![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
“Ya Tuhan yang maha kuasa, engkaulah sang pemilik waktu, engkaulah yang memelihara semua makhluk. Kepadamulah kami akan kembali dan kepadamulah kami meminta. Berikanlah kepada para pendahulu kami tempat terbaik di sisi Mu. Berikan kepada semua orang yang mendahului kami surga-Mu. Ya tuhan yang maha agung kabulkanlah permohonan kami.”
Seorang pria sepuh berbaju putih sedang dalam posisi duduk tenang berdoa dengan kepala yang tertunduk. Tangannya terangkat menghadap langit. Di belakangnya ratusan orang menggunakan pakaian seiras juga mengikuti semua doa yang diucapkannya.
Ratusan orang berdoa menghadap ke arah yang sama, sebuah monumen besar berbentuk kepalan tangan. Monumen itu memiliki tinggi 20 meter dengan lebar 25 meter, dibawahnya terdapat ribuan nama yang menjadi korban pertempuran.
Monumen ini merupakan sebuah monumen untuk mengenang peristiwa besar, peristiwa yang menewaskan 200.000 warga sipil. Monumen yang menjadi simbol perlawanan bagi semua rakyat Metis. Ya, inilah monumen pertempuran kota Libo yang terjadi tujuh tahun lalu.
Pertempuran itu tidak bisa dianggap sebagai kemenangan, itu adalah sebuah kekalahan Republik Metis. Simbol kegagalan negara Metis dalam melindungi warganya. Pertempuran yang merenggut hampir semua warga kota Libo itu menimbulkan berita besar di seluruh dunia.
Kata pertempuran kurang tepat untuk digunakan karena peristiwa yang terjadi adalah pembantaian masal. Bagaimana tidak, hanya ada tiga orang yang berhasil selamat dari pertempuran itu. Bahkan perusahaan Unicorn pun tidak luput dari pembantaian.
Hanya dalam waktu sehari sebuah kota sudah hilang dari peta dunia, meyisakan mayat-mayat yang bergelimpangan di jalanan, meninggalkan reruntuhan bangunan tanpa tiang. Pertempuran ini menjadi alarm bahaya bagi Republik Metis.
Deburan ombak memenuhi ruang udara kosong menambah suasana hikmat. Sesaat setelah pria sepuh selesai melafalkan semua doa-doanya suara tangisan pecah di lokasi monumen. Beberapa orang berlutut memberikan penghormatan kepada semua korban.
Walaupun sudah terlewat 7 tahun lamanya, sisa kesedihan masih belum hilang. Hati semua orang masih mengenang bagaimana teman-teman dan saudara-saudara mereka dikuburkan bersamaan tanpa sekat. Tidak ada batu nisan yang melambangkan satu orang, yang ada hanyalah sebuah monumen yang menuliskan semua korban dalam pembantaian.
Rasa sedih juga terasa di bukit pinggiran kota yang menjorok ke lautan. Bukit itu kini hanya ditumbuhi rerumputan dengan sebuah pohon besar yang berdiri tegak di atas bukit. Seorang remaja terlihat duduk berteduh di bawah pohon itu, menghadap ke arah monumen peringatan.
“Akhirnya kau datang juga susu sapi.” Seorang anak remaja lain mendekati remaja yang duduk di bawah pohon.
“Hah, bagaimana kau bisa tahu aku disini Noah?”
“Setiap peringatan tahunan aku selalu pergi ke sini. Aku yakin suatu saat kau akan datang, mengenang semua kehidupanmu disini. Aku tau kau tidak mungkin bisa melupakan kota kelahiranmu Eter,” Noah beruca. Dia duduk di samping Eter menghadap ke monumen besar yang masih di selimuti tangisan para peziarah.
“Jadi kau selalu datang tiap tahun, apa kau masih belum bisa merelakan kepergian kakakmu?”
“Tidak, aku yakin kakaku belum mati.”
“Kau terlalu optimis Noah.”
“Kau salah Eter, bukan aku yang terlalu optimis tapi kaulah yang terlalu berpikir pesimis. Ingat Eter semua orang disini belum mati, mereka masih ada di dalam benakmu. Mereka akan selalu menjadi sebuah memori yang tak akan pernah terlupakan.”
__ADS_1
“Memori hanya sebuah memori, mereka tidak bisa berkomunikasi dengan kita. Kadang kala memori juga bisa berubah, tidak ada yang abadi di dunia ini.” Eter menengadahkan kepala ke atas memandang langit.
“Hah, dasar. Aku kira kau sudah kembali menjadi dirimu yang dulu. Ternyata aku terlalu berharap. Apa yang sudah kau lakukan selama 7 tahun ini? Aku yakin dengan kondisimu yang seperti ini pasti kau hanya mengenang masa lalu berharap bahwa kau bisa menghentikan pembantaian.”
Eter melirik Noah, matanya menyipit. “Sayangnya kau salah Noah, saat ini tujuanku adalah menggunakan semua kekuatan untuk mencegah bencana itu terjadi lagi. Aku tidak ingin melihat ratusan ribu mayat dikuburkan bersama lagi.”
“Wooh, jadi kau melatih aldefosmu. Bagaimana? sudah sampai mana kau mempelajari aldefos?” Noah bertanya ke Eter antusias.
