melihat ke arah Eter yang berjalan di belakang Weis. Sorot matanya seakan tidak bersahabat.


“Eh, kenapa ada Mishel di sini Weis?”


“Jangan tanya aku, tanya kepada dirimu sendiri!” Weis duduk di samping Mishel sementara Eter di depan mereka berdua.


Eter diam, memikirkan apa ada yang dia lupakan. Beberapa detik kemudian matanya melebar. Keringat dingin menetes di dahinya. Dia melihat Mishel yang menatapnya dengan tatapan penuh kekesalan.


“ma... maaf, aku ketiduran tadi, hehehe” Eter menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“tak apa Eter, aku sudah menduganya”, Mishel tersenyum simpul.


Eter hanya tertawa kaku. Matanya tidak berani bertatapan dengan Mishel. Dia memberikan sebuah kode ke Weis untuk mengalihkan pembicaraan. Keringat dingin masih mengucur di plipisnya.


“hahhh” Weis menghela nafas. “Apa yang terjadi padamu? Aku baru kali ini melihatmu seriang ini, kau sedari turun dari kereta seperti orang gila.”


“iya aku juga baru kali ini melihatmu sering tertawa seperti ini. Sebelum-sebelumnya kau lebih sering diam dan malamun. Tapi saat kamu pulang dari peringatan itu wajahmu menunjukan rasa bahagia. Memangnya apa yang kamu temui di sana?” Mishel menyanggah kepalanya menggunakan tangan ke meja seraya bertanya kepada Eter.


“hehehe, ternyata kalian menyadarinya yah. Itu tidak terlalu penting sih, yang terpenting sekarang kenapa Weis ada di sini?” Eter menyadari kalo Weis tidak mungkin berada di panti malam-malam begini jika tidak ada sesuatu yang penting.

__ADS_1


Weis menangkap maksud Eter, dia menghela nafas pelan. “Ini berkaitan dengan permintaanmu tadi


siang”.


Eter mengerutkan dahi. Dia masih tidak percaya Weis bisa bertindak lebih cepat dari perkiraannya.


“Kau sudah mencarinya?” Eter langsung bertanya mengabaikan Mishel yang kebingungan mengikuti percakapan keduanya.


“Aku sudah mencoba mencarinya. Tapi, aku tidak mendapatkan satupun buku yang mengajarkan panduan berlatih aldefos. Dan setelah aku menanyakannya ke pamanku yang merupakan penjaga perpustakaan Kestra buku-buku itu sudah di pindahkan ke ruangan lain yang hanya bisa di masuki para pemimpin keluarga”.


“tunggu, apa yang kalian rencanakan? Kenapa kalian membahas soal buku-buku untuk berlatih aldefos? Apa kalian ingin melanggar peraturan?” Mishel yang semakin kebingungan akhirnya buka suara.


Eter tertawa saat mendengar pertanyaan Mishel, Weis juga tersenyum kaku. Mereka lupa kalau Mishel belum paham akan permasalahan yang mereka hadapi. Pada akhirnya Eter menjelaskan apa yang dia minta ke Weis.


“jadi kamu berniat masuk ke akademi Bronstend. Kamu yakin Eter?” Mishel akhirnya berhasil mengikuti arah pembicaraan.


“Aku yakin di tes tertulisnya. Tapi aku tidak yakin dengan ujian praktek. Aku belum pernah berlatih aldefos selain di sekolah” Eter sedikit menambah sebuah kebohongan diperkataannya.


Mishel termenung, Weis juga menatap tajam Mishel menunggu tanggapannya.


“kenapa tidak meminta pelatih di sekolah untuk melatihmu?” Mishel memberikan sebuah ide yang Eter sudah pikirkan sebelumnya.


“Oleh sebab itu” Weis masuk ke pembicaraan. “Eter memintaku untuk mengambil beberapa buku panduan berlatih aldefos di perpustakaan keluarga Kestra”.


“Bukankah itu melanggar peraturan Weis?”


“tidak juga asal tidak ada yang tahu” Weis menjawab singkat.


Eter menambahkan. “hal ini juga yang ingin aku bicarakan denganmu Mishel”.


Mishel menyipitkan mata, dia masih belum paham apa yang dikatakan Eter. Walaupun mereka berdua sudah berada di panti selama 7 tahun Mishel masih belum bisa memahami pikiran Eter. Selain karena Eter jarang bercakap dengannya, Eter juga jarang berada di panti. Dia seolah menghilang dari panti apabila ada waktu kosong.


