Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 16 - Api vs Es (4)


__ADS_3

BOOOOMM...


Suara ledakan menggema di area pertempuran, membuat siapapun bergidik ngeri mendengarnya. Debu berhamburan, menutup pandangan orang-orang yang penasaran. Tidak ada yang berani mendekat dari kedua belah pihak, seluruh wajah menunjukan ketegangan dan ketakutan yang bercampur.


“Ternyata kau masih bisa bertarung. Hahahaha.” Suara Topeng Merah terdengar dari dalam kepulan debu yang perlahan lahan semakin menipis.


“Apa yang dia katakan?” Eter bergumam heran.


Eter yang masih dalam posisi tiarap setelah jatuh tersungkur karena ledakan segera membalikan badannya. Matanya melebar saat melihat Noah masih tergeletak di belakanganya. Tidak ada yang menyangka Noah bisa selamat dari hantaman pedang Topeng Merah.


Setelah habis keterkejutannya kini dia terfokus ke arah kepulan debu di hadapannya. Terlihat beberapa cahaya biru dan merah yang bercampur dari balik debu. Setelah beberapa detik barulah terlihat dua siluet bayangan manusia yang saling berhadapan.


“Siapa dia?” keributan kembali terjadi dari pasukan Pengaman Unicorn dan Topeng Neraka setelah siluet itu semakin jelas.


“Akhirnya kau menggunakan kekuatanmu. Hahahaha.” Topeng Merah kembali tertawa keras dari balik kepulan debu.


“Kau seharusnya tahu aku Aefis rank C.” Siluet misterius itu akhirnya mengeluarkan suara yang membuat seluruh pasukan Topeng Neraka bersiaga.


Noah langsung membalikan tubuhnya setelah menyadari dirinya masih hidup. Dia masih belum percaya bisa selamat dari hantaman pedang Topeng Merah. Namun, entah kenapa sorot matanya berubah saat melihat salah satu siluet manusia di kepulan debu yang semakin jelas.


“Kakak...”


Siluet misterius itu menghantamkan pedang ke Topeng Merah, membuat Topeng Merah harus mundur beberapa meter. Dia lantas berjalan ke arah Noah, senyum penuh makna tersungging di wajah putihnya.


“Bagaimana kau bisa di sini Noah?” siluet misterius itu bertanya. Kali ini tubunya sudah bisa terlihat jelas. Dialah Nata Naruru seseorang yang sudah terbaring lemah beberapa saat yang lalu.


“Bagaimana kakak bisa bangkit kembali?”


Nata hanya menjawab dengan genggaman tangan yang mengeluarkan api. Api itu juga dilihat oleh para pasukan Penjaga Unicorn, raut wajah seluruh pasukan berubah. Beberapa orang saling berpandangan, tidak ada yang menyangka pemimpin mereka akan mengeluarkan kekuatan sejatinya disini.


“Kakak menggunakan kemampuan aldefos?” Noah juga menunjukan wajah yang keheranan karena baru kali ini dia melihat kakaknya mengeluarkan aldefos apinya.


“Hahaha. Aku sudah terpojok tadi jadi aku tidak mungkin diam saja saat melihat adikku akan meregang nyawa.”

__ADS_1


Ketika pasukan Penjaga Unicorn masih terfokus ke arah Nata, beberapa pasukan Topeng Neraka bergerak cepat menyerang mereka. Pertempuran kembali memanas, namun semangat para pasukan Penjaga Unicorn semakin meningkat setelah ketua mereka bangkit.


“Cukup sudah reuninya, sekarang ayo kita lanjutkan pertarungan kita!!” Topeng Merah mengertak dengan suara beratnya.


Nata tidak menanggapi perkataan topeng neraka, dia masih dalam posisi setengah jongkok di hadapan Noah. Tangannya masuk ke dalam salah satu kantong di baju, mengeluarkan sebuah kotak besi berwarna hitam.


“Noah, mungkin kita tidak bisa bertemu lagi,” Nata memberikan kotak itu ke Noah yang membuatnya semakin kebingungan. “Kau pasti tahu apa isi kotak ini.”


Noah mengangguk, paham akan maksud kakaknya. Dia pernah mendapatkan penjelasan dari ayahnya saat masih belajar dasar aldefos tentang kotak hitam itu.


“Kak, apakah ini akan berhasil?”


“Percayalah pada dirimu karena keberhasilan akan didapatkan dari sifat optimis yang kau miliki.”


Noah tidak menanggapi, dia berdiri, berjalan membelakangi Nata menuju tempat Eter terduduk. Begitupun dengan Nata, berjalan membelakangai Noah menuju Topeng Merah yang masih menunggunya dengan sabar.