“Aku yakin bisa mengalahkanmu saat ini.” Eter menyeringai.
“Syukurlah, jika itu benar apa kau memiliki rencana untuk memasuki Akademi Militer?”
Eter tebelalak, matanya melotot memandangi Noah. Dia tidak menyangka Noah mengetahui isi pikirannya. “Bagaimana kau bisa tahu?”
“Itu mudah, aku tahu apa jalan pikiran orang yang masih dalam keadaan depresi selama bertahun-tahun.” Noah terkekeh pelan.
“Jadi benar seperti itu,” Noah melanjutkan. “Akademi mana yang akan kau masuki?”
“Aku masih belum bisa menentukan pilihan. Bagaimana dengan mu, bukankah kau juga ingin masuk ke akademi militer?” Eter bertanya.
“Kenapa kau memilih kedua akademi itu?”
“Bukankah sudah jelas kedua akademi itu merupakan akademi terbaik saat ini di Metis.” Noah sedikit menjelaskan.
Akademi Milword dan Akademi Bronstend merupakan bagian dari akademi kemiliteran negara Metis. Terdapat 10 akademi kemiliteran di Republik Metis yang tersebar di seluruh daerah kekuasaan Metis. Akademi militer terbaik saat ini di pegang oleh Akademi Milword.
Akademi Milword masih terbilang baru karena dibangun sekitar 200 tahun yang lalu. Walaupun demikian, akademi ini sudah menghasilkan ribuan lulusan yang menjadi Aefis tingkat spesial. Selain itu letak akademi yang berada di kota Tinopra yang merupakan ibukota negara Metis membuatnya lebih di favoritkan.
Lain hal dengan Akademi Bronstend yang merupakan akademi tertua di negara Metis. Akademi ini berada di urutan kedua setelah Akademi Milword. Letaknya yang berada di pedalaman pegunungan membuatnya kurang diminati oleh beberapa orang.
“Akademi Milword, itu pantas buatmu Noah. Seorang anak direktur Unicorn tidak mungkin berada di akademi rendahan.” Eter berucap sembari memandangi monumen yang mulai ditinggalkan oleh para peziarah.
“Kau terlalu memuji Eter, walaupun ayahku seorang direktur dia tidak bisa menjamin aku masuk ke Akademi Milword. Kau tahu sendiri kan bagaimana persaingannya.”
__ADS_1
“Kau benar Noah. Aku juga kadang berpikir untuk bersekolah di SMA umum saja”
Noah tertawa saat mendengar perkataan Eter. Dia berdiri menghadap ke monumen bersejarah di bawah sana. Semilir angin membuat rambut pirangnya berkibar.
“Eter, aku ingin bertarung dengan mu dalam pertarungan yang adil. Pertarungan yang disaksikan oleh seluruh elemen masyarakat Metis. Lewat pertarungan itu kita bisa meneruskan adu tinju kita 7 tahun yang lalu. Jadi masuklah ke salah satu akademi.”
“Kau sangat merepotkan Noah. Jika saja ayahmu tidak memberikanku dana sekolah mungkin aku tidak akan menuruti perkataanmu.” Eter bangkit dari duduknya, dia berdiri di samping Noah yang memiliki tinggi 175 cm. Sangat berkebalikan dengan Eter yang hanya memiliki tinggi 165 cm.
“Yah, jadi dengan ini kita sepakat akan bertemu di arena teradil untuk bertarung.” Noah kembali memastikan.
Eter menjawabnya dengan anggukan pelan. Dia yakin dirinya akan memasuki salah satu akademi kemiliteran walaupun harus berjuang mati-matian.
“Bagus, akhirnya aku bisa tidur dengan tenang. Hahahaha. Aku pergi dulu Eter, sampaikan salamku untuk ibu Edel dan Weis.” Noah berjalan menuruni bukit.
Eter tidak sedikitpun melihat Noah, pandangannya masih tertuju ke monumen besar yang berdiri gagah di selimuti suara dentumaan ombak dibelakangnya.
“Hah...” Eter menghela nafas pelan. “Andaikan kau masih hidup kek, mungkin aku tidak akan sebimbang ini.”
Matanya sembab memandangi pohon yang dia gunakan untuk berteduh. Ditempat inilah Eter menemukaan kakeknya bersimbah darah. Saat semua bala bantuan sudah datang Eter dibantu oleh pasukan bala bantuan mencari ayah dan Arsa.
Pencarian yang dilakukan satu minggu itu hanya berhasil menemukan kakek Eter, ayahnya tidak berhasil diketemukan. Naas, saat Arsa ditemukan kondisinya sangat-sangat buruk. Seluruh badannya dilumuri darah yang sudah kering.
Belatung, lalat, dan hewan kecil lainnya sudah menggrogoti tubuh Arsa. Dia diketemukan dalam keadaan teduduk menyandar pohon yang sekarang Eter gunakan untuk berteduh.
Ketika Eter masih memikirkan masa lalu itu, dia mulai teringat satu hal yang teramat penting. Entah kenapa saat itu dia tidak teringat. Matanya menyipit, tangannya lurus menggapai batang pohon besar tempatnya berteduh.
“Bagaimana kau ada disini, siapa yang sudah menumbuhkanmu?”
_____________
Terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
Terima Kasih
__ADS_1
____________