![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
Wajah Nata menunjukan kekesalan, tangannya menggenggam erat saat mengetahui sumber suara itu. Aura tubuhnya mulai berubah bersamaan dengan warna bilah pedangnya yang semakin memerah.
“Ternyata kau menguasai teknik bayangan. Topeng Merah sialan.” Nata mendengus kesal.
“Hahahaha... Kau masih belum mengenalku lebih jauh rupanya,” Topeng Merah mengacungkan pedangnya ke depan, ke arah Nata. “Jadi, apakah kau mau menyelesaikan ini dengan cara damai?”
“Kau pikir siapa aku ini, HAH?”
“Kau adalah keturunan terlemah keluarga Naruru.” Topeng Merah berkata dingin.
Nata melotot, menatap Topeng Merah tajam. Tanpa berpikir dua kali, Dia berlari secepat angin menggunakan kaki-kaki yang sudah dialiri energi aldefos. Tangannya dengan kuat menggengam pedang yang semakin memerah.
Lari Nata semakin kencang saat sudah mendekati Topeng Merah. Pedangnya segera meliup liup di udara bagaikan belut sawah, mencari kepala musuhnya.
Tentu saja Topeng Merah masih bisa menangkis beberapa serangan Nata dengan menggunakan pedang biru miliknya dan beberapa pilar es yang dibuatnya. Akan tetapi kecepatan gerak pedang Nata lebih cepat dari pilar es milik Topeng Merah. Topeng merah akhirnya kewalahan saat menangkis puluhan jurus milik Nata. Sampai akhirnya pedang itu kembali menebas leher dari Topeng Merah.
“Hahahaha. Ternyata kau gampang tersulut emosi.” Suara Topeng Merah kembali terdengar dari arah samping kiri Nata.
“Pengecut...” Nata menghardik Topeng Merah, menatapnya bengis karena telah mempermainkannya. “Jika kau ingin bertarung, bertarunglah dengan tubuh aslimu!!”
“Aku tidak perlu bersusah payah mengeluarkan kemampuanku untuk orang lemah sepertimu. Hahahaha.”
“Diam kau!!!”
Nata kembali berlari, menghunuskan pedangnya ke Topeng Merah. Matanya sudah semakin memerah dibarengi dengan rambut hitamnya yang juga mulai memerah. Kali ini pun kepala Topeng Merah kembali ditebas oleh Nata.
“Bukankah sudah aku bilang, keahlian berpedangmu memang tinggi tapi jika tidak dibarengi dengan kemampuan Aldefos maka hasilnya sama saja.” Suara berat Topeng Merah kembali terdengar kali ini dari arah samping kanan Nata.
“Pengecut, dasar pengecut!!”
“Jika aku pengecut, kau itu apa?” Topeng Merah memasukan tangannya ke saku jubah, bersikap santai menanti serangan Nata. “Oh aku tahu, kau itu adalah seorang pecundang.”
__ADS_1
Nata melotot, tidak terima akan perkataan Topeng Merah. Tanpa basa basi lagi Nata kembali menyerang Topeng Merah dengan segenap tenaganya. Seluruh rambutnya sudah berubah menjadi merah padam dengan tubuh yang berwarna putih pucat. Pedangnya pun semakin memerah dengan darah Nata yang menetes di gagangnya.
Serangan Nata kali ini lebih brutal dari pada sebelumnya. Gerakan pedangnya tidak teratur namun sangat mematikan. Bahkan kali ini seluruh peluru dan pilar es berhasil dia hancurkan. Hanya butuh beberapa detik untuk menebas kepala topeng merah.
“Hahahaha. Aku suka dengan orang yang termakan emosi.” Kali ini suara Topeng Merah berasal dari arah depan Nata.
“Jadi,” Topeng Merah berjalan perlahan ke arah Nata. “Apa kau mau memberikan apa yang ingin didapatkan klien kami?”
“Hah, aku tidak akan memberikannya ke pengecut sepertimu!!” Nata mendengus kesal.
