Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 20 - Bantuan


__ADS_3

Ribuan kilometer dari Kota Libo, sebuah kota besar berdiri megah tanpa tahu menahu pertempuran yang semakin memanas. Kota megah itu berdiri di atas selat yang menghubungkan dua lautan penting dunia, menjadi gerbang penghubung dua jalur perhubungan global.


Semua manusia di Bumi mengenal kota itu sebagai kota paling maju dalam sistem pertahanan dan sebagai kota penghubung dua benua sekaligus kota yang menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian Republik Metis.


Inilah Kota Tinopra, kota pusat kekuasaan Metis. Kota yang akan menjadi garda terdepan koalisi perang melawan Republik Nibiru. Kota yang kelak akan menjadi pusat pemerintahan seluruh dunia dalam melawan manusia langit dan kota yang ditakdirkan menjadi penghubung antar dunia.


Lima kilometer dari Kota Tinopra, sebuah mobil sedan berwarna hitam bergerak menggunakan sistem otomatis, melaju di jalan penghubung kota. Mobil itu berbelok tajam menuju ke sebuah rumah besar yang di kelilingi tembok beton setinggi lima meter dan memiliki luas lima hektar.


Pintu gerbang besi bergerak otomatis, memberikan jalan masuk kepada mobil. Terlihat isi rumah yang luar biasa besar dengan arsitektur bergaya romawi kuno. Orang biasa akan berpikir rumah di hadapannya adalah sebuah istana raja-raja zaman masehi awal.


Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan pintu masuk bangunan utama. Seorang pria berusia sekitar 50 tahun turun dari mobil. Rambut pirang dan mata biru serta sedikit kerutan di wajah dengan postur tinggi tegap membuatnya bagaikan seorang raja atau bangsawan.


“Selamat datang kembali, Tuan Naruru.” Seorang pelayan pria dengan setelan hitam-hitam mendekat.


Orang itu hanya mengangguk pelan, menjawab sapaan para pelayan. Orang yang dipanggil sebagai Tuan Naruru melangkah menuju pintu besar bangunan utama. Mobilnya sudah berjalan meninggalkan bangunan utama menuju garasi mobil di kiri bangunan utama.


Tuan Naruru sendiri langsung pergi ke ruangannya yang berada di lantai dua bangunan utama. Ruangan itu merupakan ruangan terbesar di lantai dua, bentuknya persegi dengan panjang sisi sekitar sepuluh meter. Dindingnya dihiasi dengan puluhan lukisan dari pelukis ternama. Disana sudah ada dua orang menggunakan setelan jas hitam yang menunggu di sofa.


“Oh kau sudah di sini Tana,” Tuan Naruru masuk dan duduk di kursi dengan meja besar di tengah ruangan.


“Saya baru saja tiba Tuan Naruru,” Tana membungkukan badan, memberikan salam hormat.


“Lalu siapa yang kau bawa sekarang?” Naruru memperhatikan seorang pria yang duduk di samping Tana. Pria itu mengenakan seragam militer warna hijau belang dengan perwakan tinggi besar dan rambut pendek.


“Ini rekan kita tuan, salah satu calon Jendral tertinggi posisi ke 4 Republik Metis yang besok akan di lantik.” Tana menjelaskan singkat.


“Oh jadi kau anak dari Tuan Edward,” Tuan Naruru bertanya.


“Iya tuan, saya anak saya Arm Edward, anak pertama Tuan Edward.” Arm menjelaskan ke Naruru.


“Lantas, apa yang kamu lakukan disini?”


“Saya disini ingin menyampaikan pesan dari ayah saya Edward...”


Arm menjelaskan bahwa ayahnya sangat berterima kasih atas segala bantuan yang telah di berikan oleh Tuan Naruru selama dia menjabat sebagai jendral. Edward tidak bisa mengucapkannya secara langsung karena harus melengkapi data untuk pelantikan Arm sebagai jendral.


“Ya, aku juga berterima kasih kepad tuan Edward karena dia juga sering memberikan bantuan kepada Unicorn saat dalam melebarkan sayapnya di Metis.” Naruru tersenyum.

__ADS_1


Mereka bertiga berbincang banyak hal setelahnya seperti rencana yang akan Arm Edward lakukan setelah dilantik menjadi jendral. Tana yang merupakan penasihat Naruru juga aktif memberikan pendapatnya apabila Arm sudah dilantik menjadi jendral.


Namun, perbincangan itu berhenti saat terdengar suara ledakan dari luar bangunan. Suara itu tidak terlalu keras tapi masih bisa didengar oleh orang-orang yang berada di dalam ruangan. Tuan Naruru langsung membuka tirai jendela yang berada di belakang tempat duduknya.


Betapa terkejutnya Tuan Naruru setelah melihat langit di arah sumber ledakan. Langit yang semula berwarna biru kini berubah merah darah dengan awan jamur yang membumbung tinggi di angkasa. Pemandangan itu membuat ketiga orang di dalam ruangan berdiri mematung tidak percaya apa yang dilihatnya.


“TANA, cepat cari koordinat awan jamur itu berasal!!” Tuan Naruru berteriak cemas dengan wajah yang mulai memerah.


“Tuan Naruru, sebenarnya apa yang terjadi?” Arm bertanya bingung.


