Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 13 - Api vs Es (1)


__ADS_3

Lari Eter dan Noah berhenti seketika. Mata mereka melebar saat melihat kawasan yang seharusnya menjadi kantor Unicorn kini tinggal puing-puing bangunan berwarna hitam. Mereka kira pertempuran yang terjadi sudah hampir berakhir, namun ternyata pertempuran yang sesungguhnya baru akan dimulai.


Terlihat di area bekas kantor Unicorn terdapat ratusan pasukan berseragam hitam sedang memojokkan segerombolan pasukan lain yang menggunakan seragam biru putih. Mereka mengerumuni pasukan berseragam biru putih itu dengan sesekali menyerangnya menggunakan kekuatan Aldefos atau dengan senapan laras panjang. Namun, pasukan biru putih juga terlihat memiliki kekuatan untuk bertarung. Beberapa diantara pasukan berseragam biru putih juga terlihat memiliki kekuatan seorang Aefis di tingkat ahli dasar.


“Itu pasukan Pengaman Unicorn,” celetuk Noah.


Eter dan Noah berada di pinggiran area pertempuran, bersembunyi di balik reruntuhan yang hanya menyisakan beberapa puing bangunan. Walaupun jarak mereka dengan pasukan Pengaman Unicorn cukup jauh tapi mereka masih bisa melihat dengan jelas bagaimana pasukan itu bertarung.


“Noah, apakah kita harus ikut bertarung?” Eter berkata lirih, sedikit cemas.


“Belum saatnya, kita tidak mungkin bisa mengalahkan ratusan orang-orang sialan ini.” Noah mendengus kesal sembari memperhatikan pasukan berseragam hitam.


Sementara itu di pihak pasukan Pengaman Unicorn terlihat sekitar 40 orang masih bertahan dari serangan demi serangan pasukan berseragam hitam. Pasukan Pengaman Unicorn seperti dipimpin oleh seorang pemuda berambut pirang dengan wajah yang nampak berumur 25 tahun.


“Itu kakakku.” Noah memasang ekspresi bahagia, tangannya menunjuk pemuda berambut pirang di tengah area pertempuran.


“Apakah dia kuat Noah?”


Noah diam membisu, wajahnya sedikit berubah. “Tidak terlalu, kekuatannya hanya berada di tingkat ahli rank C.”


Noah tajam memerhatikan jalannya pertarungan yang semakin berat sebelah, mengabaikan Eter yang masih memerhatikan dirinya. Saat itu pasukan Pengaman Unicorn semakin tersudut setelah ratusan serangan aldefos menghantam mereka. Kakak Noah  yang menjadi pemimpin pasukan pengamanan juga semakin terdesak.


Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari arah sebuah reruntuhan yang masih terbakar “BERHENTI SEMUANYA!!”


Pertarungan berhenti seketika, wajah seluruh pasukan pengamanan unicorn berubah saat mengetahui sumber teriakan. Semua pasukan berseragam hitam mundur beberapa meter dari pasukan pengamanan.


“Jadi ini ulahmu, Topeng Merah.” Garis wajah kakak Noah berubah saat mengetahui sumber suara itu.


“Hahahahah. Jadi kau sudah tahu siapa dalang penyerangan ini. Yah, memang bukan hal yang mengesankan dari seorang pimpinan pasukan Pengaman Unicorn cabang Kota Libo. Tapi sayangnya kau terlalu lamban bereaksi.”


Seorang pria berjubah hitam dengan perawakan tinggi besar dan bertopeng merah berkata. Suaranya berat membuat para pasukan Pengaman Unicorn sedikit gentar.


“Aku sudah menduganya saat orang-orang ini menyerang menggunakan topeng yang sangat identik dengan organisasi Topeng Neraka.” Nata menjawabnya dengan mengeluarkan sebuah gagang pedang berwarna merah.

__ADS_1


Mata Noah melebar sesaat setelah mendengar sayup-sayup suara Nata. Dia tidak menyangka pasukan yang menggunakan seragam hitam itu adalah organisasi Topeng Neraka.


“Apa itu organisasi topeng neraka?” Eter bertanya penasaran.


Noah menyipitkan matanya, dia menghela nafas pelan sebelum menjelaskan kepada Eter. “Organisasi Topeng Neraka merupakan organisasi yang berisi sekumpulan aefis tingkat ahli. Mereka tidak masuk ke dalam data Organisasi Aefis Nasional maupun Internasional namun mereka merupakan sekumpulan Aefis yang sering menjadi pasukan bayaran untuk berbagai organisasi kejahatan. Bisa dibilang organisasi ini adalah organisasi penjahat bayaran.”


Eter langsung menangkap apa yang dijelaskan Noah. Dia mengambil kesimpulan bahwa organisasi ini merupakan organisasi yang berbahaya. Bisa dilihat dari caranya membunuh seluruh warga kota.


“Noah, apakah kakakmu bisa melawan orang itu?” Eter kembali bertanya sembari menunjuk pria yang menggunakan topeng merah.


“Topeng Merah. Dia merupakan penjahat rank C atau setingkat Aefis rank C secara rank kakak ku seharusnya setingkat dengannya. Namun, pengalaman yang akan berbicara dalam pertarungan ini.”


