Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 7 - Sebuah Rencana


__ADS_3

Sehari sebelum dentuman besar lorong kereta, di hutan dekat kota Libo berkumpul beberapa orang menggunakan pakaian serba hitam dengan topeng besi berwarna hitam. Orang-orang tersebut membawa sebuah senapan laras panjang.


Beberapa saat kemudia seorang pria keluar dari pedalaman hutan. Dia menggunakan jubah hitam panjang dengan rompi besi di dalam jubah. Tingginya hampir 2 meter dengan topeng besi berwarna merah yang menutup wajah. Seketika semua yang ada di situ berlutut, memberikan hormat kepada pria bertopeng merah yang baru saja datang.


“Apakah persiapan sudah selesai?” pria itu bertanya, menatap semua orang yang ada disana.


“Sudah 98% pak.”


“Apakah ada kendala dalam memasuki kota?” pria itu kembali bertanya, matanya menyelidik semua orang di hadapannya.


“Tidak pak, semua pasukan sudah berada di perbatasan kota. Hanya satelit yang belum berada tepat di koordinat kota.” Salah satu orang menjawabnya.


“Bagus, jadi kapan satelit akan ada di atas kota?” Pria bertopeng merah kembali bertanya.


“Tepat jam 9 malam satelit sudah bisa digunakan pak.” Pria yang masih menunduk dan menekuk lutunya itu menjawab dengan mantap.


“HAHAHAHA... Kerja bagus. Besok pagi siapkan seluruhnya di perbatasan kota, serangan akan dimulai dengan jeritan dan tangisan warga kota.” pria bertopeng merah itu tertawa terbahak-bahak.


“SIAP PAK!!!” Semua orang menjawab serentak.


Selepas mengecek persiapan dari para bawahan, pria bertopeng merah langsung pergi meninggalkan anggotanya menuju ke sebuah kota kecil di tepi lautan. Ada sebuah senyuman sinis di balik topengnya. Senyuman yang tidak ingin dilihat oleh siapapun.


***


Noah yang mendengar reruntuhan jatuh di belakangnya langsung memalingkan wajah ke arah belakang. Betapa terkejutnya dia saat melihat pendampingnya sudah hilang tertimbun reruntuhan atap lorong.


“TIDAKK...” Noah berhenti berlari dan berniat untuk menolong pendampingnya. Tapi hal itu dihentikan oleh ibu Eter.


“Jangan gegabah, cepat lari jangan sampai pengorbanan dia sia-sia.” Teriak ibu Eter sembari berlari dan memegangi tangan Noah.


Noah menjawabnya dengan anggukan pelan, dia sadar apa yang harus dilakukan saat ini, mengingat dentuman terus terjadi di depan dan belakang mereka. Mereka bertiga harus terus berlari menelusuri lorong gelap tanpa ada yang mengikuti.


Semua orang yang berada di kereta sudah terjebak dalam reruntuhan. Belum diketahui apakah mereka semua mati atau tidak namun sekarang hanya tersisa Eter, Noah, dan ibu Eter. Mereka sudah tidak yakin akan selamat. Namun, secercah cahaya terlihat di depan mereka.

__ADS_1


“Lihat itu ada cahaya, apakah itu cahaya lampu? Mungkin kita bisa meminta bantuan!!” Eter menunjuk cahaya yang berada di ujung lorong dengan semangatnya.


“Aku tidak terlalu optimis dengan hal ini. Tapi, semoga masih ada orang di sana.” Noah menjawabnya dengan nafas yang masih menderu.


Dalam waktu beberapa menit mereka bertiga sudah sampai di sumber cahaya. Wajah Eter dan Noah langsung menunjukan rasa kekecewaan karena sumber cahaya yang mereka pikir berasal dari listrik ternyata berasal dari api. Wajah ibu Eter juga menunjukan rasa kekecewaan saat dia melihat tempat itu adalah stasiun yang juga sudah penuh dengan reruntuhan.


Di sisi lain dari stasiun itu, terlihat dua orang petugas stasiun yang menggunakan rompi merah melihat rombongan Eter. Mereka mendekati rombongan Eter yang masih berada di atas rel.


“Permisi, apakah kalian berasal dari kereta?” salah satu petugas bertanya acak ke rombongan Eter.


“Iya kami dari kereta yang berhenti di tengah lorong. Apakah kami bisa meminta bantuan medis?” Ibu Eter langsung meminta bantuan medis kepada petugas sembari menatap Eter yang  memperoleh beberapa luka setelah terjatuh berkali-kali.


Petugas yang mendengar permintaan ibu Eter saling berpandangan, mereka tidak yakin bisa memenuhi permintaannya. Namun mereka memiliki beberapa peralatan medis yang bisa digunakan untuk menjadi pertolongan pertama. Sayanganya saat ini peralatan medis itu sudah digunakan untuk orang-orang yang berada di stasiun.


“Maaf bukannya kami tidak mau meminta bantuan medis tapi kondisi saat ini sangat tidak memungkinkan mendapatkan bantuan medis.” Salah satu petugas terpaksa menjabarkan kenyataan yang bisa dilihat oleh ibu Eter.


“Selain itu maukah kalian bertemu dengan kepala stasiun, ada beberapa hal yang ingin kami ketahui dari dalam lorong!”


“Bertemu kepala stasiun, baiklah tunjukan jalannya.”


