Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 30 - Karkadan


__ADS_3

Rumput ilalang memberi jarak seratus meter antara Karkadan dengan Eter. Para Karkadan itu berbaris melintang, menunggu waktu untuk menyerang. Suara lenguhan semakin keras dari kedua puluh empat Karkadan itu.


Eter berdecak kagum melihat gerombolan Karkadan di depannya. Dia baru kali ini melihat Karkadan dengan wujud aslinya, bukan hanya gambar belaka. Matanya memperhatikan semua bagian tubuh hewan itu, menyelidik mencoba menemukan kelemahan hewan besar di depannya.


Tiba-tiba suatu ingatan masuk ke pikirannya. “Apa mungkin para Karkadan ini menyerang karena terganggu oleh pertarungan aura kita?” Eter bertanya ke Elon, mencoba mencari penjelasan.


“Itu hal yang paling mungkin. Mereka juga terkena efek dari aura menekan yang kita keluarkan karena para Karkadan ini juga menghasilkan energi aldefos.” Elon memeberikan penjelasan singkat yang langsung dipahami oleh Eter.


Untuk menyiapkan pertarungan yang akan berlangsung Eter mengeluarkan  dua buah gagang pisau dari saku celananya. Gagang pisau yang hanya berukuran 15 cm itu kemudian memunculkan sebilah mata pisau dari energi aldefos di masing-masing gagangnya.


Elon memandangi gagang pisau di tangan Eter. “Kau menggunakan pisau dapur?” Elon terkejut saat mengetahui pisau yang digunakan Eter.


“Memangnya kenapa?”


“Sebaiknya kau tidak meremehkan lawanmu, walaupun itu seekor binatang mutan. Mereka bahkan bisa lebih kuat dari para aefis rank spesial.” Elon menjelaskan.


“Siapa yang meremehkan siapa. Dari mata para Karkadan itu, aku yakin merekalah yang meremehkan kita. Malah aku juga sedikit bingung denganmu yang tidak menggunakan senjata satupun.” Eter menatap Elon penuh selidik.


Elon terkekeh pelan mendengar perkataan Eter. Dia mengambil dua sarung tangan dari saku jasnya. Sarung tangan berwarna hitam itu menutup telapak tangannya, memberikan rasa hangat yang menjalar ke seluruh bagian tubuh.


Bersamaan dengan itu, suara lenguhan para Karkadan semakin keras. Salah satu Karkadan berlari mendahului yang lain. Kaki besarnya menggetarkan bumi dan menginjak rerumputan. Melihat temannya sudah menyerang, Karkadan yang lain ikut berlari menyerang dua manusia di hadapan mereka.


“Bagianku sebelah kiri, kau urus sebelah kanan.” Tanpa menunggu jawaban Elon, Eter sudah berlari menyambut para Karkadan.


“Dasar anak muda, mereka selalu semangat pada hal-hal seperti ini,” Elon bergumam di tengah larinya menyerang para Karkadan.


Eter bagaikan seekor semut yang menantang para gajah. Tubuh kecilnya bergerak cepat diantara ilalang, meninggalkan rerumputan yang saling bertindihan. Kedua pisau ditangannya tergenggam erat bersiap menyambut serangan.


Cula para Karkadan itu menghunus ke depan, memberikan sebuah salam pertempuran. Total dua belas Karkadan yang ada di depan Eter. Mereka semua berjejer menyerang, menantang manusia kecil dihadapannya.

__ADS_1


Tidak ada debu yang berterbangan, tidak ada sesuatu yang menghalangi pandangan. Ini adalah pertarungan yang harus dihadapi dengan kebrutalan. Sebuah pertarungan antara makhluk pemilik kecerdasan dengan makhluk pemilik kekuatan.


Eter menghembuskan napas perlahan. Momen ini mengingatkannya kepada kejadian tujuh tahun yang lalu. Ketika tubuhnya tidak berdaya berhadapan dengan Topeng Biru dan membuatnya harus mati-matian bertahan hidup dari serangan Topeng Biru. Namun, dirinya yang sekarang sudah bukan dirinya yang dulu.


Kekuatan utama umat manusia ada pada pikirannya. Oleh karena itu pertarungan ini adalah bentuk dari kedigdayaan manusia di atas Bumi. “Jika kalian bisa berpikir seperti kami. Jika kalian berevolusi mendahului kami. Mungkin kalianlah makhluk terkuat di Bumi saat ini. Tapi itu hanya sebuah imajinasi kosong. Kali ini kamilah yang memiliki kekuasaan di tanah ini.”


Jarak Eter dengan kedua belas Karkadan hanya tinggal 5 meter. Cula salah satu Karkadan sudah menyerang Eter, membuatnya harus memindahkan tubuhnya kesebalah kiri. Merasa mendapatkan sebuah peluang, pisau Eter bergerak menyayat tubuh Karkadan itu.


Namun, ketika mata pisau sudah menempel di  kulit Karkadan. Tubuh Eter malah terpental lima meter ke belakang. Kakinya yang tidak siap mendarat akhirnya membuatnya harus mendarat menggunakan pinggangnya.


“Sial, jadi Karkadan memang benar mempunyai kemampuan aldefos pembalikan.” Eter mendengus kesal.


Dia baru saja membuktikan kebenaran dari buku yang membahas pasal Karkadan ini. “Jika memang benar demikian, maka kemenangan sudah aku kunci.” Eter bergumam pelan sebelum kembali bangkit menyambut serangan berikutnya.


