Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 17 - Api vs Es (5)


__ADS_3

Topeng Merah berdiri tegak, kedua tangannya mulai bergerak ke samping kanan dan kiri. Kakinya menguat membentuk kuda-kuda. Nafasnya mulai diatur sedemikian rupa, kedua telapak tangannya menempel.


Ketika gerakannya berhenti, sekumpulan asap putih keluar dari punggung Topeng Merah. Asap putih semakin membesar dan berkumpul menjadi satu, membentuk pedang es yang melayang mengitari Topeng Merah.


“Kau, bagaimana bisa?” Nata tidak bisa menutupi keterkejutannya setelah topeng merah membentuk pedang-pedang es yang melayang di udara.


“Hahahaha... kau kira aku seperti mu yang selalu menikmati kedamaian palsu ini.” Topeng Merah terkekeh pelan.


“Tak kusangka kau sudah setingkat dengan Aefis rank B,” Nata menyiapkan pedang di tangan, kakinya menguat di lapisi api aldefos. “Kalo begitu, aku bisa mati dengan kebanggaan.”


Nata melesat tajam menyerang Topeng Merah, pedang apinya menyala dengan lidah api yang memanjang. Gerakan gesit Nata membuatnya bisa menghindari hampir semua serangan pilar dan peluru es milik Topeng Merah.


“Wohoho, gerakanmu semakin cepat.”


“Jangan banyak bicara kau. Sekarang terima ini!!”


Nata mengubah bilah pedangnya menjadi cambuk api. Menyerang Topeng Merah yang masih diam di tempat. Tidak ada gerakan yang menandainya akan menghindar atau menangkis cambuk api.


Benar saja cambuk api yang seharusnya mengenai tubuh Topeng Merah ternyata ditahan oleh salah satu pedang es miliknya. Cambuk api itu hilang, tidak bisa bertahan lama saat beradu kekuatan dengan pedang es.


Menurut perkiraan Nata seharusnya cambuk api miliknya bisa mengalahkan pedang es. Namun, pedang es itu seperti dialiri dengan energi aldefos yang sangat besar membuatnya sangat sulit untuk dihancurkan. Hal itulah yang membuat cambuk api lenyap setelah beberapa kali berbenturan dengan pedang es.


“Aku harus menyerangnya secara langsung,” Nata bergumam pelan.


Seketika langkah Nata semakin cepat, sesekali dia menghindari pilar-pilar es yang terus bermunculan namun kebanyakan dia hancurkan dengan pedang api miliknya. Hanya dalam beberapa detik Nata sudah berjarak lima meter dari topeng merah.


Pedangnya lincah menebas udara, mengirim beberapa gelombang api ke arah topeng merah. Namun, usahanya berhasil dimentahkan oleh pedang es yang terus melindungi tuannya.

__ADS_1


Walaupun pedang es di sekitar tubuh Topeng Merah bisa dihitung dengan jari. Namun, hal itu sangat menyusahkan karena selalu saja menghalangi Nata untuk menyerang Topeng Merah. Berbagai cara sudah dia lakukan, bahkan dia sudah melemparkan beberapa bola api dengan harapan mencairkan pedang es. Namun, hasilnya nihil.


“Bagaimana bisa?” Nata tersengal, nafasnya memburu tidak beraturan.


“Tentu saja bisa,” Topeng Merah menjawab, suaranya dingin. “Aku tidak seperti dirimu yang hidup dalam bayang-bayang kedamaian. Aku selalu hidup dalam jurang kematian. Nyawaku selalu ditawan oleh para malaikat maut yang berjaga setiap malam. Kau tahu, aku sebenarnya sangat menyukai kematian, hampir setiap malam aku bisa melihat orang-orang meregang nyawa di gang-gang sempit kota yang suram. Aku juga sama sepertimu yang berasal dari keluarga sampah.”


“Apa maksudmu sialan, keluargaku bukan keluarga sampah!!” Nata berteriak geram, dia mengirmkan belasan gelombang api yang langsung ditangkis oleh pedang es Topeng Merah.


