![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
“Apa yang kamu ingin tanyakan?” Arsa menyipitkan mata, mencoba menebak isi pikiran Eter.
“Bukankah ini merupakan hal yang ilegal.” Mata Eter memandang semua sudut ruangan, “Anak-anak sepertiku hanya boleh belajar dasar aldefos ketika dia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Kenapa kakek memperlihatkan tayangan yang tidak seharusnya aku lihat sekarang?”
Arsa tersenyum simpul, matanya menatap Eter lamat-lamat. “Ini berhubungan dengan latih tanding tadi.” Arsa diam membiarkan Eter menebak kata-katanya.
“Ah, aku tahu.” Eter baru sadar akan satu hal yang penting.
“Sejak tadi kita sudah melakukan beberapa hal ilegal yah. Biasanya kita hanya akan berlatih bela diri namun sekarang kakek malah mengajakku latih tanding bahkan dengan menggunakan kemampuan aldefos. Itu sudah merupakan sesuatu yang ilegal. Terus kakek mengajakku ke sini. Jadi, apa tujuan kakek sebenarnya?”
Senyum di wajah Arsa semakin melebar. “Tujuanku adalah mempersiapkan dirimu menjadi calon pemimpin pasukan perlawanan.”
Eter tersentak kaget. Beberapa kata dari kakeknya tidak dia mengerti. Namun, dia paham akan maksud dari calon pemimpin. “Hah... Sebentar kek. Apa itu pasukan perlawanan, kenapa aku baru kali ini mendengar istilah seperti itu?”
Arsa memperbaiki posisi duduknya sebelum menanggapi pertanyaan Eter. “Pasukan perlawanan merupakan istilah yang kakek ciptakan. Kakek berharap pasukan ini bisa dibuat untuk merebut negeri kita dari tangan Republik Nibiru. Walaupun pasukan ini masih belum terwujud, kakek berharap aku atau kamu kelak bisa membuat pasukan ini menjadi nyata.
“Seperti yang kamu tahu, keluarga kita sebenarnya berasal dari suatu negeri yang sekarang di kuasa oleh Republik Nibiru. Kakek dan ayahmu adalah salah satu dari sekelompok kecil penduduk yang berhasil lolos dan kabur ke sini, Republik Metis. Tujuan kami kabur dari sana adalah untuk membangun kekuatan yang bisa digunakan untuk melawan balik para penjajah.
“Namun, setelah 10 tahun berlalu tidak ada satu orangpun dari kami yang berniat untuk melakukan perlawanan. Kami semua sudah nyaman berada disini, kami tidak ingin melihat kehancuran lagi. Tapi beberapa minggu lalu aku kembali teringat bahwa saudara-saudara seperjuangan kita banyak yang masih menetap disana. Mereka semua masih terus melawan para penjajah itu.
“Kakek kesal tidak bisa membantu mereka, kakek tidak ada bedanya dengan para pengkhianat jika terus bersembuyi seperti ini. Karena itulah kakek mempersiapkanmu lebih awal untuk menjadi pemimpin pasukan perlawanan apabila kakek sudah tiada.”
Eter menatap Arsa lamat-lamat. Dia ingin berucap namun tak bisa, kata-katanya tertahan di tenggorokan. Mata Arsa menunjukan sebuah kesedihan, membuat Eter tidak bisa berkata banyak. Pada akhirnya mereka berdua diam dalam kesedihan, membiarkan kenangan dalam diri Arsa kembali muncul.
“Lupakan soal itu, ayo ikut kakek!” Arsa memecah keheningan dan berjalan keluar ruangan.
Eter mengikuti kakeknya keluar ruangan, kembali ke ruangan yang mereka gunakan untuk turun ke bawah tanah. Arsa membuka pintu, menampakan kembali ruangan berlapis alumunium. Dia kembali membuka layar hologram di samping pintu dan membuat ruangan itu bergarak naik.
Beberapa detik setelahnya, ruangan tersebut berhenti. Arsa keluar ruangan, tangannya menunjuk ke sofa di ruangan lain yang berada tepat di depan pintu masuk rumahnya. “Eter kamu duduk dulu di situ.”
__ADS_1
“Baik kek.” Eter menjawab takzim, memberikan rasa hormat kepada kakeknya.
Setelah 10 menit Eter menunggu, Arsa kembali dengan membawakan sebuah buku besar ditangannya. Jarang ada buku konvensional sebesar itu di Republik Metis. Kalopun ada pasti harganya tidak murah.
“Itu... buku apa kek??” Eter masih terheran heran karena baru pertama kali melihat buku setebal itu. Tebalnya kira-kira sekitar 10 cm dengan ukuran 40x20 cm. Setiap kertasnya juga lebih tebal dari pada buku konvensional lain.
“Ini buku, buku yang berisi berbagai hal tentang aldefos.”
Arsa menjelaskan bahwa buku yang sekarang dia pegang adalah buku yang sudah mencatat berbagai sejarah para pahlawan pengguna kekuatan aldefos yang disanjung-sanjung oleh dunia. Tidak hanya itu buku itu ditulis dengan kata-kata yang mudah dipahami oleh anak kecil sekalipun.
