![Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]](https://asset.asean.biz.id/negeri-para-pahlawan--novel-ini-pindah-ke-wattpad-dengan-judul-the-liberator-.webp)
Awan pagi masih terbentuk di langit, membentuk barisan-barisan indah yang tersinari pilar cahaya dari ufuk timur. Ombak di lautan masih saling berkejaran, bertumpuk menuju garis pantai, menyapa para manusia yang mulai berlalu lalang. Jalanan kota kian ramai di isi berbagai putaran kecil roda kendaraan.
Sebuah kota kecil telah bangkit dari tidur, memerintahkan semua isinya untuk bergerak melakukan kesehariannya. Cahaya lampu sudah padam digantikan sang mentari. Bersamaan itu bulan juga sudah mengalah, memberikan tempat ke tuannya matahari untuk bersinar. Kota ini dinamakan Kota Libo, kota yang akan menjadi sebuah tempat paling bersejarah di dunia.
Di salah satu sudut kota, tepatnya di sebuah trotoar pinggiran kota. Seorang anak laki-laki berumur sekitar 7 tahun sedang berjalan dengan kepala menengadah ke atas memperhatikan gerakan awan yang semakin menjauh dari matahari. Kakinya ringan melangkah mendahului orang-orang yang sibuk dengan urusannya sendiri.
Kulitnya yang putih memantulkan cahaya matahari membuat dirinya sangat kontras dengan sweater warna biru dan celana kargo yang dia kenakan. Rambut hitamnya berkibar terkena angin pagi yang berhembus. Mata hitamnya masih terus mengawasi burung yang terbang bersama temannya. Punggungnya ditutupi oleh ransel warna biru tua yang melekat erat dengan badannya.
Umurnya memang masih berusia 7 tahun namun anak itu memiliki sifat seseorang yang berusia belasan tahun. Hal itu bisa terlihat dari cara berjalan dan berbicaranya yang sudah memiliki sopan santun lebih dari pada anak seusianya.
Kini anak laki-laki itu berjalan mendaki anak tangga sebuah bukit pinggiran kota. Bukit dengan tinggi 150 meter itu menjulang, menjadi salah satu benteng alami yang menghiasi pinggiran kota.
Disaat anak laki-laki itu sampai di atas bukit. Dia langsung berlari, menginjak rerumputan yang masih ditutupi embun pagi, menuju bangunan setengah lingkaran di ujung bukit. “Kakek... kakek...” anak laki-laki itu berteriak sembari mengetuk pintu.
Beberapa saat kemudian, seorang pria sepuh berusia sekitar 60 tahun keluar dari pintu. Wajahnya sudah penuh dengan kerutan dengan uban yang sudah menghiasi rambut di kepala dan jenggotnya. Namun dibalik itu semua tubuhnya masih segar dan tegap bagai seorang pemuda tanggung.
“Oh Eter, ada apa pagi-pagi ke rumah kakek?” Kakek bertanya ke Eter yang masih berdiri di depan pintu.
“Hah, apa kakek lupa hari ini hari apa?”
“Sebentar, kakek belum mengecek tanggal sekarang.” Kakek memunculkan layar hologram dari tangannya. “Hehehe, hari ini hari minggu. Berarti sekarang jadwal latihanmu. Maaf kakek lupa.”
“Ya ampun kek, masa kaya gitu bisa lupa.” Eter memegangi dahinya sepontan, kepalanya tertunduk.
Kakek Eter ini bernama Arsa, dia merupakan seorang ilmuwan di sebuah perusahaan riset terbesar di dunia. Hal ini yang membuat Eter tidak habis pikir dengan Arsa yang bisa lupa akan hari, padahal dia seorang ilmuwan dan memiliki jadwal padat dalam pekerjaannya.
“Kakek, apa kita akan melanjutkan latihan minggu kemarin?” celetuk Eter memecah kesunyian.