“apa maksudmu?” Mishel memastikan.


“Begini, aku ingin bertanya kepadamu apakah kamu juga ingin masuk ke Akademi Bronstend?”


“bukankah aku sudah pernah bercerita kepadamu kalo panti asuhan ini tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan anak-anak panti ke akademi kemiliteran. Berbeda denganmu yang memiliki sumbangan pendidikan dari keluarga Naruru” Sikap Mishel berubah saat membahas pasal biaya pendidikan.

__ADS_1


Biaya untuk bersekolah di Akademi kemiliteran memang tidak sedikit. Dalam satu tahun pendidikan biasanya akan memakan dana sebanyak biaya hidup keluarga dengan 4 anggota keluarga selama 2 tahun.


Walaupun memang ada beasiswa bagi seorang anak yang memiliki bakat aldefos unik. Tapi itu hanya bisa di dapatkan apabila anak itu benar-benar berbakat dengan surat rekomendasi dari wali kota atau dari pemimpin daerah tempatnya tinggal.


Karena setiap data perkembangan kemampuan aldefos akan tercatat di situs aldefos kota maka walikota berhak memberikan surat rekomendasi bagi anak-anak yang menurutnya berbakat. Tapi hal ini juga bisa berakibat kepada kredibilitas dari walikota juga bisa turun apabila merekomendasikan seseorang yang bakatnya tidak unik.


“hahh” Weis kembali menghela nafas panjang. “kenapa kau membawa bawa dia sih?”


“tenang Weis ada yang harus kau ketahui” Eter meyakinkan Weis.


“Mishel” Eter melanjutkan. “kamu mengatakan kepadaku bahwa kemampuan aldefosmu adalah air, benar begitu?”


“ya itu benar”


“Itu juga yang menyebabkanmu bisa selamat dari kebakaran yang membumi hanguskan seluruh tempat tinggalmu. Tapi aku yakin ada sebuah rahasia yang tidak pernah kamu bocorkan ke kami semua” Eter menatap Mishel, senyuman sinis terpampang di wajahnya.


Weis ikut menatap tajam Mishel di sampingnya membuat Mishel terdiam kikuk. Keringat dingin mengalir di plipisnya. Kakinya tidak berhenti bergerak, rasa gugup sudah menyerebak di benaknya.


“Ya, aku memang memiliki rahasia. Bukankah itu wajar kalau aku memiliki rahasia, Eter kau juga memiliki rahasia kan. Bahkan kemampuan aldefos milikmu juga kamu rahasiakan. Memangnya salah aku memiliki rahasia?” Mishel memberanikan diri untuk buka suara.


Eter tertawa, tubuhnya bergetar hebat. Dia tidak mengecilkan suara tertawanya sediktipun.


“sayangnya kamu sudah tidak bisa menutup semua rahasiamu di hadapanku. Mishel, apa nama belakangmu?” Eter bertanya.


“Nama belakangku Miothal. Memangnya kenapa dengan nama belakangku?”


“hehehe. Kau masih menyembunyikan rahasiamu. Apakah para penyelidik tidak curiga denganmu yang merupakan satu-satunya korban selamat dalam kebakaran yang menimpa semua keluargamu.


“walaupun keluargamu adalah keluarga politikus yang memiliki kemampuan aldefos air. Kenapa hanya kamu yang berhasil selamat?” senyum di wajah Eter masih belum hilang membuat Weis dan Mishel bergidik ngeri.


“Y- ya itu karena aku di lindungi oleh ayahku. Dia menolongku dengan menyelimutiku dengan menggunakan aldefos air” Mishel menjawabnya dengan terbata bata.


“hehehe, aku pernah menonton berita tentang itu di internet. Menurut laporan polisi, mereka menemukan korban selamat di dalam sebuah bola besi yang dilapisi air. Dan orang itu kamu kan Mishel Miothal”.


Eter melanjutkan. “Bola besi hanya bisa dibuat oleh seseorang yang memiliki kemampuan aldefos logam dan menguasai unsur besi”.


Mata Mishel melebar, tangannya tidak berhenti gemetar. Mulutnya tidak bisa menyangkal perkataan Eter.

__ADS_1


“Singkat cerita, tidak ada seorangpun di rumah itu yang memiliki aldefos besi. Jadi, aku punya kesimpulan kalau kamu selain memiliki kemampuan aldefos air juga memiliki aldefos besi. Atau dengan kata lain seorang pengguna dua elemen”.


__ADS_2