“Aku tahu semua asal usulmu Nata. Kita sama walaupun dalam beberapa hal kita berbeda.” Topeng Merah berkata sembari membuat pilar es yang membelenggu kaki Nata, membuatnya tidak bisa berdiri.


“Kau tau apa tentangku hah?” Nata memberontak, mencoba menghancurkan belenggu di kakinya.


“Semuanya bahkan yang tidak kau ketahui.”


“Omong kosong,” Nata semakin geram dia mengirimkan semua kekuatan yang dia miliki ke Topeng Merah. Namun sayang, semuanya berhasil di tahan oleh pedang es.


Nata tidak menjawab. Dia hanya menunduk takzim tanpa ada sepatah katapun keluar. Wajahnya memerah penuh dengan emosi. Entah apa yang dia pikirkan namun itu pastilah sesuatu yang besar.


Topeng Merah hanya berjarak selangkah dari Nata berjalan pelan tanpa hambatan. Dia sudah terlebih dahulu mengirimkan semua pedang es-nya untuk menahan pergerakan Nata agar tidak berontak.


Topeng Merah membisikan sesuatu ke telinga Nata. Tidak ada yang tahu apa itu, namun wajah Nata semakin memerah dengan mata yang penuh kemarahan. Topeng Merah meletakan secarik kertas di tanah sebelum menghilangkan belenggu yang menahan kaki Nata.


“Aku akan menunggu semua keputusanmu,” Topeng Merah berjalan membelakangi Nata sembari menghilangkan semua pedang es buatannya.


Sementara itu Nata masih tertunduk lesu memandangi secarik kertas yang diberikan Topeng Merah. Tubuhnya lemas, seluruh tenaganya hilang. Tidak ada yang bisa dia harapkan dari dirinya sekarang. Hanya satu hal yang pasti, Nata Naruru sudah kalah.


***

__ADS_1


“Noah, kita mau kemana?” Eter bertanya cemas sembari terus melihat para pasukan Topeng Neraka yang semakin dekat.


“Ke tempat yang tinggi.” Noah menjawabnya dengan menunjuk ke sebuah bukit paling dekat dengan area pertempuran.


Langkah kedua anak itu semakin cepat. Pasukan Topeng Neraka juga semakin dekat sembari mengeluarkan beberapa tembakan dari senapan laras panjang mereka. Beruntung semuanya berhasil ditangkis oleh pasukan penjaga unicorn yang juga berada persis di belakang Eter dan Noah.


Setelah mereka keluar dari tembok api milik Nata, seseorang sudah menunggu mereka. Dia mengirimkan hempasan angin yang membuat Eter dan Noah mundur 2 meter menahannya.


“Siapa kau?” Noah bertanya sembari mengarahkan moncong senapan ke orang misterius itu.


Orang itu berjalan perlahan mendekati Noah dan Eter, dia menggunakan jubah hitam dengan kain penutup kepala dan menggunakan topeng setengah wajah berwarna biru. Dua orang anggota pasukan Penjaga Unicorn langsung melompat ke depan Noah, bersiap akan sebuah serangan.


“Topeng Biru.” Salah satu penjaga berucap.


“Topeng Biru, siapa dia?” Eter bertanya cemas.


“Topeng Biru, salah satu dari lima pemimpin organisasi Topeng Neraka. Menurut kabar burung dia lebih kuat dari Topeng Merah.” Noah memberikan penjelasan singkat.


“Sial, kenapa harus ada dia disini?” salah satu penjaga unicorn mendengus kesal.


Tanpa aba-aba Topeng Biru melesat, tidak ada yang melihat pergerakananya dan tanpa di sadari dia sudah berada di depan para penjaga unicorn. Pedang hijaunya bergerak lincah menebas udara, angin berhembus kencang menyapu semua orang disana tidak terkecuali pasukan Topeng Neraka itu sendiri. Pertempuran kembali memanas dengan musuh baru yang terus berdatangan.


_____________


Hai, terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan di dalamnya. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.


Terima Kasih

__ADS_1


____________


__ADS_2