Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 31 - Markas OAN


__ADS_3

Tempat Elon duduk sudah tidak seperti daerah kematian sebelum pertarungan. Tempatnya sudah dipenuhi dengan pilar-pilar batu yang menembus tubuh para Karkadan. Darah segar berceceran, mengubah rerumputan menjadi kubangan darah.


Eter berjalan ke tempat Elon, matanya menatap penuh selidik. Daerah kematian sudah menjadi tempat kematian yang sebenarnya. Dua puluh empat tubuh Karkadan terbujur kaku tidak bernyawa. Melepaskan bau amis yang mengisi ruang udara kosong.


“Aku terlalu fokus dengan pertarunganku sampai-samapai tidak sempat melihat kekuatan eksekutif OAN.” Eter melirik mayat Karkadan yang menjadi tempat duduk Elon.


Elon hanya menyeringai, matanya menatap tajam Eter. “Aku malah lebih terkejut melihatmu tidak menggunakan kemampuan aldefos sedikitpun. Bahkan, aku baru kali ini melihat manusia menghancurkan cula Karkadan dengan sekali tendang.”


“Aku tidak mau membuka identitasku lebih jauh lagi.” Eter berkata dingin.


“Hahh,” Elon meghembuskan nafas pelan. “Ternyata Raja Para Badut sangat tertutup yah. Bahkan menurut kabar burung, rekan-raknnya tidak ada yang tahu identitas asli miliknya.” Elon tersenyum sinis.


Eter tidak menjawabnya. Tangannya ditekuk di depan dada, matanya melihat awan yang bergerak seirama dengan angin. Pepohonan pinus saling bergesekan menghasilkan lagu alam yang menenangkan. Beruntung, selepas pertarungan itu tidak ada lagi hal mencurigakan keluar dari dalam hutan.


“Jadi, apa yang akan kau lakukan dengan Weis dan Mishel?” Eter bertanya, matanya masih terus memperhatikan gerakan awan.


Elon memejamkan mata, sedikit berpikir. “Bakat sebesar itu tidak akan aku sia-siakan. Akan aku pastikan mereka masuk ke Akademi Milword.”


“Baguslah, aku bisa lebih tenang sekarang.”


Elon membuka matanya, memandangi Eter. Hal itu membuat sebuah rasa tidak nyaman di benak Eter. Membuatnya harus kembali menatap mata Elon yang semakin tajam memperhatikan.


“Aku punya penawaran untukmu, apa kau tertarik?”


“Apa itu?” Eter sedikit penasaran dengan penawaran Elon.


“Bergabunglah dengan OAN!” Elon meminta.


Eter tertawa mendengar penawaran Elon. “Pihak netral tetaplah menjadi pihak netral. Aku bukanlah orang beraliran netral. Kadang kala aku ingin menjadi protagonis kadang juga aku ingin menjadi antagonis. Aku tidak bisa berpihak ke OAN yang merupakan perpanjangan tangan dari pihak netral terbesar di dunia.”


Elon mengerutkan dahinya. “Sangat aneh jika anak berusia 14 tahun mengatakan hal tersebut.”


“Kadang aku juga tidak ingat kalau umurku baru 14 tahun.” Eter terkekeh pelan.

__ADS_1


Elon menggelengkan kepalanya. Dia bangkit dari duduk melangkah mendekati Eter. Tangannya mengacung meminta sebuah jabat tangan. Eter menyanggupi, tangannya sudah menjabat tangan Elon.


“Dengan ini aku berjanji akan menjaga semua rahasiamu. Aku juga akan selalu membuka pintu jika The Clown ingin bekerja sama dengan OAN selama mereka tidak mengganggu stabilitas politik Metis.” Elon membuka perkataannya.


“Aku memegang janjimu. Tapi aku tidak bisa berjanji apapun kepadamu, posisiku sebagai Raja Para Badut tidak akan aku cabut sampai semua tujuanku terselesaikan.” Eter menyeringai.


“Itu sudah cukup, jika kita bertemu lagi jangan lupa membawa oleh-oleh.”


Elon melepaskan tangannya, dia berjalan membelakangi Eter. Sesaat setelahnya angin besar muncul dari hutan, menggerakan rerumputan yang sudah saling bertumpuk. Sebuah helikopter mengangkasa, terbang 5 meter di atas permukaan tanah.


Sebuah tangga keluar dari helikopter itu, ditujukan ke Elon yang berada di bawahnya. Elon menaiki tangga, masuk ke helikopter. Dia mengangkat tangannya memberikan salam perpisahan ke Eter yang masih berdiri memperhatikan helikopter menjauh.


Ketika helikopter telah terbang jauh dari daerah kematian. Seorang perempuan dengan setelan jas hitam yang juga berada di dalam helikopter mendekati Elon.


“Apa yang sudah terjadi?” Perempuan itu bertanya, dia duduk di samping Elon.


“Aku baru saja bertemu dengan seseorang yang tidak tertarik dengan bakatnya sendiri. Kemampuannya berasal dari minat yang besar terhadap segala hal. Kelak di masa depan nanti dia akan menjadi seorang pilar dari kekuatan dunia.”


