![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
“Noah berapa lama lagi kita harus berlari?” Eter bertanya cemas, nafasnya putus-putus.
Eter dan Noah memang sedang mendaki bukit dekat area pertempuran setelah kabur dari pertempuran para pasukan Topeng Neraka dengan pasukan Penjaga Unicorn. Pada awalnya ada keraguan untuk meninggalkan area pertempuran karena mata Topenng Biru yang masih terus mengawasi. Namun, setelah kedua penjaga unicorn itu memojokan Topeng Biru akhirnya mereka bisa segera keluar dari area pertempuran.
Bukit yang mereka daki hanyalah bukit kecil, tingginya sama dengan bukit yang ditempati oleh Arsa. Kedua bukit itu tidak terlalu jauh, sehingga Eter bisa melihat bukit milik Arsa. Namun, setelah mengetahui kondisi bukit itu wajahnya berubah menjadi lesu.
Kondisi kedua bukit sama, tidak ada satupun pohon atau bahkan rumput yang masih berdiri. Semuanya menghitam menjadi arang. Ya, bukit itu sudah terbakar hebat. Tidak menyisakan apapun diatas sana.
Dari atas bukit, Eter juga bisa melihat kondisi semua sudut kota yang sama dengan kedua bukit. Hancur sudah semua mimpinya ketika melihat kondisi kota, hanya ada kepulan asap dimana-mana. Semua telah musnah, tidak ada harapan lagi untuk menyelamatkan ayah, kakek, ataupun teman-teman Eter. Namun kehidupan tetaplah kehidupan, selalu ada jalan ketika ada kesulitan.
Dari situ juga Eter dan Noah bisa melihat gelombang pasukan Topeng Neraka yang bergerak cepat menuju bukit. Puluhan pasukan Penjaga Unicorn juga masih berdiri memegang senjata. Walaupun keringat mengucur deras, walaupun tubuh sudah remuk, walaupun darah hanya tinggal setetes mereka akan selalu berada di garis depan menahan semua musuh sampai titik darah penghabisan.
“Kita sudah kalah,” Eter bergumam pelan sesampainya di puncak bukit.
“Jika kau berpikir demikian, kau memang sudah kalah,” Noah menimpali.
“Apa maksudmu?” Eter mengalihkan pandangannya ke Noah.
“Mata kita memang melihat sebuah kekalahan, hati kita sudah menghapus harapan akan kemenangan, pikiran kita sudah menyerah akan pertempuran. Tapi, kenapa kita ada di atas sini? Memandangi pertempuran yang semakin tidak berimbang, melihat belasan pahlawan yang tumbang menjemput kematian.
“Ketahuilah Eter, sebuah kemenangan tidak hanya bisa didapatkan dari seberapa banyak kita membunuh musuh, seberapa banyak senjata yang kita miliki, seberapa banyak sekutu yang kita hubungi. Tapi kemenangan juga bisa ditentukan oleh segumpalan daging di kepala kita ditambah dengan secuil kehendak Sang Pencipta.
“Teruslah berharap Eter, karena harapan akan membawamu ke berbagai ide-ide jenius. Ide-ide yang kelak akan menyelamatkan nyawamu bahkan menyelamatkan seluruh dunia.” Noah tersenyum berucap dengan intonasi khas dari para bangsawan.
“Kau benar Noah. Kita harus terus memiliki harapan walaupun harapan itu hanyalah sebuah bualan semata.” Eter meyakinkan dirinya.
“Dan harapan kita kali ini ada disini,” Noah menunjukan kotak hitam yang diberikan Nata kepadanya.
“Apa yang akan kita lakukan dengan benda itu?”
“Kau juga akan tahu sebentar lagi,” Noah menjawab takzim. Dia berjalan meninggalkan tepi puncak bukit. Eter mengikutinya.
Mereka sudah berada di tengah puncak bukit. Disaat yang sama Noah menggunakan kemampuan aldefos api, membakar kotak hitam yang dipegangnya. Ada yang aneh dengan kotak itu, walaupun sudah dibakar kotak hitam itu seperti tidak terpengaruh dengan api yang menjilat. Api aldefos Noah malah masuk ke dalam kotak hitam.
“Apa, bagaimana bisa?” Eter bertanya keheranan.
__ADS_1
Noah hanya tersenyum ke arah Eter. Dia meletakan kotak itu di atas tanah. Tidak ada yang terjadi setelahnya. Eter semakin menatap heran Noah yang masih terlihat tenang.
Ketika fokus Eter dan Noah masih tertuju ke kotak hitam, beberapa pasukan Topeng Neraka sudah beranjak mendaki menaiki bukit. Di depan semua pasukan topeng neraka ada seseorang yang bergerak secepat angin, tidak terlihat ekspresi wajahnya, tertutup oleh topeng berwarna biru.
Topeng Biru bergerak lincah di antara batang-batang pohon yang sudah berubah menjadi arang. Pedangnya masih memancarkan warna kehijauan tanda masih ingin melakukan pertarungan. Tubuhnya melesat diikuti angin yang berhembus di setiap gerakan kakinya.
“Akhirnya kutemukan kau bocah sialan.”
Fokus Eter dan Noah terpecah saat mendengar suara Topeng Biru. Mata mereka melotot tidak menyangka akan kedatangannya. Tangan mereka segera memegang senjata masing-masing, bersiaga dengan nafas yang masih patah-patah.
