![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
“Hutan Bakiuk, apa aku tidak salah dengar?” Weis yang pertama merespon.
“Memangnya dimana hutan Bakiuk itu?” Mishel membuka mulutnya bertanya.
“Huta Bakiuk terletak di daerah Roman. Jaraknya lebih dari 1.000 km ke arah timur dari Zurik. Selain karena jaraknya yang jauh, ada beberapa hal yang membuat kita harus berpikir dua kali untuk pergi ke sana...”
Weis menjelaskan bahwa hutan Bakiuk merupakan sebuah tempat paling misterius di daerah Roman. Konon menurut cerita penduduk setempat sekelompok binatang mutan seperti Karkadan dan Falak sering muncul di tengah hutan.
“Apa cerita itu benar Weis? Bukankah binatang mutan itu merupakan hewan-hewan yang mengonsumsi energi aldefos. Menurut sepengetahuanku energi aldefos di alam itu hanya bisa ditemukan jika-” Eter tidak melanjutkan, matanya terbuka menyadari sesuatu yang teramat penting.
“Kita harus segera kesana!!” Eter melanjutkan, kali ini nada suaranya lebih serius.
Weis sedikit menggelengkan kepala, jarinya terarah ke jam di dinding yang menunjukan pukul 4 pagi. “Kita tidak mungkin bisa kesana dalam waktu 5 jam perjalanan. Kau tahu kan jaraknya”.
“Ya, kita tidak mungkin bisa ke sana menggunakan kereta ataupun mobil. Jadi, aku punya kejutan untuk kalian”.
Eter bangkit dari duduknya, melangkah ke luar ruangan. Weis dan Mishel mengikutinya dari belakang tanpa tahu menahu kemana mereka akan pergi.
Mereka bertiga berjalan ke luar dari bangunan panti. Pergi ke sebuah taman di belakang bangunan panti. Taman itu merupakan tempat terbengkalai di panti asuhan Merpati. Rumput ilalang setinggi pinggang memenuhi semua sudut taman.
Dulu, saat penghuni panti masih bisa dihitung dengan jari. Taman ini merupakan tempat favorit untuk menunggu waktu makan malam. Namun, karena pembangunan taman-taman lain di samping kanan, kiri, dan depan bangunan panti serta dibangunnya sarana olahraga di sekitar bangunan membuat taman tersebut tidak pernah lagi dikunjungi.
Taman itu tidak terlalu besar, lebarnya dan panjangnya sekitar 10 meter. Ditengah-tengah taman berdiri sebuah pondok kecil yang dulunya digunakan untuk berteduh dari hujan. Tidak ada dinding di pondok tersebut hanya ada empat buah tiang kayu dengan atap dari seng, bangunan tersebut sering di sebut sebagai pondokan oleh anak-anak panti.
Terkesan sederhana, tapi nyatanya tidak sesederhana yang terlihat. Weis sudah curiga saat dia sudah masuk ke sana. Bagian bawah pondokan tersebut ditutupi oleh jerami yang merupakan barang langka di kota Zurik.
Jerami tidak ditemukan di kota Zurik yang jauh dari wilayah pedesaan. Hal ini menambah kecurigaan Weis. Dia menatap tajam Eter yang sedang berlutut di tengah pondok.
“Apa yang kau sembunyikan disini?” akhirnya Weis buka suara.
“Diam dulu, ada hal menarik yang akan aku tunjukan”
Eter meraba-raba, tangannya menemukan seutas tali yang berada di bawah jerami. Dia kemudian menarik tali yang terbuat dari anyaman serat kayu itu. Seketika sebuah lubang seukuran tubuh orang dewasa terbuka tepat di bawah kaki Weis.
Weis terperosok jatuh ke dalam lubang. Eter menyeringai saat melihatnya, tubuhnya langsung mengikuti Weis masuk ke dalam lubang. Mishel yang masih ragu-ragu akhirnya ikut masuk ke dalam lubang itu.
__ADS_1
Disaat tubuh Mishel masuk ke dalam lubang, dia seakan sedang merosot turun menggunakan prosotan dari besi. Mishel sangat mengenal unsur ini, dia bisa merasakan semua logam dalam jarak 100 meter yang membuatnya bisa mengendalikan logam-logam itu.
Satu menit setelah Mishel masuk ke dalam lubang, akhirnya dia bisa keluar dari lubang panjang itu. Tubuhnya di sambut setumpuk jerami membuatnya tidak jatuh langsung ke lantai.
Eter dan Weis sudah berdiri di depannya, terpampang senyum puas di wajah Eter. Weis melotot, mulutnya terbuka melihat sebuah benda di hadapannya. Mishel yang baru saja sampai langsung berdiri dan mendapati sebuah benda yang melayang tiga meter di udara.
“Apakah ini pesawat jet generasi baru buatan Unicorn?” Weis sudah pernah melihat benda seperti ini tapi masih dalam bentuk gambar.
“Tepat sekali, aku meminta Noah untuk mengirimkan sketsa rancangan pembuatannya. Sketsa itulah yang membantuku membuat pesawat ini.”
“Pantas saja kau percaya ke Noah, jadi karena ini.” Weis menatap tajam Eter.
“Hehehe, ya begitulah.”
Berbeda dengan Weis yang sudah mendapatkan kepribadiannya kembali, Mishel masih melongo melihat benda berbentuk kelelawar yang mengambang tiga meter di udara. Selain itu dia juga tidak menyangka bahwa benda ini dibuat oleh Eter sendirian tanpa bantuan orang lain.