“Tidak, kita akan lakukan latihan yang berbeda dari minggu kemarin. Aku ingin melihat kemampuanmu yang lain.” Arsa menjawab singkat, tangannya sigap menutup pintu.
“Eh, beneran kek? Latihan apa kek? persiapannya apa aja kek?” Eter bertanya antusias.
‘Yah, walaupun dia terlihat dewasa tapi dia tetaplah seorang anak kecil yang memiliki rasa keingintahuan besar. Sepertinya dia mewarisi kemampuanku.’ Batin arsa dalam hati. Dia tahu bahwa Eter memiliki rasa ingin tahu yang besar, bahkan mungkin lebih besar darinya.
“Eh sebentar Eter, apa kamu sudah sarapan?”
“Oh emm, belum kek. Aku lupa sarapan tadi, hehehe.”
“Lebih baik sarapan dulu, latihan kita akan sedikit melelahkan,” Arsa memberikan saran.
“Oh oke kek, aku pesan Croissant ya kek.”
__ADS_1
“Kau saja yang pesan, kakek malas. Hahahahaha,” Arsa tertawa lepas.
“HAH...” Eter sedikit ingin protes tapi mengurungkan niatnya. Dia lebih memilih diam dan menuruti perintah kakeknya.
Eter memunculkan layar hologram dari jam tangan di tangan kirinya. Dia membuka aplikasi pengatar makanan, memesan Croissant dan makanan untuk Arsa. Croissant, atau sering disebut dengan roti bulan sabit merupakan makanan favorit orang-orang prancis masehi awal ketika kesejahteraan penduduknya masih belum seperti sekarang.
Eter mengeklik pesan, mengirimkan pesanan makanan ke restoran favoritnya. Selang 15 menit dua buah drone terbang di atas bukit, membawa dua kotak makanan.
“Eter, kamu serius makan Croissant?” Arsa bertanya, matanya menngintip kotak makanan milik Eter.
“Iya kek memangnya kenapa?”
“Kuno” Arsa menjawabnya dengan singkat.
‘Hah, kakek sialan.’ Batin Eter kesal, mulutnya sudah terbuka untuk mengatakan sumpah serapah. Namun, dia mengurungkan niatnya. Menurut Eter, kakeknya masih harus dihormati.
Beberapa menit kemudian, Eter sudah menghabiskan makanannya. Dia berjalan ke arah kakeknya yang masih duduk, menikmati makanan. “Ayo kek, mulai latihannya. Makananku sudah habis”
“Oh iya, baguslah kakek juga baru habis. Ayo kita mulai saja.” Arsa berdiri, berjalan ke tengah bukit, Eter mengikutinya.
Arsa berhenti tepat di tengah bukit, berbalik menghadap Eter. Kini mereka berdiri saling berhadapan tanpa mengeluarkan suara untuk merasakan sejenak kesejukan udara pagi. Mata Arsa menyelidik bagian tubuh Eter, sebuah senyuman merekah di wajahnya.
“Paham Kek.” Eter menjawab takzim.
“Kamu tidak bawa senjata?”
“Bawa kek, sebentar.” Eter melepaskan ransel yang masih menempel di tubuhnya. Dia mengeluarkan dua buah pisau dapur.
“Bagus, dalam hitungan ke tiga latihan ini akan di mulai.” Arsa melanjutkan, “ Satu... dua... tiga... MULAI.”
Tanpa menunggu waktu lebih lama kedua kaki Eter sudah bergerak gesit di antar rerumputan. Berat tubuhnya seakan menghilang, matanya tajam menatap Arsa yang masih berdiri diam memperhatikan.
Larinya semakin cepat dengan pisau di tangan, tubuhnya secara frontal menyerang Arsa dari arah depan. Eter harus mengukur terlebih dahulu tingkat kekuatan Arsa sebelum melancarkan serangan yang sebenarnya. Sehingga sekarang dia hanya berniat mengeluarkan kekuatan Arsa yang belum dia lihat.