Topeng Merah menghela nafas pelan, menghentikan langkahnya. “Sebenarnya aku tidak ingin menyia-nyiakan bakatmu tapi-“
Topeng Merah tidak menyelesaikan kata-katanya. Tubuhnya sudah melesat menghunuskan pedangnya. Nata yang sudah berdiri tegak hanya tersenyum sinis saat melihat serangan topeng merah.
Kedua pedang itu akhirnya saling berbenturan membuat siapapun akan berdecak kagum dengan jurus-jurus yang tercipta dari pertarungan Nata dan Topeng Merah. Keduanya saling bertukar serangan dengan menggunakan berbagai jurus pedang.
Pedang Nata semakin haus akan darah setelah beberapa kali bertukar jurus. Walaupun tubuhnya sudah penuh dengan luka goresan akibat peluru dan pilar es. Namun, wajahnya masih dipenuhi dengan amarah yang terlampau besar.
“Nampaknya aku harus mulai serius.” Topeng Merah terkekeh pelan setelah puluhan goresan pedang menyerang tubuhnya.
“Hahahaha, benar sekali pecundang.”
Nata semakin tersulut emosinya, dia mulai menyerang topeng merah dengan semua jurus pedang miliknya. Namun seluruh tebasannya tidak pernah berhasil menebas tubuh asli dari Topeng Merah.
Sementara itu Topeng Merah mulai mengeluarkan puluhan bayangan dirinya. Hal itu membuat Nata kebingungan, dia masih belum paham akan teknik bayangan yang digunakan oleh topeng merah. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyerang semua bayangan itu.
“Percuma kau menyerang semua bayanganku,” salah satu bayangan Topeng Merah berkata ke Nata yang terus menerus menebas bayangan topeng merah. “Jika kau belum menemukan diriku yang asli.”
“Diam kalian semua!!”
Nata terus menerus menyerang semua bayangan topeng merah menggunakan jurus-jurus miliknya. Akan tetapi bayangan topeng merah yang memiliki kekuatan lima persen dari tubuh aslinya itu semakin banyak, membuat Nata terpojok dan harus terus menghindar.
__ADS_1
Akan tetapi tanpa Nata sadari puluhan bilah-bilah es terbang dari arah belakangnya. Serangan itu telak menghajar punggungnya. Membuat Nata tergeletak tak berdaya dengan darah yang keluar dari sekujur tubuhnya. Matanya melihat Topeng Merah berjalan perlahan menuju tempatnya tergeletak.
“Matamu terlalu dipenuhi oleh emosi.” Topeng Merah berkata dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak dari dalam topengnya.
“Aku tidak peduli dengan perkataanmu.”
“Ya kau tidak seharusnya peduli dengan itu,” Topeng Merah mengangkat pedang birunya di atas tubuh Nata. “Karena kau akan mati saat ini juga.”
Pedang Topeng Merah bergerak turun, menebas tubuh musuhnya. Namun, entah bagaimana pedang itu tidak mencapai tubuh Nata. Nata yang masih sadar mendongak, mencari tahu apa yang terjadi. Dia melihat Topeng Merah yang sedang melihat ke arah lain, arah tempat para pasukan Topeng Neraka dan Pengaman Unicorn beradu kekuatan.
“Apa-apaan ini?”
“Tahan kedua anak kecil itu!!”
“Jangan sampai mereka lepas!!”
“Bagaimana bisa dia bergerak secepat itu?”
“Sial, mereka bukan anak kecil biasa.”
Suara teriakan dan hardikan terdengar dari pasukan Topeng Neraka yang sedang bertarung dengan dua sosok anak kecil. Kedua anak kecil itu salah satunya menenteng senapan laras panjanng dan satunya lagi menggunakan dua bilah belati di tangan.
“Siapa mereka?” Topeng Merah berkata keheranan saat melihatnya.
Nata yang juga bingung dengan situasi itu ikut menatap ke arah yang sama. Matanya melebar saat melihat arah itu. Dia tidak menyangka bahwa anak kecil yang sedang bertarung dengan pasukan topeng neraka adalah seseorang yang dikenalnya.
“Noah...”
_____________
Terima kasih juga karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
__ADS_1
Terima Kasih
____________