“E- Eter, apa kamu juga yang membuat ruang bawah tanah ini?” Mishel sedikit ragu untuk bertanya.
Eter tersenyum kaku, dia tidak ingin menjawab pertanyaan Mishel. “ Ok, akan aku perkenalkan pesawat buatanku dia ber-”
“Jawab dulu Eter, apa kamu yang sudah membuat tagihan listrik semakin naik beberapa tahun belakangan.” Mishel menarik lengan Eter, suaranya meninggi.
Weis yang berada di samping Eter berdehem pelan. “Mishel, bisakah kita membahas hal ini lain kali saja.” Weis mencoba menyelamatkan Eter dari amukan perempuan ini.
Mishel memalingkan wajahnya menghadap Weis, membuatnya mematung tidak melanjutkan perkataan. Sifat Mishel berubah 180 derajat jika berurusan dengan keuangan panti yang menjadi tanggung jawabnya.
“Mi- Mishel, benar kata Weis. Kita bicarakan hal ini nanti ya... kita sudah tak punya waktu lagi.” Eter mencoba meyakinkan Mishel yang masih berada dalam puncak kemarahan.
“Hahhh,” Mishel menghela nafas panjang. “Baiklah, tapi jangan harap setelah itu kamu bisa selamat Eter”.
Eter menelan ludah, matanya tidak berani melihat Mishel.
“Ba- baiklah, sekarang aku perkenalkan nama pesawat jet pribadiku ini. Namanya adalah Kalong, kelelawar hitam yang agung”.
Ya, pesawat itu memang berwarna hitam legam. Tidak ada warna lain yang menghiasi bagian luarnya. Bentuknya sangat mirip dengan kelelwar dengan panjang kedua sayapnya jika digabungkan sekitar 8 meter. Tingginya dari bagian bawah sampai atas sekitar 3 meter.
__ADS_1
“Kalong, nama yang aneh. Aku baru kali ini mendengarnya.” Weis berkomentar.
“Aku juga baru pertama kali mendengar nama itu. Kamu mendapatkannya dari mana Eter?” Mishel juga ikut berkomentar, nada bicaranya sudah melembut seperti sedia kala.
“Nama ini aku ambil dari bahasa orang-orang Negara Oceania bagian barat. Menurut mereka Kalong itu juga berarti kelelawar pemakan buah.” Eter menjelaskan. “Tidak usah berlama-lama ayo kita masuk.”
Eter berjalan ke bawah Kalong diikuti Weis dan Mishel. Sesaat setelah mereka berdiri di bawah Kalong, sebuah lempengan besi berbentuk persegi turun. Mereka bertiga menaiki lempengan tersebut. Seketika lempengan tersebut kembali naik dan kembali menyatu dengan tubuh pesawat.
Bagian dalam Kalong berbentuk tabung dengan dinding warna putih, panjangnya sekitar 3 meter. Ada 4 tempat duduk di dalamnya dengan 1 tempat duduk berada di depan sebagai tempat pilot dan 3 tempat duduk berjejer di belakangnya.
“Oke teman-teman. Kencangkan sabuk pengaman dan duduk dengan tenang kita akan melakukan perjalanan jauh dengan kecepatan tinggi.” Eter berkata seperti seorang pramugara dalam pesawat.
“Sebentar Eter, dari mana kau bisa mendapatkan bahan bakar Kalong?” Weis yang sudah duduk di belakang kembali bertanya.
“Hehehe, itu akan segera terjawab setelah kalian memasang sabuk pengaman”
Mishel dan Weis menurut, mereka mengenakan sabuk pengaman. Sesaat setelah sabuk pengaman di pasang, tubuh Weis dan Mishel seolah melemas. Energi aldefos milik mereka seolah terhisap oleh tempat duduk mereka.
Lima menit setelahnya kejadian tersebut berhenti. Nafas kedua anak itu menderu, keringat menetes di sekujur tubuhnya. Weis menatap Eter yang menyeringai memperlihatkan gigi-giginya. Ada sebuah kepuasan di wajahnya.
“Energi cadangan sudah diisi penuh. Persiapan pemberangkatan 100% selesai. Mulai menyalakan mesin!!” Eter berkata sendiri di depan tombol kendali.
Kalong mulai melayang lebih tinggi bersamaan dengan atap ruangan yang merupakan taman belakang panti terbuka. Taman itu terbuka ke atas seolah menjadi gerbang keluar bagi Kalong.
Kalong mendesing pelan di atas taman yang mulai tertutup. Cahaya fajar menyinarinya, memperlihatkan kelelawar dari besi berwarna gelap.
“Baik para penumpang sekalian, lokasi pemberhentian berikutnya adalah Hutan Bakiuk. Kita akan bergerak dengan kecepatan suara. Jadi nikmati perjalanan kalian selama satu jam ini. Terima kasih salam dari pilot tampan ini.”
Pesawat itu mengangkasa, menembus awan pagi di langit.
_____________
Maaf jika belakangan ini saya jarang update, ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Selain itu revisi 20 chapter awal juga masih saya lakukan. Harapannya sih akhir bulan Juni ini saya bisa mempublish 40 chapter. Jadi terus pantengin nih novel ya...
Terima kasih juga karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
__ADS_1
Terima Kasih
____________