“Sial, kenapa harus secepat ini,” Noah mendengus kesal. “Eter jika dia menyerang, tahan dia dulu.” Noah memberikan Eter perintah yang langsung disetujui.
Di seberang sana Topeng Biru sudah menguatkan kuda-kuda. Pedanganya semakin terang memancarkan cahaya kehijauan. Tanpa menunggu lama dia sudah melesat ke arah Eter dan Noah.
Hanya dalam satu tarikan nafas tubuh Topeng Biru sudah berada di depan Eter. Pedanganya bergerak menyamping melakukan tebasan kuat. Namun, tebasan itu berhasil di tahan Eter menggunakan belati miliknya walaupun tubuhnya harus terhempas ke belakang dua meter.
“Sial,” Eter mengeluh, menatap belatinya yang hancur terkena pedang topeng biru.
“Luar biasa, aku tidak menduga senjata kuno seperti itu bisa menahan pedangku.” Topeng Biru terkekeh.
Tebasan itu lebih cepat dari tangan Eter. Dia sudah tau tidak bisa menahannya, sehingga Eter memilih menggerakan tubuhnya ke samping kiri menghindari tebasan. Namun bilah angin tidak bisa dihindari oleh Eter. Pedang itu menebas udara kosong dengan bilah-bilah angin yang menghantam tubuh Eter membuatnya terpental ke arah Noah.
Tubuh Eter tercabik-cabik, darah segar keluar dari mulutnya. Baru kali ini Eter mendapat serangan seperti itu. Beberapa tulangnya patah setelah menghujam tanah. Noah yang berada di sampingnya berusah membangunkan Eter yang tergeletak lemah.
“Cih, aku harus cepat.” Noah tidak langsung menolong Eter. Dia terlebih dahulu menyalurkan lebih banyak api aldefos miliknya ke kotak hitam yang masih tergeletak di tanah.
“Kau akan mati disini bocah.” Topeng Biru berjalan ke arah Noah.
“Kita lihat saja,” Noah bergerak terlebih dahulu.
Gerakan Noah tidak secepat Eter namun berkat kemampuan aldefos apinya dia bisa menyerang Topeng Biru menggunakan bola api kecil. Walaupun bola api itu tidak berdampak apapun namun cukup untuk mengalihkan perhatian Topeng Biru.
Topeng Biru semakin risih dengan bola api yang terus Noah kirimkan. Membuatnya semakin kesal. Pedangnya bergerak cepat menebas udara kosong mengirimkan hempasan angin besar yang membuat Noah terlempar dan menghujam tanah dengan kerasnya.
“Tamat sudah,” Topeng Biru berkata sinis, bergerak cepat dengan pedang yang teracung.
__ADS_1
Sebelum pedang Topeng Biru menebas leher Noah gerakannya terhenti. Membuat Noah bertanya-tanya apa yang terjadi. Pertanyaannya langsung terjawab setelah suara berdesing terdengar di atas tubuh Eter.
“Kau sudah kalah,” Noah tersenyum sinis.
Topeng Biru tidak melanjutkan serangannya, namun dia mengalihkan tebasan pedangnya ke arah kotak hitam. Suara berdesing itu berasal dari kotak hitam yang terbang mengambang.
Tebasan yang di arahkan Topeng Biru tidak bisa menjangkau kotak hitam. Kotak itu semakin tinggi sebelum melesat cepat ke angkasa. Mata Topeng Biru menunjukan kemarahan setelah gagal menghalau kotak hitam.
“Sialan,” Topeng Biru mendengus kesal. Dia mengeluarkan sebuah pistol berwarna merah dari saku jubahnya.
Topeng Biru menembakan pistol itu vertikal ke atas. Membuat sebuah garis merah yang bisa dilihat dari jarak belasan kilometer. Tatapannya tajam mengarah ke Noah yang masih tersenyum sinis.
“Kau kira aku tidak akan membunuhmu hah?” Topeng Biru membalas senyum Noah dengan sebuah ancaman. Dia menggerakan pedanganya untuk mengirim bilah-bilah angin. Namun, sesuatu terjadi di atas langit.
BOOOOOMMM...
Suara ledakan yang memekakan telinga menggetarkan seluruh Republik Metis. Langit berubah warna menjadi merah darah. Terbentuk sebuah awan jamur berwarna merah di atas kota, membumbung tinggi menembus atmosfir, membuatnya bisa dilihat dari jarak ribuan kilometer.
Suasana semakin tegang setelah langit berubah, semua pasukan Topeng Neraka berlarian keluar area pertempuran. Begitu juga dengan Topeng Biru yang juga semakin menatap marah Noah. Hanya pasukan Penjaga Unicorn yang nampak lega saat melihat awan jamur itu, walaupun mereka juga sebenarnya tidak tahu pertanda apa itu.
Topeng Biru melotot, menatap Noah bengis. Dia mengirimkan ratusan bilah angin ke arah Noah.
Noah yang tidak menduga akan diserang, bergerak terlambat. Beruntung Eter yang sudah bisa berdiri berhasil menyelamatkan Noah dengan menabrakkan badannya.
“Noah berapa lama kita akan menunggu?” Eter bertanya dengan nada cemas.
“Lima menit Eter, lima menit.”
“Oke. Kita tahan topeng biru sialan ini selama lima menit.” Eter berdiri menyunggingkan senyum penuh siasat.
_____________
Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
Terima Kasih
__ADS_1
____________