“Awan jamur berwarna merah dengan suara ledakan yang menggetarkan ruangan. Itu adalah sebuah ledakan yang dihasilkan oleh bom buatan Keluarga Naruru. Bom yang memanfaatkan kemampuan aldefos api keluargaku. Tujuannya adalah untuk memberikan sinyal bantuan apabila anggota keluargaku dalam bahaya.” Naruru menjelaskan dengan mata yang masih memandangi awan jamur.


Wajah Tana juga semakin cemas setelah dirinya membuka layar hologram di tangan. Dia membuka program Unicorn, mengaktifkan satelit untuk mencari lokasi awan jamur berasal. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik Tana sudah mengetahui letak awan jamur yang dimaksud.


“Tuan, aku sangat menyesal soal ini. Awan jamur itu berasal dari Kota Libo.” Tana mendekat menjelaskan.


Mata Naruru melotot saat mengetahui koordinat awan jamur, tangannya mengepal keras.


“TANA!! cepat perintahkan para penjaga unicorn rank A untuk pergi ke sana. Gunakan pesawat paling cepat yang kita miliki!!” Naruru berteriak, memberikan perintah.


“Baik tuan.” Tidak pikir panjang, Tana sudah menghubungi Unicorn untuk mengirimnya.


“Akan aku laksanakan secepat mungkin.” Arm langsung keluar dari ruangan dan menghubungi ayahnya akan sebuah serangan.


“Nata, Noah aku tidak menyangka kalian ada di kota itu. Semoga kalian semua selamat.”


***


“Tetap berdiri Eter, kita masih punya waktu tiga menit lagi.”


Noah berteriak cemas setelah Eter jatuh menghujam tanah terkena serangan topeng biru. Kondisinya buruk, luka menyebar merata di sekujur tubuhnya.


“Apa kalian masih belum menyerah hah?” Topeng Biru bertanya geram.


“Heh... Kami tidak sudi mati di tanganmu sialan.” Eter berdiri menghadap topeng biru. Kondisinya payah, sekujur tubuhnya telah bersimbah darah.


“Benar, kami akan selalu berdiri walau kematian ada di depan mata.” Noah melengkapi perkataan Eter.

__ADS_1


“Hahahaha....” Topeng Biru tertawa terbahak bahak, baru kali ini topeng biru tertawa seperti itu. “Baru kali ini aku melihat anak kecil senekat kalian. Jika kalian berada di pihak kami pasti kalian akan disanjung dengan ribuan penghormatan.”


“Mana sudi aku berada di pihakmu dasar bedebah.” Noah menjawab perkataan topeng biru, kondisinya sama dengan Eter dengan baju yang sudah berwarna merah terkena darahnya sendiri.


“Ooo... kita lihat sebentar lagi.”


Topeng Biru melesat, dalam satu hentakan kaki dia sudah berada di depan Noah. Pedanganya bergerak menebas, tapi Noah sudah memprediksinya. Dia sudah melompat terlebih dahulu mendekati Eter.


“Lumayan, bagaimana kalo ini...” Topeng Biru belum berdiri sempurna namun pedangnya sudah bergerak menebas udara kosong mengirim gelombang angin bersamaan dengan bilah-bilah angin tajam.


Bilah angin itu berhasil mengenai Noah, membuatnya semakin bersimbah darah. Tubuhnya sudah remuk terkena ratusan bilah angin. Dia tidak bisa berdiri sekarang bahkan sudah tidak bisa mengeluarkan kemampuan aldefos api miliknya.


“Tahan Noah...” Eter bergerak, sepotong kayu masih melekat di tangannya sebagai senjata sementara.


Topeng Biru kembali menghilang dari pendangan mata, tubuhnya  muncul kembali di belakang Eter. Pedangnya sudah berada di atas kepala Eter. Namun, lagi-lagi serangannya berhasil di gagalkan setelah di tahan oleh sepotong kayu yang Eter pegang.


Eter terlempar di samping Noah, Noah hanya bisa melihat temannya menghujam tanah, tubuhnya sudah tidak bisa digerakan. Topeng Biru berjalan pelan ke arah Noah dan Eter, pedangnya semakin terang penuh haus darah.


“Mati kau...” Gerakan pedang Topeng Biru cepat, namun lagi-lagi terhenti kali ini oleh sesuatu yang tidak disangkanya.


BOOOOMMM...


Sebuah ledakan tepat berada di tubuh Topeng Biru berdiri, membuatnya terpental beberapa meter. Tubuhnya penuh dengan luka setelah terkena ledakan itu. Dia memalingkan wajahnya ke atas.


Sebuah benda terbang tepat berada di atas bukit. Benda itu berbentuk segi tiga sama sisi berwarna hitam. Dari benda terbang itu turun beberapa orang menggunakan seragam hitam abu-abu.


“Akhirnya datang juga,” Noah berkata pelan, matanya perlahan-lahan menutup.


“Akhirnya kita bisa istirahat sebentar,” Eter menambahkan perkataan Noah. Tubuhnya sudah lemas dengan mulut yang terus mengeluarkan darah, kesadarannya hilang setelah matanya tertutup sempurna.


Para pahlawan kecil telah beristirahat.


_____________


Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih

__ADS_1


____________


.


__ADS_2