“Jadi ini akan menjadi pertempuran yang sulit,” Eter diam, mencoba berpikir sejenak. “Noah ayo kita ikut ke dalamnya!!”


***


Nata Naruru sebenarnya sudah mencium pergerakan dari Topeng Neraka beberapa minggu sebelumnya, tapi dia tidak ambil pusing karena yakin organisasi itu tidak akan bisa berbuat banyak terhadap Unicorn. Namun keadaan saat ini berbanding terbalik dengan perkiraannya.


“Jadi apa yang kau incar?” Nata bertanya, suaranya meninggi, sedikit mengintimidasi.


“Jangan harap kau bisa memilikinya.”  Nata mendengus kesal.


“Hahahah. Aku sudah tau kau tidak akan semudah itu bekerja sama, jadi...“


Topeng Merah tidak menyelesaikan kata-katanya melainkan langsung berlari ke arah Nata. Dia mengeluarkan sebuah gagang pedang dari jubahnya. Gagang pedang itu bercahaya dan membentuk bilah pedang berwarna biru muda.


Nata yang melihat Topeng Merah menyerang, ikut berlari ke arahnya dengan membentuk bilah pedang berwarna merah api di gagang pedang yang sudah di pegang sedari tadi. Tidak hanya itu Nata juga memerintahkan semua pasukannya ikut menyerang pasukan Topeng Neraka yang tersisa.


Hanya dalam waktu beberapa detik kedua bilah pedang itu akhirnya bertemu. Belum ada kekuatan Aldefos yang dikeluarkan oleh Topeng Merah maupun Nata. Mereka berdua hanya saling serang menggunakan keahlian pedang.


“Wow, pantas saja kau dijuluki ahli pedang dari keluarga Naruru.” Topeng Merah berceloteh saat pedang mereka saling bertemu.


“Menyerahlah jika tak ingin mati!!” Nata menggertak dengan pedang yang masih meliup liup berusaha menebas kepala lawan.

__ADS_1


“Kau terlalu yakin dengan keahlian pedangmu...”


Pedang Topeng Merah tiba-tiba mengeluarkan aspa putih. Membuat Nata harus mundur beberapa meter, menghindari serangan tiba-tiba. Beberapa saat setelah asap itu keluar dari pedang topeng merah, pedangnya langsung menebas udara dan menghasilkan ratusan peluru es kecil yang terbang ke arah Nata.


Nata tidak sempat menghindari serangan es itu, membuatnya hanya bisa menangkis beberapa peluru es menggunakan pedang. Sedangkan puluhan peluru es lainnya telak menghantam tubuhnya dan menimbulkan beberapa luka goresan.


“Sialan kau!!!”


Nata mendengus kesal. Dia langsung berlari ke arah Topeng Merah sembari terus menangkis peluru es yang melaju kencang ke arahnya. Jarak Nata semakin dekat dengan Topeng Merah membuatnya bisa melancarkan beberapa jurus pedang.


Mereka seimbang pada awal awal pertukaran jurus pedang. Namun setelah bertukar puluhan jurus, Topeng Merah mulai kewalahan dengan keahlian pedang Nata sehingga menimbulkan beberapa luka gores pada tubuhnya.


Topeng Merah yang sudah mulai terpojok akhirnya menggerakan tangan kirinya dan membentuk sebuah dinding es tebal. Hal ini membuat serangan pedang Nata terhenti. Topeng Merah yang melihat peluang kembali menyerang dengan peluru es-nya. Namun kali ini bersamaan dengan pilar-pilar es yang keluar dari tanah.


Nata mulai kewalahan dengan serangan-serangan Topeng Merah. Disaat dia masih belum bisa mengimbangi kecepatan peluru-peluru es yang melesat ke arahnya, Topeng Merah malah terus mengeluarkan pilar-pilar es tajam dari tanah, membuatnya tidak bisa bergerak menghindar.


“Kapan kau akan menyerang hah!!” Topeng Merah menggertak Nata yang masih terus menghindari serangannya.


“Diam kau!!” Nata hanya bisa mendengus kesal sembari terus menghindari peluru dan pilar es.


Nata akhirnya memberanikan diri mengarahkan serangannya ke Topeng Merah walaupun pilar es tajam masih bermunculan dari tanah. Seluruh berat tubuhnya serasa berkurang membuatnya bergerak secepat angin. Pedangnya teracung, bersiap menebas tubuh lawan di depannya.


Hanya dalam sekejap mata Nata sudah berada di hadapan Topeng Merah membuatnya terlambat bereaksi. Akan tetapi pedang Nata tidak berhenti bergerak menebas. Hanya dalam satu tebasan kepala Topeng Merah sudah terpisah dari tubuhnya, menggelinding di antara pilar-pilar es buatannya.


“Hah akhirnya...” Nata menyetabilkan nafasnya yang masih patah patah, dadanya naik turun menghirup nafas panjang. “Sekarang bagaimana kon-”


“Hahahah.... keahlian pedangmu memang lebih baik dariku. Tapi sayang kemampuan Aldefos-mu masih jauh di bawahku.”


_____________


Terima kasih juga karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih

__ADS_1


____________


__ADS_2