Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 32 - Markas OAN 2


__ADS_3

“Jadi, apa yang akan kami lakukan?” Weis bertanya, meminta penjelasan.


“Menunggu pak eksekutif  kembali.”


“Lalu apa yang akan dilakukan pak eksekutif ke Eter?” Mishel ikut bertanya. Dia sangat mengkhawatirkan Eter.


“Untuk itu, aku juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan,” ekspresi Elan terlihat tidak baik.


Tepat setelah Elan berkata, dia membuka layar hologram di tangannya. Ekspresinya berubah, wajahnya kembali lebih cerah dari sebelumnya. Dia berdiri, berjalan ke arah pintu keluar.


“Aku akan kembali sebentar lagi. Aku harap kalian tidak keluar dari ruangan ini.” Elan menutup pintu dan mengkuncinya dari luar.


Weis menghembuskan nafas panjang. Dia mengusap wajahnya menggunakan tangan. Pikirannya sedang mengulang kejadian beberapa jam yang lalu, mencari hal-hal yang menurutnya janggal.


“Weis, menurutmu apakah Eter akan baik-baik saja?” Mishel mencoba memecah kesunyian.


“Aku tidak tahu. Aku malah sedikit kebingungan dengan sikap Eter tadi. Jika kamu memerhatikan ketika Pak Elon mengeluarkan aura menekan, ketika kita tidak berdaya dan jatuh berlutut. Aku melihat sekilas ke arah Eter dan menemukan dia-”


“Eter masih berdiri dan dia bisa menahan aura menekan itu. Aura yang bahkan membuat para prajurit di sekeliling kita juga ikut bereaksi.” Mishel memotong perkataan Weis.


“Jadi kamu juga melihatnya. Selain itu, Eter juga bertahan tanpa mengeluarkan aura sama sekali.”


Mishel melotot menatap mata Weis, mencari kepastian dari perkataannya. “Benarkah, bagaimana bisa?”


“Untuk bertahan dari aura sebesar itu tanpa mengeluarkan aura menekan yang mengimbanginya maka hanya bisa dilakukan jika orang itu terbiasa dengan aura yang memiliki kekuatan sama. Dengan kata lain Eter sudah terbiasa dengan aura yang kekuatannya sama seperti aura milik Pak Elon.”


Mulut Mishel terbuka. Dia segera menutup mulutnya menggunakan tangan kanan. Matanya masih terbuka lebar. Dia masih tidak percaya akan semua hal itu.


Setelah kembali tenang, Mishel kembali membuka mulutnya untuk bersuara. “Jika memang demikian, maka kejadian yang aku lihat memang benar adanya.”


“Apa maksudmu?” Kini Weis yang penasaran dengan perkataan Mishel.


“Ini kejadian satu tahun yang lalu. Saat itu di sekolahan kita bertiga berbeda kelas, aku di kelas B, kamu di kelas A, dan Eter di kelas C. Aku ingat disaat para siswa lain sudah pulang, aku kembali ke sekolah untuk mengambil barangku yang ketinggalan di dalam kelas.


“Saat itu kondisi sekolah sudah sangat sepi. Tidak ada siswa lain, tidak ada guru, tidak ada para pelatih, hanya para pekerja kebersihan dan penjaga sekolah yang masih bertahan di sekolah. Itupun mereka sedang duduk-duduk santai di gerbang depan.” Mishel masih menjelaskan, matanya menatap dinding ruangan.


“Melihat kondisi sekolah yang sepi, aku segera masuk ke kelasku yang ada di lantai 2 gedung utama. Ketika aku sudah menemukan barangku, dari jendela kelas aku bisa melihat gedung pelatihan aldefos. Gedung itu sesekali bergetar tanpa mengeluarkan suara, dari sana juga terlihat cahaya yang beberapa kali keluar dari sela-sela jendela gedung.


“Karena aku penasaran, akhirnya aku berjalan ke gedung pelatihan dan masuk ke dalamnya. Di dalam sana aku melihat sesosok manusia melayang di udara. Di sekitarnya beberapa kilatan petir bergerak cepat menyelubungi tubuhnya. Saat aku melihat bagian atas tubuhnya, aku menemukan wajah Eter sedang tersenyum menatap langit-langit ruangan.”


Weis melotot, tubuhnya bergetar. Walaupun cerita itu bukan sebuah cerita seram, juga bukan sebuah cerita yang menarik untuk didengarkan. Weis tetap bergidik ngeri membayangkan Eter sedang melayang di udara.

__ADS_1


“Apa warna petir yang kau lihat?” Weis masih sedikit tidak percaya dengan hal itu.


“Kalo tidak salah berwarna hitam dan putih, aku tidak terlalu memperhatikan saat itu.”


Tubuh Weis bergetar hebat, peluh menetes di plipisnya, matanya menggambarkan ketakutan.


“Kamu tidak bercanda kan?” Weis kembali memastikan.


“Aku tidak bercanda, aku yakin dia Eter.”


Weis memegangi dahinya. Pikirannya berantakan tidak beraturan. “Jika itu benar maka Eter adalah orang yang sangat berbahaya.”


“Apa maksudmu Weis?” Mishel memegangi krah baju Weis, suaranya meninggi sedikit tidak terima dengan pernyataan Weis.


