![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
Sebuah pohon besar tumbuh di atas bukit yang seharusnya kosong, itu sudah merupakan hal paling misterius yang pernah Eter temui. Bagaimanapun pohon besar tidak akan tumbuh dalam waktu sebulan.
Telapak tangan kanan Eter masih menyentuh kulit batang pohon itu, tidak ada sesuatu terjadi. Berbeda dengan harapannya yang menginginkan suatu keajaiban. Angin menggerakan ranting pohon membuat suasana semakin sayu.
“Apakah ini peninggalan kakek? Apakah ini petunjuk untukku? Ah kenapa dia memberikan pohon kosong tanpa arti seperti ini.” Eter mendengus kesal.
‘Sebentar ada yang aneh, aku pertama kali melihat pohon ini sekitar 7 tahun yang lalu kenapa ukurannya masih terlihat sama.’ Batin Eter dalam hati.
“Tidak salah lagi ini aldefos,” Eter berkata dengan penuh keyakinan.
Dia tahu kemampuan Arsa adalah aldefos tumbuhan. Namun dia tidak menyangka bahwa kakeknya itu bisa membuat sebuah pohon besar. Menurut pengamatannya pada latih tanding terakhir, Arsa hanya bisa memunculkan salah satu bagian dari tumbuhan.
Apapun itu jika Arsa sengaja membuat pohon ini mungkin dia mengeluarkan hampir semua energi aldefosnya. Jika benar demikian maka Arsa mati bukan karena bertarung dengan topeng neraka tapi juga karena kehabisan energi.
Selama beberapa menit Eter masih malamun di depan pohon. Tangannya mencari informasi terkait hal ini di internet lewat layar hologram. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada satupun informasi mengenai penggunaan aldefos yang seperti ini.
“Dasar kakek sialan, saat matipun dia masih menyusahkan.” Eter bergumamm kesal.
Pada akhirnya Eter mencoba mencari informasi terkait hal itu lewat buku yang diberikan kakeknya dulu. Yah, dia sengaja membawanya kesini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengenang kepergian kakeknya.
Eter menamai buku itu dengan sebutan buku Arsa. Dia mengeluarkan buku Arsa dari ransel biru miliknya. Eter selalu menggunakan ransel kemanapun dia pergi walaupun ransel tersebut tidak cocok di kenakan pada acara tertentu tapi dia tidak peduli.
Buku Arsa memang hanya berisi sejarah dari para pengguna kekuatan aldefos. Namun dia tahu Arsa juga terkadang menambahkan beberapa catatan terkait penelitiannya di halaman-halaman terakhir yang bersangkutan dengan sejarah aldefos.
Berkali-kali Eter membolak balik buku yang sudah dia kuasai itu, berkali-kali pula dia membaca bab demi bab kisah-kisah para pengguna aldefos. Diatasnya matahari telah bergeser ke arah barat, awan telah berganti warna menjadi jingga. Siang hari hanya tersisa beberapa menit lagi.
“Hah, apakah kakek sengaja tidak memberikanku sedikit petunjuk.” Eter menghela nafas pelan.
Ada satu lagi kemungkinan yang belum Eter coba yaitu kisah-kisah yang diceritakan kakeknya. Dulu sebelum Eter mulai berlatih dengan Arsa. Arsa selalu memceritakan berbagai kisah-kisah menarik berkaitan dengan berbagai hal.
Mata Eter terpejam, pikirannya masuk ke dalam dunia penuh kenangan. Dia mencoba mengingat semua kisah yang diceritakan kakeknya. Bersamaan dengan itu matahari sudah menghilang dari langit menyisakan bulan dan bintang yang menghiasi malam.
__ADS_1
Debur ombak menggema di ruang udara kosong tanpa manusia. Cahaya lampu menghiasi monumen besar yang sudah di tinggalkan para peziarah menyisakan para penjaga monumen. Tak ada suara burung, tak ada suara bising kerumunan manusia.
Eter masih terlelap dengan dunia kenangan, mengais-ngais memori yang bersangkutan dengan kakeknya. Beberapa kali air membasahi pipinya, beberapa kali dia akan tertidur dalam waktu singkat.
Tidak disangka malam hari sudah berada di pertengahan. Dan tidak disangka pula Eter berhasil menemukan kunci teka-teki itu. Matanya terbuka lebar menatap pohon besar dalam cahaya remang-remang rembulan.
Tangan kanannya menyentuh kulit pohon, matanya terpejam. Dia ingin menguji coba langsung, walaupun itu sebuah kisah tapi dia yakin ini adalah sebuah kunci.
“Dulu kau pernah bercerita sebuah kisah tentang seorang ibu yang dibuat kecewa oleh anaknya. Lantas ibu itu pergi ke sebuah hutan menemui batu besar yang mereka anggap sebagai tempat sakral.
“Kau menceritakan kepadaku bahwa ibu tersebut meminta kepada batu itu untuk memakannya. Dia juga meminta batu itu untuk mengeluarkannya apabila ada seorang anak yang memohon kepada batu untuk melepaskan dirinya.
