Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 6 - Lorong Kereta


__ADS_3

Suara ketakutan penumpang menggema sepanjang lorong kereta bawah tanah ketika lampu kereta mati. Tidak sampai disitu, kecemasan semakin membesar saat orang-orang mulai mengaktifkan layar hologram di tangan mereka dan hasilnya nihil. Layar hologram tidak bisa dinyalakan bahkan senter darurat kereta yang seharusnya menyala saat ini tidak bisa dinyalakan.


Kecemasan juga dirasakan oleh Eter dan Noah yang masih dalam posisi duduk. Penglihatan mereka gelap tanpa ada cahaya satu pun. Sampai akhirnya salah satu orang di gerbong kereta menggunakan aldefos untuk membuat api. Saat api mulai menyala pandangan semua orang menuju ke arah api. Ternyata seseorang yang menggunakan aldefos api adalah pendamping Noah yang ada di samping ibu Eter.


“Noah apakah ini hal yang buruk?” Eter yang  masih berada di samping Noah bertanya.


“Seharusnya jika hanya lampu yang mati atau kereta yang tiba-tiba berhenti bukanlah hal buruk. Tapi...” Noah menjelaskan ini hal yang janggal karena tidak hanya lampu yang mati tetapi senter darurat pun mati bahkan layar hologram yang berada di tangan banyak orang juga tidak bisa dinyalakan.


Wajah Eter mulai berubah dalam gelap, dia tidak bertanya lagi kepada Noah tapi memperhatikan kondisi sekitar dan memutuskan hal apa yang seharusnya mereka lakukan. Terlihat  beberapa petugas kereta yang di tempatkan di


setiap gerbong mulai turun. Mereka menggunakan baju yang dapat bercahaya dalam gelap. Mereka turun untuk melihat kondisi gerbong lain dan juga berdiskusi dengan petugas lain apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.


Pendamping Noah mengajak ibu Eter, Eter, dan Noah untuk ikut turun mengikuti petugas kereta. Mereka turun dari kereta dan mengikuti petugas yang sudah berkumpul di depan gerbong kereta ke dua. Wajah dari para petugas tidak terlalu jelas tapi Eter yakin mereka dalam keadaan gelisah.


“Apa yang terjadi, kenapa semua barang elektronik mati?” Tanya salah satu petugas cemas.


“Aku tidak terlalu paham soal ini, apa mungkin ada pemadaman listrik?” Petugas lainnya berpendapat.


“Tidak mungkin ada pemadaman listrik kalau pun ada petugas pasti sudah mengetahuinya.” Petugas lain menimpali.


“Ini bukan pemadaman listrik, menurut dugaanku ini adalah gelombang EMP bersekala besar.” Pendamping Noah masuk ke dalam obrolan para petugas kereta dan semua petugas kereta menganggukan kepala tanda mereka setuju dengan pendapat pendamping Noah.


“Jika ini gelombang EMP apakah ada serangan?” Petugas kereta bertanya kepada pendamping Noah.


Pendamping Noah yang masih menggunakan aldefos api menyentuh dagunya. Dia tidak menanggapi pertanyaan petugas tapi malah memikirkan bagaimana keluar dari situasi seperti ini. Suasana hening itu terus berlanjut sampai seorang petugas kereta yang kelihatan paling sepuh membuka suara.


“Sudah jangan pikirkan hal itu, sekarang kita harus pikirkan bagaimana cara untuk keluar dari situasi seperti ini.” Ucap petugas sepuh itu.


“Bagaimana kalau kita menunggu selama 10 menit, jika dalam 10 menit listrik belum menyala kita harus berjalan ke stasiun yang paling dekat.” Usul salah satu petugas kereta lain.


“Hmmm... aku setuju tidak baik berada di lorong pengap ini terlalu lama.” Semua petugas akhirnya setuju dengan usulan itu. Pendamping Noah juga setuju dengannya.

__ADS_1


Setelah 10 menit beberapa petugas mulai berdiskusi kembali. Mereka semakin cemas karena listrik masih belum pulih. Bahkan perangkat elektronik lainnya juga masih belum bisa digunakan. Hal ini membuat semua petugas bertindak cepat untuk menurunkan penumpang dari gerbong kereta.


Saat petugas sibuk menurunkan para penumpang dari gerbong, Eter mendekati pendamping Noah dan menanyakan beberapa pertanyaan yang mengganjal pikirannya. “Emm.. jika ini dikarenakan oleh gelombang EMP, kenapa bisa selama ini efeknya?”


“Gelombang EMP memang seharusnya tidak terlalu lama efeknya tapi berbeda jika gelombang EMP ini terjadi berulang-ulang. Efeknya akan lebih lama.” Pendamping Noah langsung menjawabnya.


“Jika begitu, jenis apa gel-” pertanyaan Eter tertahan, matanya terbuka lebar. Sebuah dentuman baru saja terjadi. Jaraknya sekitar 1 km dari kereta tapi suaranya membuat semua orang di lorong berhenti bernafas untuk sementara.


Belum ada yang tahu asal usul dari suara dentuman, sampai suara dentuman kedua terdengar kembali dan jaraknya semakin dekat dengan kereta. Noah dan pendampingnya mulai merasa gelisah, mereka sebenarnya ingin terlebih dahulu pergi ke arah stasiun paling dekat. Tapi, mereka harus menunggu para petugas menurunkan penumpang karena sumber penerangan satu-satunya hanya berasal dari tangan pendamping Noah.


