![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
Jumlah bintang di langit mulai berkurang. Cahaya rembulan juga sudah meredup. Tergantikan oleh pilar-pilar cahaya kuning yang muncul dari timur. Suara ombak lautan semakin jelas memberikan alunan musik pendamping pagi hari.
Hawa dingin menghilang digantikan kehangatan cahaya mentari. Rasa hangatnya menusuk kulit Eter yang masih tertidur meringkuk di atas bukit rumput. Matanya sedikit membuka, sebuah ketenangan masuk ke dalam dirinya.
“hahhh” Eter menghela nafas pelan. “akhirnya aku bisa tidur dengan tenang.”
Eter bangkit dari posisinya tidur. Terduduk memandangi matahari yang semakin berani memunculkan tubuhnya. Sebuah senyuman terukir di wajah Eter. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
“aku harus segera pulang” Eter bergumam.
Dia bangkit dari posisinya, berjalan menuruni bukit. Eter pergi ke sebuah stasiun kereta yang berada di luar area monumen. Yah, kota Libo saat ini hanya memiliki satu stasiun. Itupun hanya digunakan untuk para peziarah yang ingin mengunjungi kota Libo.
Eter memasuki kereta dengan rute menuju sebuah kota yang jauh dari kota Libo. Kereta itu melesat tajam menggunakan tenaga magnet di relnya, membelah udara kosong di depannya. Hanya ada beberapa orang di kereta yang duduk saling berjauhan.
Lengang, tidak ada suara berisik anak-anak yang berlarian. Semua penumpang terdiam dalam senyap, menyisakan pemandangan yang terus berganti wajah. Pegunungan berganti padang rumput, padang rumput berganti pedesaan, pedesaan berganti perkotaan.
Beberapa kali kereta itu akan berhenti di sebuah kota, menambah jumlah penumpaang yang masih belum penuh. Detik berganti menit, menit berganti jam. Sudah 7 jam Eter terduduk membisu di dalam kereta, memperhatikan penumpang yang semakin ramai keluar masuk kereta.
Sampai akhirnya kereta itu berhenti di sebuah kota besar. Kota dengan ratusan gedung pencakar langit berdiri gagah menjulang menembus awan. Jalanan kota yang dipenuhi lautan manusia, ratusan pertokoan yang buka menunjukan antrian panjang memberikan kesan kesibukan ke kota besar ini.
Inilah kota Zurik kota besar di daerah Sitzerland yang merupakan salah satu daerah paling kaya sumber daya alam di Metis. Jarak kota ini dengan kota Libo lebih dari 2.000 km ke arah timur laut.
Eter keluar dari gerbong kereta, berjalan menembus keramaian penumpang. Di setiap peron setasiun bisa terlihat ratusan penumpang yang mengantri menanti kereta yang akan membawa mereka pergi ke tempat kerja mereka.
Pemandangan yang biasa, pemandangan yang bisa mengakibatkan setres berkepanjangan bagi orang-orang kota. Namun, pemandangan ini adalah sebuah keindahan jika di lihat oleh orang-orang yang berasal dari pedesaan.
‘kenapa kalian memilih untuk menggunakan transportasi umum yang ramai seperti ini sih’ batin Eter. Dia agak kesal apabila melihat antrian panjang manusia yang ingin masuk ke dalam salah satu gerbong kereta.
Pada akhirnya Eter hanya bisa mengungkapkannya dalam hati. Dia tidak pantas mengomentari kelakuan orang lain yang memiliki prinsip tersendiri.
Kaki Eter akhirnya berhasil keluar dari stasiun sesak itu. Memasuki sebuah trotoar kota dengan lebar 3 meter. Rata-rata trotoar kota di negar Metis memang di tetapkan sebesar 3 meter tujuannya untuk menunjang kebiasaan penduduk yang lebih suka berpergian dengan berjalan kaki.
Dia membuka layar hologram di jam tanganya. Melihat beberapa pesan yang masuk, membalas beberapa pesan yang menurutnya penting. Yah, hal itu hanya untuk mengisi waktu sembari menunggu seseorang.
“Oi!” sebuah suara sapaan yang sangat Eter tunggu akhirnya terdengar.
“Oi! Seperti biasa kau tepat waktu sekali hahaha” Eter terkekeh pelan.
__ADS_1
Seorang remaja sepantaran Eter berjalan mendekatinya. Kulitnya kuning langsat dengan tubuh tegap 170 cm. Dia mengenakan pakaian kasual dengan jaket biru dan celana jeans hitam. Rambutnya berwarna biru selaras dengan pakaian dan matanya yang berwarna hitam.
“iya, aku malas menemuimmu” suaranya yang berat memberikan kesan berwibawa.
“hehehe, jika kau malas kau boleh kok tidak menemuiku. Weis”
“sayangnya setiap kau berpergian pasti ada sebuah hal menarik.” Weis berkata pelan, pembawaannya yang tenang membuat siapapun akan kikuk berkomunikasi dengannya.
Eter hanya tersenyum simpul, dia menghindari tatapan dari Weis yang semakin tajam menatapnya. Weis merupakan salah satu anak dari keluarga konglomerat yang cukup dekat dengan keluarga tuan Naruru.