“Pada saat itu aku berpikir sungguh malang nasib ibu itu, anaknya adalah anak durhaka tidak mungkin anaknya akan memohon untuk mengeluarkan ibu itu. Namun, kau menceritakan hal yang berbeda.
“Selang beberapa bulan seorang anak laki-laki menunduk di hadapan batu. Dia memohon dengan air mata yang bercucuran agar batu itu melepaskan ibunya. Akan tetapi batu itu mengatakan bahwa ibunya telah mati.” Pipi Eter bahas oleh air matanya sendiri saat menceritakan ulang kisah kakeknya.
“Yah ibunya telah mati, tidak mungkin manusia bisa bertahan hidup selama berbulan-bulan tanpa makan. Kau melanjutkan ceritamu bahwa batu tersebut belum selesai berbicara. Batu itu menjelaskan bahwa ibunya memberikan sebuah pesan sebelum kematiannya.
“Pesan kematian yang hanya bisa didengarkan dengan perkataan yang sangat dinantikan olehnya. Sebuah pesan yang bisa diaktifkan oleh password yang dimiliki sang anak.” Eter berhenti berbicara, kepalanya tertunduk lesu.
“Sebuah kata yang kau nantikan setiap pagi saat melihatku yaitu...”
“SELAMAT PAGI KEK...” Eter berteriak.
Satu detik setelahnya tidak ada keajaiban. Lima detik setelahnya tidak ada perubahan. Sepuluh detik setelahnya tidak ada pesan yang keluar. Hanya ada suara deburan ombak yang masih menggema di tengah lautan.
Saat tangan Eter akan lepas dari batang pohon, suara listrik kecil terdengar di kepala Eter.
“Hai Eter,” suara itu terdengar di dalam kepalanya.
“Kakek, kau kah itu? Apa kau masih hidup kek?” Eter tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
“Oke untuk permulaan aku hanya ingin mengatakan bahwa komunikasi ini hanya searah. Jadi, jangan membuang tenagamu untuk bertanya hehehe”
“Tak apa kek, aku akan selalu mendengarmu.”
“Baiklah, ya aku ini kakekmu Arsa Gilgaiz. Mungkin saat kamu mendengarkan ini aku sudah berada di alam lain. Tak apa Eter lewat komunikasi ini kakek akan menuntunmu dan memberikan tujuan dalam menjalani hidup.
“Pertama kakek minta maaf kalo password yang kakek gunakan terdengar konyol hahahah.” Tawa Arsa menggema di kepala Eter.
“Kedua, untuk menjawab rasa penasaranmu yang besar akan kakek beri tahu bahwa teknik ini adalah teknik untuk merekam suara di dalam energi aldefos yang dikeluarkan menjadi elemen alam. Kakek menemukannya di catatan kuno daerah terlarang Akademi Bronstend.
“Tadinya kakek tidak mau menggunakannya tapi karena kakek tau ada penyerangan besar maka kakek menggunakanya untuk jaga-jaga apabila kakek tidak tertolong. Oh ya, sekarang kakek akan memberikanmu beberapa informasi penting jadi dengarkan ya...”
Arsa terus memberikan puluhan bahkan ratusan informasi penting yang berkaitan dengan dunia. Eter yang mendengarkannya merasa antusias, berbagai informasi rahasia pun di bocorkan oleh kakeknya.
Perasaan Eter campur aduk saat mendengarkan semua rahasia dunia itu. Membuat sebuah api semangat berkobar di hati Eter. Sebuah harapan baru, sebuah tujuan hidup baru telah di raihnya pada malam hari ini.
“Eter berjanjilah untuk menjadi seorang yang bisa memegang janjimu. Dengan ini aku Arsa Gilgaiz menyerahkan misi yang selama ini aku emban ke kamu penerus keluarga Gilgaiz.
“Mungkin ini kesempatan terakhir kita bisa bertemu. Selamat tinggal Eter dan selamat berjuang di neraka kehidupan. Aku akan selalu mengawasimu, jangan terlalu cepat menyusul kami oke.”
Sebuah perkataan yang mengakhiri segalanya, perkataan yang membuat tubuh Eter terjatuh tak berdaya. Matanya terpejam masuk ke dalam alam mimpi. Seluruh tubuhnya masih berkeringat setelah mendapatakan sebuah hadiah yang paling dia benci.
Sesaat setelah suara Arsa menghilang, daun-daun pohon berguguran menyisakan dahan yang kurus kering. Pohon itu juga perlahan lahan menyusut dan menghilang ditelan ruang dan waktu. Tidak ada lagi pohon besar untuk berteduh di bukit itu.
Bukit rumput itu hanya menyisakan seorang remaja yang tertidur pulas di atasnya. Meringkuk bagaikan seorang anak di dalam rahim seorang ibu. Langit penuh bintang menyinarinya memberikan mimpi paling indah untuk menghibur dirinya.
Seorang anak laki-laki telah terlahir kembali dengan misi berat yang akan diembannya seorang diri.
_____________
Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
__ADS_1
Terima Kasih
____________