Petugas yang mengajak rombongan Eter masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan kepala diikuti ibu Eter, Noah kemudian Eter. Seluruh pandangan mata petugas terarah ke rombongan Eter. Keterkejutan terlihat jelas di mata mereka.


“Pak kepala, ini beberapa orang yang selamat dari kereta.” Petugas menjelaskan kepada kepala stasiun dengan singkat keadaan rombongan Eter.


“Jadi kalian selamat dari dentuman-dentuman yang terjadi beberapa menit lalu. Apakah tidak ada yang selamat selain kalian bertiga?” Kepala stasiun mendekati rombongan Eter, matanya menyelidik ketiga orang itu.


“Kami tidak tahu apakah ada yang selamat selain kami. Tapi kami tahu hanya kami yang berhasil sampai stasiun ini. Lorong di belakang kami sudah tertutup.” Ibu Eter menjawabnya dengan singkat tapi penuh dengan makna.


Kepala stasiun menghela nafas panjag, wajahnya pucat dan juga penuh kekhawatiran.“Walaupun kalian selamat, tapi maaf kalian masih belum bisa keluar dari sini. Kalian pasti sudah tau alasanya kan.”


“Jalan menuju ke atas sudah tertutup reruntuhan.” Kali ini Noah yang menanggapi. Beberapa saat lalu dia sempat melirik jalan keluar stasiun yang tertutup oleh reruntuhan.


“Ya, kami belum memiliki solusi untuk keluar dari stasiun ini setelah beberapa dentuman menghancurkan jalan menuju ke atas.” Kepala stasiun menjelaskan beberapa jam sebelumnya dentuman menghancurkan bagian atas stasiun sehingga membunuh ratusan orang di stasiun bahkan menutup jalan keluar satu-satunya.

__ADS_1


Jalan untuk keluar dari stasiun itu sama dengan stasiun yang di gunakan Eter untuk berangkat menggunakan kereta. Bedanya tangga yang menghubungkan antara stasiun dengan permukaan tanah lebih panjang yaitu sekitar 100 meter. Reruntuhan yang menutup stasiun ada di tengah-tengah tangga.


“Bagaimana kalau kita menghancurkan reruntuhan itu dengan menggunakan peledak?” Ibu Eter mengusulkan sebuah solusi kepada kepala stasiun namun kepala stasiun seperti kurang setuju dengan usul tersebut.


“Sayangnya di stasiun ini tidak ada peledak yang kau inginkan.” Kepala stasiun itu menolak usulan dari ibu Eter.


Ketika semua orang dalam kebingungan, Eter masuk ke dalam lamunannya. Dia pernah membaca sesuatu di bukunya tentang seorang berkemampuan aldefos api yang dapat melakukan ledakan besar. Ledakan besar dari kekuatan aldefos api itu bisa menghancurkan sebuah kota kecil.


Eter juga pernah membaca dalam bukunya tentang beberapa orang pengguna aldefos air yang berkumpul dan membentuk sebuah formasi untuk mengumpulkan kekuatan aldefos mereka dalam satu formasi. Sampai akhirnya Eter memikirkan sebuah solusi yang mungkin bisa mereka gunakan untuk menghancurkan reruntuhan di jalan keluar.


“Permisi, apakah aku boleh bertanya suatu hal?” Eter memberanikan diri untuk bersuara, memecah lamunan orang-orang di dalam ruangan.


“Eter, ini bukan saatnya memuaskan rasa penasaranmu.” Noah sedikit meninggikan suara, berharap agar Eter tidak bertanya hanya untuk memuaskan rasa penasarannya.


“Aku punya sebuah rencana Noah. Tapi aku ingin memastikan apakah rencana ku bisa digunakan disaat seperti ini.”


“Baiklah, apa yang ingin kamu tanyakan nak?” kepala stasiun itu akhirnya mempersilahkan Eter untuk bertanya. Walaupun dia masih berpikir solusi yang Eter berikan tidak akan bisa dijalankan.


“Ada berapa orang yang memiliki kemampuan aldefos api di stasiun ini?”


Noah menyipitkan mata, bingung dengan pertanyaan Eter. Begitupun dengan semua orang disana yang kebingungan karena tidak bisa menebak solusi yang Eter pikirkan.


“Aku tidak terlalu tahu tapi setidaknya dari para petugas ada sekitar 6 orang yang memiliki kemampuan aldefos api tingkat rendah.” Kepala stasiun menjawabnya dengan memikirkan solusi apa yang akan Eter berikan.


“Baik itu cukup...” Eter menjelaskan rencananya kepada semua orang dalam ruangan. Wajah semua orang di ruangan itu berubah menjadi takjub bercampur heran. Mereka tidak memikirkan solusi yang Eter berikan selama berjam-jam sebelumnya. Dan juga tidak ada yanng menyangka usulan tersebut berasal dari seorang anak kecil.


Selama beberapa menit para petugas kembali berdiskusi soal kemungkinan yang akan terjadi jika mereka menggunakan usulan dari Eter. Hingga akhirnya mereka yakin untuk melakukan solusi dari Eter.


“Ayo kita coba usulan anak muda jenius ini!” kepala stasiun berjalan ke luar ruangan memimpin orang-orang yang sudah mendapatkan harapan dari seorang anak kecil berumur 7 tahun.


_____________


Terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.

__ADS_1


Terima Kasih


____________


__ADS_2