![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
Kepala stasiun yang menguasai aldefos obat atau yang sering disebut aldefos pemulih mulai mengobati Noah untuk memulihkan tenaganya. Sementara itu belum ada yang berani keluar dari stasiun. Ada sebuah kekhawatiran dibenak beberapa orang.
Sementara itu, Eter sedang memakan beberapa coklat yang didapatkannya dari kepala stasiun. Sekedar untuk mengganjal rasa lapar yang mulai menyerang perutnya. Dia sadar kemungkinan besar dentuman yang terjadi beberapa jam lalu baru awal. Walaupun begitu mereka harus tetap keluar dari stasiun apabila tidak ingin mati tertimbun reruntuhan.
Setelah beberapa menit di pulihkan oleh kepala stasiun kondisi Noah berangsur-angsur membaik, tenaganya sudah pulih seperti sedia kala. Sekarang dirinya siap untuk berlari lebih lama apabila diperlukan. Begitupun dengan ibu Eter yang sudah mendapatkan tenaganya kembali setelah beristirahat beberapa saat.
“Jika semua sudah siap untuk keluar stasiun, ayo kita keluar sekarang!!!” Kepala stasiun berjalan paling depan diikuti oleh rombongan Eter dan para petugas stasiun. Beberapa orang berpikir bahwa kejadian ini sudah berakhir dan mereka bisa melanjutkan kehidupan mereka seperti sedia kala. Namun kehidupan tidak semudah yang dipikirkan.
Wajah semua orang berubah saat sudah berada di permukaan tanah. Semua ekspresi yang semula memancarkan optimisme sekarang berubah menjadi wajah penuh ketakutan. Beberapa orang berteriak histeris di belakang Eter dan beberapa orang tak sadarkan diri saat melihat kondisi kota sekarang.
“Apa-apaan ini.” Salah satu petugas berceloteh, keterkejutan tergambar di wajahnya.
Kondisi kota saat ini bagaikan kota mati hanya teredengar suara ledakan di segala penjuru. Kepulan asap hitam membumbung tinggi dari segala arah dengan api yang masih membakar sebagian bangunan kota. Gedung-gedung pencakar langit kini hanya tinggal sebuah besi tanpa lantai semua nya hancur.
Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan kota. Beberapa mayat bergelantungan di besi-besi bekas bangunan. Beberapa mayat hanya tersisa setengah dari bagian tubuhnya. Kota telah hancur, tidak ada lagi kedamaian yang beberapa saat lalu bisa memanjakan mata.
Eter dan Noah yang melihat dan mencium bau amis mayat-mayat itu langsung memuntahkan isi perutnya. Mereka tidak habis mikir akan mengalami hal seperti ini lagi setelah melihat kondisi mayat-mayat di lorong kereta. Kepala stasiun juga masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Semua orang kembali dalam kebingungan dan ketakutan setelah lepas dari ketakutan tertimbun reruntuhan.
Semuanya berubah setelah salah satu petugas yang berada di belakang Eter terjatuh dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Jatuhnya petugas itu diiringi dengan suara tembakan yang mengelegar, memenuhi ruang udara kosong di tengah reruntuhan kota.
“LARI... LARI... SERANGAN!!!” Kepala Stasiun berteriak, membuat kepanikan di rombongan yang dipimpinnya.
Namun semua sudah terlambat, moncong senapan laras panjang dari sebuah pasukan sudah mengeluarkan isinya. Mencari manusia yang akan mereka ambil nyawanya. Sebuah pasukan berseragam hitam datang bergelombang bak malaikat pencabut nyawa, bersamaan dengan deru senjata yang membuat siapapun lari tak beraturan.
“Eter kita harus lari sekarang!!” Noah menarik tangan Eter yang mematung mendengar suara tembakan dari pasukan berseragam hitam.
__ADS_1
Rombongan Eter akhirnya berlari menjauhi pasukan berseragam hitam yang masih menembaki rombongan dari stasiun. Mereka semua berhamburan tanpa arah tujuan yang jelas. Rombongan Eter akhirnya berlari ke salah satu minimarket yang belum hancur. Mereka yakin tidak mungkin bisa seterusnya berlari menghindari pasukan berseragam hitam.
Kondisi minimarket yang mereka masuki tidak kalah memilukan dengan kondisi kota. Beberapa mayat terbujur kaku di meja kasir dan di lantai. Minimarket itu terdiri dari 2 lantai dengan lantai satu merupakan lantai untuk minimarket dan lantai dua adalah kamar bagi para pelayan minimarket.
Ibu Eter berinisiatif untuk pergi ke lantai dua mengecek apakah lantai 2 memungkinkan mereka untuk bersembunyi dari kejaran pasukan berseragam hitam. Namun saat ibu Eter sedang menaiki tangga dua orang pasukan berseragam hitam masuk ke dalam minimarket yang gelap. Mereka langsung menembaki tangga saat melihat ibu Eter sedang berjalan menuju lantai 2. Alhasil ibu Eter terkena tembakan di pinggangnya dan membuatnya harus merangkak ke lantai 2.