“Hahahaha. Akhirnya selesai juga, ayo kita lanjutkan!!” Topeng Merah terkekeh pelan.


Tidak ada pergerakan dari kedua orang itu selama beberapa detik. Topeng Merah dan Nata sama-sama menunggu, mereka tidak ingin mengambil langkah gegabah disaat seperti ini.


Lelah menunggu, Noah akhirnya mengambil keputusan. Tangan kanannya bergerak kebelakang, membentuk dua tembok api yang mengarah ke reruntuhan kota.


“NOAH SEKARANG!!!” Nata berteriak sesaat setelah tembok apinya sempurna memecah pertempuran.


“UNICORN... Siapapun yang masih bisa bertarung,  jaga adikku jangan sampai dia terluka!!”  Nata kembali berteriak.


Noah dan Eter bergerak cepat diantara tembok api yang membumbung tinggi. Langkah mereka diikuti oleh beberapa pasukan Pengaman Unicorn. Akan tetapi kedua anak itu juga diikuti oleh beberapa anggota Topeng Neraka.


“Sialan kau...”


Tanpa ada aba-aba Topeng Merah melesat tajam ke arah Eter dan Noah. Namun gerakannya berhasil ditahan oleh pedang Nata yang sudah diselimuti api aldefos.


“Sekarang siapa yang pecundang?” ucap Nata pelan.

__ADS_1


Pertarungan kembali terjadi antara Nata melawan Topeng Merah. Kali ini menggunakan aldefos api dan es yang saling beradu kekuatan di atas reruntuhan. Beberapa teknik pedang juga saling berbenturan menciptakan pertarungan haus darah penuh ambisi kemenangan.


Pedang Nata yang sudah dilapisi dengan api mulai mengayun menebas udara menciptakan tebasan yang menyerang Topeng Merah dari jarak jauh. Sayang, disaat yang sama Topeng Merah  sudah siap dengan tembok es buatannya, membuat tebasan pedang Nata berhasil ditahan.


Nata yang melihat serangannya dengan gampang dihentikan mulai bergerak maju menyerang tanpa rasa gentar. Pedangnya tanpa henti mengeluarkan api yang terus menyerang Topeng Merah.


Beberapa kali pedang Nata berubah menjadi seperti cambuk api yang meliup liup di udara. Membuat topeng merah harus menggunakan ratusan pilar es untuk menahannya. Cambuk api yang dipadukan dengan teknik berpedang tingkat tinggi itu membuatnya menjadi serangan yang sangat mematikan.


“Lumayan juga,” Topeng Merah mendengus kesal saat beberapa serangan cambuk api mengenainya.


Luka bakar yang didapat dari serangan cambuk api memang tidak terlalu menyakitkan. Namun, karena cambuk itu bisa langsung berubah menjadi pedang yang membuatnya sangat berbahaya ketika mengenai musuhnya.


Topeng Merah yang tidak ingin mendapatkan kekalahan akhirnya menggunakan teknik bayangan. Bayangan miliknya mulai muncul dari balik pilar-pilar es dan langsung menyerang Nata. Sayangnya, Nata sudah menduga hal ini, dia mengubah pedangnya menjadi cambuk api dan memutar-mutarnya ke arah bayangan Topeng Merah.


Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik semua bayangan Topeng Merah musnah tak tersisa. Nata langsung bergerak cepat menyerang tubuh asli Topeng Merah. Kakinya lincah menghindari pilar-pilar es yang terus bermunculan dari permukaan tanah.


Keduanya semakin dekat membuat pedang mereka saling berbenturan. Jurus pedang yang digabung dengan kemampuan aldefos kembali saling beradu. Kekuatan fisikpun akhirnya sangat menentukan pertarungan ini.


Teknik pedang tingkat tinggi yang dimiliki oleh Nata membuatnya bisa menghantam tubuh Topeng Merah dengan mudahnya dan menyebabkan Topeng Merah terlempar beberapa meter. Serangan itu seharusnya meninggalkan luka serius  namun ada yang salah dengan ekspresi di balik topengnya.


“Hahahaha... jadi seperti ini kekuatan mu.” Suara tawa Topeng Merah menggelegar di udara membuat seluruh pertempuran berhenti seketika.


Topeng Merah melakukan beberapa gerakan bela diri sederhana. Dia menghasilkan sesuatu yang membuat Nata mundur beberapa meter, dia tidak menyangka topeng merah bisa menguasai suatu teknik yang sangat kuat.


“Kau, bagaimana bisa?”


_____________


Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih


____________

__ADS_1


__ADS_2