Melihat Eter semakin dekat membuat Arsa tidak bisa tinggal diam. Dia berlutut dan kedua telapak tangannya menyentuh tanah, menyalurkan energi dari tubuhnya. Seketika belasan akar tumbuhan bermunculan dari dalam tanah.
Akar tumbuhan itu menyerang Eter yang sudah memasang kuda-kuda untuk bertahan. Salah satu akar berhasil mengenai bagian samping tubuh Eter, membuatnya terlempar lima meter ke samping kanan. Seakan tidak mendapatkan rasa sakit Eter kembali bangkit, kali ini dia lebih memilih menghindari serangan akar milik Arsa.
“Aku baru sadar kalo kakek sekuat ini.” Eter menyeringai.
“Bukankah sudah aku ceritakan kalo kita berasal dari keluarga militer sebelum pindah ke Republik Metis.” Arsa menjawab perkataan Eter sembari terus menyerangnya.
__ADS_1
Eter tidak menanggapi, matanya masih terfokus ke akar pohon yang bergerak semakin tidak beraturan. Beberapa kali dia harus menahan serangan akar Arsa menggunakan tubuhnya. Membuatnya harus berkali-kali jatuh menghujam tanah.
Terlepas dari itu, tubuh Eter yang ramping membuatnya berhasil menghindari sebagian serangan akar Arsa. Kini dia mulai menyerang Arsa dengan serangan yang sebenarnya. Kakinya gesit berlari ke arah kanan, berharap serangannya berhasil. Sayangnya pertahanan Arsa sangatlah kuat, belasan akar tanamannya telah memotong semua pergerakan Eter.
“Sial, sangat tidak mungkin kemampuan fisik bisa menyamai kekuatan seperti ini” Eter mendengus kesal.
“Aku butuh pengalih perhatian.” Eter berlari mundur, berbelok ke arah kiri. Dia membelakangi matahari pagi yang sudah mulai meninggi.
Kali ini Eter berlari lurus, menghunuskan pisau ke Arsa yang masih berdiri diam. Tidak peduli akar Arsa yang menyerang dari segala arah. Dia terus merangsek maju, mengurangi jaraknya dengan Arsa.
Ketika jarak Eter dan Arsa hanya tinggal tiga meter, Eter melompat. Lompatan Eter yang bisa mencapai ketinggian tiga meter membuat Arsa harus medongak, melihat sinar matahari yang menyilaukan. Tangannya refleks menutup mata, memblokir cahaya matahari.
Melihat adanya kesempatan, Eter mempercepat pendaratannya. Kedua pisaunya bergerak menghunus tubuh Arsa. Namun, sebuah batang pohon tiba-tiba keluar dari dalam tanah membuat pisau Eter berhenti, menancap di batang pohon.
“Cukup Eter!!” Arsa memberikan printah.
“Hah, bukannya-”
“Kau sudah lulus dari ujian ini.”Arsa memotong perkataan Eter.
“Maksud kakek?”
“Ayo ikut kakek, nanti akan kakek jelaskan.” Arsa berjalan memasuki rumahnya diikuti Eter di belakang.
Mereka memasuki sebuah ruangan bertembok alumunium. Tidak ada satupun perabotan di dalam ruangan itu. Hanya ada ruangan kosong di dalamnya.
“Apa yang akan kita lakukan kek?”
“Nanti juga kamu akan tahu.” Arsa memunculkan sebuah layar hologram di pintu masuk ruangan. Tanngannya bergerak lincah di atas layar hologram. Sampai akhirnya dia menutup layar.
Seketika ruangan itu bergerak turun menuju perut bukit. Beberapa saat kemudian ruangan itu berhenti dan pintunya terbuka. Betapa terkejutnya Eter melihat sesuatu di balik pintu ruangan itu.
“Ini-”
_____________
Terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.
Terima Kasih
____________
__ADS_1