Itulah mengapa Noah mengenal Weis. Keluarga Weis juga yang telah memberikan tempat untuk Eter tinggal setelah menjadi yatim piatu 7 tahun yang lalu. Mereka mempunyai sebuah organisasi yang mengurus panti asuhan di seluruh Metis.
“Jadi” Weis melanjutkan. “ada hal menarik apa lagi yang ingin kau bicarakan?”
“Oh itu, kita bicara sambil jalan saja”
Mereka berdua berjalan meninggalkan trotoar dekat setasiun yang semakin ramai. Langkah kedua anak itu lebih cepat dari pada orang normal.
“Weis, apa kau ingin masuk ke akademi militer?” Eter bertanya.
“ya aku akan masuk ke akademi Milword tahun depan. Bulan depan adalah pembukaannya. Apa kau ingin ikut juga?” Weis berkata cepat tanpa ada jeda sedikitpun.
“Oh jadi kau ingin masuk ke akademi Bronstend”
“apa? Bagaiman kau tau tentang itu?” Eter semakin tidak habis pikir dengan temanya ini.
“tidak usah dijelaskan itu bukan hal penting. Simpan rasa ingin tahumu nanti. Jadi apa yang kau inginkan?”
“emm, walaupun aku bisa mengakses beberapa soal-soal terkait ujian tulis akademi Bronstend di internet. Tapi-”
“kau tidak memiliki akses untuk mempelajari dan berlatih aldefos agar bisa diterima di akademi Bronstend kan” Weis memotong kata-kata Eter.
Pelatihan aldefos dari internet memang merupakan suatu hal yang melanggar hukum apalagi jika disebarluaskan dalam bentuk video. Semua orang hanya boleh berlatih aldefos dari para instruktur yang sudah memiliki sertifikat pelatih.
Hal inilah yang membuat kebanyakan murid di akademi kemiliteran berasal dari keluarga bengsawan atau konglomerat. Keluarga ini sering menyewa para instruktur handal untuk melatih anak mereka menggunakan aldefos.
“seperti yang aku harapkan dari seorang Weis Kestra. Kau selalu cepat paham apa yang aku bicarakan. Jadi, bagaimana?” Eter bertanya ke Weis.
__ADS_1
“aku hanya bisa membawakan beberapa buku panduan berlatih dari perpustakan keluarga Kestra. Bagaiman apa kau setuju?”
“hehehe, itu sudah lebih dari cukup kawan” Eter menyeringai mendengar hal tersebut.
Langkah mereka berdua terhenti di depan sebuah gerbang berpagar besi.
“oke, nanti akan aku kabari kalau berhasil. Aku pamit dulu” Weis berjalan menuju ke sebuah halte yang berada di dekat gerbang besi itu.
Gerbang besi yang merupakan sebuah pintu menuju ke sekumpulan bangunan besar adalah sebuah panti asuahan. Panti asuhan itu bernama panti asuhan Merpati. Tempat Eter untuk pulang sementara waktu.
Panti asuhan ini merupakan milik keluarga Kestra. Hal ini menjelaskan kenapa Eter bisa berteman baik dengan Weis yang meruapakan anak dari keluarga utama Kestra. Dulu saaat hanya dirinya yang berada di panti asuhan, Weis sering mangajaknya bermain bersama.
Eter berjalan masuk gerbang panti asuhan. Terlihat sebuah bangunan berlantai empat membentuk huruf U. Sekeliling bangunan itu dibangun berbagai taman bermain dan tempat untuk olahraga. Di tengah-tengah bangunan terdapat sebuah taman air mancur. Kantor dari para pengurus panti dibangun di sebelah
kiri bangunan.
“kak Eter” beberapa anak kecil berlarian menuju tempat Eter berdiri.
“Eter kau sudah pulang?” seorang anak perempuan sepantaran Eter juga berjalan ke arahnya.
Anak perempuan itu memiliki tinggi sekitar 160 cm dengan warna kulit putih bersih. Rambutnya hitam terikat rapi satu ikatan ke belakang. Warna matanya yang berwarna biru menambah kesan feminim di wajahnya.
“yah, walaupun agak lama Mishel” Eter menjawabnya.
Eter dan Mishel merupakan penghuni panti paling tua. Mereka masuk panti saat panti itu baru saja selesai di bangun. Yah bisa dibilang mereka sudah hampir seperti seorang pengurus panti. Hampir setiap hari mereka berdua mengurus adik-adik mereka di setiap lantai.
“Mishel, ada yang ingin aku bicarakan” Eter berkata pelan di samping Mishel.
“apa itu sesuatu yang penting?”
“tidak terlalu penting untukku tapi mungkin penting untukmu”
“kelo begitu sekarang saja” Mishel meminta.
“nanti malam saat semua sudah tidur, kita bertemu di tempat makan.”
“Baiklah” Mishel mengangguk takzim.
__ADS_1
Eter memasuki bangunan panti dan langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tanpa pikir wajah Eter sudah berada di atas bantal empuk. Kesadarannya perlahan menghilang digantikan oleh sebuah dunia penuh imajinasi.