“Dia bisa melayang di udara dan ada petir di sekeliling tubuhnya. Jika benar, maka dia adalah-”


Kata-kata Weis terhenti di tenggorokan ketika pintu masuk ruangan tiba-tiba terbuka. Seorang pria paruh baya memasuki ruangan bersama Elan. Pria itu berpenampilan mirip dengan Elan, menggunakan setelan jas hitam.


“Pak eksekutif.” Weis dan Mishel berdiri, membungkuk memberikan salam penghormatan.


“Jangan panggil aku eksekutif, panggil saja Pak Elon.” Elon memberikan isyarat tangan untuk kembali duduk. Dia duduk di hadapan Weis dan Mishel, sementara Elan berdiri di belakangnya.


“Maaf menunggu lama, aku tadi mengantar teman kalian kembali ke rumahnya.” Elon berkata bohong untuk menutupi pertemuan rahasianya.


“Syukurlah. Sekarang kita bisa melanjutkan masalah yang sesungguhnya.” Elon menatap tajam Mishel.


“Elan, tolong ambilkan sampel darah anak perempuan ini!!”


“Baik Pak.” Elan bertindak cepat, mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam saku jasnya. Dia menusukan suntikan itu ke kulit Mishel dan memasukan darah Mishel ke dalam suntikan.


Suntikan tersebut kemudian Elan masukan ke dalam wadah berbentuk kubus kecil. Beberapa saat kemudian wadah tersebut memunculkan sebuah layar hologram. Mata Elan terbuka lebar saat melihat layar hologram di depannya.


“Bagaimana hasilnya?” Elon bertanya penasaran.


“Genetik selnya memiliki kemampuan dominan pada aldefos logam dan aldefos air. Tidak hanya itu dia juga memiliki kemampuan bawaan lain yaitu aldefos api.”


Perkataan Elan membuat mata Weis melotot tidak berkedip. Begitupun dengan Elon, mulutnya sedikit terbuka.


Weis sudah mengetahui kalau Mishel akan dicek kemampuannya menggunakan alat itu. Alat berbentuk kubus itu memiliki cara kerja yang hampir mirip dengan mesin pemindai. Darah seseorang akan di pindai oleh mesin ini yang kemudian akan dibaca genetik sel darahnya lewat beberapa program rumit. Hal ini akan membuat kemampuan yang berada di dalam gen-nya akan terbaca.


“Aku tidak percaya dia memiliki tiga kemampuan aldefos.” Elon menyeringai.

__ADS_1


“Namamu Mishel kan.” Elon melanjutkan, “Kamu akan berada dalam pengawasan kami sampai kamu masuk ke dalam Akademi Milword.”


“Maaf pak, maksud bapak apa ya?” Mishel kebingungan dengan perkataan Elon.


“Kamu akan berada di gedung ini sampai tahun ajaran baru Akademi Kemiliteran. Setelahnya kamu bisa masuk ke akademi.”


“APA!!” Mishel berdiri. Dia sangat terkejut dengan hal itu, “Kenapa aku harus tetap disini?”


“Aku tidak mau melepasmu ke luar. Aku tidak mau kamu diambil oleh organisasi dunia bawah. Kamu adalah manusia paling spesial pada generasi ini.”


“Aku tidak mau berada di sini sendirian. Aku ingin kembali ke panti.” Mishel tetap bersikeras menolak.


“Tidak setelah kamu muncul seperti ini maka aku tidak akan melepasmu. Kamu adalah aset berharga negara ini.” Elon kembali meyakinkannya.


“Aku tidak mau.” Mishel tetap menolaknya, air matanya menetes menahan amarah.


“Mishel, yang dikatakan Pak Elon benar. Seperti yang kita bicarakan tadi malam, kamu adalah manusia paling istimewa. Sebab itulah kami ingin agar kamu bisa mendapatkan pelindungan dari OAN.” Weis ikut meyakinkan Mishel. Tangannya menepuk-nepuk punggung Mishel.


“Tapi, bagaimana dengan panti? Bagaimana dengan anak-anak panti?” Mishel masih terus mengeluarkan air dari matanya.


“Aku yang akan mengurusnya.” Weis menjawabnya.


Mishel tertunduk lesu, air di matanya sudah berkurang tapi dia tidak melanjutkan perkataannya. Sementara itu, Weis kini malah menatap Elon dengan tatapan tidak bersahabat.


“Apa kamu sudah menyadarinya Mishel. Kamu adalah manusia istimewa di Bumi ini. Kami pasti akan memberikan perlindungan kepadamu dengan semua aset kami.” Elan juga ikut meyakinkan Mishel.


Mishel tidak menanggapinya. Kepalanya masih menunduk lesu. Elon melihat Mishel lalu melihat ke arah Elan. “Elan, bawa dia ke ruangan yang sudah kau siapkan. Biarkan dia menenangkan diri.”


“Baik, pak.” Elan berdiri dan menuntun Mishel yang masih tidak mau bersuara.


Ruangan kembali sunyi tanpa suara. Mata Elon dan Weis bertemu, memberikan suatu tanda yang tidak dimengerti.


 


_____________


Maaf jika belakangan ini saya jarang update, ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Selain itu revisi 20 chapter awal juga masih saya lakukan. Harapannya sih akhir bulan Juni ini saya bisa mempublish 40 chapter. Jadi terus pantengin nih novel ya...


Terima kasih juga karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih

__ADS_1


____________


__ADS_2