Perempuan itu hanya mengangguk takzim, menangkap maksud Elon. Dia kembali merapikan duduknya dan memandangi pucuk-pucuk pohon pinus yang semakin merendah. Sebuah buku ada di pangkuannya.


Eter meringis kesakitan, tubuhnya telak menghujam tanah. “Sial, ternyata kemampuan aldefosnya masih terus aktif walaupun sudah mati.” Dia memgangi dadanya yang masih terasa nyeri.


Tiba-tiba sebuah ide gila muncul di kepala Eter, membuatnya tersenyum penuh siasat. Dia berdiri, berjalan cepat masuk ke dalam Kalong. Eter langsung duduk di kursi pilot, tangannya lincah menekan tombol untuk menyalakan mesin pesawat itu.


Kalong terbang lima meter di atas para mayat Karkadan. Tiba-tiba sebuah jaring perak muncul, menyelimuti mayat Karkadan. Setelah sempurna semua tubuh Karkadan tertutup, Kalong kembali mengudara.


“Saatnya pulang.” Celetuk Eter di depan tombol kendali.


***


Weis melihat Eter bingung dari dalam helikopter yang mulai mengangkasa. Semua orang disana diam membisu, memberikan ruang untuk suara mesin helikopter yang semakin berisik. Kecuali satu wanita paruh baya dihadapan Weis. Wajahnya terlihat ramah sekaligus menekan bagi beberapa orang.


Wanita itu tidak menggunakan pakaian militer seperti yang lain, dia menggunakan setelan jas yang hampir sama seperti Elon. Secara kasat mata mungkin dia hanyalah wanita lemah. Namun, mata Weis menangkap hal lain.

__ADS_1


“Hai, apa kalian baik-baik saja?” Wanita itu berteriak, mencoba mengalahkan suara mesin helikopter.


Weis mendengarnya namun tidak berniat menjawab. Matanya beralih ke Mishel yang duduk di sampingnya. Mata Mishel menatap kosong, pikirannya tidak berada di tempat dia berada.


Weis hanya bisa menghela nafas pelan. Kini matanya terpejam, tubuhnya melemas membiarkannya tertidur. Entah kenapa, hari ini sudah terlalu lama berjalan. Tubuhnya sudah merasakan kelelahan.


Satu jam kemudian Weis kembali terbangun tepat saat helikopter akan mendarat. Tempat mereka mendarat berada tepat di tengah-tengah landasan pacu pesawat jet. Beberapa tukang parkir pesawat sudah memberikan aba-aba ke helikopter untuk turun.


Helikopter itu turun secara perlahan, mendarat mulus di atas aspal hitam landasan pacu. Kedua belas perajurit itu turun terlebih dahulu yang kemudian diikuti oleh Weis dan Mishel. Mata Weis melotot melihat pemandangan di hadapannya.


Mishel tersadar dari lamunannya, matanya terbuka lebar memandangi bangunan di hadapan mereka. Dia pernah membaca cerita tentang bangunan di depannya. Menurut beberap kisah bangunan ini adalah tempat penelitian para alien.


“Itu adalah markas kami, markas ke tiga Organisasi Aefis Nasional. Namanya gedung Barikubu.” Wanita paruh baya yang tadi bersama mereka di dalam helikopter menjawab rasa keheranan Mishel.


“Oh iya aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Elan, Elan Blar lengkapnya.” Elan tersenyum ke Weis dan Mishel. “Aku akan bertanggung jawab terhadap kelakuan kalian di markas kami.”


Weis tersentak kaget saat mengetahui nama lengkap Elan. Dia baru sadar kalo Elan adalah adik dari Elon Blar. Bagaimanapun wajah kedua orang itu sangat jauh berbeda. Di tengah kekagetannya Weis tepaksa mengikuti Elan menuju ke gedung Barikubu.


Gedung ini bisa dikatakan sebagai gedung terbesar ke dua di Metis. Bentuknya balok dengan panjang 500 meter, lebar 500 meter, dan tinggi 170 meter. Gedung tersebut dibangun tepat di pertemuan dua sungai besar. Jaraknya dari hutan Bakiuk lebih dari 300 km.


Elan menuntun Weis dan Mishel masuk ke dalam gedung. Mereka menuju sebuah ruangan di lantai kedua gedung yang merupakan ruang pertemuan para tamu pribadi. Saat mereka masuk sudah tidak ada pengawalan lagi dari para prajurit OAN.


Elan mempersilahkan kedua anak itu duduk di sofa yang sudah di sediakan. Tidak ada jendela di tempat itu, juga tidak ada satupun perabotan. Hanya ada tempat duduk dari sofa yang saling berhadapan.


Weis dan Mishel duduk bersebelahan, sementara Elan duduk dihadapan mereka. Dia terus tersenyum berniat memberikan suatu keramahan. Namun, senyuman itu bagaikan bentuk lain dari suatu kemarahan.


_____________


Maaf jika belakangan ini saya jarang update, ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Selain itu revisi 20 chapter awal juga masih saya lakukan. Harapannya sih akhir bulan Juni ini saya bisa mempublish 40 chapter. Jadi terus pantengin nih novel ya...


Terima kasih juga karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih

__ADS_1


____________


__ADS_2