Arsa memiliki alasan tersendiri kenapa meminjamkannya. Menurutnya buku itu merupakan satu-satunya buku miliknya yang bisa digunakan sebagai dasar untuk mempelajari aldefos dari akar-akarnya.
Di Republik Metis sendiri, buku-buku konvensional yang berisi tentang aldefos sangatlah di awasi. Pemerintah memiliki peraturan sendiri terkait peredaran buku-buku ini. Bahkan di semua perpustakaan buku konvensional terdapat beberapa petugas yang akan mengawasi siapa saja yang membaca buku tentang aldefos.
“Bagaimana kakek bisa memiliki buku seperti ini?” Eter sangat antusias ketika kakeknya memberikan buku tersebut. Dia memegangi sampul dan membuka lembar per lembar buku tersebut.
“Baik kek, aku pulang dulu ya kek.” Tanpa ada salam sapa berlebihan Eter sudah berlari meninggalkan rumah kakeknya. Menuruni bukit dengan senyuman bahagia di wajahnya.
'kau harus bisa berlatih lebih cepat Eter. Aku takut bencana akan datang sebelum aku bisa melatihmu menggunakan aldefos.'
***
Matahari masih mengintip di balik cakrawala namun warga kota Libo sudah menunjukan kehidupannya. Tidak terkecuali Eter yang kegiatan tiap paginya akan di isi dengan membaca buku pemberian kakeknya. Hampir tiap akhir pekan Eter akan pergi ke rumah kakeknya untuk menjelaskan apa yang telah dia baca.
Sudah hampir 1 bulan dia membaca buku milik Arsa tapi sampai 1 bulan ini dia masih belum menyelesaikan separuh buku. Hal ini dikarenakan Eter harus melakukan kegiatan lainnya seperti sekolah dan membantu ibunya. Termasuk hari ini ketika Eter berniat menyelesaikan 1 bab dia di ajak oleh ibunya untuk menemaninya pergi ke pasar.
Tentu saja bagi Eter sangat mengganggu tapi dia tidak akan protes kepada ibunya. Eter sadar dia tidak akan menang berdebat dengan ibunya. Walaupun itu hanya sebuah masalah sepele.
“Ibu, kita akan ke pasar mana?” Eter mencoba memastikan tempat, dia tidak ingin berlama-lama menemani ibunya.
__ADS_1
“Kita ke pasar pusat saja disana lebih banyak barang-barang yang ingin Ibu beli.”
Eter menerima dengan diam, dia tidak menanggapi walaupun dalam hatinya dia sedikit protes. ‘Pasar pusat itu terlalu jauh’ Batin Eter kesal. Akhirnya dia menerima semua keputusan, membuatnya bergegas memasukan buku pemberian kakeknya ke ransel biru pucat dan menggendongnya.
Mereka berangkat ke pasar pusat saat jam menunjukan pukul 7 pagi. Ibu Eter lebih memilih menggunakan transportasi publik dari pada menggunakan mobil pribadi. Alasannya sederhana dia ingin menikmati waktu libur. Alasan yang membuat Eter berpikir dua kali untuk ikut tapi tidak bisa mengungkapkannya.
Kini mereka berjalan di trotoar kota yang luasnya hampir 3 meter, tujuan mereka adalah stasiun kereta api bawah tanah. Jarak stasiun dengan rumah Eter sekitar 300 meter. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat, cocok untuk
olahraga pagi.
Sepanjang perjalanan terlihat berbagai jenis mobil listrik sudah bersliweran di jalanan kota. Bus-bus dalam kota juga sudah banyak yang beroprasi mengangkut penumpang. Beberapa toko-toko kecil dan besar juga sudah membuka gerainya.
Kota Libo memang merupakan kota kecil tapi kesibukan kota juga tidak kalah dengan kota yang berukuran sedang. Selain mengandalkan sektor perikanan sebagai penghasilan utama, ada sektor penghasilan utama lain yang jarang ditemukan oleh kota kebanyakan.
Ketika Eter masih dalam lamunannya, tanpa disadari dia sudah berada di depan gerbang stasiun. Eter memasukinya lebih dulu dan disambut dengan puluhan anak tangga yang mengarah ke bawah tanah. Eter dan ibunya turun ke bawah lantas menunggu kereta yang datang tiap 5 menit sekali, tentu saja tanpa membeli tiket
kereta.
Republik Metis adalah salah satu negara yang menggratiskan segala jenis transportasi publik agar warganya bisa beraktivitas dengan lebih mudah. Selain itu tujuan Metis menggratiskan transportasi publik juga agar sektor perekonomian berkembang pesat dengan mobilitas penduduk yang tinggi. Metis memiliki visi menjadi negara adidaya di bidang ekonomi.
Setelah 5 menit menunggu, akhirnya kereta datang. Eter dan Ibunya memasuki gerbong pertama dan duduk dibagian belakang gerbong. Tidak banyak yang Eter dan Ibunya bicarakan saat di kereta sampai seseorang memanggil nama Eter dari bagian depan gerbong dan berjalan ke arahnya.
_____________
Terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
Terima Kasih
____________
__ADS_1