Selang beberapa menit dari dentuman pertama dentuman kedua terdengar dan kali ini dibarengi dengan kepulan asap dari lorong bagian belakang kereta. Dentuman itu memekakan telinga semua orang di lorong kereta membuat pendamping Noah semakin cemas.


“Kita harus pergi dari sini.” Pendamping Noah menarik tangan Noah dan Eter ke arah depan kereta di ikuti oleh ibu Eter di belakangnya.


Sesaat setelah mereka berempat berlari semua orang di belakang mereka juga ikut berlari mengikuti cahaya api dari pendamping Noah. Tapi..


DUAAARRR...


saja seluruh penumpang kereta berlarian ke arah depan mengikuti Eter dan rombongannya.


Eter kembali berlari kali ini lebih cepat, beberapa kali Eter melihat ke belakang banyak penumpang yang berjatuhan dan terinjak-injak oleh orang lain. Beberapa orang sudah mereggang nyawa bersamaan dengan suara dentuman yang membuat semua orang bergidik ngeri.


DUAARRRR...


Dentuman kembali terjadi, kali ini memporak porandakan seluruh gerbong kereta dan menutup rapat lorong. Puluhan penumpang tertimbun reruntuhan. Beberapa orang lainnya menolong penumpang yang tubuhnya terjepit, namun frekuensi dentuman ternyata semakin menjadi jadi.


DUAARRR... DUARRR... DUARRRR...


Dentuman yang terjadi selama 5 detik itu membunuh banyak orang. Bagian-bagian tubuh mereka terhempas dan menggelinding di tengah lorong. Tangisan dan teriakan mulai menggema membawa malapetaka yang lebih parah dari sebelumnya.


Telinga Eter sudah tidak kuat menahan belasan suara dentuman yang terjadi setelahnya. Walaupun letaknya jauh tapi mental anak itu sudah terkuras melihat tubuh manusia yang berpisah dengan pemiliknya. Ketika dentuman kesekian terjadi dibelakanganya, Eter jatuh terjerembab di atas rel kereta.

__ADS_1


“Eter... Eter... kamu masih bisa lari???” Ibu Eter berteriak cemas.


Noah bereaksi untuk menolong Eter saat melihatnya jatuh di atas rel. Tapi, langkahnya terhenti oleh sebuah tangan besar dari pendampingnya.


“Kita harus lari Noah, tidak ada waktu untuk menolong.” Pendamping Noah meneruskan berlari dan membawa tubuh Noah di punggungnya. Walaupun Noah meminta di turunkan tapi dia tidak menurunkannya.


Jarak antara Noah dan Eter semakin jauh, Eter berpikir ini adalah akhir dari hidupnya. Ibu Eter menggendong Eter dan berlari mengikuti pendamping Noah. Hingga dentuman-dentuman besar kembali terjadi di belakang ibu Eter membuatnya harus terhempas jatuh ke atas rel.


Harapan ibu Eter sudah hilang dia hanya bisa pasrah melihat begitu banyak mayat yang ikut terhempas bersama mereka. Sampai ada seseorang petugas yang berlari mendekati Eter dan ibunya. Dia menyetuh pundak ibu Eter dan kepala Eter sembari menyalurkan energi hijau kebiru-biruan ke bagian yang disentuhnya.


Seketika tubuh Eter kembali segar dan bisa berdiri tegap begitupun dengan ibu Eter. Mereka tidak menyangka akan di tolong disaat-saat seperti ini. Belum sempat ibu Eter berterima kasih tiba-tiba dentuman terjadi di atas kepala mereka. Reruntuhan mulai turun dari atap lorong menuju tempat Eter berpijak. Namun sebuah angin kencang menghempaskan tubuh Eter dan ibunya ke arah depan, menjauhi reruntuhan yang jatuh.


Saat Eter masih melayang di udara matanya sekelebat melihat sang petugas. Petugas itu tersenyum ke arah Eter disaat reruntuhan batu sudah berada di atas kepalanya. Eter melihat gerakan bibir petugas itu, seolah mengatakan ‘teruslah hidup dan tuntaskan misimu.’


Air mata Eter tidak bisa dibendung dia ingin menjerit namun tidak bisa. Dia harus terus berlari menyusul pendamping Noah yang sudah berada 100 meter di depannya. Eter penuh dengan emosi membuatnya tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Dia berlari bak seekor Harimau yang baru saja kehilangan anaknya.


Kini Eter dan ibunya sudah menyamai langkah pendamping Noah. Mereka merasa tenang untuk sementara. Namun, dentuman itu seolah ingin memangsa siapapun di dalam lorong kereta. Dentuman terjadi menghancurkan atap lorong tepat di atas kepala rombongan Eter.


Pendamping Noah bereaksi, dia melemparkan Noah ke arah depan. Dalam waktu kurang dari satu detik pendamping Noah mengibaskan kedua tangannya ke atas membentuk sebuah lapisan pelindung api untuk menahan reruntuhan.


“Kalian cepat lari, aku menitipkan Noah kepada kalian berdua.” Teriakan pendamping Noah langsung dipahami oleh ibu Eter.


Mereka bertiga melanjutkan lari, tapi baru beberapa langkah suara reruntuhan yang jatuh ke atas rel terdengar dari arah belakang mereka.


_____________


Terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih


____________

__ADS_1


__ADS_2