“IBU!!!” Eter berteriak saat melihat ibunya terkena tembakan pasukan hitam-hitam. Namun teriakan itu berhenti ketika Noah menutup mulut Eter menggunakan tangannya.
Teriakan Eter membuat pasukan hitam-hitam yang semula ingin mengejar ibu Eter menghentikan langkahnya. Mereka berusaha menemukan sumber teriakan itu untuk kemudian menangkapnya. Saat penglihatan tidak bisa menangkap sumber suara, akhirnya mereka memutuskan untuk berkeliling ke semua jalur minimarket.
Noah dan Eter juga ikut bergerak di balik rak-rak makanan untuk menghindari kedua orang pasukan berseragam hitam. Noah yakin mereka hanya akan menemui kematian jika tertangkap oleh mereka.
Suasana sunyi menyerebak di ruangan minimarket yang gelap tanpa ada penerangan. Kesunyian itu menambah ketegangan bagi Eter dan Noah yang masih melakukan petak umpet kematian dengan para pasukan berseragam hitam. Kaki-kaki kecil mereka sudah kaku karena selalu menghindari pasukan hitam-hitam dengan posisi setengah jongkok.
“Eter aku punya rencana untuk menyingkirkan mereka.” Noah berbisik lirih kepada Eter.
“Ini kau pegang dulu.” Noah mengambil pisau dari rak minimarket sebelum menjelaskan detail rencananya kepada Eter.
Saat Eter mendengarkan rincian rencana Noah untuk menyingkirkan pasukan hitam-hitam dirinya malah tidak yakin dengan rencana itu.
“Noah apa kau yakin dengan rencana ini?” Eter kembali memastikan.
“Jika kau yakin bisa melakukannya maka rencana ini bisa dilakukan dengan mudah. Pondasi utama dari rencana ini adalah kerjasama tim.”
“Baik ayo kita lakukan rencanamu!!” Eter akhirnya menyetujui rencana dari Noah.
__ADS_1
Mereka berdua berpisah ke tempat yang sudah Noah tunjuk. Noah berada di jalur minimarket paling kiri sedangkan Eter berada di jalur minimarket bagian tengah. Mereka berdiri di tengah-tengah jalur dengan mengatur nafas agar bisa lebih tenang.
Kedua pasukan berseragam hitam masing-masing berada di bagian depan jalur dan di belakang jalur dan keduanya berada di bagian kanan ruangan. Pada saat kedua orang tersebut masih menghadap di sisi kanan jalur, Noah mengeluarkan aldefos apinya dari tangan kanan yang kemudian di lemparkan ke pojok kiri bagian belakang minimarket.
Kedua pasukan itu melihat cahaya api di pojok ruangan, membuat mereka bergegas menuju ke sumber cahaya. Saat salah satu orang yang berada di bagian depan jalur sudah melewati jalur tengah, Eter berlari dibelakangnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dalam waktu sekian detik Eter sudah berada tepat di belakangnya. Eter melompat ke punggung pasukan hitam-hitam itu dengan mengeluarkan pisau yang diberikan oleh Noah.
Eter menyilangkan kedua tangannya di leher orang itu yang kemudian“crassshhh.” Pisau itu membuat darah segar keluar dari leher orang berseragam hitam pertama.
Rekan orang berseragam hitam yang mendengar keributan dari arah lain berbalik arah menuju tempat rekannya. Hal ini membuka kesempatan Noah untuk menyerang, dia berlari di belakang orang berseragam kedua tanpa mengeluarkan suara. Sampai keduanya berada dalam jarak yang cukup dekat Noah melompat ke arah orang yang menggunakan seragam hitam kedua.
“MATI KAU!!!”
Noah berteriak, tubuhnya melayang di udara. Orang itu memalingkan wajahnya ke belakang, mencari sumber teriakan. Namun saat dia baru saja melihat anak kecil melompat, api di tangan Noah sudah berada di lehernya dan menimbulakan ledakan kecil yang menghancurkan lehernya.
Eter yang mendengar teriakan Noah bergegas lari ke arahnya dan menemukan temannya sedang terduduk di atas mayat pasukan hitam-hitam. Eter tersenyum kecil membayangkan apa yang sudah temannya lakukan ke mayat yang dia jadikan tempat duduk.
“Eter ayo kita cari ibumu, dia pasti sangat membutuhkan bantuan!!” Noah berdiri dan melangkah ke arah tangga yang tadi digunakan ibu Eter untuk berjalan menuju lantai 2.
Namun saat kedua anak itu berada di lantai kedua mereka menemukan sesuatu yang lebih memilukan.
_____________
Terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
Terima Kasih
__ADS_1
____________