Tanpa berpikir dua kali, Eter kembali berlari menyerang. Saat Karkadan paling depan hanya tinggal lima langkah, Eter melompat dengan menyalurkan energi aldefos di kaki. Dia melompat membuatnya melayang lima meter di atas tanah.


Tubuh Eter terangkat, berputar vertikal. Membuat kaki kirinya lurus ke atas dan kaki kanannya menekuk bersiap menyerang. Ketika Karkadan itu tepat berada di depan Eter, kaki kanannya melasat tajam, menendang bagian cula. Cula itu hancur berantakan tak tersisa.


Sebelas Karkadan lain kembali menyerang Eter yang sudah mendarat dengan sempurna di atas tanah. Cula mereka saling berbenturan tak beraturan. Eter memanfaatkannya, tubuh kecilnya kembali berlari di antara cula Karkadan yang saling bersenggolan.


Eter mencoba kembali menyayat salah satu kulit dari Karkadan. Kali ini kulit tujuannya adalah pada leher bagian bawah. Sayatan keras Eter membuat kulit Karkadan itu menguncurkan darah segar. Tanpa menunggu waktu Karkadan kehabisan nyawa, Eter kembali berlari ke Karkadan lain.


“Jadi kalian punya dua titik lemah yah.” Eter tersenyum sinis.


Sepuluh Karkadan lain semakin marah melihat temannya tergeletak lemas. Mereka kembali menyerang tak beraturan. Hal itu malah memberikan celah besar untuk Eter menyerang. Sasaran Eter kali ini adalah Karkadan yang paling besar ukurannya.


Eter mencoba berlari ke leher bawah Karkadan. Namun, seolah dia mengetahui tujuan Eter kepalanya sudah berpindah menghindar. Eter mendengus kesal, tubuhnya hampir terkena serangan cula Karkadan lain.


Dia kembali melompat lima meter, memutar tubuhnya di atas Karkadan yang tadi menyerangnya. Kaki kanannya kembali meliup, menendang culanya. Cula itu pecah dalam sekali tendang membuat pemiliknya harus terkapar tidak berdaya.

__ADS_1


Eter memegangi kaki kananya yang kebas setelah menendang dua cula Karkadan. Dia baru ingat kalau cula itu merupakan bagian Karkadan yang paling keras.


“Aku tidak tahu mengapa cula kalian tidak memiliki kemampuan aldefos untuk membalikan serangan, tapi itu cukup memberikanku cara untuk memusnahkan kalian.” Lagi-lagi Eter berbicara sendiri.


Eter kembali menyerang dua Karkadan lagi dengan tendangan vertikalnya. Membuat jumlah Karkadan yang tumbang semakin banyak. Kini hanya tersisa tujuh Karkadan yang masih berdiri, menatap Eter dengan mata penuh amarah.


Sebelas pasang mata Karkadan itu bertemu dengan mata Eter. Membuat Eter menemukan sebuah teknik menyerang baru. Dia kembali berlari menuju salah satu Karkadan. Kali ini tubuhnya kembali melompat namun tanpa memutar tubuhnya.


Cula Karkadan itu hampir menabrak Eter tapi berhasil dihindari nya dengan memegangi cula besar itu. Kedua pisau di tangan Eter bergerak cepat mencari sepasang mata merah milik Karkadan. Sampai akhirnya pisau itu berhasil menusuk kedua mata Karkadan.


Tidak sampai di situ, Eter kembali turun dari kepala Karkadan. Pisaunya bergerak lincah menyayat bagian leher Karkadan. Darah menguncur deras dari mata dan leher Karkadan itu. Titik lemah Karkadan sudah bertambah menjadi tiga.


Mengingat serangannya cukup efektif, Eter kembali menyerang Karkadan yang tersisa. Gerakannya lincah mencari titik lemah para Karkadan yang menyerang secara berbarengan. Tiga Karkadan tumbang dengan cula hancur.


Hanya tersisa tiga Karkadan lagi. Mereka berdiri mengitari Eter, mengepung Eter di tengah. Eter hanya menyeringai. Ketiga Karkadan itu kembali menyerang secara berbarengan. Cula mereka berbenturan antara satu dengan lainnya.


Melihat tiga leher yang terbuka membuat Eter bergerak lincah menyayatnya. Tidak sampai disitu, tubuhnya kembali melompat, berputar di udara. Kaki kanannya menendang ketiga cula secara bergantian. Ketiga cula itu hancur tanpa sisa, membuat ketiga Karkadan jatuh tidak berdaya.


Sadar akan kemenangannya di bagian kiri. Membuat Eter mengalihkan pandangannya ke bagian kanan. Betapa terkejutnya dia melihat Elon sedang duduk di atas tumpukan mayat Karkadan. Dia juga sedang menatap Eter dengan sebuah senyuman di wajahnya.


“Sepertinya kita seri, Raja Para Badut memang benar-benar seorang monster kecil.”  Elon menyeringai.


_____________


Maaf jika belakangan ini saya jarang update, ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Selain itu revisi 20 chapter awal juga masih saya lakukan. Harapannya sih akhir bulan Juni ini saya bisa mempublish 40 chapter. Jadi terus pantengin nih novel ya...


Terima kasih juga karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih

__ADS_1


____________


__ADS_2